Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
Ujian Cinta Yang Sesungguhnya


__ADS_3

Malam itu.....saat purnama beranjak kehilangan pesonanya.......


Lorong sebuah rumah sakit, terlindungi oleh temaramnya lampu dan pilar besar. Dua orang wanita saling berhadapan. Nilam dan nyonya Kamal ibu Rayhan. Wanita paruh baya itu begitu anggun, berdiri dengan dagu terangkat dan bersikap sebagai superior. Sedangkan Nilam tetap bertahan dalam tekanan dengan sepasang mata kelabunya yang mempesona.


" Apa yang kau inginkan? jumlah itu kurang besar?... baiklah akan aku tambah ", suara nyonya Kamal begitu dingin.


" Tidak ibu.... jumlah itu sudah sangat besar. Kumohon berikan aku kesempatan .... untuk berbakti sebagai seorang istri.............. terakhir kalinya ".


Nilam menjatuhkan dirinya bersimpuh, kesepuluh jemarinya *** ujung gaun coklat tua itu kuat-kuat.


" Berikan aku waktu sekali lagi untuk bisa merawat Rayhan hingga pulih.... dan memastikan dia benar-benar akan menyelesaikan kuliahnya..... melanjutkan hidupnya dengan baik ", suara Nilam terdengar serak dan bergetar. " Setelah itu aku akan benar-benar menghilang ..... dari kehidupannya ".


Nyonya Kamal menatap lekat wanita muda yang kini bersimpuh di hadapannya. Sorot mata wanita itu tidak mengindikasikan apapun, kecuali sebuah pengharapan. Wanita muda yang sejak gadisnya telah mendiami ruang hati anak lelakinya. Wajah itu begitu lembut, manis dan sepasang bola matanya memang sangat memukau ..... tapi dia tidak sepadan dengan keluarga kami, batin Nyonya Kamal.


" Apa yang kau jadikan jaminan ? "


" Hatiku ", Nilam menjawab tegas dan lugas. " Hati seorang wanita yang menginginkan terbaik untuk pria yang dicintainya..... Hati seorang anak yang telah dibantu mewujudkan impian terakhir ibunya.... Hati seorang istri yang telah berjanji pada seorang ibu, untuk kebahagiaan seorang anak "


Nyonya Kamal terpekur. Ketulusan tanpa rekayasa, hanya itu yang ditemukannnya dari sosok Nilam, menantu yang tak pernah direstuinya. Hatinya tersentuh....... namun keegoisan menguasai seluruh nalarnya. Hingga ia mengabaikan bentuk cinta yang tulus itu.


" Hanya dua minggu...... waktumu, dua minggu setelah Rayhan keluar dari Rumah Sakit. Separuh dana akan di transfer hari ini, sisanya saat kau sudah benar-benar melunasi janjimu ", ucapnya datar mengakhiri perjanjian.


Hingga pada akhirnya, Nilam tak kuasa lagi membendung tangisnya. Saat sang ibu mertua telah berjalan berlalu melewati keberadaannya..... tangis itu pecah. Kedua belah telat tangannya membekap mulutnya sendiri, meredam isakan yang menggoncang seluruh tubuh mungil itu.


Nilam masih bersimpuh lama, sambil meredakan tangisnya. Seperti udara malam yang mulai dingin menggigit.... hatinya tiba-tiba terasa begitu dingin dan sakit.


" Kau dari mana ? lama sekali ", Rayhan menyambut Nilam dengan nada tak suka.


" Ada pesenan jumlah besar lagi... jadi aku harus telpon bulik dan budhe ku. Sayang klo' dilewatkan ..... besar looh "


" Syukurlah ..... langganan catering ibumu sudah pada balik lagi ". Rayhan menarik nafas lega.


Nilam lebih bersyukur lagi, karena suaminya tidak menyadari sembab yang tersisa di wajahnya. Begitu juga dengan kebohongannya.


" Nilam..... kapan aku boleh pulang ? ", tiba-tiba saja Rayhan kembali membuka matanya.


