
Mungkin Syailendra bukan cucu kandung mereka, namun kehadiran bocah ini sungguh merupakan anugrah di masa tua yang mulai terasa sepi. Jika sekarang Aisyah atau nyonya Salaman memeluk bocah itu dengan erat, sesungguhnya hatinya memang benar-benar telah terikat dengan senyuman si bocah.
" Grandma akan kangen sekali dengan mu .... little Thor ", ucapnya sambil terus membelai rambut ikal hitam tebal itu.
" Aku juga. Kangen limun rasberi buatan grandma .... ginger cookies, cup cake ... pokoknya semua yang dimasak grandma " .
Mendengar kalimat polos yang terucap dari bibir bocah lucu, membuat semuanya tertawa. Hari ini tuan dan nyonya Salman, nyonya Sonya dan putrinya bungsunya Heena, serta dua orang teman baik Nilam sesama perawat Deborah dan Sean, ikut serta mengantar sampai ke apartemen Rayhan. Ruang tamu itu menjadi hangat oleh suara tawa delapan orang dewasa dan satu anak kecil. Sementara di pantry, Rayhan tampak sibuk menata aneka croissants dan juga aneka kripik oleh-oleh dari Indonesia yang dibawakan ayah dan ibunya. Setelah air lemon dengan kepingan gula batu dan juga beberapa es selesai disiapkan berdampingan dengan sepoci teh hangat, lalu dengan bantuan Deborah dan Sean akhirnya semua hidangan itu sukses tersaji di ruang tamu yang menyatu dengan ruang tengah.
" Mari semua..... ini ada keripik singkong gurih asli Indonesia, juga yang original Indonesia signature.... this is rempeyek kacang tanah.. ", Rayhan promosi.
" Wouw... kacang dengan rasa bawang didadar tipis yang gurih... aku pernah memakannya ", seru Heena berbinar. " Temanku orang Jawa pernah membawa .. enak sekali ".
" Suka ? ", tanya Rayhan
" Suka sekali..... teman-teman yang lain juga sangat suka ", jawab Heena. Gadis itu terlihat sangat menikmati rasa gurih dari tepung dengan aroma jeruk purut, serta manisnya kacang yang garing.
" Kira-kira.... ada peluang bagus tidak untuk bisnis kuliner seperti ini ... maksudku makanan khas ini ". Otak bisnis Rayhan bekerja cepat.
" Pak Rayhan serius???".
" Ya .. ", jawab Rayhan mantap.
" Ok... segera kupikirkan bersama teman-temanku ", Heena pun tak kalah antusias.
" Rey.... bukannya kita mau menetap di tanah air ya?", suara Nilam lembut sambil menepuk bahu Rayhan.
" Jangan khawatir sayang.... nanti ada Anggita dan teman-temannya yang akan mengurus. Dia mau ambil S2 di sini. Dan aku... juga harus sering bolak-balik ke Inggris juga untuk pekerjaan ", Rayhan tersenyum sambil sesekali mengelus perut istrinya.
" Berarti aku bakalan sering ditinggal nih ... ", Nilam sedikit merajuk.
" Hanya sesekali koq... dan tidak lama ".
" Ada aku mommy... aku temani mommy ya ", tiba-tiba suara lucu itu menyeruak seolah menjadi penengah.
Semua yang ada kembali tertawa dengan bahagia, sore itu terasa luar biasa. Nilam menatap satu persatu orang-orang yang pada awalnya ini tidak dikenalnya sama sekali ini. Namun kebaikan hati dan kepedulian mereka membuat Nilam menjadikan mereka sebagai bagian dari anggota keluarganya. Ia masih ingat enam tahun yang lalu saat pertama kali ia menginjakkan kakinya di negara ini.
