
Rayhan masih termenung menatap hamparan awan yang nampak seperti gula kapas halus dan mungkin juga terasa manis. Tapi sesungguhnya itu adalah kumpulan uap air yang berkumpul pada dan berada pada ketinggian dengan suhu yang rendah, sehingga menampakkan keindahan rupa tersendiri. Dari tempat duduknya yang tepat disebelah jendela, rasanya gumpalan-gumpalan lembut itu bisa tergapai. Tapi pria itu sama sekali tidak memikirkan awan-awan.
" Kau tidak bilang .....", suara Nilam berubah menjadi bergetar. " Kenapa harus sampai Thailand???... sampai kapan?? ", dan berakhir dengan tangis tersedu.
Pagi harinya saat Nilam baru saja selesai menyisir rambut di depan meja rias, Rayhan dengan sangat perlahan dan berhati-hati menyampaikan isi telepon Edward semalam. Yang sebenarnya sudah disampaikan sedikit pada Nilam. Wanita itu langsung setuju tanpa menunggu cerita selengkapnya. Dan berakhir seperti ini.... seperti yang Rayhan khawatirkan.
" Direncanakan sampai dua minggu.... tapi, aku memaksa akan segera pulang begitu kau merasakan kontraksi ", suara Rayhan terdengar penuh rasa bersalah. Ia menghampiri istrinya yang masih menangis, membawa kepala wanita itu dalam dekapannya dan memberikan ciuman panjang pada rambut yang wangi lembut. Dadanya terasa sangat sesak.
Membayangkan ia harus berpisah kembali, walaupun hanya dua minggu. Tapi kondisi Nilam saat ini sungguh-sungguh sedang dalam puncak payah dan butuh perhatian lebih banyak. Rayhan kemudian berlutut dan menangkup lembut wajah Nilam yang bel terbebas dari isak tangis. Jemari kekar pria itu membelai pipi dan menyeka air mata yang bergulir membuat jejak basah.
" Jika.... kau sangat keberatan.... aku akan benar-benar risgn dan melepas tanggung jawab itu.... bukan hanya sekedar cuti panjang lagi. Aku... bisa segera memulai usaha disini... atau ikut di perusahaan mamah. Bagaimana ? ".
Rayhan sungguh berharap akan mendapati wajah Nilam yang kembali ceria dengan senyum cantiknya yang entah kenapa, menurut Rayhan akhir-akhir ini terlihat lebih cantik. Tapi ia tidak mendapatinya......
" Tidak.... ", hanya itu yang terucap dari bibir Nilam, sementara ia kembali menghambur dalam pelukan Rayhan. Memeluk pria ini dengan erat dan membersihkan ruangan tanpa batas di hatinya untuk menyimpan aroma segar menenangkan yang keluar dari tubuhnya yang hangat dan kekar.
" Nil... Nilam.... sesak... bisa kau.... longgarkan ", suara Rayhan tertahan.
" Maaf.... tidak ...".
Hah?!.... Rayhan tercekat. Tapi sejurus kemudian dia tersenyum dan membalas pelukan itu dengan erat juga. Entah kenapa rasanya begitu nyaman dan menyenangkan.
" Dua tidak itu.... apa maksudnya?", Rayhan bertanya sambil sedikit membebaskan diri dari pelukan istrinya. Menatap langsung sepasang mata yang kelabu seteduh senja saat mendung. Mencoba membaca apa yang saat ini sedang dirasakan oleh si pemilik netra itu.
" Tidak.... kau tidak boleh membatalkan janji mu pada Edward.... Tidak satunya... aku tidak akan berhenti memelukmu ".
Rayhan tersenyum dengan perasaan lega luar biasa. Ia menyentuh wajah cantik dihadapannya dengan lembut. Sementara Nilam dengan sertamerta membawa telapak tangan yang lebar itu untuk menopang pipi kirinya, hangat dan nyaman. Wanita itu memejamkan mata seolah sedang membiarkan kehangatan itu merasuk hingga ke atom-atom tubuhnya.
" Kau harus bisa mengajari Alend dan adik-adiknya ini... tentang Janji dan menepatinya. Mengajari mereka.... untuk tidak egois ... mengajari mereka tentang cinta yang sesungguhnya... kau harus bisa ".
