Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
S' E' ....... Rahasia Rahasia 4


__ADS_3

Hari ini Aldo kembali ke Bandung, ia akan naik kereta jam sepuluh malam ini. Rayhan bermaksud mengantarkannya tapi pria itu menolak.


" Aku bukan anak perawan.... santai saja, aku bisa naik taxi saja ", kata Aldo.


" Baiklah..... dan lagi kau juga bukan perjaka. Jadi aku tidak perlu khawatir ya ........ aduh!!", Rayhan mengaduh saat sebuah tinju mendarat di bahunya.


" Yang itu tidak usah kau perjelas ".


Nilam tersenyum melihat kelakuan suami dan sahabatnya itu. Ia sudah sangat paham bagaimana Aldo dan reputasinya, bahkan semenjak mereka masih sama-sama duduk di bangku SMA. Ia tidak akan terkejut lagi dengan informasi yang disampaikan Rayhan tadi. Pastilah gaya hidup hedonisme sudah menjadi hal yang wajar bagi seorang Aldo.


" Nil.... satu-satunya pria setia yang ku kenal ... yaa cuma suami mu ini . Entah setia ... entah tak berdaya ", Aldo terkekeh senang karena merasa bisa membalik keadaan. " Dulu... saat kau belum ketahuan ada dimana.... disodori perempuan model seperti apapun... tetep saja ... letoy ... ha.. ha.. ha.. ".


" Dasar buaya !!!... itu karena aku setia. Kamu saja yang kurang ajar...... tahu temannya sudah beristri... masih saja kau paksa mengikuti gaya hidup playboy mu ".


" Memang berapa kali kau memaksa mas Rey ... untuk berhubungan dengan wanita-wanita yang kau sodorkan itu ?", akhirnya Nilam pun tidak tahan untuk bertanya.


" Banyak kali... setiap ada kesempatan. Tapi selalu gagal.... bahkan kami teman satu genk sempat berpikir kalau Rayhan sudah kehilangan kejantanan ... karena kecelakaan itu ".


" Heemmpfft.... ", Nilam menahan tawanya. " Oh mas Rey ku.... kalau kau jadi lemah syahwat... trus bagaimana caranya aku bikin baby twin ini .... ", Nilam berkata manja sambil membaringkan tubuhnya di sofa dan menjadikan pangkuan Rayhan untuk bantal.


" Iya... ya... kalau gitu... aku Superman dong... ", Rayhan tertawa senang. Apalagi kali ini dia benar-benar melihat muka Aldo yang terlihat nyengir salah tingkah melihat kemesraan itu.


" Heiii.... kau tahu Hans, ada rahasia antara aku dan Nilam.... jangan-jangan kau sudah cerita ya Nil .. ", tiba-tiba Aldo mengalihkan pembicaraan.


" Rahasia.... yang mana sih 'Do? ", Nilam balik bertanya tapi dengan nada acuh.


" Tentang kita.... ", Aldo mengerling genit dengan sengaja karena ia melihat sebersit raut cemburu di wajah Rayhan.


" Heii.... itu bukan rahasia. Itu hanya statement yang kamu buat sendiri.... dan aku merasa tak perlu klarifikasi ....."


Nilam belum selesai dengan kalimatnya saat perhatian mereka teralih oleh suara klakson mobil yang berhenti di pelataran rumah itu.


" Nah ... tax-ol ku dah datang.... aku langsung pamit dulu ya ".


Aldo berdiri dan segera berpamitan pada para sahabatnya ini. Sebuah pelukan hangat diberikan untuk Rayhan. Ia tersenyum saat menjabat tangan Nilam.


" Sampaikan pada keponakan ganteng ku.... uncle Aldo menunggunya di Bandung .... kabari aku jika twin sudah lahir ya ".


Pria ramah dengan wajah memikat dan senyum menawan itu pun menghilang bersama mobil taxi on line yang membawanya. Kehadirannya selama tiga hari ini sangat memberi arti, membuka semua kenangan indah tentang kisah kasih dan juga persahabatan mereka bertiga.


" Nil... ayo masuk, aku takut Alend tiba-tiba terbangun dab menangis menggemparkan dunia ... ".


Nilam tersenyum, iapun melangkah dalam gandengan tangan suaminya. Menunggu sejenak pria itu menyelesaikan mengunci pintu, lalu berjalan kembali menaiki anak tangga setapak demi setapak. Wanita itu berhenti sejenak tepat di anak tangga tengah, mengatur nafasnya perlahan sambil berusaha tersenyum saat mendapati suaminya menatap dengan pandangan khawatir.


" Ayo'.... ", tiba-tiba saja Rayhan meraih tubuh istrinya dan menggendongnya.


