Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
S' E'. Aku Kembali, Ibu


__ADS_3

Tepatnya empat belas jam empat puluh dua menit, tiga orang itu berada di atmosfer dengan menumpang pada badan besi si burung canggih. Rayhan sengaja memilihkan kelas eksekutif untuk terbang mereka hari ini, walaupun Nilam sedikit mengernyitkan keningnya saat mengetahui berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan supaminya itu. Tapi Rayhan malah tersenyum sambil mengelus perut buncit istrinya.


" Demi mereka dan kalian semua.... itu saja mungkin belum sepadan ". Dan Nilampun tersenyum mencoba menerima semua itu.


" No Transit ? ", Nilam sedikit keheranan saat mengetahui jika pesawat dari maskapai terbesar di tanah air yang sudah setara dengan maskapai-maskapai terbaik internasional ini tidak melakukan transit sama sekali. Karena biasanya jika penerbangan jarak jauh yang memakan waktu lebih dari sepuluh jam, pasti akan melakukan transit diseparuh perjalanannya.


" Ya.... sudah sejak tahun 2017, penerbangan Jakarta - London ... London - Jakarta ada yang no transit, satu Minggu hanya tiga kali ", Rayhan menjelaskan.


" Waaah..... semoga dia nggak bosen ya ", ucap Nilam sambil membelai rambut Alend yang masih sibuk mengagumi rasa pertama kali naik pesawat terbang.


" Sudah ku siapkan macam-macam ..... tenang saja ". Rayhan tersenyum mengingat segala amunisi pengusir kebosanan yang khusus dibawa di ranselnya. Dua set puzzle tokoh-tokoh marvel, satu set outobots belum dirakit yang tadi sempat membuat sedikit kehebohan saat melewati metal detektor dan terpaksa kepingan-kepingan mainan mahal itu harus di buku dari dusnya dan dimasukkan kedalam tas plastik. Belum lagi aneka buku mewarnai dan juga buku cerita yanf berjejal manis dengan camilan di dalam ransel Rayhan.


" Aku belum pernah mengajaknya bepergian naik pesawat.... pasti dia senang sekali. Tapi... darimana kau tahu semua amunisi anti bosan itu ? ".


" He.. he.. he... selera kami ' kan sama ", Rayhan nyengir lucu.


Nilam menyandarkan kepalanya pada bahu Rayhan, melingkarkan tangannya pada lengan kekar itu dengan nyaman. Rayhan memberikan sebuah kecupan di ubun-ubun sang istri. Sementara si kecil Syailendra yang memilih duduk dengan jendela pesawat asyik bernyanyi sendiri sambil terus menggoyangkan kakinya dengan ceria.


" Mom.... kalau bilang thank you ... apa tadi ?", tiba-tiba bocah itu teralih dari lagu little faster plane dan sedikit mengejutkan Nilam yang sudah mulai mengantuk.


" Thank you .. terimaaa... kasih ".


" Te ri ma kasih... aku bisa.... kalau bilang my name Alend ? ".


Satu jam kedepan yang terjadi adalah les private bahasa Indonesia. Syailendra atau yang terbiasa dipanggil Alend, selama ini memang menggunakan bahasa Inggris dengan aksen British yang kental untuk berbicara sehari-hari. Di rumah Nilam lumayan sering mengajarinya bahasa Indonesia, terutama saat mereka berdua sedang membahas tentang segala sesuatu yang berbau ibu pertiwi. Kini bocah itu nampak sudah lumayan menguasai percakapan sederhana. Bahkan dengan percaya dirinya, bocah lucu itu menguji kemampuan barunya pada beberapa pramugari.


Hal tersebut rupanya menjadi hiburan bagi beberapa penumpang terutama mereka yang hendak pulang kembali ke tanah air. Jadilah Alend bintang di kelas penerbangan itu. Dengan ramah dan riang gembira ia bertegur sapa dengan beberapa penumpang, menguji kemampuan bahasa Indonesianya. Sementara penumpang yang kebetulan kebanyakan adalah para mahasiswa asal Indonesia yang hendak pulang itu, dengan suka rela mengajarkan kosa kata baru pada bocah lucu menggemaskan itu.


" Mommy... yang cantik berbaju biru itu namanya Viona.. ".


" Panggilnya kakak Viona ya.... ka -kak artinya old brother juga old sister ", Nilam mengajarkan. Detik berikutnya Alend sudah melesat menghampiri kakak Viona dan kakak lainnya, dan mulailah terdengar celoteh lucu yang diselingi tawa gemas.


