Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
S' E' ....... Rahasia Rahasia 3


__ADS_3

Nilam remaja mematung dan merasakan seluruh tubuhnya tiba-tiba saja mengeras seperti batu. Membuatnya tak kuasa untuk beranjak dan bergerak. Hanya sepasang mata kelabunya yang bergerak dinamis merefleksikan gejolak perasaannya.


" Loh.... kalian sudah putus ?? ", sebuah suara dan tepukan di kedua bahunya seolah mengembalikan seluruh sistem dan fungsi motorik tubuhnya. Mas Danu sang produser yang kebetulan hari itu mensupervisi-nya tiba-tiba sudah berdiri di belakang.


" Oh!... siapa yang jadian... kok tiba-tiba putus ", elak Nilam. Padahal ia tahu betul apa yang dimaksudkan oleh mas Produder itu.


Di hadapan Nilam dengan berbatas pintu yang memiliki bagian kaca persegi empat yang cukup untuk bisa memantau keadaan di luar, ada Rayhan yang saat ini duduk di lobby bersama dengan Wulandari. Setelah tiga kali berturut-turut pemuda itu tidak menyempatkan rutinitasnya untuk sarapan pagi bersama Nilam selepas bersepeda minggu. Padahal ada janji yang telah mereka buat sebelumnya.


Nilam tersenyum dan melangkah dengan pasti keluar dari pintu ruang siaran, dengan tatapan penuh senyum dari Mas Danu. ' Anak Muda.... jatuh cinta lah, patah hati... dan kelak kau akan memahami arti cinta itu'. Mas Danu tersenyum simpul, melihat para remaja yang sedang merenda cerita cinta mereka.


" Wulaaaaan..... ", Nilam berseru ceria sambil menghambur pada pelukan gadis semampai nan anggun itu. Tapi hatinya berseru nyeri, karena ia tak menangkap ekspresi apapun dari pemuda di sebelah mereka, padahal Nilam sangat merindukan senyuman yang selalu menyambutnya setelah ia selesai siaran beberapa bulan ke belakang ini.


" Nilaaam.... aku seneng banget waktu Rayhan ngajak aku ke mari ", Wulandari berkata dengan riang.


" Oh ya.... makasih ya Rey ", Nilam mencoba berbasa-basi. Hanya sesungging senyuman kaku yang didapatkannya dari Rayhan.


" Aku sudah selesai ... ayok cari sarapan pagi


.... aku habis dapat bonus loooh ", suara Nilam terdengar ceria.


" Asyik.... yuk ", Wulandari ceria menyambut ajakan Nilam.


" Mas Danu, mb Maya..... aku balik dulu ya ", Nilam sedikit berseru pada sang produser dan penyiar senior lainnya.


" Ya ", balas mba Maya singkat karena ia bergegas akan masuk ke season selanjutnya.


" Nil... kau yakin rooling jadwal ", kali ini Mas Danu yang berkata, bukan menjawab pamitan Nilam. " Dari jam sembilan sampai jam sebelas malam loh ... ".


" Iya mas.... aku sudah ganti jam les ku kok. Nggak apa-apa.... ", jawab Nilam mantap. " Pak Sofyan udah oke kok... buat nganterin tiap malamnya ".


" Yow wis lah ... siiip ".


Beberapa saat kemudian tiga orang itu sudah merapat pada warung tenda soto Semarang. Aneka aksesoris yang menghiasi meja membuat sepasang mata Wulandari yang bulat semakin membulat dan berbinar sempurna. Sate kerang, sate uritan atu telor muda yang dipadu dengan jerohan ayam, sate telor puyuh dan juga aneka gorengan yang membuat air liur ingin melesat ke luar.


" Ini yang aku rindu..... eh Nil, boleh nambah nggak? ".


" Boleeeh...... tenang saja... bonus ku cukup klo' buat traktir sepuluh porsi plus aneka sate ini ", Nilam terkekeh.


" Senangnya.... eh' klo' bonus itu diluar gaji kontrak ya ? ".


" Iya.... itu bonus dari owner. Katanya kerjaku bagus pas jadi MC kemarin ... ", Nilam tersenyum bangga.


