Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
Berbaikan


__ADS_3

" Senang bisa mengenal anda semua.... saya permisi ", pamit Nilam pada akhirnya.


" Ed.... aku tidak kembali ke London hari ini. Aku menginap di kota ini ", Rayhan menyempurnakan pamitan Nilam dengan konfirmasi yang cukup jelas.


Wow..... desis Edward disela tawa kecilnya. Tapi tidak dengan Grace... ia sibuk meredam emosi, kecewa dan ....... cemburu.


Dan lihatlah..... ketika cemburu itu merayap dan menyelimuti seluruh akal sehat.


Langkah Nilam begitu tergesa diikuti oleh Rayhan yang berlari kecil mengejarnya.


Bahkan pria itu seolah dengan sengaja tidak diberi kesempatan untuk berada satu lift bersama dengan Nilam. Nyaris saja...... beruntung Rayhan dikaruniai kaki dan lengan yang panjang, ia berhasil mencegah pintu lift tertutup.


Nilam berdiri bersandar di sudut lift dengan canggung. Rayhan pun tak berusaha mendekati dengan intim, seperti yang selama ini selalu dilakukan. Raut wajah Nilam yang tiba-tiba beraura dingin tidak bersahabat, cukup jelas menunjukkan peringatan...... menjauh!!!!!.


Saved by the bell...... mungkin itu yang dirasakan oleh Rayhan. Tiba-tiba saja ponsel Nilam berbunyi. Hingga Rayhan tak perlu kesulitan memulai pembicaraan. Tapi di detik berikutnya, raut wajah pria itu ikut menegang manakala mendengar dan melihat ekspresi Nilam yang penuh ke khawatiran.


" Tetap berikan air hangat dengan madu.... ya! walaupun muntah. Aku segera datang nyonya... pantau terus nadinya ", Nilam memberikan serentetan instruksi pada seseorang di seberang sana.


Tanpa berkata apapun, Nilam bergegas dengan lari kecilnya keluar begitu lift terbuka. Rayhan cukup mengikutinya dengan langkah kakinya yang lebar - lebar.


Kesabaran pria itu habis.... ia merasa sangat diabaikan. Satu gerakan tangannya menarik lengan Nilam, hingga membuat gerakan wanita itu terhenti mendadak. Momentum yang diciptakan dari ketidakseimbangan dua gaya yang berlawanan itu membuat salah satunya harus ikut pada yang dominan. Hingga Nilampun tersurug kearah Rayhan yang dengan sigap menangkap kedua bahu wanita itu. Membuat wajah manis yang terselimuti kekhawatiran mendalam itu menghadap sempurna padanya.


" Ada apa? jangan abaikan aku..... panggilan darurat itu tidak membuat mu mengarah kembali ke ruang gawat darurat ", kata Rayhan menuntut penjelasan.


Nilam tersadar, sekeluar dari lift dia langsung menuju pintu utama rumah sakit. Melewati ruangan tempat ia ditugaskan, yaitu di ICU. Karena merasa tak nyaman, ia melepaskan diri dari genggaman Rayhan.


" Aku harus segera pulang.... Syailendra muntah lagi dan demamnya belum turun ". Sambil membalikkan badannya dan bergegas berjalan ke luar dari tempat itu.


" Kita pulang bersama ! ". Ekspresi Rayhan berubah mengeras.


Kali ini suasana berbalik, Nilam berjalan tergesa namun dalam tarikan tangan Rayhan. Mengikuti langkah pria itu, membutuhkan setidaknya tiga langkah untuk menyamai satu langkah yang begitu lebar. Dan Nilam akhirnya memutuskan untuk berlari kecil.

__ADS_1


Raut wajah Rayhan yang seketika berubah mengeras saat mendengar penjelasan Nilam, kini berubah lebih lembut. Sesaat dia menoleh kebelakang dan dilihatnya Nilam berlari kecil berusaha mensejajarkan langkahnya. Hatinya tersentuh saat melihat raut wajah gelisah dan khawatir dari istrinya, padahal dia tadi begitu tidak suka karena diabaikan.


Beberapa saat kemudian, keduanya sudah berada di dalam mobil yang dikemudikan Rayhan dengan sedikit tergesa-gesa. Lalulintas di pinggiran kota London saat itu mulai sedikit ramai. Rayhan gelisah dan merasakan begitu lama pergantian traffic light. Nilam menyadari hal tersebut.


Tiba-tiba saja Nilam menyentuh punggung tangan kanan Rayhhan yang erat mencengkeram kemudi. Pria itu menoleh sesaat, lalu kembali menatap lurus jalanan fi hadapannya. Saat itulah Nilam menepuk-nepuk punggung tangannya, dan Rayhan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya diiringi sebuah senyuman.


" Hampir tujuh tahun aku tidak merasakan metode khusus mu .... menenangkan ku ", selorohnya masih dengan senyuman.


Nilam ikut tersenyum mendengarnya. Ia lalu menghentikan aktivitasnya dan memutuskan untuk menelpon seseorang. Rayhan yang semula akan memprotes, mengurungkan niat demi didengarnya panggilan itu untuk nyonya Sonya yang saat ini tengah di rumah merawat Syailendra.