" Kalau yang seperti itu.... anak bapak deh.... tau' aja mana yang cantik ", goda Nilam pada Rayhan.


" Pasti !!!!... genetik tak akan berdusta. Tapi kemampuan berbicara dan bersosialisasinya .... itu darimu loh sayang ".


" Oh ya ? .... benarkah ?. Bukannya aku dulu pendiam ya ? ", elak Nilam.


" Pendiam..... kalo' lagi tidur ". Rayhan tersenyum geli. " Kau memang paling pendiam diantara teman-teman cantik mu itu... tapi saat debat pelajaran sejarah... heeem!!!! mana ada diemnya. Belum lagi kalau pas siaran minggu pagi..... ".


" Oh ya... rupanya Daddy Rey penggemar mommy ... diam-diam ", ujar Nilam sambil mengelus perutnya. Beberapa saat tadi si twin menendang-nendang seolah ikut berbincang dengan ayah ibunya.


" Habisnya... dulu mommy sih ... malah milih si Om Terong jadi pacarnya ".


Nilam tertawa geli mendengar celoteh Rayhan. " Kalian... masih saling olok terong dan labu siam ? ".


" Iya... sampai sekarang. Enak aja gitu di mulut dan di kuping ".


Nilam tertawa-tawa kecil, ia teringat pada Aldo si terong sedangkan suaminya sendiri adalah si labu siam. " Aldo sudah menikah ? ", tanya kemudian.


" Harusnya sudah... dua tahun yang lalu saat aku berangkat ke Inggris. Dia baru saja bertunangan dengan sekertaris kantornya yang...... 'bohay ", Rayhan memberikan sedikit penekanan sambil membuat gerakan meliuk dengan kedua tangannya saat mengucapkan satu kata terakhir.


" Whiiiiy.... bohay'. Kok kamu juga nggak ikutan cari yang .... ' bohay ? ", nada tanya Nilam terdengar sedikit kesal.


" Salah !!!!.... aku ikut cari yang paling 'bohay malah. Dapetnya di Inggris .... ".


" Grace.... ?!!! ", potong Nilam cepat.


" Kok Grace sih !!!!!", Rayhan sedikit mendelik. " Ya kamu lah.... gimana sih ".


Nilam tersipu malu sambil sedikit menggelitik pinggang suaminya. Wanita itupun kemudian menikmati sentuhan lembut di kepalanya. Membuat ia beribu-ribu kali lebih nyaman walaupun saat ini berada di ketinggian beribu-ribu kaki di atas permukaan air laut. Sementara Rayhan begitu bahagia dengan semua yang kini berada dalam genggamannya.


Jika dilintas ulang, hampir separuh umur hidupnya adalah untuk mengejar wanita ini. Dari dulu Nilam masih seorang gadis remaja, seorang gadis dewasa bahkan hingga ia telah menjadi seorang istri, hal itu tak menghentikan usahanya untuk selalu mengejar seorang Nilam. Rayhan menatap istrinya yang mulai kelihatan mengantuk ini, di ciumannya kembali wangi rambut hitam legam selembut sutra kelam itu.


" Tidurlah.... aku menjaga kalian ", bisiknya.


Terlintas kenangan tentang Minggu paginya yang sempurna saat suara merdu itu menyapa melalui frekwensi modulation radio yang tersambung di headset yang dikenakannya. Suara yang khas dan sungguh tak dinyana itu adalah suara milik si mungil yang kemarin sempat dibentaknya.


Gadis itu terlalu pendiam bahkan disaat yang lain aktif menyampaikan pendapat, dia hanya duduk diam memperhatikan. Sejak semula Rayhan memang menyangsikan kemampuan si mungil ini, pasti karena koneksi saja dia bisa terpilih masuk OSIS. Atau mungkin dia ngotot masuk OSIS karena pingin gaet cowok-cowok ganteng yang notabene bertebaran di organisasi anak putih abu-abu ini. Ini pertemuan keduanya dengan si mungil, setelah diklat LDK beberapa minggu yang lalu.


" Kamu ..... Nilam!... apa pendapatmu ?! ", seru Rayhan dengan nada membentak.


Rayhan berharap gadis itu akan gugup dan terkejut saat ia berkata dengan nada keras. Yang artinya ia akan punya kesempatan untuk membongkar otak kosong gadis ini. Yang artinya juga ia bisa segera memberikan contoh konkrit pada seluruh anggota bahwa tampang tidak dinomorsatukan jika bergabung dengan organisasi ini.


