
Sepulang dari mengantar putranya ke sekolah, Rayhan segera kembali ke rumah kediaman istrinya. Ada banyak hal yang harus dibicarakan, diperjelas dan dan disampaikan pada wanita berparas manis itu. Memikirkan bagaimana sang istri tersenyum saja, membuat debur debar di dadanya menggelora.
Nilam...... dari seorang gadis remaja yang hanya terlihat mungil, hingga menjadi wanita dewasa yang mempesona. Wajah alami hanya dengan sapuan bedak tipis dan pelembab bibir berona peach, sudah sangat membuatnya bernilai diatas rata-rata. Tuhan sangat baik pada wanita ini..... satu-satunya kekurangan hanya pada postur tubuhnya, yang tidak lebih dari seratus limapuluh enam centi. Tapi itu adalah berkah untuk Rayhan, karena justru membuat Nilam terasa begitu pas di pelukannya.
Secara genetik, Nilam begitu banyak mewarisi sifat dominan gen dari ibunya. Kakeknya orang Arab dan neneknya orang China. Sudah paham'kan, dari mana didapatnya warna abu-abu seperti senja dalam hujan sepasang mata Nilam. Sudut mata yang memanjang berbingkai alis tebal, serta tulang pipi tinggi yang kontras dengan dagu lancipnya. Memang Tuhan maha sempurna dalam penciptaannya.
Dan kini ... Rayhan mendapati sosok pencuri hatinya tengah mendekorasi ruang keluarga. Aneka balon warna-warni bertebaran di lantai. Sementara sang pencuri hati tengah sibuk merangkai aneka pita berwarna keemasan.
" Sayang ... ada apa ini ?".
Nilam sedikit terkejut karena tidak menyadari kehadiran suaminya.
" Oh.... maaf aku lupa memberitahu mu. Sore ini kita merayakan ulang tahun Alend ", sahut Nilam segera.
" Hari ini .... hari lahir nya?! ", seru Rayhan setengah tidak percaya.
" Iya... kemarin malam aku belanja keperluan pesta kecil-kecilan ", tutur Nilam tanpa menoleh pada Rayhan.
" Aku belum beli hadiah untuknya ", sesal Rayhan.
" Bungkus saja dirimu dan kau permanis dengan pita..... itu hadiah terbesarnya kini "
" Benarkah ? ", sepasang mata Rayhan berkerjap gembira.
Kegiatan menghias ruangan itu diakhiri dengan menggelar karpet dua karpet beludru berwarna seperti bulu panda. Namun tidak seperti dugaan Rayhan, itu belum berakhir. Nilam datang dari arah dapur dengan membawa dua kantong besar berwarna coklat. Rayhan mengenali barang-barang itu.
Dengan cekatan wanita yang kini mengikat tinggi rambut panjangnya kemudian di gulung sedemikian rupa hingga memperlihatkan area lehernya yang sedikit berkeringat. Satu dua anak rambut yang tidak mampu terikat, justru menambah kesan manis pada wajahnya. Rayhan tak bergeming mengamati setiap kegiatan istrinya itu.
" Beres... siiip ", seru Nilam gembira penuh nada puas.
Di dua meja kecil berderet-deret jus buah kemasan, aneka biskuit dan coklat yang pastinya akan membuat mata anak-anak berbinar riang. Sentuhan terakhir, Nilam menempatkan sekeranjang aneka buah segar.
" Aku mau mandi... sebentar lagi delivery pizza dan ayam goreng datang. Tolong ya.... tuh dompetku di atas kulkas ", pintanya kemudian.
" Yakin tidak mengajakku mandi juga ", Rayhan tidak mengiyakan permintaan Nilam namun justru menggodanya.
Tentu saja membuat wanita itu mendelik dengan ekspresi malu dan sebal
" Sudah lamaaaa ... sekali loh, kita tidak mandi bersama ", bukannya mereda malah semakin jadi.
" Brak ", suara pintu kamar ditutup kasar.
" Lebih efektif mandi sendiri ", seru Nilam dari balik pintu kamarnya.
