Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
S' E' ..... Rahasia - Rahasia


__ADS_3

Siang harinya, Rayhan memutuskan untuk pergi dengan Aldo tentu saja dengan mengajak serta Alend bersama mereka. Nilam memilih tinggal di rumah mengingat kondisinya yang sudah mulai kepayahan bila diajak berjalan sedikit lama. Dan lagi hari ini Kakak iparnya akan datang.


Sarah namanya, putri tertua keluarga Kamal. Dia berprofesi sama seperti ayahnya, sama-sama dokter kandungan. Suaminya juga seorang dokter, tepatnya spesialis anak. Memiliki dua orang putri yang masing-masing sudah duduk di bangku kelas tiga SMP dan juga kelas lima SD. Sarah sangat baik pada Nilam, mereka pertama kali bertemu beberapa hari yang lalu saat kedatangan pertama Nilam ke kota ini.


" Hai mommy twin... ", suara sapaan itu terdengar ramah dan riang.


Seraut wajah dengan senyum manis menyembul dari pintu kamar yang terbuka perlahan. Sarah datang dan langsung menghampiri Nilam yang baru saja selesai merapikan mainan robot karakter milik putranya.


" Hai... sudah lama mba datangnya ?. Mana Winona dan Audrey ? ". Balas Nilam dengan menanyakan keberadaan dua keponakan cantiknya.


" Nggak usah ditanya dek'..... baru kena demam K-Pop. Nonton meet & great ... si siapa gitu.... pokoknya oppa-oppa gitu deh ".


" Oh... lah mas Derry ? ".


" Ya jadi bodyguard mereka.... ".


Nilam tertawa membayangkan dua remaja putri yang dikawal oleh sang papa, menonton konser sang idola dari Korea. Dia dulu sama sekali tidak merasakan hal seperti itu, karena ayahnya meninggal karena sakit saat ia kelas lima SD.


" Eh... fotonya sudah dipasang ". Pandangan Nilam mengikuti arahan kakak iparnya ini. Menatap foto sederhana pernikahannya dulu. Walaupun saat itu hanya ijab qobul saja tanpa didaftarkan ke KUA, namun begitu hidmat dan syahdu.


" Kami sudah melegalkan perkawinan kami di catatan sipil ... di London ", kata Nilam.


" Syukurlah..... dan bersyukur juga Alend lahir di Inggris ya. Ia jadi tidak kesulitan mendapatkan akte kelahiran ".


" Semua yang terjadi ..... pastilah yang terbaik untuk hambanya ".


" Nil.... boleh tanya nggak ? tapi kalau ini terlalu menyakitkan..... ya nggak usah dijawab deh. Nggak apa-apa kok ", suara Sarah terdengar ragu-ragu.


" Boleh.... mau tanya apa sih mba ? ", Nilam duduk beringsut mendekati kakak iparnya.


" Saat kau memutuskan pergi ke Inggris..... alasan apa yang membuat mu mengambil tindakan nekat itu ? ".


Nilam tidak segera menjawab, ia sedikit menerawang. Lalu duduk di atas kasur menyebelahi kakak iparnya. " Karena aku seorang wanita ... ".


Jawaban itu begitu singkat dan membuat kening Sarah berkerut hebat. Wanita yang mungkin usianya menjelang empat puluhan ini tampak berpikir keras, mencoba mencerna kalimat itu. Nila tersenyum dan menepuk punggung tangan kakaknya ini.


" Aku wanita.... mencintai pria yang sama dengan seorang wanita lain yang lebih berhak atas cinta pria itu.... ibu ".


" Hah?!!!.... maksudnya dengan mamah ? ".


" Mas Rey... menikahiku atas permintaan terakhir ibu ku. Bagaimana aku bisa menolak permintaan seorang ibu dari seorang pria yang kucintai.... dan permintaan itu juga karena cinta ".


" Whoooaaah...... drama banget. Aku iri padamu... bisa mengalami cinta yang seromantis itu ", Sarah merangkulkan lengannya pada Nilam dan menggoyangkan perlahan. " Aku dengan mas Dery .... sukses di jodohkan.... nggak ada romantis-romantisnya... ".


Nilam tersenyum tipis, ia ingat betul kalau kakak iparnya ini adalah orang yang cuek pendiam dan hobinya cuma belajar di kamar. Saat masih belum jadi istri Rayhan, ia sempat beberapa kali bertemu dengan wanita cantik ini dan cerdas ini.


" Kalau tidak salah.... Hans itu sejak TK sudah jatuh cinta dengan ..... emhhh ... siapa ya... ", Sarah berusaha mengingat sesuatu.


