Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
S' E' Malaikat Itu Bernama Ibu


__ADS_3

Ternyata udara hangat di bagian bumi belahan khatulistiwa ini terasa menjadi terasa begitu gerah dirasakan oleh  Syailendra, bahkan juga oleh Nilam. Tentu saja waktu selama enam tahun itu telah mengubah sedikit struktur kepekaan kulit Nilam terhadap suhu, apalagi si bocah yang biasa dipanggil Alend yang terlahir di negara sub tropis  bagian benua biru. Keringat bercucuran dan meleleh deras dari kening ke pipi dan menggenangi leher dan membuat basah kerah bajunya. Tapi dia tersenyum senang dan tetap berjalan lincah menyusuri trotoar yang membawanya menuju sebuah mini market, dan dari mulutnya tak henti mengeluarkan celoteh riang.


" Jangan cepat-cepat .... kasihan mommy dan little baby ",  berkali-kali Rayhan mengingatkan dengan menggunakan bahasa Inggris. Hal ini membuat beberapa orang yang mereka bertiga lewati teralihkan perhatiannya, lalu menoleh menatap si bocah yang tertawa riang.


" Aku mau es krim vanila besar dengan selai strawbery yang banyak ya Daddy... ", pinta Alend gembira


Syailendra kini sudah berada di dalam mini market itu, menghebohkan kasir dengan celoteh bilingualnya yang membuat si kasir tersenyum dengan gemas. Nilam buru-buru mengambil alih kesepakatan dengan jagoan kecilnya ini, yang tiba-tiba menjadi kalap dengan membawa aneka es krim kehadapan kasir.


" No Alend... tidak sebanyak itu. Kau bisa diare nanti ", larang Nilam sambil memberikan sentuhan peringatan yang lembut di kepala si sulung.


" But Mom..... disini panas sekali. Aku menguap, nanti bisa dehidrasi... kata mommy berbahaya kalau dehidrasi ", protes Alend. Rayhan yang mendengar hal tersebut tidak bisa menahan tawanya. Ada rasa geli yang terselip diantara perasaan bangga dengan kemampuan yang dimiliki sang putra. Si kecil ini bisa menyerap semua  yang diajarakan ibunya dengan baik, bahkan dapat segera mengaplikasikannya laksana boomerang bagi sang mommy.


" Ya... tapi bukan dengan lima es krim sekaligus. Air mineral dan jus buah lebih bagus.... okey ".


" But mom....... "


" Buat uncle satu ya ", sebuah suara pria tiba-tiba menyela.


" Uncle Will..... ", seruan itu terdengar begitu riang mengiringi kehadiran seorang pemuda gagah yang langsung bergabung dengan keluarga kecil Rayhan. Wildan si dokter forensik itu datang dan langsung melerai perdebatan antara kakak dan keponakannya.


" Hai boy.... boleh kalau uncle minta yang rasa pisang itu ? ".


" Tentu saja ..... Tuh 'kan mom.... memang harus beli yang banyak biar bisa berbagi ".


Seolah bocah itu kini berada diatas angin atas kehadiran sang paman, Nilam hanya mengangkat pundaknya pasrah. " Yah... kau datang disaat yang tidak tepat. Dari mana kau tahu kami ada disini, Will ? ".


" Aku tadi melihat kalian ...... jadi kuparkir mobil dulu di hotel. Terus menyusul. Mau menginap berapa lama di Jakarta ?  Tidak ingin mampir di kos'an ku ? ".


" Jauh tidak dari sini ? ", tanya Rayhan.


" Lumayan hanya satu jam ..... kalau tidak macet ".


" Bagaimana sayang ?.... kau masih capek untuk naik kendaraan lagi ? ", Rayhan memandang istrinya.


" Boleh.... tapi bagaimana nanti kami pulang ke hotel lagi ? Kau mau mengantar lagi ? ", Nilam menatap adik gantengnya ini.


" Kakak ku...... tidak usah khawatir... aku cukup kuat, bahakn jika harus mengantar kalian sampai ke Semarang ", Wildan tertawa kecil sambil sesekali meladeni keusilan keponakannya.


" Wiiiiiiiiihhh..... udah ada yang biasa jadi driver nih ", goda Nilam.


" Yaaaa.... kalau tidak capek aku biasa nyetir sendiri .... dua minggu sekali, buat berkunjung ke makam mamih dan bapak ".


 


Perkataan Wildan yang terakhir ini membuat Nilam tiba-tiba saja merasa dicengkeram oleh rasa rindu dan pilu. Ia terbayang sosok wanita yang lembut dengan rambut ikal yang hitam legam, sedikit bermata sipit serta hidung mungil yang bertengger indah. Wanita yang selalu menyambutnya saat ia pulang dari sekolah dengan pertanyaan yang sama, yang kini terngiang-ngiang dalam gelora rindunya ...... " sudah bertambah pintar anak mamih ? ".


