Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
RINDUKU PADA SANG ELANG..... Ku tepati janjiku


__ADS_3

Berlari melawan gravitasi kearah mu


Melesat, menukik dan mengabaikan gesekan udara yang mulai membakar sisi sayapku


Karena engkau ada ada di sana


Di ujung senja berbatas cakrawala


Aku mengerti gelisah, walaupun senyumu tanpa geliat gundah


Aku mengerti engkau begitu menungguku, walaupun tanpa kau berseru


Akupun melihat rindu yang sama, cinta yang sama dan harapan yang tak pernah pupus


Ku kepakan sayap sekuat tekad ingin mendekap.


Wangimu, senyummu, suaramu ... adalah hidupku.


.......................


Beruntungnya Rayhan adalah manajer hotel tempatnya menginap selama di Thailand adalah seorang pria keturunan Indonesia. Dengan sangat peduli, pria yang berayah seorang Sunda itu mencarikan tiket pesawat untuk hari ini yang secepat mungkin. Dengan harga yang sedikit mahal tentunya, tapi kembali Rayhan mendapatkan keberuntungan. Edward membayarkan semuanya, dan menyuruh Rayhan merelakan saja tiket sebelumnya.


Tapi masalah tidak berhenti sampai disitu. Jadwal keberangkatan hanya tersisa tepatnya tinggal empat puluh delapan menit tanpa menghitung waktu boarding pass. Alhasil Rayhan harus berlarian dari ruang meeting ke kamarnya, meraih sebuah koper dan dengan cepat memastikan bahwa seluruh surat penting sudah tersimpan rapi di ranselnya.


" Gerald.... tolong jika masih ada yang tertinggal, kau simpan'kan ya ", pintanya pada Gerald yang baru saja sampai di kamar.


" *Iya. Kau diantar dengan motor.... jika dengan taxi tidak terkejar. Kau bisa menghemat waktu dua puluh menit... ".


" Motornya ? yang mengantar ?".


" Sudah disiapkan manajer Wang... sudah siap ".


" Thanks ... sampai kan pada manajer baik itu. Doakan aku ya brow*... ". Dan Rayhan memberikan pelukan khas pria, sekilas namun penuh rasa terima kasih pada pria jangkung ini.

__ADS_1


Iapun kembali melesat ke luar kamar dan dengan sangat tidak sabaran menunggu lift yang membawanya turun ke lantai bawah. Sesampainya di lobby, Rayhan kembali berlari tergesa keluar dan mendapati seorang pria yang tubuhnya sedikit lebih kecil darinya sedang menanti dengan sebuah motor matic. Rayhan tersenyum sambil menerima helm yang disodorkan pria itu dan segera melompat ke boncengan.


" Tolong yang cepat... ke bandara. Kau bisa ?", pinta Rayhan.


" Tentu tuan.... berpeganglah yang erat ".


Dan begitulah, kini kuda besi itu meliuk-liuk menari indah menyusuri padatnya jalanan ibu kota. Seolah-olah momentum itu hanya berlaku bagi kendaraan-kendaraan besar disekitarnya yang seperti diam mematung. Namun Rayhan merasakan semuanya berjalan dengan sangat lambat. Ia berdoa penuh harap memohon berkah waktu dan kesempatan.


Tepat panggilan terakhir atas nama mr. Rayhan dari Indonesia berkumandang menggema melalui pengeras suara, saat Rayhan berhasil sampai tepat waktu. Seorang pramugari yang cantik menyambutnya dengan senyum lega begitu juga dengan Rayhan.


Rayhan mengudara dengan segenap resah dan gelisah yang tidak bisa dipungkirinya. Ia pun mulai menghitung waktu. Jika penerbangan ini pukul setengah satu siang, akan sampai di Jakarta pukul tiga sore yang artinya pukul lima sore waktu Indonesia barat. Lalu ia akan terbang ke Semarang dengan pesawat pukul tujuh malam yang artinya pukul delapan malam ia akan tiba di sana. Semoga saja ia masih bisa mendampingi Nilam, seperti janjinya.