" Aduuuuh.... aku masih bisa jalan ... turunkan aku ... aku takut ".


" Sst... jangan banyak bergerak.... pegangan yang erat.... " .


Seketika Nilam berhenti merengek dan mengalungkan kedua lengannya memeluk leher sang suami dengan erat. Ia sedikit memejamkan matanya karena merasa ngeri dengan langkah Rayhan yang seperti mengayun-ayunkan tubuhnya.

__ADS_1


" Kau bisa membantuku memutar engsel pintu... ".


Nilam membuka mata dan ia memdapati keberadaan mereka di depan pintu kamar. Iapun memutar engsel dan membuat pintu itu terbuka. Rayhan melangkah masuk. Lalu dengan perlahan membaringkan tubuh istrinya di atas kasur besar. Sementara Syailendra sang putra sulung terlelap di kasur yang lebih kecil, yang letaknya sedikit lebih dekat tempat pendingin ruangan.


" Berat banget ya ... ", bisik Nilam.


" Iya .... tapi nggak banget kok. Kan' cuma naik delapan belas kilo ya ?".


Nilam memukul lengan suaminya, ia tahu nada menggoda dari kalimat Rayhan. Pria itu tertawa kecil lalu berbaring nyaman di sebelah istrinya.


" Sayang... ".


" Ya... ", Nilam memiringkan badannya dan merangsek mendekati Rayhan.


" Ada rahasia apa antara kalian... kau dan Aldo. Boleh aku tau ? ".


Nilam tersenyum namun tidak segera menjawab. Ia terlebih dahulu menaruh sebuah guling yang cukup panjang ukurannya. Memposisikan perut besarnya dengan nyaman berbantal benda empuk itu. Untuk kemudian menatap wajah suaminya dan menyentuhnya lembut.


" Bukan rahasia menurut ku...... tapi aku hanya selalu berusaha menepati janji ku ".


" Boleh aku tahu .... ".


" Tentu saja.... aku dan Aldo sama sekali tidak pernah pacaran .... ".


" Hah ?!!!!...... berarti... aku bukan penyebab putusnya kalian berdua ".


" Aduuuuh mas Rey ku tersayang.... mana ada putus kalau tidak jadian, aku tidak pernah menerima cintanya Aldo ".


" Terus.... kenapa kau membiarkan si terong itu gembar-gembor mengumumkan kalau kalian pacaran ... ", Rayhan mendelik protes.


Rayhan terdiam, ia merangkai kembali seluruh memory sepuluh tahun yang lalu. Sepertinya ada yang perlu diluruskan. Sejurus kemudian ia tersenyum sambil membelai wajah cantik istrinya.


" Ya.... benar, ia bilang kalau sudah menembak mu.... dan hanya sekali mengatakan sudah jadian dengan mu. Tapi aku begitu mempercayai nya..... Tapi... kau memutuskannya lewat surat ".


" Oh itu.... aku memutuskan kesepakatan untuk tetap diam dan berpura-pura jadi pacarnya. Aku menyudahi nya.... dan memilih sebagai Nilam yang bebas ".


" Kenapa bisa terjadi kesepakatan seperti itu.. ?".


" Kompleks..... Mama Aldo mengira kami benar-benar pacaran, dan Aldo meminta ku untuk jangan meluruskan kekeliruan itu ".


" Kenapa kau mau melakukan itu ? ".


" Agar aku bisa mendekati mu ".


Rayhan terkesima, ia sungguh tidak menduga dengan jawaban Nilam. Tiba-tiba saja hatinya seolah ditumbuhi aneka mawar yang bermekaran dengan indah.


" Nilam ... ". Rayhan kembali membelai wajah istrinya dengan lembut dan penuh cinta.


Ia kembali jatuh cinta pada wanita ini. Dulu iapun jatuh cinta pada tatapan bening seorang gadis bermata kelabu, yang kemudian mewarnai hari-hari nya dengan goresan indah cerita cinta masa remaja. Lalu ia jatuh cinta pada seorang gadis yang sama yang selalu membuat hatinya berdebar dan penuh dengan rasa ingin melindungi. Kini ia semakin jatuh cinta lagi pada wanita lembut namun menyimpan kekuatan luar biasa di tubuh kecilnya.


" Sejak kapan kau tahu.... telah jatuh cinta padaku ?".

__ADS_1


" Sejak kau ... memandangku dengan tatapan dingin itu. Aku ingin membencimu.... tapi hari demi hari... aku justru semakin terperosok oleh pesonamu "


" Aaah..... Nilam ", Rayhan memeluk istrinya ini dengan perasaan haru dan sangat bahagia.