Heathrow Internasional Airport senantiasa padat dengan aktivitasnya sebagai salah saru bandara terbesar di Eropa. Nilam menarik nafas panjang menguatkan hatinya sendiri. Sudah sejauh ini, ia harus kuat, ia harus mampu. Jangan menangis.... jangan menangis.... kau pasti bisa. Dan langkah kaki membawanya pada bagian informasi bandara. Setelah ia selesai melakukan proses imigrasi tentunya. Menunjukkan visa untuk bekerja di negeri ini, termasuk salinan kontrak kerja nya dengan sebuah rumah sakit pada akhirnya membawanya dipertemukan dengan seorang polisi wanita yang sangat ramah.
" Kau bisa naik taksi bandara menuju subway. Kereta ke desa ini setiap dua jam sekali dan berakhir pukul delapan malam ". Polisi wanita itu bahkan dengan sangat baik hati mengantarkan Nilam hingga masuk ke dalam kendaraan itu. Berpesan pada supirnya untuk benar-benar memastikan Nilam memperoleh tiket kereta yang dimaksud.
Hingga akhirnya Nilam benar-benar telah duduk didalam kereta. Ia menikmati perjalanan itu, menjaga kantuknya agar tidak membuatnya terlewat dari stasit tujuannya. Empat belas jam penerbangan yang melelahkan, dan kini telah membuatnya jauh terpisah dari semua tentang bagian kehidupan yang telah dilaluinya selama ini. Ia teringat adiknya, Wildan. Nilam lalu mengambil handphone, dan saat itu ia baru tersadar jika ia belum mengganti nomor yang dia gunakan.
Seorang kakek yang sangat ramah ternyata satu tujuan dengan Nilam. Dengan sangat baik hati pria tua yang masih gagah itu mengajak Nilam makanan siang di sebuah kedai milik orang Pakistan, begitu ia mengetahui jika Nilam adalah seorang muslim, kakek itu bernama Lucas. Ternyata dia adalah seorang mantan marinir.
" Aku tinggal di sini dengan istriku, dua orang anak ku semua menjadi pilot helikopter angkatan laut Inggris yang terkenal kuat itu ", ujar tuan Lucas dengan sangat bangga. Nilam tersenyum mendengarnya.
" Mereka pasti sangat tampan dan pintar seperti kakek ya ..", ujar Nilam.
" Oh No .... mereka semua wanita ".
" What ???..... wonderful... ", sepasang mata Nilam membulat karena takjub.
" Ya... mereka wanita. Karenanya lah begitu melihat mu, mendengar cerita mu.... aku seperti melihat mereka kembali ... saat awal dulu hendak memulai karirnya. Sama seperti mu.... bertekad kuat ".
Namun mata sang kakek tiba-tiba bertumpu pada cincin belah rotan yang melingkar sempurna di jari manis Nilam. Tiba-tiba pandangan pria tua itu meredup. Dan Nilam menyadari hal itu.
" Oh ... ini, iya saya sudah menikah. Sudah hampir delapan bulan... ", kata Nilam.
__ADS_1
" Lalu suami mu ?... kenapa dia tidak ikut mengantar ? ".
Nilam kembali tersenyum lembut pada tuan Lucas. Sambil membelai cincin kawin tanpa berlian itu Nilam berkata dengan nada yang sendu, " Dia baru saja sembuh dari sakit.... dan tidak bisa mengantar ku. Semoga dia lekas sehat kembali ya Kek... ".
" Semoga ... semoga dia lekas bisa menemui kembali nak ".
" Aamiin.... Terimakasih banyak Kakek atas doanya ".
Tuan Lucas dengan sangat memaksa akhirnya berhasil mengantar Nilam sampai di depan rumah sakit. Bahkan ia menawarkan pada Nilam untuk menginap dirumahnya terlebih dahulu sampai nanti sudah menemukan apartemen atau rumah untuk ditinggali. Pria itu memberikan kartu nama dan berpesan agar jangan segan-segan untuk menghubunginya jika Nilam butuh bantuan. Nilam pun dengan penuh rasa haru menyampaikan beribu rasa terima kasihnya.
