Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
Daddy yang kau rindu. 2


__ADS_3

" Ku bilang..... Daddy sering bolos sekolah, jadi dia harus mengulang pelajaran. Sampai selesai.... baru bisa nyusul kita "


" What ???!!!! ", Rayhan mendelik tidak percaya dan mendengus kesal. " Dia percaya ?"


" Tentu saja ". Nilam akhirnya selesai dengan langkah terakhir yaitu menutup luka dengan kassa steril yang baru. Ia membereskan peralatannya, meninggalkan Rayhan yang masih bersungut-sungut kesal.


Sebagai seorang ayah, ia merasa Nilam sudah menciderai performanya. Apa lagi ini dihadapan anak laki-lakinya. " Apa tidak bisa mengatakan hal yang lebih keren lagi tentang aku ", protesnya.


Nilam yang kembali dengan segelas air putih dan sekantung obat, hanya tersenyum geli. Setelah membaca etiket obat, mengambilnya satu persatu, lalu memberikan pada Rayhan yang masih bersungut-sungut kesal.


" Minumlah ", sambil menyodorkan segelas air pada suaminya. " Aku harus bilang apa lagi ?.... 'kan memang nyaris DO karena nggak pernah masuk, lalu pindah jurusan dari Kedokteran ke Planologi ... aku nggak salah'kan ? "


" Iya siiiih..... tapi tidak bisa ya ceritanya yang lebih keren gitu .... apalagi ke anak "


" Terlambat ... Alend, sudah sangat percaya ", Nilam menahan senyum geli.


" Kau tau'.... ini adalah tahun ke dua ku di London. Aku mengambil S2 dan juga bekerja di sini ".


Nilam terperanjat mendengar penuturan Rayhan. Sejurus kemudian ia tersenyum lembut.


" Dari dulu..... aku tidak pernah berhenti percaya padamu. Kau pasti raih impian mu ". Perlahan Nilam mengulurkan tangannya menyentuh wajah Rayhan.


" Tapi kau nyaris saja menghancurkan semuanya..... Kepergian mu, adik & seluruh keluarga mu yang bungkam... membuat ku nyaris gila ". Rayhan berkata sambil menahan tangan Nilam untuk tetap berada dipipinya.


" Aku marah padamu !!!.... malam itu, kau berkata sangat mencintai ku ... tapi esok harinya kau menghilang. Maafkanlah aku.... saat itu aku tidak berdaya melindungi mu ... padahal kau tanggungjawab ku ", Rahyan berkata-kata sambil memejamkan matanya.


Seolah-olah ingin meluapkan perasaannya selama ini, perasaan yang sudah ditahannya bertahun-tahun. Membiarkan Nilam merasakan yang dirasakannya melalui lembut telapak tangan yang menyentuhnya kini.


" Maafkan mamah ku Nilam.... maafkan beliau... ", pinta Rayhan lirih.


Nilam menarik tangannya, berdiri tergesa dan terlihat canggung. Ia mencoba tersenyum dan menghapus cepat sesudut air bening di matanya. Ia mencoba menjauh dari pria yang masih duduk dihadapannya.


Namun Rayhan yang membaca gelagat itu, tidak memberinya kesempatan beranjak walau dia sudah berdiri. Secepat hembusan nafasnya, Rayhan sudah kembali menarik sang istri dalam rengkuhan lengannya. Menyurugkan wajah cantik itu ke dadanya. Sedangkan dia sendiri, meletakan dagunya diatas ubun-ubun Nilam. Nyaman.....


" Kenapa tidak kembali ..... apalagi kau hamil. Pasti berat sekali ya..... maafkan aku tidak ada didekatmu ", bisik Rayhan akhirnya.


"Tiga hari itu.... aku lupa minum pil ku. Kontrak kerjaku dua tahun.... dan aku tahu kalau hamil setelah tiga bulan di sini. Aku bisa apa ? "


Rayhan menanggapi perkataan istrinya dengan mempererat pelukan. Menciumi lembut helai-helai rambut yang halus dan wangi itu. Seakan menceritakan tentang kerinduannya.

__ADS_1


" Maafkan aku sayang..... maafkan aku ", bisik Rayhan penuh permohonan.


" Seandainya pun.... kau telah menikahi Arlina atau siapapun itu... aku tidak membenci mu. Kenyataannya .... akulah yang meninggalkan mu ".


Rayhan mendorong tubuh Nilam sedikit menjauh. Tanpa melepaskan pundak wanita itu dari cengkeramannya. Hanya agar dia dapat menatap sepasang mata sang istri.... mencari titik nadir yang diinginkannya


" Percayalah.... aku tidak pernah mencintai wanita lain, selain Nilam. Sampai kapanpun ", tegas Rayhan.


Saat bibir Rayhan mendekat hendak bibir Nilam, wanita itu memalingkan wajahnya. Hingga akhirnya kecupan itu mendarat ringan di pipi saja. Rayhan memberengut memprotes penolakan Nilam. Namun wanita itu menahan dada yang padat dan keras milik sang suami dengan kedua tangannya yang terkepal.