__ADS_1
Rayhan tertawa spontan, ia terbahak-bahak. Sungguh menyenangkan bisa kembali menggoda wanita itu, batinnya. Hal yang selalu dilakukannya pada Nilam sejak mereka masih duduk di kelas yang sama d SMA. Rayhan suka sekali melihat rona merah yang menjalar di pipi Nilam, juga salah tingkahnya wanita itu karena malu.
Ia tersenyum-senyum sendiri mengingat peristiwa lampau. Nilam yang memintanya merahasiakan hubungan mereka berdua, salah tingkah dan wajahnya berubah seperti jambu air, saat Rayhan sukses menggoda dengan kata-kata mesranya. Padahal saat itu mereka tengah bersama dengan sebagai besar teman-teman sekelas yang memang sengaja datang menjenguk Rayhan yang tengah sakit. Saat itu dua minggu setelah ujian nasional.
" Sayang.... dari mana saja kau. Aku sudah sangat rindu ", begitu sambutan Rayhan saat Nilam memasuki kamarnya yang sudah penuh dengan belasan teman sekelas mereka.
Mata kecil yang tajam itu mendelik kesal, tapi yang dominan adalah rona merah jambu yang merebak dikedua pipinya. Nilam tak menyangka akan mendapatkan sambutan mesra seperti itu.
"Cie... ada yang rindu "
" Cie... cie..."
" Jadian diem-diem nih ..."
" Wah ... hot couple nih "
Ramailah cuitan-cuitan rese dari teman-teman mereka.
" Tanggung.... udah pada tau' nih. Kita langsung tunangan saja ya ", Rayhan semakin menjadi.
Dan ramailah suara anak-anak muda itu. Ada yang seolah-olah patah hati, tapi mungkin juga patah hati beneran. Ada yang heboh memberi dukungan. Suara mereka begitu ramai oleh canda dan tawa.
Rayhan masih tak melepaskan tangan Nilam ketika semuanya sudah mulai berpamitan satu persatu. Dengan tetap tersenyum dan mengabaikan teman-teman yang menggoda mereka, ia mengucapkan terimakasih banyak karena sudah dijenguk.
" Kenapa ? Tidak rindu padaku ? "
" Keterlaluan.... kamu sudah janji ... hanya kita yang tau' ... ini??? ", Nilam bersungut-sungut kesal.
" Heeem.... tapi sekarang sudah terlanjur ". Rayhan tersenyum... entah mengapa ia puas sekali kalau melihat wajah manis itu merajuk dan malu.
" Loh... sudah pada pulang semua temanmu Hans?". Sebuah suara mengejutkan Nilam, ia berusaha menarik tangannya dari genggaman Rayhan.
Seorang wanita cantik tampak berdiri diambang pintu yang memang separuh terbuka. Rayhan tersenyum menggoda Nilam sambil tetap memegangi pergelangan tangan gadis itu. Nilam tampak lebih salah tingkah lagi.
" Mah.... kenalkan ini Nilam ". Akhirnya Rayhan melepaskan Nilam bertepatan dengan sang gadis yang memberikan salam dengan mencium tangan mamah nya.
" Oh... ini Nilam Ardya Prameswari ... yang buku catatannya selalu dipinjam Rayhan ", wanita itu berkata ramah.
" Iya tante... ", Nilam menyahut sambil masih tersipu malu.
" Mama nya Nilam punya catering ya ..... yang mana ya? kok tante belum tau' "
" Rindang Catering tante ", sahut Nilam cepat.
__ADS_1
" Ya ampun..... Rindang nya jeng Lani tow. Itu langganan mamanya Aldo juga loh Hans. Ternyata ... oawalaaah ".
Itulah saat pertama Nilam bertemu dengan mamahnya. Dua wanita yang kemudian berperan besar membuat alur hidup Rayhan. Dua wanita yang sangat disayanginya. Dua wanita .....
Aahh..... Rayhan mengusap mukanya dan menarik nafas panjang.