" Aldo tahu semua itu..... dan dia meyakinkan ku untuk percaya bahwa kau juga memiliki perasaan yang sama denganku. Dia.... mengatakan akan bertindak sebagai orang yang menyadarkan mu ".


" Bodohnya aku.... ". Rayhan tertawa ironi mendengar semua hal itu. " Dan selama ini.... aaaahh.... bodohnya "


" Bukan hal penting lagi..... toh kita menikah. Walaupun sempat terpisah.... kita tetap kembali bersama ".


Rayhan mengangguk-angguk sambil tertawa kecil. Dengan serta merta ia menciumi wajah Nilam, membuat istrinya ini sedikit gelagapan.


" Rey.... ah ... aku sesak nafas nih ", Nilam mendorong perlahan dada suaminya.


" Maaf .. maaf... tapi aku benar-benar gemas pada mu. Kau tahu.... dulu setiap pulang dari mengantarmu habis siaran malam.... aku selalu didera rasa bersalah, karena sudah menghianati sahabat ku sendiri ".


Nilam tersenyum, ia teringat setiap malam minggu Rayhan selalu menjemputnya di stasiun radio dan kemudian mengantarkannya pulang. Itu adalah salah satu saat paling ditunggu-tunggu dalam satu minggu. Dimana selama setengah jam ia dapat merangkul pinggang Rayhan dan menyandarkan kepalanya pada punggung kekar dan lebar itu.


" Aku selalu memelankan laju motor ku... agar kau memeluk pinggang ku lebih lama ".


" Aku tahu Rey.... tapi apa kamu tahu apa yang aku pikirkan selama berada dibelakang mu ?".


" Tidak.... memangnya apa itu ? ".


Nilam tidak segera menjawab, ia sedikit tersipu malu. Jemari lentiknya bergerak menyentuh wajah Rayhan. Membelai dengan lembut hidung nan tinggi itu serta bibir penuh yang selalu membuatnya terpesona dengan segaris senyum menawannya. Lalu jemari itupun turun perlahan menyusuri dada Rayhan.


" Aku berharap..... kau menyatakan cinta mu. Hingga aku putus asa.... ".


" Aahh.... ", Rayhan mengerang frustasi. Bukan karena perkataan istrinya, namun karena belaian-belain jemari Nilam yang tidak sengaja menyentuh bagian-bagian sensitif di dadanya. " Sayaaaang.... kau membuat nya terbangun .....arghh ... ".


Nilam terkejut, ia buru-buru menarik jemarinya dari bulu-bulu halus dan sedikit panjang yang tumbuh di sepanjang belahan dada pria ini. Nilam sungguh-sungguh tidak menyadari seluruh perbuatannya. Ia menatap wajah Rayhan dengan mimik bersalah.


" Maaf..... apakah kau menginginkannya ? ", tanyanya dengan ragu.


" Tentu saja..... tapi itu akan menyakitimu dan juga twin.... tidak !!!! aku bisa menahannya ", Rayhan menolak dengan tegas.


Tiba-tiba saja Nilam berbalik arah, ia membelakangi Rayhan. Tentu saja hal ini membuat Rayhan kebingungan. Ia berfikir jika istrinya ini marah padanya. Mood wanita hamil memang luar biasa'.


" Peluk aku Rey.... ", pinta Nilam tiba-tiba.


Rayhan menuruti permintaan istrinya, masih dengan wajah yang sangat frustasi. Bagaimana tidak .... ia harus sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menyerang sang istri. Tapi wanita ini justru memintanya semakin mendekat pada pemicu hasrat. Oh Tuhan..... Rayhan beringsut pasrah dan mulai memeluk Nilam.


" Rey.... posisi ini.... tidak berbahaya, aman untuk wanita hamil tua. Kau bisa penetrasi tanpa menyakiti.... karena aku yang pegang kendali. Kau masih menginginkannya ? ".


" Apakah masih perlu ditanyakan lagi ? ".


Rayhan pun menyibak rambut panjang Nilam,


membelai lembut tengkuk dan leher wanita itu dengan bibirnya. Nilam meremang, tapi ia begitu menikmati hangat nafas serta lembut bibir yang terpapar menyelubungi indra perabanya. Ia tersenyum dan membuat gerakan untuk mempersilahkan pria yang paling dicintainya ini..... merasuk dalam setiap inchi hasratnya.


Malam pun berlalu dalam hening yang tertahan, memintal nafas yang saling menderu menyerukan cinta.

__ADS_1


' Aku membutuhkan mu .... '


Begitu lah bermiliar-miliar sel itu saling berseru satu sama lain. Cinta itu melingkupi atmosfer dalam kamar dan membumbung melesat pada Sang Maha Cinta. Menyampaikan kabar gembira tentang insan dan cinta sejatinya.


__ADS_2