" Ohhh.... syukur deh, Ku doa'in ... job MC mu rame juga ".


" Ha... ha... ha... ha... amin, amin, amin ".


Pembicaraan itu terhenti sesaat ketika minuman yang mereka pesan sudah datang. Nilam mengernyitkan keningnya ketika melihat bagaimana si mas yang mengantarkan minuman itu membagi gelas berisi minuman yang sudah mereka pesan. Es Jeruk langsung disambar oleh Wulan yang sudah sibuk mengunyah tahu bakso dengan teman rawit pedasnya. Nilam buru-buru menukar es teh manis yang diletakkan dihadapan Rayhan, mengganti dengan es jeruk di hadapannya.


" Keliru ya mba Nilam ... biar saya ganti ", rupanya si mas itu sudah cukup mengenal Nilam dan segera menyadari kesalahannya.

__ADS_1


" Nggak apa-apa... ini biar aku saja. Tuh... pelanggan mu berjibun ".


Dan si mas itu tersenyum karena merasa sangat tertolong oleh sikap Nilam. " Matur nuwun nggih Mba Nilam yang baik dan cantik ".


Dan Nilam pun tertawa mendengar pujian itu. Sementara di hadapannya, Rayhan merasa sangat jengah dengan situasi itu. Ia tahu betul jika gadis ini jarang sekali mau meminum es teh pada pagi hari, tapi kali ini justru melakukannya ... dan itu adalah untuk menyelamatkannya yang tidak doyan teh, dan juga untuk meringankan beban kerja si mas itu. Saat Rayhan berniat menukar kembali gelasnya dengan gelas Nilam.... terlambat, gadis itu sudah meminum cairan berwarna cokelat keemasan itu dengan sedotan.


" Wah... kau tau' juga kalau Hans nggak doyan teh, ya ....... patutnya kau jadian saja dengan Hans, bukan dengan Aldo "


Entah mengapa celutukan Wulandari ini membuat ketegangan begitu membelit hati Rayhan. Ia yang sejak tadi diam tak bersuara, hanya memperhatikan bagaimana dua wanita ini saling berbincang. Kini Rayhan nampak sangat antusias menanti jawaban dari Nilam.


Dan tanpa Rayhan ketahui, Nilam sebenarnya sangat resah dengan semua kesalahpahaman ini. Tapi dia sudah terlanjur membuat janji dengan Aldo untuk membiarkan semua ini seolah-olah benar adanya. Terlalu kompleks memikirkan semuanya ini. Hingga akhirnya Nilam memilih untuk mengikuti alur permainan ini. Dan iapun tersenyum manis menutupi resahnya.


Rayhan yang menanti dengan gelisah, semakin menjadi frustasi karena hanya mendapati sesungging senyuman sebagai sebuah jawaban. Ia mengambil mangkok berisi sate kerang yang terletak di sebelah tangan Nilam. Lalu dengan gerakan yang tidak kentara ia menyentuh punggung tangan gadis itu, meminta perhatian.


" Hari minggu pagi ikuy les apa? ", tanyanya singkat saat Nilam menatap langsung sebagai respon dari sentuhannya.


" Kimia..... dengan bu Darin ", Nilam menjawab pendek.


" Dengan siapa ? ", Rayhan bertanya lagi.


" Biasa... Nana, Titi, Mesya dan Susan. Kenapa ? ".


" Kenapa tidak ikut kelas Jumat malam saja...... ", Rayhan menggantungkan kalimatnya. Ia tersadar ..... hari itu adalah jadwalnya dan ada Aldo di sana.


" Han..... kok kamu interogasi kayak bapaknya Nilam aja.... kebiasaan deh !! ". Komentar Wulandari menyelamatkan situasi saat itu.


............. Aku ini siapa ?


Mungkin aku bukan siapa-siapa bagimu


Aku hanya pria yang merindu setiap gemulai gerak tubuh mu.


Aku hanya sepotong hati sepi yang mengharapkan berteman mimpi tentang mu.


Aku hanya sebongkah cerita yang mungkin tak pernah kau tahu betapa merindunya


Aku bukan siapa-siapa......


