Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
Daddy.... kau menculikku????


__ADS_3

Awalnya Rayhan begitu bersemangat menampilkan swafoto bidadari dan malaikat kecil, namun kemudian mulai ada rasa menyesal. Mungkin lebih tepatnya rasa khawatir. Bagaimana tidak, sudah hampir setengah hari ini group WhatsApp nya ramai sekali dengan seruan-seruan kesal teman-temannya. Mereka kesal karena Rayhan sama sekali tidak mengindahkan respon-respon dan pertanyaan mereka atas foto itu.


Swafoto itu dijadikan status dengan waktu yg tepat saat kawan-kawannya di Indonesia menikmati jam istirahat siang. Tentu saja hal ini segera menjadi trending topic. Beda waktu enam jam pada saat musim semi di Inggris atau yang lebih dikenal dengan masa British Summer Time , di mana beda waktu Indonesia dengan Inggris hanya berselang enam jam, tidak tujuh jam seperti waktu GMT.


Saat itu sekolah Alend baru saja usai. Dan si bocah tengah berlari kegirangan menuju dekapan ayahnya. Telepon genggam Rayhan berbunyi berkali-kali menuntut perhatian. Melihat nama kontak yang memanggil drngan video call, Rayhan pun menerimanya. Tepat pada saat itulah, Alend melesat bagai bola baseball menukik ke pelukannya.


" Brugh" ..... suara momentum ayah & anak itu berpelukan. Rayhan sedikit meringis, bekas lukanya sedikit nyeri karena hentakan itu.


" Sorry Daddy...... its hurt? ", tanya sang anak dengan ekspresi sangat khawatir.


" A little... don't worry ".


Sementara adegan mesra ayah dan anak itu tersaji indah bagi sepasang mata dilayar ponsel yang sesungguhnya berada jauh di seberang sana. Sesaat kemudian Rayhan baru menyadari dengan komunikasi tidak langsung nya.


" Maaf Do... kau sudah lihat kan? ", ucapnya dengan nada bangga yang begitu kentara.


" Heeem.... jadi itu junior kalian. Dasar tukang pamer ... ".


" Hahaha... dilarang sewot bro... "


" Mana ibunya? ... aku rindu padanya "


Rayhan mengarahkan layar ponsel berkamera nya mengelilingi area keberadaan mereka berdua saat ini. Lalu ia mengarahkan pada dirinya sendiri dan kembali berkontak lihat dengan Aldo sahabatnya di seberang sana. Ia mengangkat kedua bahunya seraya tersenyum kecil.


" Lihat... kami hanya berdua saat ini. Alend, where is mommy ? ".


" Working ", jawab si kecil dengan gaya imutnya dengan masih tak henti bergelayut manja pada leher sang ayah.


" At hospital ... ", si bocah menyergah cepat.


" Kau dengar ... ", Rayhan menyampaikan pada Aldo seolah menegaskan.


" Ya.... ya... .Eh, kau tidak ingin mengenalkan jagoan mu padaku. Paman terganteng nya... ", pinta Aldo tak kalah narsis.

__ADS_1


Terlihat Rayhan kemudian berbisik-bisik dengan putranya, diselingi senyum-senyum geli. Membuat Aldo diseberang sana sedikit kesal karenanya


" Heeeiii.... you two, still on the line .... right. Don't forget me ", seru Aldo setengah kesal.


" Hi uncle.... Aldo ...", sapa Alendra pada akhirnya dengan senyuman yang menggemaskan.


" Hi boys ", balas Aldo . " What is your name? "


" Syailendra.... call me Alend ".


Selanjutnya yang terjadi adalah percakapan dua bahasa dari dua generasi berbeda. Percakapan tiga orang pria yang terikat karena dengan cerita satu wanita.


" Lalu apa rencana mu Hans ?", tanya Aldo kemudian.


" Jelas..... tidak melepaskannya lagi.... membuat mereka berdua selalu bersama ku. Mungkin... membuat adik baru buat Alend ", diikuti senyum usil khas Rayhan.


" Dasar!!!!! .... yakin ?? Nilam masih mau menerima mu? ".


" Bagaimana dengan perlindungan secara hukum ?".


Pertanyaan ini membuat Rayhan mengernyitkan keningnya. Ia menatap Aldo sesaat seperti mencerna maksud dari kalimat sahabatnya.


" Ya... tentu saja. Kau bisa mendaftarkan pernikahan kalian di kantor catatan sipil setempat. Di sana tidak serumit di sini ", urai Aldo kemudian.


" Ya... ya... ya... benar juga. Kau memang the best Bro ", Rayhan terlihat sumringah.


" Busyet dah.... bikin anaknya kau pikir... yang legal kau tinggal ".


" Hei... secara agama, kami masih legal ", Rayhan berseru kecil. " Okelah... segera kujadikan prioritas "


" Lantas kapan kau ajak pulang.... setidaknya, kapan kau bawa mereka pada keluarga besarmu ? "


" Bertahaplah 'Do.... pasti semua akan ku usahakan sekuat tenaga agar bahagia... semoga Allah melancarkan nya "

__ADS_1


" Aamiin.... sampaikan salam ku padanya. Bilang ke Nilam... temen paling gantengnya kangen. Eh...... tambah cantik ya dia ??? "


" Heeem..... sudah ya. Aku tau' yang ada dipikiran mu sekarang ini. Sudah dulu ya... "


" Hahaha... santai Bro.... oke-oke... bye ". Dan Aldo diseberang sana pun menutup panggilannya dengan suara tawa yang tertinggal.


" Daddy... ".


" Ya... ", sahut Rayhan cepat saat Alend menarik-narik celana nya.


" Katanya akan mengajakku ke rumah Daddy yang di London .... jadi sekarang ? ".


" Iya .... ayo. Kita berangkat sekarang... pamit dahulu pada ibu Sonya ya.. "


" Okay ", sambut Syailendra penuh semangat.


Dua orang beda generasi itu berjalan bergandengan dengan riang gembira. Sesekali Rayhan mengacak rambut hitam ikal tebal milik anaknya. Penuh semangat dan kebahagiaan terlihat jelas dari setiap gerak keduanya. Tapi ada satu hal yang diabaikannya, janji untuk mengikutkan nyonya Sonya. Rayhan justru mempersilahkan pengasuh anaknya itu untuk pulang lebih awal dan beristirahat.


Ia benar-benar mengabaikan syarat yang diajukan Nilam. Padahal dia baru saja empat hari ini merasakan menjadi seorang ayah. Tanpa tahapan, langsung seorang ayah dari seorang anak laki-laki berusia lima tahun.


Tapi Rayhan begitu bersemangat, ia melakukan mobilnya ke arah jalan toll.


" Kita mau kemana Daddy ? ", tanya Alend yang menyadari perubahan rute pulang sekolahnya.


" Kita ke London..... ke rumah Daddy "


Mendengar perkataan ayahnya, tiba-tiba saja Syailendra menjadi bersikap waspada. Ia menegakkan tubuhnya yang terduduk rapi dengan safety belt diatas kursi penumpang anak. Rayhan menyadari perubahan sikap itu, terlihat jelas dari spion.


" Alend .... kenapa ?? ", tanyanya khawatir


" Daddy .... kau menculikku ??? "


" Hah ..????!!!! ".

__ADS_1


__ADS_2