" Namanya Wulan... sekelas di TK hingga SD tapi beda SMP. Lalu terpisah karena Wulan ikut pindah ke Yogyakarta ... nyusul orang tuanya ...".


" Oh iya ...... kok kamu tahu banget sih ???", Sarah tersenyum takjub.


" Mas Rey.... aku masih ingat sepasang matanya yang berbinar saat cerita Wulan ".


" Walah... dia malah cerita ke kamu ?".


" Ha... ha... ha... tahu nggak mbak.... aku beberapa kali... emmh.... dua kali diminta nemenin ke Yogya, pas itu masih belum jadian sih sama mas Rey.... dan sekali... itu setelah kita menikah ", Nilam berkata sambil tertawa kecil.


..................


Nilam tersenyum menyambut uluran tangan gadis manis dengan rambut lurus yang dipotong trap hingga diatas pundak, membingkai wajah oval itu. Sebenarnya Nilam tidak asing dengan wajah ini, ia sudah beberapa kali bertemu saat masih SMP dulu. Bahkan sempat berkenalan dan berbagi informasi saat mereka bertemu di persewaan komik dekat sekolah. Dan kini ia sungguh tidak menyangka akan bertemu kembali dengan si manis ini.


" Masih ingat aku??? ... Rin Tin-Tin, Serial Candy, Ryo Saeba.... ", Nilam menyebutkan beberapa judul komik yang disambut dengan binaran di mata indah itu.


" Ya... ya... di AW komik center.... Topeng Kaca , Maya Kitajina dan Masumi ... ", si manis Wulan terlihat bersemangat dan riang saat mengingat kembali masa SMP nya.


" Tapi kita tidak saling tahu nama kita ya.... Nilam ".


" Wulan.... ha..ha..ha.. kita dulu keasyikan ngomik siiiiiih ".

__ADS_1


Ketika dua gadis dengan hobi yang sama bertemu, yang tersisa kemudian adalah dua orang pemuda yang menatap mereka gemas karena merasa diabaikan. Aldo menyikut Rayhan sambil tersenyum garing.


" Jauh-jauh dari Semarang ke Yogyakarta..... niat hati ketemu cinta masa kecil..... eeeh nggak tahunya malah nganterin reunian pacar ku ", Aldo berbisik menggoda Rayhan. Hasilnya sikutan mau membuat pemuda usil itu meringis.


" Haaaans.... makin ganteng aja ... ", Wulan sedikit berseru sambil menarik tangan Rayhan untuk segera masuk. " Aldo.... mana pacar mu? ".


" Tuh... di sebelah mu ", Aldo nyengir sambil menunjuk Nilam dengan gerakan dagunya.


" Nilam ???? ... serius ?? ", Wulan mendelik tak percaya. " Nilam... kamu tahukan buaya berbulu domba ini ?..... masa iya sih 'Do ..", Wulan masih berkata dengan nada tidak percaya.


Mendengar hal itu Aldo tertawa-tawa saja. Sementara Nilam tersipu malu. Karena sesungguhnya ada sebuah rahasia yang tidak pernah diungkapkannya pada siapapun tentang hubungannya dengan Aldo. Nilam mengunci rapat semuanya, demi sebuah janji.


Yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan. Saat mereka berempat sudah berkumpul bersama di ruang tengah keluarga Wulandari, datanglah seorang pemuda tinggi dan gagah. Dan Wulan langsung menyambutnya dengan binar-binar bahagia serta manja. Pemuda itu bernama Rio, dia teman satu SMA di Yogya dengan Wulan dan kini keduanya sudah resmi pacaran.


Nilam mencuri-curi pandang pada Rayhan mencoba membaca perasaan temannya itu. Sementara Rayhan tersenyum sambil menjabat erat tangan pemuda itu.


" Wulan sudah banyak cerita tentang ... ", suara Rayhan terdengar bersahabat.


" Ya... dia juga cerita banyak tentang kamu ", Rio pun menjawab tak kalah ramah.


Moment itu menyisakan Aldo dan Nilam yang berdebar menyaksikan pemandangan yang menurut keduanya seperti sebuah kesepakatan dari dua orang pria yang tengah bersaing memperebutkan sang putri. Tapi mata jeli Nilam menangkap kilas cemburu yang tersamar oleh senyum manis Rayhan. Cinta pertama itu rupanya telah begitu dalam merasuk dalam diri Rayhan.


Hingga akhirnya kunjungan itu berakhir dengan berjalan-jalan di kawasan Malioboro. Wulan yang berboncengan motor dengan Rio ikut mengantar hingga kawasan yang berada dipusat kota gudeg ini. Kembali Nilam menangkap gurat cemburu dan sedih pada tatapan Rayhan, saat Wulan yang duduk diboncengan melambaikan tangan pada mereka bertiga.