Satu hal yang dirasakannya sekarang, tiba-tiba perutnya terasa sangat lapar. Rayhan telah melewatkan jam makan siangnya. Dan kini ia tengah berusaha menikmati sandwich coklatnya. Seperti yang selalu dikatakan Nilam sejak dulu saat mereka berdua masih aktif-aktifnya di Pramuka ketika SMA.


" Jangan merepotkan orang lain karena kelalaian mu sendiri.... sempatkan makan. Walaupun tidak enak rasanya ".


Gadis itu sedikit memarahi Rayhan yang mengaduh karena asam lambungnya naik. Ia datang dengan antasida di tangan beserta setangkup roti tawar dan segelas teh hangat. Dan tentu saja dengan marah dan judes yang kental. Memberikan semua pertolongan pertama pada sakit maag itu pada Rayhan dan menungguinya memakan semua amunisi lambung itu hingga habis tak tersisa.


" Untuk selengkapnya .... jaga diri sendiri. Kalau sampai kamu sakit... ".


Rayhan tersenyum sambil menelan manisnya rasa coklat yang berpadu dengan mentega gurih serta lembutnya bread. Tapi ia sungguh merasakan bahwa kenangan belasan tahun silam itu terasa lebih manis.


Semenjak bertemu dengan gadis berambut panjang sebahu yang sering diikat ekor kuda, dengan poni indah yang seperti menari tertiup angin. Lambat laun seluruh arah hidupnya seperti berporos pada gadis itu. Gadis yang kini sudah menjelma menjadi wanita cantik dan lembut dengan sepasang mata kelabunya yang berpendar penuh rona cinta setiap kali Rayhan menatapnya. Dulu, bagaimanapun Rayhan mengingkari ketertarikannya, bagaimanapun Rayhan menghindarinya namun pada akhirnya apapun yang dilakukannya seolah seperti terarah menuju gadis mungil nan jelita itu. Hingga kini ia benar-benar telah menjadikan semua itu adalah tujuan hidupnya.


' Tunggu aku sayang.... tunggulah. Aku sedang berusaha menepati janji ku padamu '.


..............


Nilam menarik nafasnya panjang-panjang selama mungkin yang dia bisa. Ibu mertua, anak sulungnya dan juga bidan Triya masih setia menemani di ruangan itu. Nilam sudah berganti dengan baju khusus yang disediakan oleh rumah sakit. DC atau Dower Cateter atau yang lebih dikenal dengan kateter urin telah dipasangkan sejak tadi pagi. Seluruh persiapan operasi sudah siap. Namun ada kondisi lebih darurat yang tengah dialami oleh seorang wanita hamil besar yang baru saja mengalami kecelakaan. Hingga dokter Kemal memutuskan untuk menunda operasi Nilam.


Tapi mungkin ini adalah berkah dari Tuhan Yang Maha Penyayang, karena sesungguhnya Nilam memang benar-benar menginginkan kehadiran suaminya. Walaupun ia harus berusaha sekuat tenaga menahan dorongan dari dua bayi kembarnya dengan cara bernafas dengan tarikan yang sangat panjang, semampunya. Sungguh sangat susah rasanya, rasa tegang kontraksi pada perutnya harus dibarengi dengan tarikan nafas panjang. Tapi wanita ini selalu berusaha mengembangkan senyum, setiap kali mendapati tatapan khawatir dari ibu mertua dan anaknya.


" Mommy..... apakah selalu sesakit ini ? ", tanya bocah lima tahun ini dan mendekati pada wajah ibunya.

__ADS_1


" Hanya sedikit.... seperti Alend saat sembelit ", Nilam berusaha tersenyum menjawab pertanyaan anaknya.


" Mommy..... tapi wajah mu berkeringat. Pasti sakit ya.... mommy ...". Tiba-tiba saja Alend terlihat menahan tangisnya dan memeluk sang ibu.