" Segera..... setelah kondisimu stabil"


" Tapi infusnya dilepas...... seharusnya segera bukan?? ", Rayhan sedikit memprotes.


" Ya.... asal tidak demam lagi dan kau mau habiskan seluruh bubur yang katamu seperti .... "


" Bubur kertas "


Nilam tertawa kecil. Menghampiri suaminya yang sudah nampak tidak terlalu pucat. Ia menarik sofabed itu mendekat pada ranjang tempat sang suami terbaring. Kemudian membaringkan dirinya sambil mengawasi Rayhan yang mulai terlelap.


" Kenapa tidak tidur disini saja ". Tiba-tiba saja Rayhan menepuk-nepuk tempat disebelahnya. Bergeser sedikit, sehingga menyisakan sisi ranjang yang cukup memadai untuk menampung tubuh mungil Nilam.

__ADS_1


" Naiklah ", pinta Rayhan lagi.


" Nggak 'ah..... malu, nanti klo dilihat perawat gimana ? "


" Kenapa harus malu.... kau 'kan istriku. Ayo... naiklah ", Rayhan memaksa.


Karena enggan berdebat dengan Rayhan, akhirnya Nilampun menurut. Ia naik dan membaringkan tubuhnya di sebelah Rayhan. Beberapa saat kemudian, keduanya sudah berpelukkan diatas ranjang.


Dua insan yang telah disatukan oleh cinta. Bukan tanpa sebab jika cinta itupun menuntut mereka untuk saling bisa membuktikan seberapa kuatnya ikatan hati. Karena sesungguhnya ujian itu menguatkan jalinan dan rasa sakit itu membuatnya memahami tentang kasih sayang.


...................


" Miss.... miss Neelam ", sebuah panggilan dengan nada yang cukup keras menyentak kesadaran wanita itu.


" Ah ya... maaf ", Nilam tersentak dan buru-buru menutup lamunannya. Menyelesaikan perputaran slide memori di kepalanya.


" Kau tidak apa-apa? ", tanya wanita sesama perawat teman Nilam


" Aku baik-baik saja. Tadi kau bicara ... maaf Debby, bisa kau ulangi lagi "


Perawat wanita bernama Debby itu menggeleng-geleng kecil, sambil tersenyum. " Kau benar-benar melamun.... ada sesuatu yang berat kau pikirkan rupanya. Tuh..... handphone mu dari tadi bergetar .... panggilan masuk ".


Nilam tergeragap, ia segera melihat alat komunikasi yang diletakkan di atas mejanya. Saat ia telah meraih benda persegi panjang berwarna silver itu... saat itu pula getarannya terhenti. Jemari Nilam dengan lincah mengusap layarnya dan dia sangat terkejut... ada sebelas panggilan tidak terjawab. Dari nomor yang tidak dikenal.


Sementara Nilam masih dengan keterkejutan, benda itu bergetar kembali. Panggilan dari nomor tidak kenal yang sama. Nilam memutuskan untuk menerima panggilan itu.


" Hello ? ", sapa Nilam ragu-ragu


" Rey... ? ", Nilam memastikan.


" Iya... ini aku, kau ada di bagian mana dari rumah sakit ini? bisa kita bertemu sebentar ? ", Rayhan heboh dengan pertanyaan.


" Aku...... masih jaga. Tiga puluh menit waktu sift ku habis. Bagaimana ? "


" Okay.... aku di lantai empat, VIP kamar 8.... ku tunggu disini. Bisa ya ?! ", nada memaksa Rayhan begitu kentara.


Nilam tersenyum jengah, hingga kemudian dia berkata dengan tegas, " Aku masih bekerja Rey.... dan untuk apa ke VIP 8 ? ".


" Nilaaam..... maksudku nanti setelah siftmu selesai, bukan sekarang ".


" Untuk apa ?. Aku akan segera pulang kok nanti "


" Oh -*..*- ...", Rayhan mengumpat. " Kau tetap disitu... aku menjemputmu !". Suara Rayhan terdengar frustasi.


Tut.. tut.. tut ... dan panggilan itupun diputuskan sepihak.


