Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
RINDUKU PADA SANG ELANG..... Aku harus pulang, sekarang!!!


__ADS_3

Hujan mulai menggumamkan basah dalam ceritanya pada sang bumi, bukankah itu yang dinanti ? dan kecipak airnya yang mulai tergenang saat sepasang katak menerjang sebuah kubangan, seperti dengung indah musik alam. Hari baru saja memulai menuliskan cerita, namun guyuran air itu telah mendahului menyemarakkan pagi. Sementara mentari terlihat masih malas bergelung awan.


Ini adalah pagi dengan hujan yang mengguyur, tepatnya tiga pagi berturut-turut. Jika satu minggu sebelumnya hujan baru mulai turun selepas ashar hingga menjelang isya. Kini berganti dari subuh hingga waktu dhuha. Sungguh membuat hampir seluruh makhluk hidup menggeliat dalam enggan. Tapi tidak dengan Nilam, wanita ini telah memulai harinya dengan penuh semangat.


Ini adalah pagi pertamanya di rumah, setelah tiga hari dirawat di rumah sakit. Kondisinya sudah mulai stabil dan tensi darahnya pun sudah normal. Pada wanita hamil dalam kondisi normal atau tanpa resiko bawaan seperti riwayat hipertensi, riwayat Caesarea, usia rawan, atau hamil kembar, umumnya akan mengalami proses kelahiran pada usia kurang lebih 39 minggu atau sembilan bulan lebih satu minggu. Nilam menyadari benar dengan rawannya kondisi yang dialaminya kini. Iapun memilih untuk mematuhi apapun peraturan dan keputusan yang diambil oleh dokter kandungannya yang kebetulan adalah ayah mertuanya sendiri.


Dengan menggunakan tensimeter digital, ia melakukan pemeriksaan tensi dan nadi sendiri. Pada alat terbaca sistole 132 dan diastole 90, Nilam menari nafas panjang berusaha menenangkan dirinya. Penderita darah tinggi mesti sekurang-kurangnya mempunyai tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat, atau lebih dari teknan darah biasanya. Dan Nilam ada pada kondisi tersebut. Tak dipungkiri, ia risau dengan semua keadaan yang sedang dialaminya kini.


Dokter Kamal sang papah mertua memutuskan untuk tetap mempertahankan kandungan yang baru menjelang berusia 33 minggu itu, karena kondisi ibu yang dipandang masih cukup stabil. Namun dalam pengawasan yang ekstra ketat. Tapi karena kondisi psikologis jugalah yang membuat dokter kandungan senior itu juga memilih merawat sang menantu di rumah saja. Hingga akhirnya di kamar Nilam tersedia tabung oksigen dan juga dua orang bidan yang ditugaskan mengawasi bergantian. Saat salah satu dari mereka mengetuk pintu untuk kemudian masuk, Nilam baru saja selesai memeriksa tensinya sendiri.


" Maaf bu... saya takut kalau ibu tadi masih tidur ", mohon wanita muda itu menyadari keterlambatannya.


" Ah ... tidak apa-apa mba ", Nilam tersenyum. " 130/90 ..... dari kemarin masih terkendali diposisi itu. Semoga bisa lekas stabil lagi ya "


" Iya bu... saya periksa CTG dulu ya bu ".


Nilam mengangguk dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Menyingkap ke atas bajunya dan sedikit menarik ke bawah celana hamil yang dikenakannya. Memperlihatkan perut yang menggelembung dengan besar berbalur urat-urat tipis sangat halus berwarna hijau kebiruan. Di dalam sana ada dua mahluk yang mungkin saat ini sedang bergelung malas, karena pastinya sangat nyaman dan hangat. Nilam membelai-belai dengan kedua tangannya, seolah mencoba membangunkan keduanya. Pemeriksaan CTG biasanya akan dilakukan menjelang persalinan. Ini supaya dokter atau bidan bisa terus memantau kondisi janin.Namun karena kondisi yang dianggap membahayakan persalinan atau kesehatan janin, seperti yang sedang dialami Nilam saat ini, CTG juga akan dilakukan secara berkala.


" Sudah bangun bu si kembar ? ", tanya bidan muda itu sambil bersiap mengoleskan cream di perut Nilam.