Tapi hal itu pupus, saat dengan manis si mungil itu berbicara.

__ADS_1


" Saya menawarkan satu part kerjasama dengan stasiun radio.... kita bisa saling bersimbiosis mutualisma. Kita dapat promosi gratis dan mereka dapat event untuk diliput. Masih ada waktu..... sebelas hari. Jika konsep yang kita tawarkan jelas... acara ini akan bisa menjadi mayor event untuk radio ini ".


Rayhan terpana sesaat, ia sungguh tidak menyangka kalimat yang meluncur dari bibir gadis ini sesempurna bentuk bibirnya yang menurut Rayhan sangat idael. Cerdas..... eit tunggu dulu, siapapun bisa berucap seperti itu. Lalu Rayhan menyampaikan sebuah pertanyaan boomerang.


" Seperti apa konkret nya? Bisa kau jelaskan secara rinci.... part kerjasama yang kau maksud itu.... nona ? ", Rayhan mencecarnya.


Sebuah senyuman manis nan optimis mengiringi langkah ringan gadis mungil itu. Rayhan masih besedekap dengan tatapannya yang tajam dan sedikit meremehkan. Ketika gadis itu lewat dihadapannya, udara terasa dipenuhi oleh wangi manis yang segar.... sesaat. Nilam mengambil spidol yang tergeletak pasrah di atas meja tempat Rayhan menyandarkan separuh tubuh sambil mengawasi setiap pergerakan gadis itu. Dan senyuman serta mata yang mengerling spontan itu.... terasa mengoyak harga dirinya sebagai sang ketua.


" Radio Ind FM awal bulan ini akan meluncurkan program baru... lintas sekolah. Yang berisi tentang liputan-liputan program ekstrakurikuler ataupun program unggulan dari sekolah-sekolah. Kita bisa mengajukan rincian rencana kegiatan kita secara langsung pada produser acara ... yang kebetulan memang baru akan menghubungi beberapa sekolah bonafit ... termasuk sekolah kita ini. Curi start.... itu yang kita lakukan.... ".


" Nil... bukannya kamu siaran disitu ? ", suara Aldo menyeruak . Dan gadis itu mengangguk cepat sebagai sebuah jawaban. " Thats my girl.... ", dengan tidak tahu malunya si terong itu mulai tebar pesona.


My girl apanya?... jelas-jelas mereka saat itu belum ada komitmen jadian. Rayhan tersenyum sinis.... kecil sih, tapi tertangkap oleh sudut mata Nilam.


" Itu hanya sekedar pendapat.... terimakasih ". Dan Nilam pun hendak kembali beranjak ke tempat duduknya.


" Nilam ... ", suara pak Ridwan menghentikan langkah gadis itu.


" Ya pak.... ".


" Sketsakan konsep mu ... pilih tim mu, segera !!! besok sudah siap... bisa ?!! ".


" Siap pak.. ", gadis itu menjawab tegas namun begitu manis.


Tak disangka, berkat kejadian itu membawa perubahan positif pada Rayhan. Si tengah yang paling susah untuk bangun. Apalagi di hari minggu. Ia akan bergelung dengan nikmat dibawah selimutnya dan akan murka seperti erupsi gunung berapi jika ada yang berani mengusiknya. Tapi minggu pagi ini, setelah ia menunggu dua hari dengan rasa penasaran yang naik ke ubun-ubun, tepat pukul enam pagi ia sudah terbangun.


Mematikan dering jam weker yang memekakkan telinga dan menggantinya dengan suara dengan laras senada dengan nuansa pagi yang cerah. Sambil berjalan kearah kamar mandi di kamarnya, Rayhan mengerahkan volume suara radionya. Hingga terdengar jelas walaupun disaat yang sama menyalahkan kran wastafel untuk membasuh muka dan menggosok giginya.


When superstars and cannonballs are running through your head


And television freak show cops and robbers everywhere


Subway makes me nervous people pushing me too far


I've got to break away


So take my hand now


Cause I want to live like animals


I want to live


I want to run through the jungle


With wind in my hair and the sand at my feet


I've been having difficulties keeping to myself


Feelings and emotions better left up on the shelf


Animals and children tell the truth, they never lie


Which one is more human


There's a thought, now you decide


Compassion in the jungle


Compassion in your hands, yeah


Would you like to make a run for it


Would you like to take my hand, yeah


Sometimes this life can get you down


It's so confusing


There's so…


Rayhan langsung mengenali lagu dengan irama rancak menggugah semangat itu. Animal Songs yang dibawakan dengan cantik oleh group musik Savage Garden. Nada tinggi pada reffrain, suara si vokalis begitu khas. Dan tidak terasa, Rayhan pun ikut menyanyikan bagian-bagiian itu..... walaupun dengan nada tak karuan. Hyaaah.....


