Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
S’ E’ …… Karena Ini Tentang Kamu . 2


__ADS_3

" Kau kemana saja????.... aku nyaris ikut gila memikirkan kisah cinta kalian berdua ", suara Aldo terdengar bergetar masih dengan memeluk kedua orang sahabatnya.


Nilam tidak kuasa berkata-kata, namun air matanya sedikit meleleh. Sementara Rayhan menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu dengan rasa yang dia sendiri pun tidak bisa mengejawantahkannya. Mungkin itu adalah rasa haru berbalut rasa sayang dan juga sedikit cemburu. Karena bagaimanapun kini sahabat terbaiknya walaupun dengan satu lengan juga sedang memberikan rangkulan pada istrinya. Dan Rayhan tahu, betapa Nilam masih menempati satu sisi sepi di hati Aldo. Perlahan Rayhan berinisiatif melepaskan pelukan itu. Dan iapun terkesima mendapati Aldo menitikkan air mata.


" Uncle Aldo.... here you're. Hai ?!! ", sapaan riang dari Syailendra mengalihkan moment yang pertemuan yang haru itu.


" Hai boy..... kau mengingatku ? ", Aldo berseru penuh semangat. Dan pria itupun tertawa lebar menerima pelukan dari si kecil yang seingatnya baru tiga kali bertemu dan itupun lewat video call.


" Sudah seakrab itu ???? ", Nilam berkomentar keheranan.


" Ya.... padahal baru tiga kali bertemu lewat video call..... ", jawab Rayhan.


" Sudah pantes tuh Do' ... punya anak sendiri ", Hanan menimpali.


" Hai..... Hanan El Haqq ... ketua OSIS pujaan... dan nyonya Mawar.... aduuuuh luar biasa ya ", dengan gaya lebay Aldo menyapa.


" Oh my sweetie doll..... Susan ", sambung Aldo kembali begitu melihat keberadaan Susan.


" Nggak usah kumat deh 'Do.... kau pikir kau Ria Enes ", dan Aldo hanya nyengir mendengar balasan Susan. " Ayo duduk sini.... ".


" Aldo .... kau tidak menyapaku ? ", sebuah suara mengagetkan Aldo.


" Meisya ....oh my Good. Kamu tambah cantik saja.... mana si Popeye ? ".


" Halaaah... lagak mu. Ngapain cari-cari si Popeye ganteng ku? ... kalo ketemu juga kamu diem aja ", Meisya mencibir lucu.


" He.... he... he... ya iyalah, takut sama ototnya yang gede ".


Dan suasana itu berubah menjadi lebih ceria dengan kedatangan Aldo yang ramai dan penuh semangat. Gelak tawa dan canda meluncur dengan bebasnya, menghadirkan kebahagiaan tersendiri dari para teman yang saling melepas rindu itu.


" Hei.... tunggu ... tunggu.... Meisya, Orlin, Mawar.... ini koq kayak reuni para mantan mu sih Do' ", tiba-tiba Susan menyela dengan kalimat yang mengejutkan.


" Waaaaahhhhhh...... bener juga ", Rayhan mengiyakan yang disambut oleh anggukan persetujuan dari Rayhan.


" He... he... he... iya ya. Maaf ya para suami .. ", Aldo nyengir menggoda. Tentu saja yang dimaksudnya adalah Rayhan dan Hanan.


" Mantan udah pada kumpul nih 'Do. Terus..... mana si nona sekertaris seksi itu ?", tanya Rayhan.


" He ... he.... he... tiga tahun di Inggris ... kamu jadi nggak tahu kabar teman ya Hans ..".


Rayhan mengernyitkan keningnya. Ia mencoba mengartikan sendiri kata-kata sahabatnya itu. Tapi yang muncul justru raut wajah bingung yang juga terpancar dari tatapannya.


" Dia sudah putus dari nona Angelina .... tepat pada ulang tahun pertama pertunangan itu ", perkataan Susan menjawab kebingungan Rayhan yang kini ber Oooo panjang.


" Waaaaah....... kenapa bisa seperti itu dulu cewek-cewek yang pada patah hati karena pemutusan hubungan sepihak mu 'Do.... kamu kena karma ya ? ", Nilam tersenyum menggoda Aldo yang langsung manyun sambil menyesap segarnya jus mangga yang disajikan.