" Ya... ini yang satu sudah aktif, yang satu masih lelap sepertinya.... eh... tunggu... nih sudah mulai merespon ". CTG sebaiknya memang dilakukan saat kondisi jabang bayi di dalam perut ibu sedang aktif atau tidak pada posisi tertidur. Sehingga pembacaan denyutan jantungnya lebih valid.


" Saya oleskan ya bu gel nya... ".


Nilam mengangguk dan membiarkan perutnya yang kini mekar menggelembung hampir sepuluh kali lipat itu terolesi rata oleh gel yang terasa sedikit dingin. Lalu dua piringan kecil ditempelkan pada dua sisi perut Nilam. CTG memiliki bentuk mirip seperti sabuk pengaman, dengan dua tempelan yang mirip seperti piringan kecil. Fungsi dua piringan ini berbeda-beda. Satu piringan mengukur denyut jantung janin, sementara piringan lainnya mengukur tekanan pada perut sang bunda. Dengan begitu, apabila terjadi kontraksi bisa dilihat seberapa besar kekuatannya.


Alat ini tersambung pada penerima sinyal yang akan ‘membaca’ denyut jantung janin melalui gelombang suara. Yang kemudian dicitrakan dalam bentuk garis dan grafik yang akan diterjemahkan oleh seorang dokter. Pada dasarnya hasil dari pembacaan CTG ini adalah kondisi aktif dan non reaktif. Jika pada manusia dewasa denyut jantung normal permenit adalah 60-100 denyutan, pada janin adalah 110 - 160 kali permenit. Nilam berbaring lebih dari dua puluh menit hingga seluruh proses pemeriksaan tersebut selesai.

__ADS_1


" Sudah bu Nilam... setelah ini mari saya bantu membersihkan badan ".


" Tidak usah mba.... saya masih bisa sendiri ", tolak Nilam dengan halus.


" Bu... saya ditugaskan untuk merawat dan menjaga ibu oleh pak dokter. Kalau ibu tidak bersedia..... waaah saya bisa kena marah dong. Makan gaji buta.... ".


" He...he...he... ", Nilam terkekeh ia menyukai bidan muda ini, yang cukup menyenangkan untuk diajak bicara. " Baiklah... pintu kamar mandi tidak ku kunci... mba tunggu saja di luar ya. Nanti aku panggil.... siapa namamu mba ? ".


" Triya bu.... baiklah kalau begitu. Saya siapkan dulu air hangatnya ".


Dan Nilam tidak bisa mencegah si mbak bidan Triya yang melesat ke kamar mandi, menyalakan kran air. Nilam tersenyum, seumur-umur baru kali ini ia benar-benar mendapatkan pelayanan luar biasa, bahkan untuk hal yang sangat pribadi seperti mandi. Jika dibandingkan dengan kehamilan pertamanya dulu yang penuh dengan keprihatinan, kesendirian dan kesedihan.... ia harusnya lebih bersyukur lagi. Dulu.... bahkan hanya butuh waktu delapan jam untuknya turun sendiri dari ranjang setelah proses persalinan. Ia teringat bagaimana nyeri dan tertatihnya saat ia berjalan ke kamar mandi.


" Sudah siap bu Nilam ...".


" Ah ....ya.. ya mba ".


.......................


Dulu aku pernah terpisah dari lebih dari seribu tujuh ratus hari. Tanpa sedikitpun mengetahui keberadaan mu, tanpa mendengar suara tawa dan tangismu. Namun aku mampu bertahan dengan keyakinan. Aku bahkan kembali hidup dengan harapan besar untuk bisa merengkuh mu kembali. Dan Sang Maha Daya pun mengabulkannya.... aku bersyukur dalam sujud yang panjang. Aku menemukan mu, aku bisa memeluk mu.


Kini kita kembali terpisah ...... dengan jarak yang lebih panjang terpangkas..... dengan waktu lebih sekejap dari seratus hari. Bahkan aku tahu kau ada dimana, akupun masih bisa mendengar desah nafas lembut mu, wajah cantik mu pun masih bisa ku tatap lekat. Tapi aku tidak mampu debur-debur ketidaksabaran ku untuk segera berlari menghampiri mu. Batas-batas ini merantaiku...... sampai kapan aku tersiksa dengan gelisah ini ???


.................................