" Compassion in the jungle.....


Compassion in your hands, yeah....

__ADS_1


Would you like to make a run for it


Would you like to take my hand, yeah.... ".


Tak terasa lagu itu berakhir, namun saat musiknya belum selesai sempurna.... sebuah suara manis dan ceria seolah-olah menyambung keriangan di pagi itu.


" *Hai ... halo... Assalamualaikum ... Jaka Dara semua. Ketemu lagi dengan Nirda - Nilam Ardya, diacara morning show spesial minggu... Morning Special Weekend with 106.2 Ind FM . Dua jam kedepan masih akan tetap ditemani Nirda sampai jam delapan nanti.


Terimakasih abang Darren Hayes & abang Daniel Jones yang sudah membuka semangat pagi ini dengan Animal Song's nya. Love you savage garden .


Jaka Dara penikmat Ind FM, seperti biasa hari ini kita akan mengikuti breaking news di pukul setengah tujuh nanti.... tepat jam tujuh kita buka telepon interaktif... dan yang spesial... akan ada pengumuman dari bang Resnu yang saat ini sedang asyik mixing. Don't lost everything' about morning spesial weekend... so stay tune* "


Mungkin ini yang kedua kalinya ah bukan ... tepatnya ketiga kalinya Rayhan mendapatkan hantaman telak dari kemampuan yang dimiliki oleh seorang gadis bernama Nilam ini. Yang pertama di acara Diklat LDK itu, saat Nilam menyelamatkan kelompoknya ketika malam inagurasi dengan monolog tiga bahasa. Lalu dua hari yang lalu saat rapat OSIS membahas dies natalis sekolah mereka. Dan pagi ini... saat Rayhan terpaksa bangun pagi dan mendengarkan untuk pertama kalinya acara yang dibawakan gadis mungil itu.


Pada akhirnya, Rayhan benar-benar menjadi penikmat acara minggu pagi itu. Bahkan hingga acara Turnamen Basket antar sekolah, Bazar Murah dan Pentas Seni sebagai puncak acara dies natalis telah berakhir dan sudah tidak diliput lagi oleh stasiun radio itu. Rayhan sudah benar-benar menjadi penikmat acara di pagi hari itu.


Pemuda itu jadi rutin mengayuh sepedanya mengelilingi taman kota yang jaraknya tidak terlalu jauh dari stasiun radio. Awalnya tidak berniat mampir, namun dorongan di hati kecilnya tak tertolak. Satu dua kali ia berdalih hanya lewat, namun akhirnya menjadi suatu rutinitas di hari minggu. Bahkan setelah Rayhan mengetahui kalau Nilam sudah pacaran dengan Aldo pun dia hanya dua kali menjeda rutinitasnya itu. Karena ada rasa kesal dan kecewa tak terpahami oleh hatinya. Namun selebihnya, Rayhan kembali datang menghampiri si mungil yang cantik itu di setiap hari minggu pagi.


Saat itu mungkin dia sudah mulai menaruh hati. Tapi dia terlalu sombong untuk mengakui, terlalu takut pada penolakan yang mungkin akan dilakukan Nilam padanya. Hingga akhirnya ia belajar dari keberanian Aldo. Panah cinta itu, mungkin sebenarnya telah melesat dan menusuk tepat di hatinya semenjak pertama ia menangkap kerlingan tak sengaja sepasang mata berwarna sesendu senja saat terselimuti hujan. Sepasang bola mata itu seabu-abu warna hujan, dan Rayhan tak pernah bisa melupakannya.


" Daddy.... ", tiba-tiba panggilan itu mengagetkannya. Syailendra telah kembali dari deretan kursi Kakak-kakak cantik. " Aku mau pipis... ".


" Oh ayo.... Daddy antar ya ". Rayhan terlebih dahulu menyelimuti Nilam yang sudah jatuh dalam lelapnya, sebelum mengantar si putra sulung ke menuju toilet pesawat.


...........................


Penerbangan itu begitu melelahkan apakagi bagi Nilam yang sedang berbadan dua. Satu jam sebelum pesawat itu mendarat di bandara Internasional Soekarno-Hatta, Nilam sudah terbangun dari tidurnya. Walaupun sebelumnya dia sudah bolak-balik tidur, jalan-jalan, main dengan Alend, tidur lagi, jalan-jalan lagi......aaahh pegalnya. Saat ia sedang meregangkan tubuhnya, tiba-tiba ia merasakan tarikan keras pada betis kirinya. Ouuww..... kram, ia meringis.


