
Terkadang semua yang sudah direncanakan dengan matang dan cermat, tetap saja menyertakan sedikit cacat. Bahkan mungkin meleset terlalu jauh, dan kemudian menjadi tak terjangkau sama sekali. Karena pada dasarnya, manusia hanyalah perencana namun semua berada di dalam genggaman Yang Maha Kuasa sebagai penentu. Bahkan tidak ada peristiwa selembar daun pun yang jatuhnya dari pohon tempat ia melekat tidak tercatat oleh Sang Pencipta.
Rayhan menarik nafas panjang, mencoba mengisi penuh-penuh alveoli paru-parunya dengan zat oksigen yang menyegarkan. Lalu menghembuskannya seiring dengan buangan rasa penat, sedikit marah dan kecewa yang seolah menghimpitnya. Ia tersenyum ironi menerima uluran para teman seangkatannya, yang memberinya selamat atas gelar master dengan peringkat terbaik.
Bagaimana tidak.... hari yang sangat penting ini, saat ia meraih pencapaian gelar masternya... ia seorang diri. Ayah dan Ibunya tidak bisa hadir, karena keterlambatan jadwal penerbangan. Sementara dua orang yang begitu dicintainya, Nilam & Syailendra putranya benar-benar tidak bisa hadir menemaninya. Sudah tiga hari ini jagoan kecilnya panas demam, walaupun kondisinya sudah mulai membaik namun Rayhan benar-benar tidak mau mengulang kesalahannya lagi.
Sebelumnya ia tak mengindahkan perkataan Nilam . Ia tetap membawa Alend ke London, padahal bocah itu baru sembuh dari sakitnya. Bocah tampan itu kembali terserang demam dan timbul ruam-ruam merah di pipi tambunnya dan juga sekujur tubuh. Walaupun kondisinya sudah mulai membaik, sudah tidak demam lagi dan sudah mau memakan hidangan yang disediakan. Rayhan kali ini benar-benar tidak mau ambil resiko.
" Mas Hans... ".
Rayhan tersentak mendengar seruan itu. Ia melihat kearah sumber suara.
" Anggita ", serunya kemudian tak percaya. Seorang gadis manis tinggi semampai menghampirinya dengan langkah riang. Adik kecilnya yang sudah beranjak dewasa, ternyata ada di sini.
" Selamat ya mas ", ujar gadis itu seraya memberikan pelukan hangat pada kakaknya. " Kami datang terlambat.... jadi hampir saja tidak diperbolehkan masuk dan dapat tempat duduk dibelakang. Dan kau... sama sekali tidak menyentuh ponselmu ".
" Kami?? .... mana papah dan mamah? Kak Aya?? ". Sepasang mata Rayhan mencari-cari sosok-sosok yang disebutnya.
Namun pandangannya jatuh pada sosok pria tampan dengan tinggi yang sedikit lebih dari darinya. Rambutnya hitam ikal dan dibiarkan sedikit berantakan. Hidung dan garis bibirnya, mengingatkan Rayhan pada seseorang. Ketika tatapannya beradu dengan sepasang mata kelabu itu..... ia teringat warna senja saat hujan. Ia tahu siapa sosok tampan itu.
" Selamat ya kak... "
Rayhan tak menjawab, namun ia menerima uluran tangan itu dan menjabatnya erat. Lalu kedua pria itu berpelukkan. Tanpa kata-kata, namun cukup untuk saling bercerita.
" Dokter Wildan..... bagaimana kau mendapatkan cutimu? ", tanya Rayhan memecah hening yang hendak menguasai.
" Aaah.... aku lama tidak ambil cuti, jadi ya mudah saja. Dan lagi.... dokter forensik seperti aku 'kan tidak punya pasien yang harus dirawat ".
Perkataan itu kemudian disambut dengan tawa oleh ketiganya. Ya .... dia adalah Wildan Wirayudha, satu-satunya adik Nilam yang kini sudah menjadi seorang dokter. Dengan kecerdasan diatas rata-rata, ia tidak memilih melanjutkan spesialis namun lebih memilih bergabung dengan Laboratorium Forensik Kepolisian.