" Iya.... dan kunci pembuka karma itu adalah kamu ' Nil ", jawab Aldo dengan nada datar dan mata yang memandang menerawang.


" Loooh... kok aku sih ?", protes Nilam.


" Kamu nggak sadar ya sayang... ", Rayhan mendekati istrinya dan memberikan sentuhan lembut pada wajah yang beraut sedikit bingung itu. " Kamu gadis pertama yang berani memutuskannya.... dan kamu gadis pertama yang membuat Don Juan bin Casanova ini.... broken heart tingkat akut ". Dan Rayhan mengakhiri kalimatnya dengan sebuah kecupan mesra di kening istrinya.


"Aldo...... maafkan aku... ", gurat prihatin dan menyesal tersampaikan dalam nada bicara Nilam.


Tapi reaksi yang ditunjukkan oleh seorang Aldo sungguh ajaib. Ia tertawa lepas sambil mengguncang pundak Hanan yang kebetulan berada paling dekat dengannya.


" Nah lo... stress dia ", komentar Hanan .


" Nggak lah... ngawur kowe !!!", Aldo meninju lengan kawan lamanya itu. " Kalau dipikir-pikir..... bukannya aku ini dewa cinta kalian-kalian ini ya ?...... come on think again .... ".


" Coba pikirkan baik-baik... ", Aldo menatap semua temannya satu persatu. " Kecuali kamu Susan ...."


" Iya ya 'Do.... Rayhan baru sadar cinta sama Nilam, justru setelah kamu jadian Nilam.. ".


" Nah ... bener 'lo San ...", potong Aldo cepat secepat tangannya mencomot lumpia hangat di atas piring.


" Trus.... Hanan berani pe'de'ka'te sama mawar juga ... setelah beberapa kali ketemu langsung di lapangan.... ya... walaupun saat itu masih jadi pacar mu ... ", Susan berusaha mengurai kembali kisah itu satu persatu.


" Tull 'kan.... klo' nggak aku yang mengenalkan kalian.... hwiiiiy, mana ada tuh' pada jadian kayak sekarang ini ", Aldo nyengir bangga. " Mei.... kamu juga 'kan? ... kalau nggak nangis-nangis di depan sekolah... mana ada Popeye yang terpesona melihat mu ".


" Ngawur !!!! ... asal saja ", dan timpukan kecil dari kulit kacang tanah sukses mendarat di pipi Aldo yang kini tertawa senang.


" Okey teman-teman tersayang..... untuk mengenang jasa sang dewa cinta kita yang masih saja terus putus cinta.... marilah kita tundukan kepala sejenak.... memohon pada Sang Maha Daya Cinta... untuk segera mempertemukan sang dewa cinta ini.... Dengan cinta sejatinya... Allahuma Aamiin ... ". Dan Hanan dengan wajah serius dan tulus memimpin doa itu.


Terdengar sedikit lucu dan sarkas, tapi semua teman yang ada di situ kompak mengamini doa tersebut.

__ADS_1


" Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin ".


" Terimakasih para sahabat ku..... I love You all ". Masih dengan gaya Aldo yang khas kocak, percaya diri dan selalu bisa mendatangkan aura keceriaan dalam setiap suasana.


" Nil... kau tidak salah hitung ?.... itu ... segedhe itu enam bulan ?". Dan kini topik pembicaraan berganti, saat sang dewa cinta menunjuk perut Nilam.


" Ini sudah tujuh koq", ralat Nilam.


" Tujuh ???.... ya ampun gedenya ... ", Aldo takjub.


" Isinya dua .... hebat 'kan ? ", Rayhan tersenyum bangga sambil mengelus perut istrinya.


" Hah ?!!! ... wouw.... kembar. Itu.... yang seperti itu.... gimana bikinnya Hans??? ".


" Dewa Cinta .... koq pekok ngono tow yow ". Meisya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi muka yang prihatin. Yang kemudian disambut dengan gelak tawa dari para sahabatnya.


Suasana dari siang hingga menjelang senja itu menjadi benar-benar semarak setelah kehadiran sang dewa cinta kocak ini. Aneka hidangan yang sudah disiapkan pun licin tandas tak bersisa. Menjelang Magrib, satu persatu para kawan lama itu berpamitan.