" Kenapa boy .... why? ". Sang nenek yang melihat kejadian itu menghampiri dan membelai-belai rambut sang cucu.


" Alend ... janji nggak nakal lagi... nggak bikin mommy sedih, nggak bikin mommy marah... Alend sayaaaaaang mommy ".


Bukankah itu adalah salah satu hal terindah yang bisa dirasakan seorang ibu. Memiliki seorang putra yang cerdas, sehat, pengertian dan sangat mencintai mu. Nilam menciumi wajah tampan putranya. Setitik air bening menggenang di sudut matanya. Bukan air mata sedih tapi air mata bahagia penuh rasa syukur. Begitu juga dengan yang dirasakan nyonya Kamal, ia sungguh sangat terharu dan bahagia dengan semua yang terjadi dihadapannya kini.


" Nilam... ", sebuah suara menyeruak bersamaan dengan pintu yang terbuka. Dokter Kamal yang masih mengenakan jubah operasinya datang dan masuk ruangan. " Sebentar lagi giliranmu.... papah bersiap dulu. Ya... tidak apa-apa 'kan ?".


" Ya Pah....", Nilam menjawab pasti. Namun hati kecilnya menyeru sebuah nama, berharap dia segera muncul di sini.


" Pah..... tidak bisakah menunggu Rayhan sebentar lagi ", nyonya Kamal memohon.


" Terlalu berisiko.... ini sudah tertunda hampir dari dua jam. Akan berbahaya untuk bayi dan juga ibunya ".


" Tidak apa-apa mah.... mas Rey pasti paham, mungkin sebentar lagi pesawatnya juga sudah landing.... ", Nilam berusaha menengahi.


" Okey.... bersiaplah Nilam ".


Bersamaan dengan perkataan dokter Kamal, seorang perawat datang menjemput Nilam. Dengan dibantu oleh bidan Triya, perawat itu mulai menyetop sementara cairan infus lalu mendorong ranjang pasien itu ke luar kamar. Nyonya Kamal sambil menggandeng tangan cucu nya mengikuti dari belakang. Suara derak roda yang beradu dengan lantai itu seperti mengiringi lantunan doa dari sudut bibir Nilam.


' Allah ku Yang Maha Pengasih dan Penyayang..... hamba mu memohon berikanlah kesehatan dan keselamatan untuk kami semua '.


Dan pada akhirnya tubuh Nilam yang masih terbaring di atas ranjang itupun menghilang dibalik pintu kaca tebal berlapis. Meninggalkan nyonya Kamal yang kemudian duduk sambil memangku cucu nya. Tak berapa lama muncullah bu Endang yang dulu mengasuh Rayhan, lalu kedua wanita itu saling berjabat tangan tanpa berkata-kata. Cukuplah tatapan mereka yang menceritakan tentang semua kegundahan itu.


" Daddy..... ". Tiba-tiba Syailendra berseru seraya melompat turun dari pangkuan neneknya. Bocah itu melesat menghambur pada pelukan seorang pria yang baru saja datang dengan setengah berlari.


" Boy... I miss You ", hanya itu yang terucap dari bibir Rayhan. Ia memeluk dan menggendong bocah itu, tak henti-hentinya memberikan ciuman pada wajah dan rambut separuh jiwanya itu.


" Hans.... ", Nyonya Kamal mendekat dan ikut menghambur dalam pelukan putra satu-satunya. Wanita itu menitikkan air mata penuh kelegaan, mendapati anak laki-lakinya ini sehat wal'afiat dan segar bugar.

__ADS_1


Hanya saja wajah tampan dengan kumis dan jambang yang sedikit lebat karena belum dicukur dan dirapikan memperlihatkan betapa kalutnya suasana yang telah dialami Rayhan.


Tapi kini mereka semua telah sedikit bernafas lega. Setidaknya ...... satu persatu doa-doa itu sudah terkabul.


__ADS_2