" Nilam.... sayang.... kau membuatku semakin jatuh cinta ... ".
" Tapi ... berjanjilah padaku satu hal ".
" Ya .... ".
" Video call tiap hari... sesering mungkin... dan juga... berusahalah untuk bisa mendampingi baby twins .... saat mereka berjuang keluar dari perut ku ".
" Nilam........ ", dan Rayhan dengan serta merta kembali memeluk istrinya. " Inn sya Allah... aku akan menepatinya... ".
" Kapan kau berangkat mas ? ".
" Besok malam ... ".
__ADS_1
" Hah??... semendadak itu?... ".
Belum sempat Nilam kembali mengajukan protes. Suara nada dering dari ponsel Rayhan mengalihkan suasana meminta perhatian. Dengan isyarat tangan yang lembut, Rayhan meminta Nilam untuk tenang dan iapun segera meraih benda di atas meja rias.
Wajah Rayhan berubah menjadi sangat serius sesaat setelah mendengar suara Edward yang parau dan gelisah. Ia menatap Nilam yang saat ini juga tengah memandangnya dengan penasaran.
" Halo...Ed.. ini ada istriku. Ku speaker... bicaralah ", kata Rayhan setelah membuat alat komunikasi itu memperdengarkan suara dengan lebih keras dalam mode speaker.
" Linz... ia ... tadi malam mencoba menggugurkan kandungannya... dengan meminum obat-obatan.... aku... aku berhasil mencegahnya.... kami ... kami ... sempat bergulat kecil.... tapi... sekarang dia ... tidak sadarkan diri... aku ... aku... tidak sengaja mendorongnya... dan ia pingsan ".
Nilam dan Rayhan saling bertatapan. Suara Edward terdengar begitu resah dan takut di sela helaan nafas panjang yang mampu menyembunyikan isak tertahannya. Bahkan sekarang, pria itu benar-benar bisa menangis dengan lugas. Kesakitan, ketakutan dan kekhawatiran yang membuat Nilam maupun Rayhan disisi lain menjadi begitu prihatin.
"Tuan Edward.... apakah sekarang nona Linzhi sudah berada di rumah sakit ?", suara Nilam yang bertanya dengan lembut membuat Edward terdengar sedikit mereda dari kalutnya.
" Ya... ya... dia di UGD. Aku juga sudah memberitahu kedua orang tua Linzhi... tentang hal ini. Mereka .... sangat marah... pada putrinya ".
" Itu artinya ... kau mendapatkan dukungan dari tuan Philipe ", kali ini Rayhan yang bertanya .
" Iya Hans.... beberapa waktu yang lalu aku sudah pernah membicarakan keseriusan ku meminang Linzhi pada papahnya ".
" Tuan Edward... apakah ... kalian berdua sudah memeriksakan kehamilan itu... ke dokter ?", tanya Nilam lagi.
" Belum Neel.... Linzhi selalu menolaknya ".
Pertanyaan Nilam kali ini tidak serta-merta mendapatkan jawaban dari Edward. Sepertinya pria itu sedang berkonsentrasi mengingat-ingat sesuatu
" Itu.... emhhh.... bulan lalu... sekitar lima minggu yang lalu ... "
" Kau yakin??", kali ini Rayhan yang bertanya.
" *Tentu saja... kenapa kau bertanya seperti itu Hans ?".
" Tuan Edward... kemungkinan usia kandungan nona Linzh 5 mingguan ... bahkan lebih. Mumpung masih di rumah sakit.... mintalah dokter kandungan melakukan USG pertama..... jangan beritahu nona itu jika kemungkinan dia menolak. Ceritakan semuanya pada dokter.... pasti mau membantu*... ", Nilam mengambil alih pembicaraan.
" Ya.... ya.... apa yang akan terjadi ... pada saat USG itu ? ", tanya Edward antusias.
" *Kau ... kalian akan melihat tanda-tanda kehidupan mahluk mungil itu. Mahluk yang tercipta karena ..... perbuatan kalian ".
" Ya... kau akan mendengar dan melihat degup jantungnya* ", Rayhan menambahkan.