" Terimakasih ya kak.... Semoga kalian bahagia dan tidak terpisahkan lagi ".
Rayhan tidak menjawab perkataan Wildan. Ia hanya kembali memeluk pria muda itu dengan erat. Tanpa banyak bahasa, cukuplah tepukan hangat di bahu. Itulah bahasa universal para pria untuk menyampaikan segalanya. Dan mereka sangat memahami itu.
__ADS_1
" Sudah ??... pelukannya? ", tanya Anggita mengalihkan momentum para pria ini.
" Ayo..... aku sudah sangaaaaat ingin ketemu keponakan ganteng ku ".
šššš
Mobil yang dikendarai Rayhan melaju dengan sedikit menurunkan kecepatannya sesaat setelah keluar dari jalan toll. Anggita yang yang kelelahan nampak masih terlelap dikursi belakang kemudi. Sementara Rayhan dan Wildan sepanjang perjalanan hampir dua jam ini, keduanya asyik berbincang.
Ternyata Nilam mengabari adiknya dengan mengirimkan foto sertifikat pencatatan pernikahannya beberapa hari yang lalu. Dan memang Wildan juga sudah berencana untuk mengunjungi kakaknya bulan ini. Lebih tepatnya, berusaha kembali untuk membujuk kakaknya agar mau pulang ke tanah air.
Namun kali ini, Tuhan telah merencanakan yang lebih baik dan sempurna.
ššššš
Malam itu, Nilam baru saja akan membawakan susu hangat untuk Syailendra yang menunggunya dengan sabar di kamar. Ketika indra pendengarannya menangkap suara derum mesin mobil yang kemudian berhenti di halaman rumahnya. Bergegas ia menuju kamarnya dan memberikan susu hangat itu pada sang putra.Tepat saat Alend memberikan gelas yang kosong itu kembali padanya, saat itulah dentang bel rumah berbunyi.
" Apa itu Daddy pulang lagi?? ", tanya bocah lucu yang masih nampak memerah pipinya karena ruam.
Bocah itu mengangguk dan tersenyum saat Nilam membelai rambut lebatnya dengan sayang. Kemudian bergegas menuju pintu depan rumah mungilnya untuk melihat siapa yang bertamu malam-malam.
Nilam terpaku ditempat ia berdiri. Pemandangan dihadapannya yang membuat reaksinya demikian. Ada dua orang pria yang salah satunya adalah dokter Salman, dan juga dua orang wanita yang salah satunya adalah nyonya Aisyah Salman.
" Nak.... kau tidak mempersilahkan kami masuk ? ", suara lembut Aisyah menyadarkan Nilam dari keterpakuannya.
Dengan canggung ia bergeser dari depan pintu, dan gestur tubuhnya mempersilahkan dengan hormat dua pasang manusia yang sudah separuh baya lebih itu untuk masuk.
Masih dengan keterkejutan yang menguasai seluruh akal sehatnya, Nilam berusaha setenang mungkin. Dihadapannya saat ini ada pasangan dokter Abdul Kemal, orang tua Rayhan suaminya, mertuanya. Sungguh.... Nilam belum siap dengan pertemuan ini. Saat ini yang berusaha dilakukannya adalah tetap bernafas senormal mungkin.
" Nak.... boleh kami menginap di sini ?".
Nilam meyakinkan hatinya dengan apa yang didengarnya. Yang bertanya adalah nyonya Kemal... ibu Rayhan. Orang pertama yang mati-matian berusaha memisahkan dirinya dengan Rayhan.
" Boleh nak? ", Nyonya Kemal mengulang kembali pertanyaannya.
__ADS_1
" Ya.. ya... tentu saja ", jawab Nilam dengan gugup.
" Mommy.... itu Daddy yang datang ? ". Tiba-tiba saja suara bocah dari dalam kamar mengalihkan atmosfer canggung di ruangan itu.
