Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
Permainan Takdir


__ADS_3

Di kediaman dokter Salman


Aisyah menunggu dengan gelisah sosok suaminya yang tengah mandi. Wanita itu mondar-mandir sambil sesekali menengok gelisah ke arah pintu kamar mandi. Dokter Salman suaminya sepulang dari sift malam, pasti akan segera mandi, lalu sarapan dan kemudian beristirahat. Namun kali ini berbeda, sarapan dulu (ah... tepatnya malah makan siang yang dipercepat jadwalnya) karena mereka menjamu tamu. Dan entah mengapa, acara di kamar mandi dokter itu terasa lebih lama dari biasanya..... setidaknya itulah yang dirasakan sang istri.


" Akhirnya..... ", gumam Aisah lega saat suaminya keluar dari kamar mandi.


Dokter Salman tersenyum melihat rona ketidaksabaran istrinya. Saat ia membuka pintu balkon kamarnya dan mulai melangkah ke luar, sang isteri buru-buru menyalip langkahnya. Lalu mendahului duduk di salah satu kursi yang di letakkan di balkon kamar mereka.


" Bukankah ini sesuatu yang besar.... "


" Maksudmu kisah cinta mereka dulu ... atau kisah pertemuan mereka sekarang ? "


" Tentu saja dua-duanya honey... ", sahut Aisyah cepat.


" Suamiku..... apa yang harus kita lakukan sekarang ? "


" Maksudmu..... ", dokter Salman mengernyitkan keningnya akut meminta penjelasan


" Ya .... mereka bertiga. Thor dan ayah-ibunya. Si kecil itu berhak bertemu ayahnya ..... Nilampun berhak bahagia ".


Sejenak dokter Salman terdiam. Lalu ia menatap istrinya dengan lembut sebelum berkata-kata. " Apakah kau tidak berfikir..... bagaimana jika ayah little Thor sudah menikah lagi ? "


Dan Aisyah begitu terperanjat mendengar perkataan suaminya. Ia sejenak menyadari..... waktu hampir lima tahun lebih bukanlah sebentar. Waktu yang sangat memungkinkan untuk seorang laki-laki jatuh cinta kembali. Dan memilih mengukuhkan cintanya yang baru dari pada harus menunggu cintanya hilang untuk kembali.


" Neel yang memberitahu mu .... tentang tuan Rayhan ??? "


" Ya....dia terlihat murung dan sesekali menyentuh cincin kawinnya....... eeiit tunggu !!!! ", tiba-tiba saja Aisyah terlonjak penuh semangat. Ia menemukan sesuatu yang berharga.


" Neel yang merawat Rayhan..... berarti keduanya sudah melakukan kontak langsung walau sesaat. Dan pasti !!!!.... keduanya sudah saling bicara ".


Dokter Salman manggut-manggut mendengar hipotesa sang istri. Ya... benar juga, sebenarnya jarak dari desa ini ke kota London bisa ditempuh dengan satu kali ganti jalur kereta dengan total waktu tempuh tidak sampai dua jam. Dan jika dengan mobil dan lewat jalan tol, juga hanya dua jam lebih sedikit. Namun memang hampir seluruh penginapan besar kecil penuh dua - tiga hari ini menjelang festival desa .

__ADS_1


" Bagaimana menurut mu, honey? ", tanya Aisyah menghentikan lamunan suaminya.


" Biarkan Tuhan yang bekerja...... kita, melihat saja dulu. Ada saatnya akan datang peran kita. Beri waktu untuk keduanya ..... biarkan mereka menenangkan diri, menata hati dan.... yaaah... kisah cinta mereka pasti bukan kisah cinta biasa ", dr. Salman bertutur bijak.


Aisyah mengangguk-angguk membenarkan ucapan sang suami. Namun ia tidak dapat menyembunyikan betapa bersemangatnya dia untuk menjadi bagian indah dari kusah cinta Nilam. Dengan tulus ia memohon pada Tuhan untuk akhir yang bahagia pasangan Nilan dan Rayhan.


 


\*


 


Sore itu adalah waktunya untuk jamuan minum teh. Nyonya Salman atau Aisyah pun sudah mempersiapkan satu teko teh hijau dengan madu dan lemon yang tidak lupa ditemani dengan piring-piring berisi cookies dan cup cake menggoda selera. Ketika ia baru saja selesai menata dinampan dan hendak menyajikannya di minibar.....


" Ting tong... ting tong ", suara bel dari pintu dapur terdengar


" Grandma.... Grandma.... ", suara menggemaskan menyusul.