Ini adalah hari ke sebelas karantina. Rayhan dan Gerald sudah menerima hasil laboratorium yang menyatakan kedua orang ini negatif. Di negara gajah putih ini, total sudah 36 orang yang positif terinfeksi CoVid-19 atau corona virus. Dua orang diantara adalah yang satu pesawat dengan wanita pertama korban meninggal pertama di negeri ini setelah pulang dari Wuhan China. Beruntungnya virus itu tidak sampai menjangkiti Rayhan dan Gerald yang kebetulan juga melakukan kontak fisik dalam rapat mereka beberapa hari yang lalu.


Proses akuisisi perusahaan Real-Big Building pada sebuah perusahaan setempat di negeri gajah putih itu sebenarnya telah selesai dengan segala urusan legalitasnya. Namun keadaan tak terduga pandemi virus itu membuat semuanya sedikit tersendat. Setelah mendapatkan kepastian bahwa mereka tidak terinfeksi virus tersebut, Rayhan dan Gerald bergegas memberitahukan kondisi ini pada Edward. Dan sekarang mereka bertiga sudah berkumpul kembali untuk benar-benar menyelesaikan semua proses akuisisi perusahaan ini.

__ADS_1


Satu hal yang sedikit memberi warna kebahagiaan bagi Rayhan, adalah ikut sertanya nona Linzhi Mac Phillipe. Wanita itu berpenampilan lebih santun dan kini rambutnya tergerai sebahu dengan warna coklat natural yang anggun. Tubuh wanita ini sedikit kelihatan berisi.


" Mr.Rayhan......", sapanya dengan serta merta begitu melihat Rayhan yang baru saja masuk ke dalam ruangan meeting. " *Aku meminta maaf atas semuanya..... sungguh-sungguh meminta maaf. Dan juga berterimakasih atas semuanya...... sangat-sangat berterimakasih. Pada mu dan juga nona Nilam... ".


" *Sama-sama nona Linzhi..... Nilam pasti sangat bahagia melihatmu saat ini... ".


" Ya... aku yang dulu sangat bodoh ya. Untung istrimu itu begitu baik dan pengertian... aku... aku akan mengunjunginya ke Indonesia, setalah ini. Iya 'kan sayang** ?". Linzhi melirik mesra pada Edward yang disambut anggukan penuh semangat oleh pria disebelahnya.


" Kapan kalian akan menikah ?", tanya Rayhan.


" Kami sudah menikah di catatan sipil..... setelah bayinya lahir, kami akan menikah di gereja ", Edward menjawab cepat dengan sumringah dan tawa yang lepas.


Semua berakhir dengan sangat melegakan dan Rayhan pun bernafas dengan lega. Esok pagi, dengan penerbangan pertama ia akan kembali pada keluarganya. Membayangkan kembali bisa memeluk wanita yang sangat dicintainya dan mendengarkan celotehan si sulung yang menggemaskan, sungguh membuat Rayhan sangat tidak sabaran untuk segera pulang. Tapi ia harus menunggu satu malam lagi.... ya tidak lama lagi.


Tiba-tiba saja nada dering itu mengalihkan perhatian keempat orang yang ada di ruangan itu. Rayhan meraih telepon selularnya, panggilan itu berasal dari ayahnya. Ya.... siang ini ia belum menelpon Nilam, tapi kenapa ini sang papa yang menelpon?.... atau jangan-jangan...


" Ya Pah ? ", nada tanya itu terdengar cemas.


" Hans.... tadi pagi istrimu mulai kontraksi. Nilam maunya melahirkan normal..... papah juga sudah mengusahakannya. Tapi tensinya terlalu tinggi.... papah tidak mau ambil resiko... ".


" Lalu..... ", Rayhan menyergah cepat.


" Nanti jam tujuh malam akan papah Caesarea ..... rencananya. Tapi sepertinya ... mungkin harus dipercepat lagi.... papah tidak mau ambil resiko, Hans ".


Rayhan terdiam....... tapi raut wajah dan gesture tubuhnya memancarkan aura dingin menusuk. Pria itu tak mampu menahan gejolak hatinya yang seperti badai berkecamuk. Ia menatap lurus ke depan dengan sinar mata tajam seperti elang.


" Aku harus pulang sekarang ........ !!!!!!".

__ADS_1


__ADS_2