Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
Selamat pagi cinta .....


__ADS_3

Sore itu .... diatas balkon kamarnya, di paviliun keluarga. Rayhan yang masih duduk dengan kursi roda elektriknya, menahan langkah sang bunda yang akan segera berlalu. Bekas luka memar itu sudah tidak ada, namun cedera parah di kakinya belumlah terobati dengan tuntas.


" Mah... aku tidak pernah lupa, dulu mamah mengajariku untuk selalu menghormati sesama manusia. Menyayangi mereka ... dan tidak membedakan satu dengan yang lainnya. Bergaul dengan siapa saja tanpa memandang kasta. Tapi kenapa untuk urusan cintaku .... justru status itu begitu penting ? ".


Rayhan menatap wajah sang ibu dengan pandangan penuh permohonan. Lalu ia meletakkan kedua belah tangan wanita yang sangat dihormati dan dicintainya itu dalam dekapan dadanya. Sepasang matanya terpejam, dadanya terasa penat oleh rasa sedih serta rindu. Lalu kembali ia menatap ibunya dengan air mata yang mengambang.


" Lihatlah pengorbanan yang dibuatnya untuk ku...... dia pergi karena menginginkan kebahagiaan mu. Karena ia memahami .... Karena ia mencintaiku ".


Rayhan mencium punggung tangan sang bunda dengan khidmat. Isak tangisnya begitu lirih nyaris tertelan oleh deru angin yang membelai daun-daun bambu serta membuat batang-batangnya saling bergesekan. Tapi itu cukup untuk sebuah pengumuman yang menuturkan betapa lara dan sengsara hatinya.


" Nilam tidak pernah menuntut apa-apa dariku.... bahkan dia meninggalkan sejumlah besar uang dari hasil penjualan rumahnya itu untuk ku ", Rayhan bertutur kembali saat bisa meredakan isaknya.


" Mah..... dia memahami betapa keras kepalanya aku. Dia seperti mengerti setiap keputusan apa yang akan aku ambil.... Dia mengerti betul tentang hatiku. Sama seperti mu.... Nilam mencintai ku tanpa syarat. Bahkan saat terpuruk dan terbuang.... dialah yang menjadi tempat ku bersandar ".


Masih tetap dengan menggenggam jemari sang bunda dalam dekapan dadanya. Rayhan perlahan mulai menguasai diri. Lambat laun isaknya terhenti. Namun saat ia menatap wajah wanita di hadapannya itu. Wajah sang bunda masih dengan ekspresi kerasnya, tak bergeming seolah air mata sang putra menguap begitu saja sebelum sempat menyentuh permukaan hatinya.


Rayhan tertunduk, hatinya diselimuti kecewa. Kemudian diapun melepaskan jemari sang bunda. Perlahan kedua tangannya memegang erat sisi kursi rodanya. Lalu menyentuh stick navigasi dengan tangan kanannya. Iapub mulai sedikit menjauh dari sang ibu, dan mendekat pada bibir pembatas balkon.


" Jangan korbankan kami.... Jangan buat aku harus memilih salah satu diantara kalian. Ada keluarga tempat aku lahir dan tumbuh... namun ada keluarga yang baru mulai ku bangun dengan segenap jiwa ragaku. Kenapa aku harus memilih salah satunya ??? ".


" Hans... ", akhirnya sang bundapun membuka suara. Dan Rayhan dengan serta memutar menatap wanita yang telah berjuang hidup serta mati dalam memberinya hidup.


" Buktikan jika Nilam adalah wanita yang tepat ..... temukan dia, aku akan menerimanya. Namun jika suatu saat kau menemukan dia sudah bersama pria lain.... kau harus membuangnya jauh-jauh dari hatimu. Dan turutilah ibumu ini yang akan menjodohkan mu dengan wanita yang tepat. Atau jika hatimu telah terlebih dahulu menemukan cinta yang lain..... maka kau pun harus segera menghapus semua hal tentang Nilam ".

__ADS_1


Rayhan termenung sesaat mendengar penuturan panjang dari ibunya. Tapi ia merasa mendapatkan celah kesempatan untuk cintanya dengan Nilam. Ia tersenyum, semua karena rasa bahagia mengiringi secercah harapan yang tiba-tiba saja muncul.


" Baik mah... beri aku waktu membuktikan cinta itu ".