Syailendra memberikan pelukan sayang pada Celia yang setahun lebih muda dari bocah itu. Dan ia tersenyum melambaikan tangan saat mobil yang membawa keluarga Hanan bergerak meninggalkan rumah keluarga Kamal sang kakek.


" Mommy, aku mau sekolah di sekolah Celia ", kata bocah itu dengan semangat.


" Aku bisa bantu Nil..... kepala sekolahnya kakak ku kok ", sergah Meisya cepat.


" Dengar Alend... tante Meisya akan membantu mendaftarkan mu di sekolah Celiia. Ayo katakan terimakasih..... bahasa Indonesia ", Nilam membelai rambut putranya.


" Te.. rima.. kasih.... aunty Meisya ", terbata Syailendra mengucapkannya.


Tentu saja hal ini terlihat sangat menggemaskan hingga Meisya menghadiahkan ciuman bertubi-tubi pada pipi montok bocah itu. Syailendra tersipu malu.


" Good boy.... Emmmmhhh... manisnya ", gemas Meisya.


" Nil... yang di perut ... laki-laki ? perempuan ? atau mungkin dua-duanya ? ", Aldo bertanya.


" Kita sepakat ..... bikin surprise saja kok 'Do. Biar lebih greget.... kata bang Rey ", ujar Nilam dengan wajah sumringah.


" Cie... cie... bang Rey ", goda Aldo pada Rayhan. " Bang Rayhan.... aku nginep semalam di sini ya.... please ".


" Kenapa gak tidur di rumah mamah mu ? ... apa beliau tidak tahu kamu pulang ? ", Rayhan bertanya, namun buru-buru memberikan penjelasan, " Maksud ku..... apa tidak sebaiknya kau temui mamah mu dulu..... urusan menginap di sini.... kau tau laaaah ... pintu rumah ku selalu terbuka lebar untuk mu ".


...............


******Cerita tentang kita seperti aneka warna pada helai surai pelangi.


Yang melengkung memeluk bumi, memberikan jalan pulang pada para bidadari.


Di ujung hari saat kita saling berjanji,


mengokohkan semangat meyakinkan hati.


Tentang menggapai sebuah mimpi yang tergantung tinggi.


Jika senyuman mu terus berlari saat ku kejar


Aku pun tak berhenti untuk berharap pada sang fajar.


Kelak saat engkau lelah dengan kenyataan,


ingatlah saat kita merenda asa bersama.


Jadikan aku tempat mu berpijak


Ku serahkan bahuku untuk mu bersandar


Ku tahu hatiku pun telah lama berpihak


Namun cerita tentang kita dalam ingatan tak pernah pudar****.


.................


Suara derap langkah dari sepatu yang beradu dengan lantai dan decitan saat si pemakai melakukan manuver memutar, ditingkahi dengan berdebumnya suara pantulan si bola oranye. Terdengar seperti sebuah komando yang membuat Rayhan berjalan cepat memasuki arena. Ia mendapati, hanya ada satu sosok yang masih menggila di lapangan basket itu. Sementara semua anggota timnya telah bersiap untuk pulang. Hanya sang teman tersayang yang masih setia meliuk sambil mengayunkan si bulat itu, seolah-olah ini adalah last waltz nya dengan sang gadis pujaan.


Rayhan duduk di kursi pemain yang kini telah kosong. Ia diam memperhatikan Aldo yang tetap bergerak dengan enerjik dan seolah-olah tanpa lelah. Namun raut wajah itu tak bisa menyembunyikan amarah dan kesedihan mendalamnya. Setidaknya pemuda itu tidak dapat berdusta dengan rasa di hatinya, saat berhadapan dengan sahabat karib sejak mereka taman kanak-kanak.


Satu tembakan keras dengan sudut tajam namun mampu membuat lengkung parabolanya sendiri. Memuluskan masuknya si bulat oranye itu ke dalam ring. Dan Aldo sang penembak jatuh terduduk sambil tersengal mengatur nafas. Ketika air matanya jatuh setitik demi setitik, saat itulah Rayhan duduk menyebelahinya.

__ADS_1


" Sudah puas mainnya ? ", tanya Rayhan yang kemudian membaringkan badannya berbantal kedua tangan.