Hanya pria dengan asa dan gundahnya.......


Rayhan terbangun dari tidurnya karena suara alarm yang telah disettingnya di pukul sembilan malam. Badannya masih terasa sedikit pegal karena pertandingan basket sore tadi. Ia bangun dan menuju sebuah meja di kamarnya, menyalahkan radio dan menyetelnya dengan volume yang tepat.


Suara manis, renyah dan menyenangkan itu memenuhi indra dengarnya. Ini hari pertama Nilam siaran di malam hari. Nama acara ini adalah Pesan Untuk Cinta. Nilam berduet dengan seorang penyiar pria bernama Kresna. Mereka membacakan pesan-pesan cinta universal. Tidak hanya dari dua insan yang saling jatuh cinta, namun juga dari sahabat untuk sahabat bahkan dari orang tua untuk anak-anaknya.


" *Ayah.... sejumput janji bakti dari kami untuk mu. Semoga mengantarkan kita untuk bisa bertemu kembali, dalam abadi nanti. Rindu dan Doa untukmu ayah. Dari Niko Nicholas Martha.


Cinta itu membawa kita pada sebuah kekuatan tanpa batas. Niko.... doa kami untuk mu dan ayah mu yang telah damai di surga, semoga rindu, perjuangan dan cinta kalian akan berbalas sempurna.


Untuk mu Niko dan seluruh Jaka Dara sahabat Ind' FM ... inilah ada band dengan Ayah* ".

__ADS_1


Rayhan menatap langit-langit kamar, seolah menyesap setiap getaran suara lembut itu. Nilam.... gadis itu sibuk bekerja bahkan hingga menjelang larut malam. Dia seorang sulung dari dua bersaudara, hidup hanya dengan ibu dan adiknya. Kerja keras tak pernah absen dari hidupnya. Terkadang ada raut sedih dan lelah yang begitu tersamar namun dapat tertangkap dari pancaran kelabu netranya. Rayhan menghela nafas.... ia merasa malu pada gadis ini.


Hingga kemudian angin malam mengiringi laju motornya, hingga di pelataran parkir stasiun radio itu. Ternyata suasana masih lumayan ramai. Banyak muda-mudi yang menghabiskan malam Minggu di sini. Beberapa ada yang pasangan, tapi banyak juga yang sendirian. Entah mengapa Rayhan melihat potensi bahaya untuk Nilam. Pemuda itu ada beberapa yang lebih dewasa darinya, namun yang seumuran dengannya juga tidak sedikit.


' Aku di luar. Kutunggu. Kuantar kau pulang. Tidak boleh menolak '.


Rayhan mengetikan pesan itu dan segera mengirimkan pada Nilam. Kurang dari sepuluh menit lagi acara itu selesai, dan Nilam belum membaca pesan itu. Rayhan gelisah......


Nilam dan Kresna terdengar kompak saat menutup acara tersebut, suara mereka terdengar memenuhi lobi. Ketika event pamitan itu sudah menandai berakhirnya acara, nampak dua kelompok pemuda itu begitu antusias. Rayhan menatap cemas dan gemas pada mereka yang menurutnya terlalu percaya diri. Mereka menanti Nilam keluar dari ruang siaran dengan rasa percaya diri yang berlebihan.


Benar saja, dua kelompok pemuda itu seperti dikomando lansung mengajukan jago mereka yang sepertinya memang bermaksud menarik perhatian Nilam. Satu kelompok mengajukan si rambut sedikit gondrong dengan mata sipit dan kulit putihnya, sedangkan yang lain mengajukan si tinggi besar yang terlihat gugup. Rayhan tersenyum sedikit sinis, ia merasa gemas pada sikap alay mereka.


Sementara itu Nilam keluar dari ruang siaran sendirian karena mas Kresna masih harus lanjut hingga pukul nol nol, sebelum radio itu berhenti sejenak mengudara. Ia masih membaca beberapa pesan yang masuk, termasuk pesan dari Rayhan. Sepasang mata itu menggeliat mencari sosok tampan yang beberapa hari ini dirindukannya.