" Sudah malam.... ayo istirahat ", dalihnya.


" Olahraga juga boleh ... ", Rayhan berkata sambil mengerling menggoda.


" Jangan sibukkan aku dengan berkali-kali menjahit lukamu. Ayo tidur.... ganti bajumu dulu. Itu kamar mu .... ", Nilam menunjukkan kamar darimana dia keluar tadi membawa alat-alat medisnya.


" Kita tidak sekamar ..... yaaah ", Rayhan tertunduk kecewa.


Ekspresinya seperti anak kecil yang batal mendapatkan sepotong coklat. Hal ini membuat Nilam terkikik geli. Iapun menarik tangan Rayhan menuju kamar yang dimaksud.


" Tidurlah..... besok pagi-pagi... aku juga butuh bicara dulu dengan Alendra. Menata hati nya untuk menyambut mu. Istirahatlah..... tampilkan performa terbaik mu sebagai good daddy besok ".


 


 


Keesokan harinya.... matahari yang bersinar hangat menembus sela-sela dedaunan. Membuat kilau-kilau bening pada air sisa hujan semalam yang berbaur dengan embun pagi.


Nilam membuka jendela-jendela di rumahnya dan membiarkan aroma tanah basah masuk memenuhi ruangan. Di atas kursi anak di samping meja makan, duduk Syailendra Thoriq memperhatikan ibunya dengan tatapan tidak sabar.


Tadi sesaat setelah bocah itu terbangun dari tidurnya. Nilam membisikkan sesuatu yang membuat sepasang mata itu membulat menggemaskan. " Ada Daddy .... dia datang karena rindu dengan kita ", itulah yang dibisikkan Nilam.


" Mom.... sekarang sudah boleh ? ", rajuk bocah itu.


Semenjak tahu kehadiran sang ayah, ia sudah sangat tidak sabar untu bertemu. Bahkan berinisiatif untuk membangunkannya. Namun Nilam mencegahnya, mengingat kondisi Rayhan yang baru saja terluka.


" Ya... ketuk pintunya perlahan dan ... ", belum sempat Nilam menyelesaikan ucapannya


Jeglegh... suara engsel pintu ditekan, dan membukalah daun pintu kamar dimana Rayhan berada. Sosok gagah menjulang dengan rambut sedikit basah dan terlihat acak-acakan namun maskulin berdiri diambang pintu.

__ADS_1


" Uncle ??!! .... kau Daddy ku ??? ", seru bocah itu tidak percaya.


" Apakabar Syailendra ? .... kita bertemu lagi. Jangan panggil uncle.... I'm your Daddy ".


Bocah itu ternganga lucu, wajah nya terlihat semakin menggemaskan. Nilam membantunya turun dari kursi yang sedikit lebih tinggi dari kursi-kursi yang lain. Saat sang anak akan segera berlari menghampiri ayahnya, Nilam menahannya sesaat.


" Lengan Daddy terluka..... banyak darah nya. Jangan minta gendong dulu..... peluknya pelan-pelan ".


Alend atau Syailendra Thoriq mengangguk sebelum melangkah pasti menuju sang ayah. Rayhan bersimpuh dan bertumpu pada kedua lutut nya. Membentangkan kedua tangannya, mengisyaratkan sang anak untuk segera masuk dalam pelukannya.


Nilam tersenyum haru melihat semua itu. Daddy yang kau rindukan sekarang memeluk mu nak, bisik hatinya.


" Daddy.... daddy... daddy... "


" Iya sayang.... ini daddy mu ", tegas Rayhan sambil mengeratkan pelukannya.


" Daddy jangan jauh-jauh lagi ..... tinggal disini saja ", permintaan itu terdengar tulus.


" Iya nak.... pasti. Kita nggak akan jauh-jauhan lagi ya "


" Tapi...... sekolah daddy sudah selesai ?? Nanti tidak lulus lagi ". Kalimat itu begitu lugu namun menohok hati Rayhan. Sementara Nilam menahan tawa mendengarnya.


" Daddy sekarang sekolah disini. Bulan depan selesai "


" Lend.... ajak daddy mu sarapan bersama. Sebentar lagi bus jemputanmu datang ", seru Nilam memaksa ayah & anak itu melepaskan pelukannya.


" Boleh aku mengantarnya ? ", pinta Rayhan


Nilam terdiam sejenak, lalu mengangguk memberikan jawaban.


Pagi itu begitu hangat......


Mereka bertiga berbincang penuh kasih sayang. Seperti sebuah kanvas yang tergores oleh warna-warni ceria, atmosfer di rumah ini.


Lihat bagaimana buah cinta itu menghilangkan segala perasaan sakit dan sedih. Bahkan menghilangkan jarak yang sempat memisahkan dua hati.


" Mom ..... berarti habis ini aku bisa punya adik ya ? "


What..... Nilam dan Rayhan sama-sama tercekat mendengar pertanyaan sang anak. Aahhh...... sebuah keluarga. Bukankah ini hal biasa yang ditanyakan oleh anak pertama ?

__ADS_1


__ADS_2