" Sudah.... sudah... ayo kita cari yang lain. Dengan wajah seganteng ini... masa iya nggak ada yang naksir ". Suara Aldo tiba-tiba memecah sunyi yang sesaat tadi seolah mengusai. Bahkan mimik wajah sok dewasa yang dibuat pemuda itu, pada akhirnya cukup bisa membuat Rayhan tersenyum karena merasa lucu.


" Yuk.... cari yang cantik .. ", ajak Rayhan.


" Oh no !!!! .... kamu saja. Aku sudah bawa dari rumah ... ", Aldo menjawab dengan gaya kocaknya, sambil merangkulkan tangannya di pundak Nilam.


" Halaaah!!!!!..... jangan percaya Nil ". Rayhan mencibir memprovokasi Nilam yang kini terlihat jengah dengan posisi tangan Aldo dipundaknya. " Aku juga akan melindungimu dari playboy ini... ".


Nilam semakin merasa jengah dan kikuk saat Rayhan juga melakukan hal yang sama padanya. Kini tubuh mungilnya seolah-olah terperisai oleh dua lengan dari dua pemuda. Memposisikan tubuhnya yang hanya setinggi dada dua pemuda itu berada ditengah, dengan nyaman terlindungi. Sungguh pemandangan yang membuat iri kelompok gadis-gadis lain yang duduk di bangku taman. Tapi Nilam tersipu malu, ia merasa menjadi seorang putri di bawah perlindungan dua ksatria gagah..... aaah indahnya.


....................


Nilam menarik nafas panjang sambil menatap Aldo yang masih setia duduk menungguinya. Pemuda itu bersikeras menunggu hingga Nilam selesai mengerjakan tugas dengan kelompoknya. Alhasil..... para gadis teman satu kelompoknya malah sibuk menggoda Aldo yang memang ganjen, hingga Nilam akhirnya menyelesaikan sendiri membuat kesimpulan dari tugas sejarah itu. Kebetulan tugas ini menempatkan Nilam satu kelompok dengan para selebrisik kelas 2.3. Hadeeeeehhhh..... nasib, gerutu gadis itu.


" Kalau masih lama juga nggak mengapa.... aku akan setia menunggumu kok. Termasuk ... menunggu jawaban mu ".


Nilam mencibir pada Aldo yang tersenyum menggodanya. Ini sudah bulan yang ketiga semenjak Aldo menyatakan cinta dan meminta gadis itu untuk menjadi pacarnya. Dan ini adalah yang kedelapan kalinya Aldo meminta penegasan jawaban Nilam.


Sebenarnya sejak awal Nilam sudah menolak Aldo dengan baik-baik. Tapi kenekatan pemuda itu sungguh luar biasa. Aldo memohon pada Nilam untuk mencoba jalan bersama dulu, dan mempertimbangkan kembali penolakan gadis itu. Parahnya lagi, Aldo malah sudah memperkenalkan Nilam pada Mamahnya sebagai pacar.


Mama Aldo langsung menyukai Nilam, hingga meminta gadis itu untuk terus mengawasi Aldo. Karena menurutnya semenjak Aldo bersama Nilam, pemuda itu jadi lebih terkendali sikapnya dan juga mau lebih dekat kembali dengan sang mama. Bahkan mamanya Aldo telah menceritakan semua latarbelakang dan cerita kelam keluarga Aldo yang broken home. Wanita itu meminta tolong dengan sangat pada Nilam agar mau mendampingi Aldo.


Kelemahan terbesar pada diri Nilam adalah seorang ibu. Ia tak kuasa menolak permintaan tante Ana mamahnya Aldo. Tatapan penuh rasa sedih dan rasa bersalah serta penuh pengharapan dari wanita itu, benar-benar membuat Nilam tidak bisa memberikan kata-kata penolakan.


Hingga akhirnya ia memutuskan membiarkan Aldo dengan opininya sendiri yang dengan gempita mengabarkan pada seluruh kawan, jika mereka sudah jadian. Nilam sama sekali tidak membuat klarifikasi tentang hal ini. Bahkan ia merasa sedikit bersyukur, kedekatannya dengan Aldo membuatnya bisa sedikit berlama-lama menatap sang kapten dengan mata elangnya. Rayhan, sebenarnya itu adalah tujuan utama Nilam memberikan support pada Aldo. Membawakan bekal double agar Rayhan bisa ikut menikmatinya.