Rayhan dan Wildan menyadari perubahan air muka dari wanita yang tengah mengandung dua janin ini, segera memberikan sentuhan lembut pada pundak dan saling tersenyum menguatkan.


" Besok aku ikut pulang juga kok mba..... kita sama-sama berkunjung ke makam Mamih dan Bapak. Aku ambil cuti tiga hari ", kata Wildan


" Oh ya.... senangnya ",  Nilam tersenyum berusaha mengalihkan sedih yang tiba-tiba saja menyelimuti.


" Ayo kita kembali hotel dulu... katanya mau lihat kos-kosan adik mu ", Rayhan mengalihkan suasana.

__ADS_1


" Kalian tunggu di sini saja... aku ambil mobilnya ya. Nikmati es krim itu.... sisakan satu untukku ".


Lalu ke tiga anak beranak itu duduk di luar mini market sambil menikmati es krim yang mereka beli. Sementara Wildan telah berlalu menuju hotel tempat keluarga kakaknya menginap. Rayhan yang melihat kondisi Nilam kepayahan setelah melewati ribuan kilometer dalam waktu lima belas jam, tidak tega untuk melanjutkan perjalan lagi ke kota kelahirannya. Akhirnya memutuskan untuk beristirahat dan menginap semalam di ibukota negara. Sekalian bertemu dengan adik iparnya yang kebetulan berdinas di kota metropolitan ini.


Jangan tanyakan berapa panjang nasehat dan celoteh tidak sabar dari mamahnya yang sibuk menanyakan bagaimana keadaan menantu dan cucu laki-laki kesayangannya ini. Padahal dulu beliau adalah orang yang paling menentang hubungan dan juga kehadiran Nilam di dalam kehidupan putranya. Bahkan dengan sangat tegas telah mengambil sikap dalam sebuah perjanjian yang akhirnya membuat putranya terpisah dari wanita yang sangat dicintai. Tapi kini, beliaulah orang yang paling tidak sabar ingin segera memeluk wanita itu. Begitulah jika Tuhan telah mengabulkan sebuah doa yang tulus, dengan membalikan hati dan rasa. Benci dan sangsi itu telah berubah menjadi sayang dan cinta. Jangan pernah berhenti berharap dan berdoa atas apa yang kamu cintai. Begitulah yang digenggam oleh Rayhan atas pelajaran tentang kehidupan yang telah dilaluinya selama ia remaja hingga sudah berputra kini.


........................................


" Kelak ..... akan ada seseorang, yang tidak terikat dengan darah yang mengalir di tubuhmu.... tapi dia akan menjadi urat nadi hidupmu. Dia adalah seorang pria.... pria yang telah bersumpah pada Sang Maha Kuasa, bahwa dia akan selalu menjagamu, melindungimu, mencintai dan menyayangimu. Kau akan segera menganalinya.... saat mata kalian beradu pandang, jantung dan hati kalian saling menyeru..... Dialah seorang pria yang iga kirinya telah tersempal untuk penciptaannmu "


" Ah.... aku sudah tahu siapa itu koq, Mih. Nick Carter  ... si cute nya BSB. Kalau part dia yang nyanyi..... hwiiiy... aku langsung deg-degan ".


" Dasar ABG .... cintanya cinta idola. Yang ini beda non....... ini cinta sejatimu , cinta jodohmu. Pasti belum pernah jatuh cinta ya..... ".


" Yeee... 'kan mamih sendiri yang bilang nggak boleh pacaran, masih SMP ".


" Jatuh cinta sama pacaran itu beda jauh nona Nilaaaaam...... ".


Bahkan suara tawa itu masih nyaring terdengar di gendang telinga Nilam dan memenuhi relung-relung kenangannya. Wanita itu meringkuk menyandarkan kepalanya di jendela pesawat yang baru saja mengudara. Di luar langit malam terlihat kelam namun tersamarkan oleh gemerlapnya lampu-lampu yang berkelip seperti kunang-kunang raksasa. Dua jam lagi, ia akan segera tiba di kota tempat ia dilahirkan. Bertemu kembali dengan semua kenangan indah dan sedih, serta penggalan kisah hidup yang akan disambungnya kembali.


" Ingat Mamih ya ... ", Rayhan menarik kepala istrinya dan membuatnya bersandar pada pundaknya. " Aku selalu berkunjung kemakamnya .... dan berjanji untuk membawamu pulang.  Pasti beliau sekarang sedang lebih berbahagia ".