Akhirnya Nilam telah berada dibagian personalia rumah sakit itu. Sebuah rumah sakit yang masih terus melakukan pengembangan pembangunan dan juga sumberdaya manusianya. Rumah sakit yang pada awalnya adalah diperuntukkan khusus untuk pusat rehabilitasi trauma, namun seiring berjalannya waktu permintaan pun berkembang menjadi rumah sakit umum. Nilam diterima langsung oleh asisten manajer personalia. Seorang pria yang mungkin berusia sekitar kurang dari tiga puluhan tahun.
" Neelam Ard..dya .. Pram..mess ..wary... nama mu susah sekali dieja ".
" Panggil saja Nilam ... ", pinta Nilam dengan sopan.
" Okey.. miss Neel. Ini kontrak kerjanya. Selama dua tahun masa kontrak, anda tidak boleh mengundurkan diri. Jika hal tersebut terpaksa dilakukan, maka anda harus mengembalikan empat puluh persen dari gaji yang telah dibayarkan. Namun hal ini tidak berlaku jika anda tidak mampu menyelesaikan kontrak ... karena meninggal atau sakit keras..... ". Pria itu adalah Sean O'Leary yang kemudian menjadi sahabat baik Nilam.
Malam hari pertama di negara sejuta kastil, Nilam langsung menempati asrama yang memang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit. Ia tinggal satu kamar dengan seorang gadis seusianya yang ternyata sudah menyelesaikan S1 keperawatannya. Gadis ini bernama Deborah Mac Williams, yang kemudian lebih sering dipanggil Debby. Dia jugalah yang memotivasi Nilam untuk mengambil S1 keperawatan juga, segera setelah lahirnya Syailendra.
" Kau sudah menikah ya... beberapa lama ? ".
" Emh... hampir delapan bulan ".
" Wow... padahal usia kita sama ya, tapi kau sudah berani menikah ", sepasang mata biru Debby membulat karena takjub. " Apa kau tidak takut suamimu nanti selingkuh.... jarak kalian begitu jauh ".
Nilam tersenyum getir sambil terus menata pakaiannya di dalam lemari. Apa yang dikatakan Debby ada benarnya juga. Namun ia yang pergi meninggalkan Rayhan, jika kemudian pria itu memutuskan untuk mencari penggantinya hal itu adalah yang harus diterima sebagai konsekwensinya. Nilam menarik nafas panjang sambil membelai foto Rayhan dengan seragam judo.
" Itu fotonya? boleh aku lihat ? ", Debby mendekat dengan rasa ingin tahu yang luar biasa.
Nilam memberikan foto berukuran kertas A4 dengan bingkai monochrome. Ia tersenyum mempersilahkan teman barunya untuk melihat gambar pria yang sangat dicintainya itu
" Rayhan Ananta Zachary.... ".
" Okay tuan Zachary.... aku akan menjaga nyonya Neel Zachary untuk mu. Tapi kau juga harus jaga dirimu sendiri di sana ... ya !!! ".
Dan Nilam pun tertawa berderai melihat Debby yang berultimatum pada foto Rayhan. Itulah awal persahabatan mereka berdua. Dua wanita dari dua bangsa yang berbeda, dan latar belakang yang sangat berbeda.
Kini dua wanita itu berpelukan dalam isak tangis yang sudah tidak bisa di tahan lagi. Nilam membelai wajah sahabatnya, menyeka air mata yang satu persatu masih terus menerus meluncur. Namun kedua wanita itu mencoba tersenyum.
" Kalian berdua segera menikahlah... begitu menemukan orang yang tepat menurut kalian. Jangan terlalu selektif.... yang penting dia mau menerima mu apa adanya... itu sudah cukup ". Nilam menunjukkan nasehat ini pada Sean dan juga Debby.
" Neel... apa ada seorang wanita yang masih mau menerima pria cacat seperti aku ", kata Sean akhirnya. Kecelakaan yang dialami tiga tahun lalu membuat pria ini tidak mampu lagi berdiri dan berjalan dengan sempurna, ia menjadi pincang.