Nilam cukup senang bisa sedikit berdekatan dengan Rayhan, bisa sedikit bercanda dengan pemuda itu. Ia akan mencuri-curi pandang pada pemilik rahang tegas dengan mata yang berkilat tajam saat bermanuver membawa si bulat oranye di lapangan basket. Jika Rayhan mulai melakukan gerakan-gerakan tipuan yang merepotkan lawan namun memukau para gadis di pinggir lapangan, Nilam berusaha serapat mungkin menahan teriakan penyemangat untuk pemuda itu. Hingga saat pertandingan telah berakhir, ketika Aldo berlari kearahnya dengan senyum lebar. Nilam memberikan botol berisi air mineral. Namun ia juga mempersiapkan botol yang lain untuk Rayhan, dengan perasaan berdebar.


Nilam tahu jika hati Rayhan masih terisi penuh dengan kenangan akan Wulandari. Dia merasa tak ada tempat tersisa untuknya di hati pemuda itu. Nilam menatap sekilas wajah Rayhan yang duduk di trap tangga tepat di bawahnya. Keringat dari dahi yang menetes di pipi serta derasnya aliran yang membasahi leher pemuda itu, sungguh menciptakan lukisan gagah yang menawan. Tapi Nilam tak bisa berlama-lama menahan pandangannya terpaku pada sang pencuri hatinya itu.


" Nil... kok malah melamun ", suara Aldo mengagetkan Nilam. Kenyataan dihadapannya kini adalah, ia bersama pemuda ini. " Kau benar-benar tidak mau mengubah jawaban mu ???... jadi pacarku ya ... please .... ".


" Do'.... kita berteman dekat saja ya ".


" Apa bedanya teman dekat dengan pacar ?".


" Teman dekat ... mereka tidak mengenal kata putus. Tapi kalau pacaran... bisa putus dan bahkan saling membenci setelahnya. Dan juga..... jika aku teman dekatmu.... aku tidak akan sakit hati saat kau jatuh cinta ...pada gadis lain ".


Aldo terdiam mendengar penjelasan Nilam. Ia tidak percaya dengan apa yang dituturkan gadis mungil dihadapannya ini. Tapi sesaat kemudian ia tertawa kecil.


" Nil... dari mana kamu tahu kalau aku jatuh cinta lagi ?", masih dengan sisa tawa Aldo bertanya.


" Entahlah.... tapi pasti setelah ini, akan ada banyak gadis cantik yang mengisi hari-hari mu ".


" Waaah.... cenayang cinta nih. Tapi kamu sendiri ????.... apa benar-benar tidak ada rasa sedikitpun untuk ku ?? ".

__ADS_1


Nilam menjawab dengan gelengan pelan dan tatapan penuh penyesalan. " Maaf Aldo.... kamu teman terbaik ku .... itu saja "


" Okey... ", suara Aldo terdengar sedikit frustasi. " Tapi aku minta pada mu.... jadikan aku teman terbaik mu .... yang akan terus menjaga mu sampai kau benar-benar jatuh cinta.... atau sampai ada yang benar-benar jatuh cinta padamu " .


" Maksudnya ??".


" Biarkan opini yang sudah berkembang ... tentang kita pacaran. Hingga .... saat kau ada cinta yang sesungguhnya .... aku akan melepaskan mu ".


" Apaan sih 'Do.... kok syaratnya aneh begitu ", Nilam cemberut.


" Entahlah.... aku hanya menuruti kata hati saja. Satu lagi..... tolong jaga nama baikku sebagai cowok terkeren di sekolah ini..... please.... masa sih aku ditolak cewek.... please ... tolong ya Nil... kau 'kan teman dekat ku ".


Nilam menatap Aldo dengan pandangan jengah. Tapi mimik serius pemuda ini membuat ia tak bisa menolak. " Iya deh.... kubantu jaga reputasi ke_playboy'an mu... walaupun dengan resiko ... aku yang nggak laku-laku .... ".


" Nilam.... jika memang ada yang sangat jatuh cinta padamu..... dia tetap akan memperjuangkan mu kok... trust me ".


..................


Rayhan muda melemparkan tubuhnya dengan penat yang begitu kentara, ke atas kasur. Padahal dia masih mengenakan seragam basket yang bau keringat, walaupun sudah mengering. Ia menatap langit-langit kamarnya, saat itulah sekelebat bayangan melintas membuatnya tersenyum. Gadis itu begitu manis dengan wangi segar bunga apel yang terpapar dari rambut ekor kudanya.


