
Rayhan tidak memberikan kesempatan pada Nilam untuk berganti pakaian. Masih dengan seragam perawat senior rumah sakit itu, Nilam digandeng erat berjalan bersamanya. Sepanjang koridor, selazar serta ruangan-ruangan yang mereka lalui. Setiap berpapasan dengan perawat-perawat junior, Nilam banyak mendapatkan sikap hormat dari mereka. Hal ini tidak luput dari pengamatan Rayhan.
" Aku tidak akan lari kemana-mana .... bisa kau lepaskan tanganku ?"
" Tidak! aku tidak mau ", Rayhan menjawab cepat. Saat ini keduanya berada di dalam lift masih dengan pergelangan tangan Nilam yang digenggam Rayhan begitu posesif.
" Okay... setidaknya jelaskan dulu, kenapa aku harus ikut ke ruang perawatan VIP ?", tanya Nilam kembali
" Nanti kau juga akan tahu kenapa ".
Nilam mendengus pasrah, ia memilih mengalah dan mengikuti kemauan Rayhan. Bayangan pria itu terlihat tampan di dinding lift. Nilam mengakuinya, pria itu memang sangat tampan sejak dulu. Kini lengannya kelihatan lebih berotot begitu juga dengan dada dan pundaknya. Belum lagi tatapan yang tajam menikam itu....... tidak mungkin tidak ada wanita yang bersusah-payah mengejar-ngejarnya.
" Apa yang kau pikirkan ? ".
Tiba-tiba saja Nilam merasakan tangannya ditarik. Rupanya lift sudah berhenti dan pintunya pun sudah membuka. Bodoh..... Nilam merutuki dirinya sendiri. Iapun melangkah tergesa karena terseret oleh tarikan tangan Rayhan.
" Nanti saja dilanjutkan... menikmati wajah tampanku ", bisik Rayhan dengan narsis dan kekehan isengnya.
Sepasang bola mata Nilam membulat sempurna, ekspresinya memperlihatkan dia sudah terprovokasi oleh sikap Rayhan. Sebuah cubitan yang cukup kuat mendarat sempurna dipinggang Rayhan. Pembalasan setimpal untuk rasa malu yang tidak bisa disembunyikan lagi. Nilam sukses membuat Rayhan berdesis, berjinngkat dan mengaduh.
Baru saja akan membuka pintu kamar VIP 8, tiba-tiba saja pintunya sudah terkuak sempurna. Sosok elegan dan anggun berdiri dengan masih memegang engsel. Senyuman dari setangkup bibir merah merekah itu tersungging sempurna.
" Hans... akhirnya aku bertemu denganmu ". Wanita itu adalah Grace dan dia menghambur dengan bahagia memeluk Rayhan. " Kita sukses besar.... kau tau, mereka sangat menyukai gaya desain mu. Seharusnya kau juga ikut datang di konferensi itu ".
Grace bercerita dengan semangat tanpa melepaskan pelukannya pada leher Rayhan. Postur tinggi yang sempurna serta heels yang dikenakannya, membuat dia nampak melekat dan menggantung sempurna di leher Rayhan. Grace terlalu bersemangat, hingga ia tak menyadari keberadaan lain selain Rayhan.
__ADS_1
Nilam memutuskan untuk mundur dan segera menghilang dari tempat itu. Jadi ini maksudnya, desis hatinya perih. Ia beranjak mundur dan menguraikan jemari Rayhan dari jemarinya sendiri. Aku pergi, seru batinnya penuh rasa sesak.
Rayhan yang merasakan perubahan sikap dari wanita dalam gandengan nya itu, bergerak cepat. Tap.... ia meraih pergelangan tangan Nilam dan mencengkeramnya dengan erat.
Sentakan Rayhan terasa santun namun mampu membuat Grace tersadar dengan penolakan pria di hadapannya itu. Ia memundurkan badannya sesaat kemudian. Di saat itulah ia menyadari sorot mata tak nyaman dari Rayhan. Dan juga keberadaan sosok lain ditempat itu. Seorang wanita yang berdiri sedikit lebih kebelakang nyaris tertutupi tinggi badan Rayhan, wanita mungil, polos tanpa riasan.
Nilam memilih sedikit tersenyum saat ia merasa pandangan wanita cantik itu menelanjanginya. Seandainya tangan Rayhan tidak mencengkeram erat, ia pasti lebih memilih untuk berlalu dari tempat itu. Tapi terlanjur sudah.... seluruh adegan mesra tadi sudah tercitrakan oleh netranya dan tersimpan rapi di otaknya. Dan sekarang, mau tidak mau ia harus menyiapkan diri untuk adegan selanjutnya.