" Pasti ada... berdoalah ", yakin Nilam. Lalu Nilam beralih tajam menatap Debby, " Kau juga !... hentikan hura-hura mu... cari pria baik-baik. Bukan yang kau pungut sembarangan dari diskotek "
" Yaah.... nanti kalau aku tidak bertemu pria baik-baik... aku akan menikahi Sean saja ", gurau Debby. Nilam dan Sean sama-sama tertawa mendengar hal itu.
Kemudian dua orang itu berpamitan dan masuk kedalam mobil. Masih dengan terus melambaikan tangannya, seolah-olah Debby benar-benar tidak rela jika harus segera pulang kembali. Nilam mengglhapus air di sudut matanya yang masih tergenang. Wanita itupun lalu memeluk lengan pria yang ada disampingnya. Rayhan membawa tubuh Nilam dalam pelukannya dan mencium ubun-ubun wanita itu dengan lembut.
Sementara itu Syailendra masih menerima ciuman bertubi-tubi dari nyonya Sonya dan nyonya Salman. Sebelum akhirnya dua orang itu naik mobil yang dikemudikan tuan Salman. Lambaian-lambaian tangan mereka terasa meremas hati Nilam. Terlebih air mata mereka yang seolah-olah juga menambah ritme kesedihan dihatinya.
" Mommy.... jangan menangis. Kalau kangen mereka semua .... kita datang lagi ke Inggris... ya ", hibur si kecil Syailendra yang kini sudah melompat ke dalam gendongan sang Ayah.
" Tidak... mommy tidak akan nangis lagi. Kita masuk yuk ".
Dan ketiganya segera masuk kembali ke lobby apartemen, berjalan bergandengan dengan senyum mengembang menuju lift. Yang kemudian segera membawa ketiganya ke apartemen milik Rayhan. Seolah-olah awak babak baru dalam kehidupan mereka baru dimulai kini.
__ADS_1
" Kau tidak banyak bercerita tentang Sean dan Debby.... aku baru tahu kalau mereka sahabat dekat mu ".
Malam itu Rayhan memeluk Nilam dari belakang, saat sedang menikmati udara dan pemandangan malam kota London dari sisi apartemen yang terselubung dengan kaca tebal. Sementara Syailendra sudah terlelap nikmat di ranjang king size milik ayahnya.
" Sean banyak membantu ku untuk urusan administrasi dan legalitas.... dia kepala bagian personalia rumah sakit kini. Dia baik sekali... membantu ku yang sebatang kara di Inggris, mengurus semua surat-surat.... termasuk akta kelahiran Alend ", tutur Nilam tentang sahabat nya itu.
" Ooh... mungkin dia juga pernah jatuh cinta padamu ".
Nilam sedikit terkejut dengan tanggapan Rayhan. Namun detik berikutnya dia terkekeh geli. Nada cemburu Rayhan walaupun hanya sedikit, namun begitu kentara. Dan Nilam merasa benar-benar geli karenanya.
" Tiga tahun yang lalu dia kecelakaan bersama istrinya.... istri dan calon bayi mereka yang saat itu masih berusia lima bulan.... tidak tertolong ".
" Ooh... maaf ... jadi dia .... ".
" Ya... dia kini seorang duda. Sean begitu terpuruk dengan kejadian itu. Saat pertama kali bertemu dengan ku, Sean baru saja menikah. Sean dan Anggelina sangat sayang pada Alend.... hingga akhirnya mereka memutuskan untuk segera memiliki anak sendiri. Tapi Tuhan berkata lain... ", Nilam bercerita dengan pandangan menerawang.
" Ya Tuhan..... maafkan prasangka ku ini. Semoga pria itu segera mendapatkan kebahagiaannya kembali ", sesal Rayhan.
Nilam tersenyum sambil tetap menatap gemerlapnya lampu kota yang terhampar. Seperti sebuah kotak berlian yang terbuka, cantik penuh kilauan. Ia merasakan Rayhan menenggelamkan wajah pada ceruk lehernya. Tapi hanya sesaat, pria itu kembali menatap hal yang sama dengan yang dilihatnya.