" Wonderful ..... benarkah ".
Dan begitulah, akhirnya Nilam benar-benar melepaskan dan merelakan kepergian suaminya. Demi tiga mahluk hidup yang sedang di kandung dua wanita berbeda. Saving Private Baby.... begitulah Rayhan memberikan nama untuk misinya kali ini.
__ADS_1
Nilam, Alend dengan ditemani sopir dan bu Endang mengantarkan keberangkatan Rayhan siang ini ke bandara. Bu Endang adalah pengasuh Rayhan semasa taman kanak-kanak hingga sekolah dasar. Ketika Rayhan meminta bantuan ibu asuhnya ini untuk menemani Nilam, wanita itu dengan senang hati menyambutnya. Melihat Syailendra yang tampan, bertambah bahagia wanita ini.
Walaupun sudah ada bu Endang yang ramah, supel dan cekatan, tak urung Nilam masih memeluk Rayhan cukup lama di batas pintu pengantar. Bahkan air mata wanita hamil itu mbasahi bagian dada kemeja suaminya. Rayhan hanya bisa mendekapnya dengan erat. Ia pun sebenarnya sangat berat meninggalkan orang-orang ini.
Saat terdengar nama nya dipanggil melalui pengeras suara, mau tidak mau Rayuan melepaskan pelukan itu. Lalu berlutut dan menangkup perut besar istrinya, dielus dengan lembut dan dikecupnya beberapa saat .
" Daddy tidak lama.... tunggu Daddy pulang ya. Baik-baik dengan mommy dan kakak ... ya ", bisik pria itu. Ajaibnya .... direspon dengan gerakan aktif dari dua mahluk yang berada di perut itu.
" Daddy.... aku juga akan jaga mommy & twins.... ", Alend menimpali sambil memeluk sang ayah .
" Good boy...... aku berangkat dulu ya. Sampai ketemu.... dua minggu lagi ".
Dan akhirnya tubuh tegap Rayhan menghilang di balik gerbang keberangkatan. Ia sama sekali tidak menoleh, padahal suara teriakan putranya yang memintanya berhati-hati masih sangat jelas terdengar. Pria gagah itu menyembunyikan setitik air yang menyudut di matanya. Rayhan begitu yakin, jika kali ini dia menoleh, pastilah dia akan mengabaikan segala bentuk solidaritas, persahabatan, tanggung jawab dan juga janji. Ia pasti akan berlari.... berbalik arah untuk mendekap dua orang yang sangat dicintainya itu. Rayhan menyeka sudut matanya tanpa kentara dan bergegas melangkah, fokus pada misinya kali ini.
Sekarang, Rayhan masih menatap awan-awan dengan perasaan hampa. Ia membayangkan Nilam yang dulu seorang diri meninggalkan negeri ini. Meninggalkan satu-satunya keluarga yang dimiliki, meninggalkan cintanya, dan sama sekali tidak tahu apa yang akan menyongsongnya di negeri dingin itu. Pasti Nilam menangis.... ah mungkin tidak, dia wanita yang sangat tegar. Tapi kenapa tadi dia menangis???? .... yah itulah yang seharusnya seorang wanita lakukan karena ada dada dan pundak suaminya tempat ia menumpahkan segala tangis.
š«š«š«ššššš«š«š«
***Saat berjuta peluh membuat ku lelah untuk memilah...
Aku tahu, kau akan datang menyekanya tanpa bertanya
Wangi yang menyelubungi mu pun turut merengkuh jiwaku yang rapuh
Dan aku tidak pernah tahu, darimana kau dapatkan harum surga itu.
Saat aku berdiri dalam ragu dan lelah yang membuat hatiku lemah
Bisikan mu, seolah tak pernah lelah memeluk dan menjamah
Mengingatkan ku tentang satu tujuan
Membuat ku yakin tentang sebuah ketulusan
Aku.......
Hanya punya dada tempat menumpahkan tangis mu
Aku......
Hanya punya dua lengan tanpa sayap, untuk merengkuh sedih mu
Aku .....
__ADS_1
Hanya punya tekad untuk membuat mu selalu bahagia***