Ting Tong.... suara bel pintu mengembalikannya pada masa sekarang. Ia teringat pesanan Nilam yang diantar saat ini. Bergegas ia menuju pintu dimana disebaliknya sudah berdiri seorang anak muda yang menantinya dengan tiga box pizza dan dua box besar ayam goreng.
Selesai urusan dengan delivery, Rayhan meletakkan makanan pesanan itu di meja makan. Ia kemudian beralih kearah kulkas dan meraih dompet coklat di atasnya. Ia tersenyum saat melihat foto Nilam yang menggendong bayi Syailendra. Kemudian dia memasukkan kartu mengkilat keemasan yang diambil dari dompetnya sendiri. Lalu meletakkan kembali benda itu seperti semula.
Saat itulah Nilam keluar dari kamar. Wajahnya cerah dan segar, dengan sapuan makeup warna nude. Berpadu dengan gaun berpotongan sederhana berwarna merah bata dengan aksen tiga kuntum mawar terbuat dari pita berwarna keemasan. Rambut hitam yang melebihi bahu tergerai jatuh dengan manisnya.
Rayhan sekilas memperhatikan penampilannya. Jeans dengan atasan casual warna coklat tua. Aah... lumayan lah berjajar dengan Nilam yang tampak sangat anggun. Hibur Rayhan pada diri sendiri.
" Jam berapa acaranya ? ", tanya Rayhan.
" Ehmm ... ", Nilam melirik jam dinding, yang menunjukkan pukul sepuluh lima puluh menit. " Satu jam lagi ", jawabnya kemudian.
" Kau undang semua teman sekolahnya?"
" Ah tidak.... hanya teman yang satu jalur antar-jemput sekolahnya saja. Ehmmm... 6 anak, ditambah ibu mereka, keluarga dokter Salman, juga nyonya Sonya... eh nanny nya "
" Kau menggunakan jasa pengasuh juga rupanya "
" Ya ... sudah semenjak Alend bayi. Nyonya Salman yang membantuku mencarikannya. Dia seorang wanita India berumur sekitar empat puluh limaan .... saat itu suaminya sudah meninggal, dan nyonya Sonya masih harus menguliahkan dua anaknya. Dia sayang sekali dengan Alend ".
Rayhan mengangguk-angguk, dalam hati dia sangat bersyukur karena sepertinya istri dan anaknya dikelilingi oleh orang-orang yang sangat baik dan perhatian. Setidaknya kehadiran mereka pasti akan sangat membantu seorang wanita yang sedang hamil lalu melahirkan anaknya... dan dia sebatang kara di negara ini.
Ting tong... suara bel kembali berbunyi. Kali ini diikuti suara seorang wanita mengucapkan salam. Nilam bergegas membukakan pintu. Tampak seorang wanita mengenakan saree kain khas india dengan perawakan sedang yang langsung menyeruak masuk. Terlihat sangat ceria, sebelum ia kemudian terpaku menyadari keberadaan Rayhan di tempat itu.
" Kenalkan .... ini nyonya Sonya. Nyonya... itu Rayhan, ayahnya Alend ", Nilam buru-buru memperkenalkan mereka berdua.
" Tuan Rayhan... ", nyonya Sonya menjabat hangat uluran tangan Rayhan. Sepasang mata wanita itu tiba-tiba berkaca-kaca. " Sekarang aku tau' dari mana ketampanan bayi kecilku itu ... Alend mewarisinya darimu "
" Ah nyonya terlalu memuji.... terimakasih. Terimakasih banyak karena anda sudah banyak membantu Nilam ". Rayhan membalas jabatan hangat nyonya Sonya dengan menepuk-nepuk punggung tangan wanita itu.
Tiba-tiba saja terdengar suara klakson sebuah kendaraan yang sangat khas dan berbeda dari klakson-klakson mobil lainnya. Nilam dan nyonya Sonya yang hafal dengan suara itu, sesaat saling berpandangan.
" Oh my God ... secepat ini ", gumam nyonya Sonya tidak percaya.
" Aku jemput mereka.... tolong ayam dan pizza nya ya nyonya ".
Apa yang sebenarnya terjadi..... Rayhan menatap keduanya silih berganti.
__ADS_1