Tapi dua orang pemuda yang terlihat salah tingkah datang menghampirinya dengan senyum gelisah dan terlihat over confidence. Nilam terpaku, ia memcoba membalas senyuman-senyuman itu. Tapi hatinya mulai resah .


" Mba Nilam... aku Dewan penggemarmu. Eh'... kita mungkin sebaya ya... aku panggil Nilam saja boleh ?", si tinggi besar itu mulai mengakrabkan diri.


" Nilam... aku Rasya, perkenalkan.... ", si sipit sedikit gondrong itu mengulurkan tangannya begitu percaya diri.


Dan dua pria itu berbarengan mengulurkan tangan. Nilam menatap keduanya dengan senyum bingung yang dipaksakan. Menjabat sekilas uluran tangan keduanya. Saat itulah sosok Rayhan yang begitu tampan dengan rambut pendek dan postur proporsional menyeruak, mempesona gadis-gadis yang duduk di loby. Membuat waspada para pacar mereka, memberikan harapan pada yang masih single lady.... yang pasti membawa rasa lega dan nyaman pada Nilam.


" Sudah selesai .... kita pulang sekarang ? ", suara berat Rayhan terdengar begitu menyejukkan di hati Nilam.


" Ah ya.... ya ", Nilam tersenyum lega.


Dua orang pemuda itu menatap Rayhan dengan tatapan yang kentara mengumumkan ketidak sukaannya atas kehadiran pria ini.


" Maaf ya.... sudah dijemput. Saya pulang dulu ... ", Nilam memberikan sebuah senyuman pada dua orang pemuda yang nampak seperti pecundang itu. Demikian juga dengan Rayhan, ia tersenyum seolah berkata .... maaf dia gadis ku.


" Ini jaket mu ", Rayhan memberikan jaket pada Nilam. Jaket itu adalah jaket Nilam yang sudah beberapa bulan ini berada di lemari baju Rayhan. Ia sengaja menunda mengembalikannya, untuk sebuah alasan agar ia bisa pergi ke rumah Nilam.


" Ah ya... ", Nilam menerimanya. Dalam tas punggungnya, sesungguhnya ia membawa jaket lain. Tapi Nilam memilih menerima yang diberikan Rayhan. Bahkan juga ketika pemuda itu membantu membawakan tas saat Nilam berjalan keluar menuju area parkir sambil memakai jaket itu.


" Kau tahu..... ", Rayhan sedikit merapatkan tubuhnya pada Nilam saat berjalan keluar.


" Ya .... apa ? ".


" Pandangan dua pria itu .... mereka ingin membunuh ku ".


" Kau tau' Rey ? ", kali ini Nilam bertanya. " Hal serupa juga sama pada ku...... dari para gadis itu ".


" Ha.. ha.. ha... ayo segera melarikan diri dari para killer itu ".


Setelah menyalakan motornya, dengan isyarat Rayhan mempersilahkan Nilam duduk di boncengan. Saat gadis itu sudah duduk di boncengan kuda besi bernama tiger itu, Rayhan meraih tangan Nilam kanan dan kiri bergantian di lingkarkan pada pinggangnya.


" Mereka mengawasi kita..... ", kata Rayhan saat Nilam mulai mengaku. Loby stasiun radio itu berdinding full glass sehingga semua yang di dalam dan di luar terlihat jelas. " Dan lagi..... jika kau memelukku seperti ini..... memperkecil kemungkinan masuk angin ".


Nilam tersipu, ia tak lagi berusaha melepaskan tangannya dari melingkari pinggang pemuda ini. Wangi segar tubuh Rayhan memenuhi indra penciumannya. Dan benar yang dikatakan Rayhan, terpaan angin malam yang dingin seolah terbentengi oleh bahu dan dada pemuda itu. Nilam dengan perlahan meletakkan pipinya bersandar dip punggung nan lebar itu.

__ADS_1


Rayhan tersenyum...... dan ia mengurangi laju motornya. Memberikan waktu selama mungkin untuk momentum ini. Bahkan dia berdoa dengan penuh harap...... 'tolong hentikan waktu ini'.


__ADS_2