Aldo tidak menjawab, ia membuat gerakan menyeka air bening yang sempat bergulir dari kedua kelopak matanya. Rayhan tersenyum walaupun ia tak melihat gerakan itu.


" Kalau sudah puas.... aku mau traktir makan bebek bakar pondok bambu ... ", kata Rayhan kemudian.


" Dalam rangka apa ? ", tanya Aldo dengan suara sedikit serak tertahan.


" Yaaa.... dalam rangka lapar saja ".


" Bukan untuk menginterogasi ku ? ".


" Ah tidak perlu !!!! .... kalau sudah kau rasa pas waktunya. Kau pasti cerita sendiri nanti... ".


Aldo tersenyum keci, lalu ikut berbaring di sebelah Rayhan. Menatap gemintang yang bertaburan di langit kelam. Ia merasa seperti gemintang itu, terlihat berdekatan dalam kebersamaan berkerlip dengan benderang. Namun sesungguhnya mereka sangat salin berjauhan dan kesepian.


" Hans.... ".


" Heem .... ".


" Aku seperti gemintang itu ya.... ", gumam Aldo. " Terlihat indah dan bahagia.... tapi sesungguhnya berjauhan dan kesepian ... ".


Aldo sebenarnya terlahir sebagai dua bersaudara. Ia memiliki seorang adik perempuan yang cantik, yang sebaya dengan Anggita adik Rayhan. Tapi sayang dua tahun yang lalu Kirana adik Aldo meninggal karena kecelakaan. Saat itu Aldo baru saja lulus SMP, dan itu adalah pukulan terberat dalam hidup Aldo setelah perceraian kedua orangtuanya.


" Mereka berdebat & saling caci lagi.... sungguh tidak tahu malu ", suara itu terdengar penuh kebencian. Rayhan tahu, yang dimaksud oleh Aldo adalah papah mamah nya.


Semenjak kedua orangtuanya bercerai, Aldo memutuskan tinggal dengan kakek neneknya dari pihak ayah. Sedangkan adiknya terpaksa ikut sang mama. Beberapa bulan setelah perpisahan itu, kedua orangtuanya sama-sama menikah kembali tentunya dengan selingkuhannya masing-masing. Kirana kecil yang masih duduk di kelas tiga SD ternyata memendam rasa sakit hati yang luar biasa pada sang mama, yang menurutnya menjadi orang asing yang sama sekali tidak menyayangi lagi.


Kirana kecil akhirnya sering kabur untuk menginap di rumah kakek neneknya agar bisa bersama sang kakak. Hal ini membuat pertikaian dan perselisihan antara mantan suami istri itu tersulut kembali dan tak pernah padam. Tapi kerinduan Kirana dan rasa sepi yang menderanya, apalagi saat sang mama mempunyai bayi dari hasil pernikahannya tang baru membuat gadis kelas lima SD itu nekat menuju rumah dimana sang kakak yang kini menjadi satu-satunya tumpuan kasih sayangnya berada.


Namun naas, malam itu sudah malam terakhirnya merasakan penderitaan dan kesepian di dunia. Karena lamunan yang terlalu dalam, ia tidak menyadari jika lampu sudah menyala hijau. Hingga akhirnya sebuah truk menyambar sisi tubuhnya hingga gadis kecil itu terpelanting membentur trotoar. Dan semua itu terjadi di depan mata kepala Aldo.


Remaja Aldo menangis, meraung, menggoncang tubuh sang adik yang seolah-olah terlelap damai dalam pelukannya. Kirana masih sempat memberikan senyuman manisnya pada sang kakak yang datang menghambur memeluknya. Diantarkan menghadap sang pencipta oleh orang yang sangat disayanginya dan yang paling tulus menyayanginya. Kirana pergi dengan sesungging senyuman damai. Meninggalkan sang kakak yang menangis meratapi jasad bersimbah darah, menyayat begitu dalam luka dalam hati. Menorehkan kebencian begitu dalam pada sepasang insan pengecut yang hanya bisa berebut mementingkan egonya sendiri. Dan dua insan itu adalah mamah dan papah nya.


" Padahal esok adalah hari peringatan dua tahun Kirana meninggal..... sungguh tidak punya hati ", umpat Aldo.


" Masalah hak asuh lagi ? ", tanya Rayhan yang dijawab dengan dengusan kesal dari Aldo namun berarti 'iya'.


