
Nilam duduk dengan dibantu seorang perawat yang menahannya dalam posisi setengah membungkuk. Terasa sangat begah, sangat tidak nyaman, belum ladi dengan kontraksi yang semakin sering. Tapi ini adalah prosedur anastesi spinal yang lazim dilakukan pada seorang wanita yang akan menjalani proses operasi Caesarea. Anestesi spinal melibatkan suntikan anestesi lokal dan obat penghilang rasa sakit lainnya pada sebuah daerah yang disebut ruang subarachnoid, dekat sumsum tulang belakang.
Anestesi spinal memiliki manfaat untuk ibu dan bayi. Karena sang ibu tetap terjaga selama proses operasi caesar, sehingga bayi dapat dibawa kepada ibunya segera setelah dilahirkan. Tidak ada efek samping yang signifikan untuk ibu atau bayinya, dan ibu bisa menyusui segera setelah operasi. Anestesi tulang belakang sedikit lebih aman daripada bius total dan pemulihan biasanya lebih nyaman dan lebih cepat.
Rasa seperti tersengat setrum itu kemudian berganti dengan rasa sedikit nyaman pada area perut Nilam, karena ia perlahan sudah tidak lagi merasakan kontraksi yang menyentak-nyentak. Bahkan ia mulai tidak bisa merasakan apapun pada kakinya. Nilam mulai bernafas dengan normal dan mulai merasakan rileks. Namun sesungguhnya ia paham betul dengan yang sedang dilakukan para dokter pada tubuh bagian bawahnya, terutama perutnya.
" Nilam.... ada hadiah untuk mu ", suara dokter Kamal sedikit mengejutkannya.
Tapi ia lebih terkejut dengan hadirnya hadiah itu. Sosok wajah yang sangat dirindukannya menghampiri, ia sangat mengenali tetapan seperti mata elang itu walaupun separuh wajah tertutup masker. Nilam tersenyum dan tak lagi bisa menahan lelehan air mata leganya. Sosok itu duduk di sebelahnya tanpa lepas menatapnya, lalu perlahan menghapus rinai-rinai air mata yang masih mengalir.
" Aku menepati janji ku.... terimakasih sudah bertahan selama ini. Jangan menangis ya.... jangan menangis ". Rayhan duduk di samping Nilam sambil menggenggam erat jemari wanita tersayangnya.
Nilam tak bersuara, ia hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum bahagia. Namun air mata itu tak kunjung berhenti mengalir. Hingga kemudian Rayhan memberikan kecupan-kecupan hangat pada kening dan kedua pipinya, akhirnya Nilam mulai bisa mengatasi buncahan perasaannya.
" Hans... ini yang pertama ... ", suara dokter Kamal yang tak nampak karena tertutup kelambu pembatas yang menghalangi pandangan Rayhan dan Nilam. Namun beberapa saat kemudian terdengar suara lengkingan keras tangis seorang bayi.
" Laki-laki Hans..... ayo bersiap, ini yang kedua ", suara dokter Kamal lagi.
Nilam tersenyum lega ia menatap Rayhan yang kini terlihat juga tidak bisa menahan air mata bahagianya. Lalu tangisan kedua terdengar menyusul setelahnya.
" Hans.... yang ini juga laki-laki lagi ".
...................
Bukankah itu adalah pemandangan yang sempurna ?. Seorang pria dengan dua orang bayi mungil dalam gendongan. Sepertinya kedua bayi itu menyatu dengan dengan lengannya. Nilam yang baru saja keluar dari kamar mandi, tersenyum bahagia melihat pemandangan yang tersaji itu.
" Ku bantu menggendong satunya ".
" Tidak.... biarkan seperti ini saja, kau perah saja dulu ASI mu. Setelah itu istirahatlah... ".
Rayhan menolak dengan halus sambil menggoyangkan badannya dengan ritme pelan yang menenangkan. Membuai dua jagoan kecilnya untuk kembali terlelap. Raka Ganesha Zachary yang berbobot lahir dua koma satu kilogram dan adiknya Rayi Pramudya Zachary yang berbobot dua kilogram tepat. Setelah keduanya lahir langsung di tempatkan di inkubator instalasi natal intensif care unit atau NICU, ruang perawatan khusus untuk bayi yang baru lahir.