Semua mata tertuju pada suara derit pintu yang terbuka. Menampakkan sosok imut menggemaskan dengan piyama coklat lengkap dengan guling karakter pesawat dari film kartun terkenal. Bocah tampan pusat perhatian itu tersenyum senang melihat dua orang yang dikenal nya.
" Ooh... ku kira Daddy yang datang. Ternyata Grandma & Grandpa ".
Tiba-tiba saja sang bocah berlari dan menghambur menuju pelukan tuan dan nyonya Salman.
Tidak seperti biasanya, tuan dan nyonya Salman menerima pelukan itu dengan rasa tidak enak. Panggilan grandma & grandpa itu yang paling tepat mendapatkan nya adalah sepasang suami istri yang saat ini sedang menatap lekat-lekat pada sang bocah. Nyonya Salman yang menyadari hal tersebut membelai lembut rambut sang bocah. Namun belum lagi ia mengutarakan suaranya....
" Alend.... ada yang ingin bertemu kamu boy ", suara Nilam mengambil alih suasana.
" Ya mommy... mereka? siapa mereka ? ", Syailendra melepaskan pelukannya dari Nyonya Salman. Sambil tak lepas dari tatapan penasaran pada dua orang asing di rumahnya, iapun mendekat pada sang bunda dan menggenggam jemari malaikatnya di dunia ini.
Nilam masih berusaha mencerna situasi. Mengamati nyonya Kemal sang ibu mertua. Ia meyakinkan dirinya sendiri, bahwa apa yang dilihatnya adalah benar, bahwa dia tidak salah mengartikan. Tatapan itu .... adalah tatapan rindu dari seorang ibu. Rindu yang sangat dalam. Nilam berdoa dalam hati, semoga ia tidak keliru.
" Ya ... kami juga grandma & grandpa mu.... kemarilah anak tampan ", suara itu terdengar sedikit bergetar.
Nilam terhenyak sesaat, sejurus kemudian ia tersenyum dan meyakinkan anaknya dengan berbisik dan mencium rambut lebatnya. Syailendra menatap wajah Nilam berusaha meyakinkan. Saat didapati anggukan dari wanita itu, iapun tanpa ragu lagi mendekat pada grandma & granpa barunya.
" Kami ... ayah dan ibu Daddy mu... Daddy Rayhan. Kami... "
" Grandpa & Grandma ku yang di Indonesia ", Syailendra memotong perkataan dokter Kemal dengan cepat.
Sementara nyonya Kemal sudah mulai menitikkan air matanya. Dadanya terasa sesak penuh dengan penyesalan mendalam. Namun iapun sangat bahagia dengan kenyataan dihadapannya. Menatap bocah tampan ini, mengingatkan kembali dengan rasa yang pernah dialaminya tiga dasawarsa yang lalu. Memiliki seorang anak laki-laki yang manis dan rupawan. Hanya warna bola mata itu yang mengingatkan nyonya Kemal, jika bocah ini bukanlah Rayhan kecilnya dulu. Ya.... bocah ini adalah cucunya, yang sangat mirip dengan sang putra.
Saat Syailendra tanpa ragu memeluk kedua orang itu, saat itulah Nilam tak kuasa lagi menahan buliran bening yang luruh begitu saja dan membuat jejak di pipinya. Lihatlah bagaimana sang nenek memberikan ciuman-ciuman hangat dengan lelehan air matanya, juga sang kakek yang memangku sang cucu sambil tak melepaskan pandangannya dari wajah lucu itu. Hati Nilam tiba-tiba saja terasa semakin hangat dan merekah. Ia tersenyum pada tuan dan nyonya Salman. Satu senyum itu sudah bercerita lengkap tentang rasa bahagia dan rasa syukur yang mendalam.
Pasangan suami istri Salman mengangguk bahagia. Bahkan Aisyah tidak dapat menahan air matanya, ia pun bergelayut manja pada lengan sang suami.
Lihatlah..... bukankah Sang Maha Kuasa punya skenario sendiri yang lebih sempurna ????
__ADS_1