" Kenapa ? Kram ? ", Rayhan terbangun saat mendengar rintihan lirih istrinya.


" Iya... aduuuh ", Nilam berusaha meluruskan kakinya dan juga melemaskannya.


Rayhan membungkuk dan memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada betis sang istri. Melepas sepatu flat wanita itu, menggerak-gerekankan tungkai kirinya dengan gerakan memutar dan meregang.


" Sudah mendingan ? ".


Nilam mengangguk memberikan jawaban. " Rey.... wanita hamil besar sudah biasa seperti ini. Tapi dulu pas Alend mulai bulan ke delapan... yang ini karena dua mungkin, kan jadi seperti sudah delapan - sembilan bulan ya hamil ku ".


" Sayang .... ", Rayhan membelai pipi istri nya. " Aku tidak tahu saat kamu hamil sembilan bulan.... dulu. Maaf ya... ".


" Jangan mengingatkan ku dengan kisah sedih itu .... ".


" Maaf... maaf. Ayo bersiap ... aku gendong Alend ".


Saat itu lah suara pilot pesawat menyampaikan bahwa dalam lima belas menit lagi, pesawat akan segera mendarat di bandara Soekarno-Hatta Jakarta.


" Anak itu berartnya dua puluh lima kilo sebulan yang lalu..... di tambah ransel besar itu... kau yakin ? ".


Hiiii.... Rayhan nyengir. Ia pun tiba-tiba saja merasa pesimis dengan kekuatannya. Setelah kecelakaan yang mematahkan dua rusuk kiri serta tulang paha kirinya, dia menjadi sedikit sangsi. Walaupun kecelakaan itu terjadi lima tahun lalu yang lalu.


" Boy... boy.... kita sudah sampai ... ayo bangun ", akhirnya pria itu membangunkan si sulung.


Bocah itu menggeliat perlahan, mengerjapkan kedua bola matanya. Menoleh pada ayahnya, namun kembali ambruk ke kursi dan memejamkan mata.


" Boleh aku tidur sebentar lagi Daddy ? ", rengekanya.


" Kita sebentar lagi mendarat loh.... ", Rayhan berkata sambil memasangkan sabuk pengaman.


" Mau ketemu uncle Will tidak ?... aunty Anggi juga ada looh ", Nilam menggoda.


" Nanti Alend juga bisa ketemu sama kakak Ocha & Bela .... yang cantik-cantik ", Rayhan menimpali.


" Siapa mereka ? ", tiba-tiba saja bocah itu menjadi bersemangat.


" Saudara-saudaranya Alend .... dua orang kakak cantik yang pasti akan sayaaaaaang banget sama kamu ... ".


" Wooouuww.... ". Sepasang mata kelabu itu membulat lucu seiring dengan kerucut manis dibibirnya.


Nilam tersenyum geli mendengar perbincangan kedua pria di sebelahnya ini. Sedikit guncangan pada tubuh burung besi ini terasa saat benda itu mulai menukik turun. Guncangan itu senada dengan guncangan perasaan yang membuncah di dada Nilam.


Enam tahun yang lalu ia pergi dari negeri ini, dengan membawa cinta, rindu dan juga sedihnya. Menangis sepi saat pesawat mulai mengudara meninggalkan tempat dimana ia terlahir, mendewasa dan menemukan cinta. Saat itu hatinya seperti diremas oleh derita yang menuntutnya untuk berkorban. Nilam muda yang pergi dengan tangis dan derita yang ditanggungnya sendiri.


Kali ini ia pun tak mampu menahan buliran-buliran air mata itu yang meluncur turun. Nilam menangis dengan lirih, sehingga membuat Rayhan menatapnya dengan pandangan yang sedih dan juga penuh rasa bersalah. Perlahan pria itu membawa kepala Nilam bersandar di pundaknya. Menggenggam erat jemarinya seolah-olah ingin menyampaikan.... semuanya akan baik-baik saja.


Nilam menarik nafas seolah-olah melepaskan seluruh beban rindu yang telah menggunung. Dengan sepasang matanya yang terpejam ia merasakan belaian lembut dihatinya. Dalam lirih ia berbisik .....

__ADS_1


" Ibu...... aku pulang ........ "


__ADS_2