" Aiih... cucu grandma, mana salamnya?", tanya Aisyah sambil mencubit sayang pipi chubby bocah itu.


" Maaf.... Assalamualaikum grandma ".


" Wa'alaikumsalam sayang.... ayo masuk ".


Bocah laki-laki itu berjingkrak gembira memasuki dapur yang hangat dengan aroma harum nikmat. Hidung mancungnya yang tersamarkan oleh gundukan pipi kemerahan, tetap mampu memindai aroma manis kue' kue' nikmat yang terhidang. Sepasang bola matanya yang berwarna keabu-abuan seperti senja saat hujan, membulat sempurna dan mengerjap penuh harap.


" Apa yang kau cium boy ? "


" Emmmm...... cinamon cookies & choco cake... benar' kan grandma? "


Aisyah kembali mencubit gemas pipi bocah itu sambil mengangguk.

__ADS_1


" Wonderful.... akan ada tamu ya ? ", tanya bocah itu lagi.


" Tamunya sudah disini..... sedang istirahat ", Aisyah membuat gerakan dengan jari telunjuk yang ditempelkan ke bibirnya.... harap tenang, maksudnya.


" Ooh..... tapi... tapi grandma.... aku tetap boleh mencicipi kue mu yang lezat itu ? ", si bocah memohon dengan suara yang dipelankan, manja.... begitu menggemaskan.


" Tentu.... kau akan dapat banyak seperti biasanya ".


Tiba-tiba saja bincang-bincang hangat dua anak manusia beda generasi itu teralihkan oleh suara langkah mendekat. Rupanya si tamu yang sedang mereka bicarakan sesaat tadi, memutuskan ke luar kamar. Ia mendengar ada yang berbincang di ruangan seberang yang terpisah oleh ruang keluarga.


Rayhan tersenyum menyapa nyonya Salman yang juga menyambutnya dengan hal sama. Sesaat kemudian matanya'pun teralih pada bocah dengan kulit emas kecoklatan seperti warna madu yang manis. Dan si kecil yang mungkin usianya enam tahun itu juga menyapanya dengan senyum semanis madu.


" Selamat sore nyonya..... wah rupanya aku terlelap di siang hari hingga sore. Maaf nyonya... ", kata Rayhan.


" Syukurlah ... kau bisa beristirahat, itu mempercepat proses penyembuhan mu "


" Saya akan ke rumah sakit.... mungkin sepuluh - lima belas menit lagi taxi nya datang ". Sekilas Rayhan melihat jam tangannya.


" Ouh.... kalau begitu masih ada waktu. Ayo kita tunggu sambil menikmati teh dan kue-kue kecil .... lihat, little Thor sudah menunggu mu "


Rayhan mengikuti arah dagu nonya Salman. Dan entah kapan beranjaknya, si bocah menggemaskan itu saat ini sedang berusaha naik dan duduk di kursi minibar yang cukup menyulitkan untuk tinggi badan yang hampir sama dengan kursi itu. Rayhan tersenyum..... buru-buru ia membantu si bocah agar tidak terjatuh.


" Terimakasih .... emm... mister ..... "


" Rayhan.... panggil uncle Rayhan ya ".


" Uncle Rayhan ..... ya ", bocah itu manggut-manggut setuju.


Aisyah atau nyonya Salman merasakan ada panah es yang melesat dan tepat menikam inti perasaannya sebagai seorang wanita, istri dan ibu. Ia tersenyum kelu, meski batinnya berseru........ itu anakmu tuan Rayhan.


Keduanya menikmati kepingan-kepingan cinamon cookies dengan nikmat. Ini bukan suatu kebetulan..... jika keduanya sama-sama suka mencelupkan cookies coklat terang yang teksturnya sedikit keras itu ke cangkir teh. Dengan gerakan hampir bersamaan menyesap segarnya greentea yang terserap di kue kering itu, sebelum akhirnya menggigit dan mengunyahnya perlahan. Lalu ekspresi yang serupa pun nampak saat kedua anak manusia itu puas menikmati rasa lezatnya. Senyum simpul disudut bibir dengan sepasang mata yang mengerjap sesaat.... sungguh serupa.

__ADS_1


Lihat bagaimana genetik itu membuat jejak, batin Aisyah yang tak lepas mengamati keduanya. Pria dewasa dan pria kecil .... ayah dan anak. Namun keduanya belum tahu jika hubungan mereka terjalin dengan darah dan nafas. Bahwa kedekatan mereka saat ini.... sesungguhnya masih terlalu jauh jika dibanding dengan kedekatan hati ... seharusnya.


__ADS_2