Ā 


šŸŽ†šŸŽ†šŸŽ†šŸŽ†


Ā 


Rayhan masih mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba membiasakan diri dengan suasana temaram ruangan itu. Juga berusaha secepat mungkin mengembalikan kesadarannya dari energi masalalu yang sesaat tadi menguasai alam bawah sadarnya.


Sebagai sebuah ingatan yang membenggu.


Rayhan tersenyum puas melihat hasil tangkapan kamera handphone nya. Seorang anak kecil yang terlelap dalam pelukan sang bunda. Wajah keduanya begitu rupawan dan damai pun sangat kentara melingkupi keduanya. Rayhan kembali tersenyum, kali ini adalah senyuman bahagia yang luar biasa.


Tangannya terulur membelai pipi chubby Syailendra, kemudian beralih membelai rambut dan wajah Nilam. Wanita itu merasakan sentuhan, menggeliat perlahan tanpa membuka mata. Nilam kembali terlelap sambil mendekap putra kesayangannya.


Ia pasti sangat lelah.... bekerja di siang hari melayani dan merawat pasien-pasien. Sore harinya mengurus anak yang sedikit rewel dengan demamnya. Lalu malam harinya, energinya nyaris terkuras habis karena menerima sentuhan-sentuhan dari sang suami yang sudah hampir enam tahun tak bisa menyentuhnya.


Jika Rayhan kemudian meminta lagi... dan lagi, seperti musafir padang pasir yang menenggak air bergaram ditengah hausnya, itu pasti sangat wajar. Bagi pria itu, setiap sentuhan dengan Nilam istrinya seperti meninggalkan efek kecanduan yang luar biasa. Saat keduanya telah mencapai puncak, ia hanya memberikan kesempatan sejenak untuk istrinya. Berikutnya Rayhan sudah kembali lagi melakukan penyerangan sensual di setiap inchi tubuh sang istri.


Mau bagaimana lagi .... Nilam hanya mampu menurutinya. Menuruti kemauan sang suami, memberikan haknya. Walaupun setelah itu badannya terasa remuk redam dan lunglai luar biasa. Bahkan Rayhan akhirnya menggendong tubuhnya untuk pindah tidur di kamar dimana putra mereka disana.

__ADS_1


Rayhan beranjak turun dari tempat tidur, lalu berjalan kesisi dimana istrinya terbaring. Menyentuh kembali wajah cantik nya dan menciumi harum rambut serta tengkuk wanita itu.


" Aaah..... masih harus lagi ?. Aku .... capek Rey ... ", suara Nilam terdengar serak.


Rayhan terkekeh kecil dan kembali membelai pipi wanita itu yang tetap memejamkan matanya. Kemudian dengan satu gerakan ia memondong tubuh mungil itu. Nilam sontak terbangun dan membuka matanya.... dengan tatapan malas. Namun ia mengalungkan kedua lengannya di leher sang suami.


" Selamat pagi cinta .... ", bisik Rayhan sambil mencium lembut pipi Nilam


" Kau harus bertanggung jawab karena setelah ini ..... aku pasti benar-benar tak bisa berjalan .... tenaga ku habis ", kata Nilam yang disambut kekehan kecil Rayhan.


" Aku hanya akan mandi bersama-sama..... lalu sholat subuh berjamaah. Tapi... kalau satu babak lagi di kamar mandi.... aku masih sanggup melayanimu "


Dugh!!.... pukulan di pundak Rayhan menunjukkan jawaban Nilam. Pria itu kembali terkekeh, ia puas sudah berhasil menggoda istrinya. Lalu melangkah menuju kamar mandi.


" Kita menghadap Allah dulu..... mengucapkan banyak terimakasih atas segala kebaikan Nya ...ya.. ", ucap Rayhan sambil terus berjalan.


Pagi itu Rayhan benar-benar memanjakan Nilam. Ia meminta istrinya untuk kembali istirahat sambil menunggui anak mereka. Sementara Rayhan membuatkan sarapan pagi untuk keduanya.


Saat Rayhan tengah menyeduh teh hijau dengan lemon dan madu, saat itu suara kecil Alend terdengar berbincang dengan ibunya dari arah kamar. Sepertinya sedang bersiap membersihkan diri dan berganti baju. Benar saja.... keduanya keluar beberapa saat kemudian.


" Daddy... ". Si bocah berlari menghambur ke dalam pelukan sang Ayah.


" Good morning my champion..... cobain sarapan yang Daddy buat yuk "

__ADS_1


Pemandangan itu terlihat sangat indah. Sebuah keluarga ......


__ADS_2