" Ya ", Nilam hanya mengiyakan pendek. Kembali air mata itu bergulir bersama penggalan kenangan yang mengalir dan memeluknya hangat.


........................................


"  Mbak.... Rayhan itu baik ya. Dia sopan dan juga ramah, padahal anak orang terpandang .... tapi sederhana sekali ya. Apa dia sudah punya pacar ? ".


" Ih ... mbak Nilam dia ajak bicaranya malah diem  aja ", goda budhe Inggar sambil tersenyum-senyum menggoda.


" Yee.... mana aku tahu Mamih... Emang kenapa ? .... mamih naksir sama si Rey ? "


" Iya.... ", senyum usil tergaris dari bibir yang manis sang ibu.


" Hah ?!!!!!!..... iiihhhh mamih genit ah.  Nanti almarhum Bapak bangun looh ", Nilam tertawa geli.


" Iya .... mamih naksir ... naksir buat dijadiin menantu ". 


" Yeeeeee....... ngarep !!!!!!!.  masak Wildan mau dipersunting si Rayhan sih ... ", Nilam berusaha ngeles total untuk menutupi semburat rasa malu yang mulai menjalari pipi putihnya membuat rona merah.


" Kamu sayang...... ", dan sang mamih yang masih belepotan dengan adonan tepung itu memencet hidung sang putri dengan sayang.


Saat itulah tiba-tiba saja masuk sosok Wildan si adik yang beriringan dengan seseorang yang baru saja jadi topik pembicaraan. Rayhan masuk dengan mengembangkan senyumnya yang mempesona. Tapi justru membuat Nilam semakin tenggelam dengan rasa malunya. Apalagi ketika dengan semangat emak-emak pencari menantu, sang ibu menyambut pemuda itu. 


" Waduuuuh..... Nilam nya malah baru kucel gitu ... si ganteng udah datang. Mau ada acara kemana ? ", dengan sok tahu nya sang ibu menyambut Rayhan.


" Nggak kemana-mana koq.... cuma pingin mampir dan ngobrol aja. Boleh kan ? ".


" Boleeeeh..... tapi harus sambil bantuin ", Nilam menyergah cepat.


" Nilam .... ", sang ibu sedikit menghardik putrinya.


" Nggak apa-apa bu ", Rayhan tersenyum. " Ayo kasih tahu caranya ... ". Sebuah sikutan kecil mengawali kedekatan dan keakraban di sore hingga malam.

__ADS_1


Tawa dan canda yang tercipta dari  semua peristiwa itu terasa hangat mengalir di sanubari NIlam dan Rayhan yang kini sama-sam terdiam. Mereka berdua tersenyum mengingat moment-moment menyenangkan itu, salah satu masa terindah dalam hidup mereka. Sementara di depan tempat duduk mereka berdua terdengar celoteh british dari Syailendra yang ditanggapi dengan candaan usil sang paman, si dokter Wildan.


Tak terasa dua jam itu telah berlalu dengan cepat, akhirnya mereka tiba di bandar udara kota lumpia. Saat itu sudah lewat dari jam sembilan malam, dan Syailendra sudah lelap tertidur di gendongan Wildan ketika mereka semua berjalan keluar dari bandara.


" Aduuuuh.... cucu gantengnya udah bobo ya ? ", sebuah suara menyambut kedatangan mereka berempat. Dan itu adalah suara mamahnya Rayhan yang begitu bersemangat menyambut kedatangan orang-orang tercinta.


" Ngoceh terus dari tadi..... kecapekan dia ", Rayhan memberikan pelukan pada mamahnya. Tapi wanita cantik dan elegan dengan setelan merah maroon nya hanya sesaat memeluk sang anak. Selanjutnya ia beralih pada si menantu yang tersenyum menatapnya.


" Nak..... ", dan pelukan itu begitu erat dan hangat dierikan pada Nilam. Beberapa saat nyonya Kamal memeluk menantunya. Lalu memberikan sebuah ciuman hangat di kedua pipi dan beralih memnbelai-belai perut sang menantu. " Mereka baik-baik saja ? ".


" Iya  Mah.... mereka baik-baik saja . Lihat gerakanny... ", NIlam tersenyum sambil membawa tangan mertuanya menyentuh tonjolan-tonjolan aktif hasil dari pergerakan dua mahluk yang sedang berkembang di perutnya.


" Waaaah.... aktif sekali. Pasti dia sangat senang ya bisa kembali ke tanah air . Ayoo... papah kalian sudah lama menunggu di rumah ". Dan mereka pun bergegas masuk ke dalam mobil yang sudah menanti.