__ADS_1
Setelah tiga minggu kedua bayi mungil itu akhirnya diperbolehkan pulang dan berkumpul bersama keluarganya.
" Tapi aku ingin berdansa bersama kalian .... ". Nilam mendekat dan ikut memeluk Rayhan.
Pria itu tertawa kecil, sikap istrinya ini begitu manis dan menggemaskan. " Lihat lah... keduanya sudah terlelap. Katamu tidak baik membiasakan mereka terlalu lama di gendong ".
Nilam menatap kedua bayinya yang telah benar-benar terlelap. Dengan perlahan ia mengambil alih bayi Raka yang berada di lengan kiri Rayhan. Lalu meletakkannya dengan lembut di atas sebuah box bayi berukuran panjang dan lebar yang bisa memuat empat bayi. Rayhan mengikuti hal yang serupa. Kini d Raka dan Rayi sudah terlelap bersebelahan dengan damai.
" Malaikat-malaikat kecil ku..... tapi lihat bagaimana kalau kalian nanti sudah bisa mulai duduk sendiri... ", Nilam bergumam penuh kekaguman.
" Oh ya.... kapan itu? mereka bisa duduk ?".
" Sebentar lagi..... sembilan bulan lagi ".
" Itu masih lama sayang.... ", dan Rayhan melingkarkan tangannya pada pinggang Nilam. Lalu mulai menghirup wangi harum dari rambut istrinya yang cantik ini. " Yang paling dekat.... mereka bisa ngapain ?".
" Ngoceh di pagi buta..... paling beberapa minggu lagi. Lalu memiringkan badan ... dan tengkurap ".
" Ih.... luka ku saja belum kering. Kenapa sudah mikirin adik ".
" Kamu tidak ingin punya yang perempuan?
... maksud ku ... ya nanti lah ".
" Sudah tiga mas Rey..... sudah ah ", protes Nilam.
Rayhan tersenyum sambil mengeratkan pelukannya. " Apa kau tidak ingin punya putri yang cantik dan baik seperti mu ?".
" Iya kalau yang lahir wanita.... kalau pria lagi ?".
" Ya bikin lagi .... aww aduuh ", dan Rayhan mengaduh karena sikutan spontan yang dilakukan Nilam pada perutnya. Ia tertawa kecil sambil sedikit meringis menahan nyeri. " Nggak sekarang kok... ya empat tahun lagi lah ".
__ADS_1
" Terserah kamu saja lah mas.... ".
Rayhan tersenyum bahagia ia lalu membalikkan tubuh Nilam menghadap padanya. Wanita itu sudah tidak lagi tersipu-sipu seperti dahulu, belasan tahun yang lalu. Yang tidak berubah adalah tatapan mata yang lembut, yang senantiasa membuatnya betah berlama-lama tersesat didalamnya.
Yang berdiri di dalam kamar itu, adalah dua orang yang sama dengan sebelas tahun yang lalu. Dua orang yang tak pernah berhenti menatap dengan penuh cinta. Sama seperti belasan tahun yang lalu.
" ***Jadilah istri ku ..... jadilah tempat ku untuk pulang ... ".
Ketika cinta merajai semesta....
Kurengkuh engkau dalam diam yang menguatkan
Tempat ku pulang adalah hatimu
Yang memandu ku adalah seruan rindu mu
Jika aku adalah elang yang engkau tunggu
Sesungguhnya kaulah langit ku
............ THE END. - .REALLY ENDS*** ...........
**Terimakasih untuk para pembaca setia RPSE & RPSE.SE. Like, coment & support yang kalian berikan sungguh luar biasa. Jika bukan karena hal itu semua, mungkin saya sudah terkalahkan oleh jenuh dan enggan.
Ku tunggu saran dan ide kreatif dari para dear readers ku. Yang mungkin bisa dijadikan bahan kreativitas untuk novel selanjutnya.
Banyak usulan tentang lanjutan kisah Aldo atau bahkan juga dokter Wildan. Terimakasih .... itu sungguh ide luar biasa. Ku akan coba merangkainya.
Sampai bertemu lagi di kisah-kisah yang lain. Yang tentu saja "No Sadness Ending"... itu prinsip yang author pegang teguh.
Terimakasih banyak ..... dan jangan lupa ada ' Bidadari Biru' yang masih menunngu mu
__ADS_1
>>> Renita Wei** >>>