" Aku segera sampai di rumah..... ah tidak, cukup dengan obat yang kemarin saja. Katakan pada Alend... Daddy nya segera datang juga ". Nilam mengakhiri teleponnya.


" Alend .... merindukan ku? ", tanya Rayhan kemudian.


" Kau pikir siapa yang sudah membuatnya jadi sakit seperti ini ", Nilam berkata ketus.


" Aku ?! ", Rayhan menunjuk mukanya sendiri.


" Setidaknya apa ? ... Nil " Rayhan tak sabaran.


" Dia menanyakanmu saat terbangun sore itu.... menunggumu sepanjang malam. Menangis berkali-kali.... karena berfikir kau tidak akan kembali "


Rayhan tersenyum, ia merasakan cinta dari anaknya.Namun tiba-tiba saja Rayhan merasa begitu jahat, telah membuat jagoan kecil itu patah hati. Tidak terbayangkan olehnya betapa sakit hati dan sedihnya Syailendra. Semuanya karena merasa ayahnya pergi lagi tanpa pesan tanpa pamit.


" Konferensi arsitektur tingkat dunia ..... ada banyak hal yang harus ku selesaikan bersama Edward, dan juga janji temu dengan profesorku. Maafkan aku..... sungguh aku tidak berfikir untuk meminta nomor mu sejak awal ", sesal Rayhan.


" Lantas... kau dapatkan dari siapa ? "


" Dokter Salman, kebetulan aku menyimpan nomernya ".


Mobil mereka berbelok dan terparkir rapi di halaman kediaman Nilam yang cukup luas. Rayhan tidak segera berlari masuk ke dalam rumah seperti yang dilakukan Nilam. Terlebih dahulu diambilnya koper serta sebuah kotak besar yang terbungkus rapi dengan kertas warna merah bata mengkilap serta berpita. Sayup-sayup ia mendengar suara rengekan seorang bocah dari dalam rumah.

__ADS_1


" Itu Daddy ", Nilam tampak sedang menggendong sang putra yang kelihatan masih menangis. Sementara di dahinya tertempel plester dengan zat penurun panas untuk anak-anak.


" Maafkan Daddy ya jagoan ", Rayhan mengulurkan kedua lengannya bermaksud mengambilalih Syailendra dari gendongan Nilam.


Namun reaksi yang didapatkannya sungguh diluar dugaan. Bocah itu berpaling cepat, masih dengan sedu-sedannya. Rayhan sejenak mematung, tak percaya. Nilam memberi isyarat padanya untuk mundur dan bersabar.


" Alend ingat tidak kenapa daddy lama tidak segera menyusul kita ? ". Nilam membelai dan menciumi rambut lebat sang anak. Kemudian membawanya duduk di sofa. Syailendra bersandar nyaman di dada Nilam, masih memeluk sang ibu dan menenggelamkan sedu-sedannya. Bocah itu akhirnya mengangguk perlahan.


" Ya.... kemarin Daddy dapat tugas dari guru nya, harus segera diselesaikan !. Karenanya.... sampai lupa tidak pulang. Daddy juga kangen sama Alend ". Nilam terus membelai hati putranya dengan kalimat bernada lembut.


" Kangen sama mommy juga ?".


Pertanyaan tak terduga meluncur tulus dari bibir yang masih mencebik-cebik dengan rajukannya. Nilam menatap Rayhan seolah meminta dukungan untuk menjawab pertanyaan sang anak.


" Tentu saja..... Daddy kangen Alend juga Mommy", Rayhan membenarkan.


" Tapi.... tapi... nanti pergi lagi ", Syailendra masih belum berhenti merajuk.


" Lihat ..... Daddy sudah bawa baju-baju di koper. Daddy akan tinggal disini bersama kalian ", Rayhan menjawab.


Sepasang mata bulat yang masih nampak sedikit berair itu mengikuti arah telunjuk Rayhan. Menatap koper abu-abu dan kotak besar berpita yang bersandar disebelahnya.


" Itu apa ? ", tanya sibocah dengan antusias.


" Oh... ", Rayhan buru-buru mengambil kotak itu. Lalu mengulurkannya pada sang bocah yang tiba-tiba saja sudah melepaskan diri dari pelukan ibunya. " Hadiah ulang tahunmu.... dari Daddy ".


Syailendra menerima hadiah itu dengan mata berbinar. Seperti angin yang menyapu kabut, kesedihan dimata bocah itu sudah lenyap tanpa bekas. Rayhan tersenyum, lalu mendekat dan memberikan sebuah kecupan hangat di rambut sang anak.


" Kita berbaikan ? Alend sudah memaafkan Daddy ? ", tanya Rayhan seraya duduk merapat disamping keduanya.


" Ya", jawab Syailendra cepat.

__ADS_1


Lalu pemandangan indah itu tercipta. Lengan kekar Rayhan merengkuh keduanya dalam sebuah pelukan hangat. Tak akan ku lepaskan lagi, bisiknya pada diri sendiri. Sementara Nilam merasakan dadanya seolah dipenuhi dengan aroma hangat musim semi. Biarlah seperti ini, jangsn berlalu dahalu.... mohonnya dalam hening


__ADS_2