Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
Buah Cinta


__ADS_3

Empat tahun sebelas bulan yang lalu...... saat rinai hujan membuat kelopak bunga bluebell yang membirukan tanah basah bergoyang-goyang anggun. Konon bunga itu adalah tempat tinggal para peri. Sebuah negeri dengan hutan purba nya yang begitu eksotis, kemasyhuran dongeng peri serta bluebell flower sebagai bunga kebangsaannya.


Pemandangan itu begitu menyejukkan hati dan menentramkan.


Nilam ditemani Aisyah atau Nyonya Salman, masih terlihat tenang.....walau sesekali berdesis menahan rasa nyeri. Tarikan dan hembusan nafas panjang menyertai sebagai pereda nyeri yang menderanya.


" Sudah meningkat kontraksinya ? ", suara dokter Salman yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


" Dua kali dalam tiga puluh menit ... arghh!! ", jawab Nilam dengan suara berat karena tiba-tiba saja kontraksinya datang lagi. Namun ia mencoba tersenyum.


" Bagus.... masih kuat berjalan ke ruang bersalin ? ", tanya dokter Salman lagi.


" Honey..... kenapa tidak dengan kursi roda saja ", Aisyah memprotes suaminya.


" Dengan berjalan.... membuat pembukaan lebih lancar mrs.Salman ..... ", Nilam segera menengahi suami istri itu.


Dokter Salman membuat tanda dengan mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum...... see.

__ADS_1


" Ya... ya... ya ! ..... terserahlah, kalian orang medis yang lebih tau' ", Aisyah kalah akhirnya.


" Tapi aku tetap membutuhkan lengan anda nyonya .... bolehkah? ", tanya Nilam dengan nada pengharapan dan senyuman yang membuat siapapun tak bisa menolak permohonan nya.


Dengan serta merta Aisyah memeluk Nilam sesaat, lalu mulai membimbing wanita cantik nan mungil dengan perut besarnya itu berjalan keluar kamar. Sementara dokter Salman mendahului langkah keduanya.


" Neel..... kau tidak mengabari adikmu, kalau kau akan bersalin hari ini ? ", suara Aisyah terdengar berhati-hati


'" Nanti saja setelah lahiran.... Wildan pasti sibuk sekali dengan jadwal koas nya... "


" Ya.... ", Aisyah menerima pasrah.


" Aahh.... ketubanku sudah pecah "


" Neel... masih sanggup berjalan ? "


" Iya.... mungkin butuh lebih banyak bantuan anda nyonya.... aaargh ", Nilam menjawab sambil menahan nyeri akibat kontraksi.

__ADS_1


Dokter Salman yang sudah berada di ruangan beralin, melihat semua itu. Buru-buru keluar diikuti oleh seorang bidan yang akan membantunya, lalu memapah Nilam memasuki ruangan. Sementara itu, Aisyah tidak ikut masuk ke dalam ruanga. Wanita setengah baya itu duduk di kursi tunggu sambil terus berdoa. Sementara itu di dalam ruangan telah menunggu juga seorang dokter kandungan yang masih lumayan muda, Sarah Anggelina.


" Akhirnya .... ayo miss Neel, kita tambah anggota keluarga besar rumah sakit ini ya ", sambutannya ramah dan penuh semangat.


" Ya ... mohon bantuannya dr.Sarah "


Waktu terasa begitu berharga, berdetak seiring deru nafas para manusia. Waktu pulalah yang berlomba dengan para manusia yang tengah membantu proses lahirnya manusia baru.


Dokter Sarah memutuskan melakukan tindakan episiotomi menggunting jalan lahir pada perenium, yaitu area sekitar ** sampai dubur. Nilam hanya tersenyum pasrah, sebagai seorang praktisi medis ia pun paham sekali alasannya. Detak jantung bayinya menurun, disebabkan karena lilitan tali pusar pada leher san bayi. Sebuah tindakan cermat dan tepat.


Ketika akhirnya suara tangisan membahana saat pagi yang gerimis di musim semi, pertengahan bulan April. Nilam menarik nafas lega, di sela air matanya yang bergulir pelan..... namun dia tersenyum bahagia. Rasa sakit pasca persalinan sebagai tindak lanjut dari tindakan episiotomi yang sudah diterapkan padanya.... seolah tak terasa sakit dan perihnya. Suara tangisan bayi yang begitu membahana, sepertinya lebih efektif dari pada jenis anastesi apapun.


" Laki-laki..... jari tangan - kaki lengkap, normal ... sempurna. Panjang 53 cm berat 3,2 Kg ", suara bidan yang membantu, melaporkan.


" Kau dengar sendiri kan Nilam.... selamat ya. Biarkan Sarah yang mengurusmu sekarang " ucap dr. Salman. " Aku bersama bayimu ".


Nilam mengangguk lemah, namun bibirnya menyunggingkan senyum bahagia luar biasa. Matanya tak lepas dari sosok mungil yang bergerak di bawah sorotan lampu benderang, seolah-olah sedang melakukan atraksi pertamanya sebagai manusia. Nilam memandang takjub, rambut yang hitam lebat, tangis yang nyaring membahana memecahkan kesejukan pagi dengan gerimis nya yang masih tersisa. Seolah menjadi anastesi ampuh untuk Nilam, ia sama sekali seperti tidak merasakan sakit dan nyeri.... padahal dr. Soraya dengan cermat menjahit perenium nya. Hal yang paling menyakitkan bagi seorang wanita setelah melahirkan, adalah tusukan-tusukan jarum catgut yang digunakan untuk memasukkan benang-benang untuk merekatkan kembali organ vital kewanitaan mereka yang robek alami atau terpaksa dirobek dengan gunting bedah. Jangan tanyakan seperti apa sakitnya..... no anastesi !!!.

__ADS_1


" Syailendra Thoriq Zachary ...... "


" Itukah namanya ? ", tanya dr. Soraya yang mendengar Nilam bergumam.


__ADS_2