" Kenapa tidak segera masuk? ", tiba-tiba sebuah suara menyeruak dari dalam ruangan.
" Hans??? .... siapa? ada apa? ", Edward menatap ketiga orang tersebut dengan tuntutan penjelasan. Otak cerdasnya segera memindai aura ketidak nyamanan hati diantara ketiga orang itu.
" Ayo masuklah ...", sergahnya kemudian.
Satu isyarat dari Rayhan berhasil ditangkapnya. Segera pria itu memberikan jalan untuk Rayhan dan Nilam masuk ke dalam ruangan. Namun tidak demikian dengan Grace, ia masih berdiri mematung.
sambil tetap mencengkeram pergelangan tangan Nilam.
" Semua....... kuperkenalkan, Nilam Istriku ". Rayhan tak menunggu lagi, begitu semua sudah masuk kedalam ruangan.
" Aku mengenalnya.... nona ini yang mengantarkanku tadi pagi ", tiba-tiba saja Gerald yang masih terbaring di ranjang menyahut.
" Nilam Ardya Prameswari ..... perkenalkan itu adalah bosku tuan Edward dan nona Grace... dan tuan Gerald, kau sudah tahu bukan dia adalah sekretaris handal di perusahaan ", Rayhan memperkenalkan.
Nilam yang masih merasa sangat tidak nyaman dengan situasi itu tetap mencoba untuk tersenyum dan mengangguk hormat. Edward tersenyum ramah sambil memperhatikan wajah Nilam yang begitu natural. Berbeda dengan Grace, ada sepersekian persen rasa tidak suka dengan pemandangan didepannya kini. Namun wanita cantik itu mencoba tersenyum.
__ADS_1
" Grace ....", sambil mengulurkan tangannya pada Nilam.
Rayhan terpaksa melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan Nilam, agar wanita itu bisa menjabat uluran tangan Grace. Disisi lain, Nilam merasa kalau Rayhan tidak memahami hatinya kini. Sesungguhnya ia tak sedikitpun mengharapkan Rayhan melepaskan. Entah mengapa aura perempuan bernama Grace ini seperti gigitan dingin yang membekukan syaraf. Dan Nilam terpaksa menjabat tangannya.
" Sudah sejak kapan menjadi istri Rayhan ? ".
Pertanyaan itu terlontar dari mulut Grace dan melesat bagai anak panah menembus ulu hati Nilam. Bahkan getarannya seolah dapat dirasakan oleh semua yang ada di ruangan ini . Nilam menyamakan tarikan nafasnya dengan mengangkat kedua bahunya seraya tersenyum.
" Apakah anda merasa keberatan dengan keberadaan saya sebagai istrinya Rayhan ? ", balas Nilam.
" Bukan urusan ku..... hanya saja, aneh rasanya tiba-tiba saja ada seorang yang diakuinya sebagai istri ". Grace berucap sinis, aura arogansi nya begitu kentara.
" Oh ya?..... kalau begitu, nona Grace pasti tidak begitu dekat menjalin pertemanan dengan Rayhan. Hanya sebatas atasan atau mungkin mitra kerja ".
Ucapan Nilam sebagai jawaban itu sungguh-sungguh tak terduga. Lihatlah raut muka Grace yang sontak memerah menahan rasa kesalnya. Edward terkikik kecil melihat adiknya yang elegan dan keras kepala itu akhirnya bertemu lawan yang sepadan. Sementara Rayhan sedikit kebingungan dengan sikap kedua wanita itu.
" Sudah .... sudah... Nilam ayo silahkan duduk ", Edward mengambil alih suasana.
" Mr. Edward..... terimakasih banyak, tapi sepertinya saya harus menolak kebaikan anda. Saya harus segera pulang..... ada hal besar lainnya yang harus saya tangani ", Nilam menolak halus.
" Mr. Gerald..... semoga anda lekas sembuh ya. Tolong segera sampaikan jika ada keluhan ". Nilam lebih memilih berjalan mendekati ranjang temoat Gerald terbaring. Mengechek jatuhan cairan infus, membetulkan letak selimut dan memberikan tepukan hsngat pada dada Gerald.
" Senang bisa mengenal anda semua.... saya permisi ", pamit Nilam pada akhirnya.
" Ed.... aku tidak kembali ke London hari ini. Aku menginap di kota ini ", Rayhan menyempurnakan pamitan Nilam dengan konfirmasi yang cukup jelas.
__ADS_1
Wow..... desis Edward disela tawa kecilnya. Tapi tidak dengan Grace... ia sibuk meredam emosi, kecewa dan ....... cemburu.
Dan lihatlah..... ketika cemburu itu merayap dan menyelimuti seluruh akal sehat.