" Sampai kapanpun .... aku tidak akan pernah mau ikut salah satunya ".


" Kalau begitu.... ikut saja dengan ku yuk!!!!.... laper banget nih ... ".


Rayhan beranjak bangun, lalu mengulurkan lengannya pada Aldo. " Ayo.... bebek bakar ..."


" Siaaap.... ". Dan senyum cerah itu terkembang di wajah Aldo sambil menggenggam tangan sahabatnya yang terulur. Ia pun bangkit dengan bantuan Rayhan, kemudian keduanya berjalan dengan langkah riang menuju parkiran.


Kedai makan itu bukanlah yang terbesar dan termewah di antara deretan-deretan rumah makan di sentra kuliner itu. Namun nuansa nyaman, rasa yang nikmat serta harga yang bersahabat membuatnya tidak pernah sepi oleh pengunjung.


Ini adalah piring kedua yang dipesan oleh dua sahabat itu. Dan masih ditambah dengan ekstra nasi satu piring lagi untuk berdua serta dua potong kepala bebek. Dua orang pemuda tanggung yang sedang dalam masa pertumbuhan itu benar-benar sedang memanjakan nafsu pemenuhan nutrisi tubuh. Saat itulah masuk tiga orang gadis yang sudah sangat mereka kenal sebelumnya.


" Eh.... si cantik tuh ", Aldo menggerakkan kedua bola matanya. Rayhan mengikuti arah tatapan itu.


Seorang gadis tinggi menjulang bak model dengan paras wajah seperti ras kaukasia, dialah Arlina. Di belakangnya masuklah si musisi sekolah dengan wajahnya yang cantik dan senyum menawan Helena atau yang biasa dipanggil Nana. Lalu si imut mungil dengan poni dan rambut ekor kudanya, bermata kelabu seperti warna hujan di senja hari......Nilam Ardya Prameswari.


Dan Rayhan mengingat dengan baik nama lengkap gadis yang mempunyai senyuman sangat manis, seandainya ia lebih sering tersenyum. Karena mereka berdua baru saja tergantung dalam Diklat LDK OSIS bersama. Entah mengapa Rayhan merasa tak bisa mengalihkan pandangannya dari kerlingan indah bola mata kelabu itu.


" Hai .... nona-nona... mari bergabung. Mumpung ada yang traktir niiih ".


Rayhan mendelik kesal pada Aldo, enak saja .... dia saja sudah makan dua porsi plus-plus, eh sekarang malah aja-ajak orang lain. Aldo terkekeh melihat ekspresi Rayhan.


" Wiiiih.... siapa nih yang ulang tahun ? ", Arlina langsung duduk menyebelahi Rayhan.


Sementara itu seolah seperti dikomando, si centil Nana pun langsung menyebelahi Aldo. Sementara si mungil Nilam masih berdiri di dekat meja, gadis itu malah memanggil pelayan.


" Mau pesan apa ? seperti biasanya ? ", tanya Nilam pada dua temannya.


" Iya ... " , dijawab kompak oleh dua orang gadis yang sudah duduk nyaman bersebelahan dengan para cowok ganteng.


" Mas....es jeruk selasih tiga, paket nasi bebek goreng tiga ... ekstra sambal ya ", pesan Nilam pada si mas pelayanan dengan sopan.


Rayhan mencuri pandang saat gadis itu berbicara dengan santun pada pelayanan. Ini adalah gadis pendiam yang sesungguhnya pandai berbahasa Inggris dan Mandarin, gadis yang telah mencuri perhatiannya saat malam inagurasi diklat kemarin. Dia sempat berpikir kalau si gadis ini merasa dirinya sangat cantik sehingga merasa enggan bergabung dengan teman-teman diklatnya yang notabene anak lapangan semua. Tapi Rayhan kembali salah, tutur kata si mungil ini begitu lembut dan sopan.


Dan Rayhan tidak tahu jika sepasang mata sahabat yang duduk dihadapannya juga menangkap setiap momen dirinya mencuri pandang pada Nilam. Aldo tersenyum kecil mana kala melihat Rayhan yang seolah membatu ketika Nilam memilih duduk di ujung meja yang sama namun menyendiri.


'Kau pasti sudah mulai terpesona dengan peri kecil ini ..... ', gumam hati Aldo pada sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2