 


...........................................................


 


Pagi itu Nilam terbangun dengan perasaan yang damai. Ia membuka pintu yang menuju ke arah balkon kamar, dan kemudian melangkah keluar melaluinya. Menatap pemandangan hijau pepohonan yang menjadi pagar rumah besar keluarga Kamal dengan perasaan tenang. Rumah dan kamar yang mereka tempati kini tidak berubah jauh dari dulu terakhir kali Nilam mengenalnya. Masih tetap kamar yang sama dengan yang dulu di tempati Rayhan. Bahkan aksesori dan perabot kamar pun tidak banyak berubah. Penambahan yang mencolok adalah foto pernikahan Rayhan dan Nilam yang sederhana dengan balutan nuansa putih di ruang keluarga Nilam, dan juga foto mereka bersama Syailendra saat masih berada di Inggirs. Foto yang terakhir ini di cetak dengan dalam ukuran besar dan dipigura dengan indah. Rupanya nyonya Kamal sengaja melakukan ini setelah kepulangannya dari Inggris beberapa bulan yang lalu. Seolah sebagai sebuah pertanda jika wanita itu benar-benar ingin menebus semua cerita sedih dimana dirinya adalah sebagai salah satu penyebabnya.


Puas menikmati pemandangan dari balkon kamar dan menghirup udara pagi hari yang segar, Nilam masuk kembali ke dalam kamar. Suami dan anaknya masih terlelap dalam buaian mimpi. Tengah malam Syailendra terbangun dan membuat kehebohan dengan tangisnya. Akhir-akhir ini bocah yang biasanya sangat mandiri, sangat penurut itu menjadi sedikit agak rewel. Seolah-olah ia menuntut perhatian lebih dari kasih sayang Daddy dan Mommy nya. Hasilnya... sepanjang malam Rayhan menggendong bocah itu, menenangkannya dan akhirnya berhasil membujuk dengan bermain game balap mobil hingga dini hari. Nilam terpaksa membiarkan semua itu, karena ia merasa sangat penat dan pegal di sekujur tubuhnya.


Sebuah kecupan di berikan wanita itu pada sang suami yang menggeliat pelan saat merasakan sentuhan hangat bibirnya. " Tidurlah kembali.... aku mau ke bawah ya ". Dan jawaban yang diterima adalah sebuah lenguhan malas dari pria ini.


Nilam tersenyum dan melangkah keluar dari kamar besar itu. Menadapati bau harum masakan yang sangat di kenalnya, sesuatu yang gurih dan di goreng dalam minyak panas. Naluri memberi nutri pada dua mahluk amanah Tuhan yang kini ada di perutnya membuat ia mencari sumber aroma itu. Dan ia menmukan ibu mertuanya tengah menata sesuatu di meja makan dan di dapur yang bersih dan rapi itu tampak seorang wanita paruh baya tengah menggoreng sesuatu.


" Hei ... sudah bangun sayang. Tadi malam Alend rewel ya.... biasa kalu anak sulung mau punya adik itu pasti seperti itu. Kata orang-orang naluri cemburu pada adiknya... apalagi yang ini dua ya ", nyonya Kamal menyambut riang kedatangan Nilam.


" Iya mah..... aku tahu aroma ini. Tempe Mendoan ya .... sudah ada yang mateng ?? ", Nilam sungguh tidak bisa menahan air liurnya yang kini terasa nyaris menetes-netes.


Nyonya Kamal terkekeh geli sekaligus bahagia karena menantunya ini sudah tidak lagi merasa sungkan. Ketika sepiring tempe mendoan yang masih mengepulkan uap panas itu disajikan, Nilam segera mencomot dan melahapnya dengan ekspresi yang bahagia luar biasa. Nyonya Kamal tersenyum senang melihat hat tersebut. Keduanya pun kemudian saling berbincang dan tak henti menikmati sepiring tempe hangat itu .


" Setelah suami dan anak mu bangun.... nanti kita semua langsung ke makam ibu mu ya ". Nilam menganguk mengiyakan ucapan mertuanya. Ia tidak bisa menjawab karena mulutnya penuh dengan kudapan gurih hangat itu.


" Aku mau minta maaf pada ibu mu ..... ".


 


Jangan takut karena kelemahanmu


Jangan menangis karena ketakutanmu


Telah kukirim malaikat penjaga dirimu yang rapuh


Yang akan melindungimu dengan bentangan sayap tak terlihat


Yang merengkuhmu dengan kehangatan sepanjang masa


Yang mengajarimu segalanya


**Malaikat itu bernama .................. bunda **

__ADS_1


__ADS_2