" Siapa? kalian berbicara dengan bahasa Indonesia.... temanmu ? ", Debby penasaran.

__ADS_1


" Orang ... yang membuat ku terdampar disini ", Nilam menjawab dengan senyum jengah.


" Wow.... seseorang dari masa lalu. Boleh tau' siapa dia ? ", Debby semakin penasaran.


" Ayahnya si kecil Alend ".


Ups !.... Debby menutup mulutnya yang ternganga tidak percaya. Ia segera menarik Nilam mendekat dan membawa wanita mungil itu ke sudut ruang perawatan intensif untuk melakukan interogasi kecil. Nilam menurut pasrah.... percuma melawan, dia sudah tau' betul bagaimana watak Debby.


" Ceritakan padaku ".


Dan menit-menit berikutnya, Nilam sudah melantunkan kisah pertemuannya kembali dengan Rayhan. Sementara Debby berkali-kali menutup mulutnya dengan ekspresi kegirangan dan antusias yang berlebihan. Hingga akhirnya Nilam selesai bercerita.


" Dia menginap di rumah mu bukan?, tanya Debby masih dengan antusias nya


" Ya.... tapi hanya satu malam. Setelah itu, dua hari aku tidak mendapatkan kabar apapun darinya...... itu membuat Alend sedikit demam ", Nilam nampak kesal.


" Tapi..... barusan dia menelponmu, dan akan segera menjemput. Bukankah itu artinya.... hei kalian tidak pernah bercerai kan ? ".


Nilam menggeleng pelan, " Kami baru menikah secara agama... belum terdaftar di KUA ... maksudku kalau disini pernikahan kami belum terdaftar secara resmi di kantor catatan sipil ".


" Oh.... tapi, tetap saja tidak ada perceraian. Dan kau juga tidak menikah lagi ... dia juga ? ", Debby begitu penasaran.


" Nilam... ", tiba-tiba saja sebuah suara menyeruak di ruangan itu.


Membuat dua orang wanita yang tengah berbincang intens menoleh bersamaan. Di sana, di ambang pintu yang otomatis terbuka dan tertutup, melangkah masuk seorang pria dengan kemeja hitam yang digulung melewati sikunya. Ia tampak sedikit terengah-engah, kelihatan habis berlari-lari.


" Kau dikejar apa Rey ?", Nilam bertanya dengan nada menyindir


" Bukan dikejar.... tapi mengejar mu ". Rayhan menyeruak mendekat.


" Kau pikir aku akan lari kemana ? ", Nilam mendelik sebal.


" Uwouw..... aku mencium aroma pertikaian suami istri di sini ", Debby menyela dengan antusias. " Saya Deborah... orang biasa memanggilku Debby ... anda tuan ..??? "


" Hai Debby... panggil saja Rayhan. Bisa aku minta tolong padamu nona? "


" Tentu .... dengan senang hati mr.Rayhan ", Debby terlihat begitu bersemangat.


" Kuambil istriku beberapa menit lebih awal.... kali ini saja. Bisakah kau merahasiakannya dari Direktur Rumah Sakit ini ? ", ucap Rayhan dengan gaya memelas.


Debby tiba-tiba saja tertawa sambil sesekali memukul-mukul pundak Nilam. " Tentu... jangan khawatir.... ambil saja Neel bersamamu. Dokter Salman pasti juga akan senang "


" Loh ....Dokter Salman direktur rumah sakit ini ? "


" Anda mengenalnya mr.Rayhan ? "


" Tentu saja... beliau pria yang sangat baik dan sederhana ". Rayhan tersenyum lalu menjabat tangan Debby dengan hangat. " Anda juga wanita cantik yang sangat baik, senang mengenalmu nona Deborah ".

__ADS_1


" Aahh..... mr. Rayhan, anda juga sangat tampan. Untungnya Neelam temanku .... kalau tidak !!!! ....aku tidak peduli, kurebut engkau darinya ".


Rayhan dan Debby tertawa bersamaan. Sementara Nilam memandang mereka dengan tatapan .... dasar aneh!!!.


__ADS_2