" Debby.... gadis itu ?... dia sedikit liar ya ? " , ujar Rayhan.
" Dia menjadi penikmat klab malam dan sangat hobi bergonta-ganti pacar.... semenjak tunangannya berselingkuh... dan dia sendiri yang menangkap basah. Tapi sebenarnya dia pribadi yang sangat lembut dan penuh kasih sayang ".
Nilam teringat malam itu dimana itu adalah malam pertamanya di negara Inggris. Dalam tidur ia bermimpi bertemu dengan papi dan mami nya, dua orang itu memeluknya untuk kemudian tersenyum dan pergi begitu saja. Lalu ia melihat adiknya yang duduk termenung seorang diri, lalu dilihatnya Rayhan yang berdiri. Namun kedua orang itu tiba-tiba saja terlihat menjauh dan menjuah. Nilam berteriak, berlari sekuat-kuatnya berusaha mendekat, namun bayangan kedua orang itu semakin menjauh dan menghilang tanpa busa dicegahnya. Ia berseru, berteriak sampai air matanya berderai-derai keluar.
Hingga sebuah goncangan-goncangan pelan di bahu, menyadarkannya. Ia bermimpi, terasa sangat menyedihkan. Keringat dan air mata jatuh membasahi lehernya.
" Nightmare ?.... ini minumlah ", Debby yang membangunkannya kini berdiri menyodorkan segelas air putih dingin.
" Terima kasih ... ". Nilam menerima dan segera meminumnya licin tandas tak bersisa.
Debby menyuruhnya untuk segera kembali melanjutkan tidur dan berdoa terlebih dahulu. Kejadian itu terus berulang-ulang, dan Debby dengan setia selalu membangunkan seraya memberikan air minum. Namun gadis itu tidak pernah sama sekali menyinggung ataupun bertanya kenapa atau ada apa.
Hingga pada suatu sore saat keduanya baru pulang dari sift pagi dan memutuskan untuk berbelanja kebutuhan di swalayan. Nilam memutuskan untuk meminta maaf. Saat itu keduanya baru saja duduk di sebuah kedai kopi sambil menunggu pesanan mereka datang.
" Debby... maafkan aku ya. Kau pasti terganggu dengan mimpi buruk ku setiap malam ".
" Sejujurnya iya ! .... tapi... kau pasti lebih terganggu lagi. Aku kasihan padamu Neel ".
" Maaf.... ", hanya itu yang terucap oleh Nilam.
" Kau tidak ingin lepas.... atau tidak berusaha melawan mimpi buruk itu ? ".
" Entahlah.... itu bukan mimpi buruk. Tapi mimpi sedih .... sangat sedih ".
" Tentang suami mu ? " .
" Ya... tentang semua nya ? ".
Debby menyentuh jemari Nilam dan menggenggamnya erat. Sementara air mata Nilam luruh satu demi satu, ia tertunduk dalam.
" Disini ... aku teman mu, saudara mu. Jika beban itu terlalu berat.... bersandarlah padaku ".
Dan itulah saat pertama dan pada orang pertama, Nilam menceritakan kisah hidupnya. Bertutur tentang cinta dan pengorbanannya. Pada seorang teman yang kemudian menjadi seperti saudara sendiri. Hingga perlahan iapun bangkit dan menemukan ritme kebahagiaan lain seiring terbitnya harapan baru.
Rayhan yang mendengarkan semua cerita itu teringat iapun selalu bermimpi sedih yang sama. Ia menangis dalam malam yang sepi, dan menjadi sangat takut untuk tertidur. Hingga ia mengidap Insomnia akut, dan bergantung pada obat-obat tidur. Dua orang itu, sama-sama terluka, sama-sama bertahan, sama-sama menjaga. Dan kini mereka bersama-sama menyongsong bahagia.
__ADS_1
" Menyakitkan sekali ya.... tapi kini semuanya menjadi kenangan indah ", bisik Rayhan sambil mengeratkan pelukannya.