Kesialan yang akhirnya menjadi sesuatu yang sangat disyukuri. Sebagai kapten tim, Rayhan sering dipanggil pelatih untuk diajak berdiskusi. Sehingga ia pulang paling belakangan diantara semua anggota klub basket sekolahnya. Mengharuskan ia menutup dan mengunci ruangan klub, lalu menitipkan kuncinya pada pak penjaga sekolah. Saat ia selesai mengunci pintu dan berbalik arah dengan cepat hendak menuju rumah pak penjaga sekolah.


' Brugh !!!!' tubuhnya membentur seseorang yang berjalan sambil membawa setumpuk maket yang terbuat dari gabus-gabus putih berpola dan tersusun terstruktur. Mungkin tumpukan itu begitu tinggi atau si pembawa yang begitu mungil, hingga benda itu menghalangi pandangan.


" Maaf.... Nilam ?? ..", Rayhan berseru sedikit kaget.


" Ah.....yaaah .. berantakan deh ". Gadis itu terlihat terkejut dan kecewa.


" Maaf.... maaf.... aku bantu ya. Ini untuk apa sih ? ". Rayhan mulai berjongkok mengikuti Nilam mengambil benda-benda ringan yang berserakan itu. " Ini apa sih ? ".


" Buat pameran teknologi besok..... ini menggambarkan gen dan kromosom .... lupa ? ".


" Oh iya... ya . Waduuuh ..... berarti harus menyusun ulang dong ".


" Iya..... hiks ! ", Nilam bermimik sedih.


" Biar aku yang bawa..... ayo aku bantu !!".


Akhirnya mereka berjalan beriringan menuju ruang guru. Setelah sampai di meja pak Gito sang master Biologi, keduanya bahu membahu menyusun benda itu menjadi double heliks yang menawan. Terbatasnya ruang gerak yang seolah terpagar oleh meja-meja membuat keduanya berdiri saling berdekatan


Rayhan bisa menatap sepasang mata kelabu yang bersinar indah dalam serius sikap Nilam. Bahkan wangi yang dapat tercium oleh indra pembau Rayhan itu seperti memenuhi aura ruangan itu. Saat Nilam bergerak, aroma wangi lembut dan segar itu seolah-olah berlomba-lomba masuk ke dalam rongga hidung Rayhan.


" Sudah ??... ayo kuantar pulang ", ajak Rayhan .


" Rey.... aku selalu merepotkan mu. Tidak usah lah.... aku pulang sendiri ".


" Ini sudah Maghrib non.... ayo sholat dulu. Nggak usah menolak " .


Dan Rayhan menarik tangan mungil itu, terasa pas dalam genggamannya. Nilam yang tidak berkata-kata lagi dan hanya menurut mengekornya, membuat Rayhan tersenyum simpul. Hingga akhirnya keduanya menunaikan shalat Maghrib berjamaah dan pada akhirnya bergegas pulang.


" Tentang saja.... aku bawa jaket. Eh... sorry, jaket mu yang dulu aku lupa belum mengembalikan.... kau SMS ya ".


" Aku 'kan nggak punya nomer mu Rey ".


" Hah?!.... okey mana HP mu. Sini kumasukkan ".


Dan begitulah, akhirnya Rayhan menyimpankan nomernya di HP Nilam. Pemuda itu tersenyum sendiri saat ia memberikan nama kontak untuk dirinya sendiri dengan sebutan 'bang Rey'. Ia membuat panggilan pada nomernya sendiri dengan HP milik Nilam. Lalu menyerahkan benda mungil itu kembali pada pemiliknya.


" Kau nggak bawa jaket ? ", Rayhan menatap Nilam yang tersenyum kecut.


Udara malam yang mulai dingin dengan sisa rintik gerimis dari hujan yang mulai mereda, cukup membuat tubuh kecil Nilam sedikit menggigil. " Tadi aku berangkat nebeng mobilnya Nana .... nggak pa-pa, aku sampai halte saja ".


' Brugh !! ', lemparan benda lembut dan tebal itu tepat hinggap dalam pelukan Nilam. Rayhan memberikan jaket hitamnya pada Nilam yang berdiri sedikit jauh dari tempat motornya terparkir


" Pake itu... aku sudah pake kaos double. Nggak usah dicuci, besok malam bawa ke tempat les... jadwal kita sama ".


" Hah?!! ... matematika? di rumah pak Marno ? ".


" Iya .... Nilam. Ayo .... kuantar pulang ".

__ADS_1


Rayhan menutup mukanya mengingat kejadian yang baru saja dialaminya. Ia merasa sangat gila dengan ketidakmampuannya melepaskan pesona si mungil itu. Bahkan saat ia memejamkan matanya, bayangan senyum Nilam berkelebatan.


__ADS_2