Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
S’ E’ …………… Karena Ini Tentang Kamu


__ADS_3

Ternyata cukup sulit mengumpulkan para sahabat yang kini telah terserak dimana-mana. Mereka yang cukup sibuk dengan segala rutinitas kerja dan juga perihal keluarga. Hari itu beberapa teman mereka yang tidak sibuk akan datang berkunjung. Rayhan menatap Nilam yang tampak sedikit kelelahan meladeni si sulung yang merengek karena udara panasnya kota lumpia ini. Sudah tiga hari mereka bertiga di ibu kota propinsi bagian tengah dari jawadwipa ini, masih butuh penyesuaian besar darseorang anak yang memang terlahir di sebuah negeri dingin. Nilam sedikit kesulitan ketika harus memangku dan mengipasi sang putra sulung. Padahal sebenarnya suasana serambi kanan rumah yang berpagar pohon bamboo dan juga diselingi aneka pohon peneduh itu sangat asri dan sejuk.


“ Alend mau di kamar saja ? yang ada penyejuk ruangannya ?”,  berusaha membujuk Syailendra. Bocah itu


menggeleng pelan sambil terlihat air mata yang mulai menggenang di kedua


matanya.


“ Mommy…. Alend rindu ibu Sonya, rindu Jesica dan juga Abraham… “.


Nilam tersenyum lembut sambil membelai pipi si sulung yang mulai merajuk. Bocah itu sangat aktif dimanapun dia berada, selalu berinteraksi dengan banyak orang khususnya teman-teman sebayanya. Pastinya ini dia sudah mulai bosan dan jenuh dengan rutinitas yang membuatnya hanya bertemu dengan para orang dewasa saja. Terlebih


setelah paman tercintanya kembali ke Jakarta dua hari yang lalu, Syailendra menjadi kesepian. Ternyata kehadiran Wildan saat itu cukup bisa membuat perhatian Syailendra teralihakan.


 “ Boy…. Lihat nih si twins bergerak lagi. Dia mengajak mu bermain “,  Nilam menunjukan tonjolan aktif pada sisi kiri


perutnya.


Luar biasa…. Ekspresi sedih itu langsung menghilang dari wajah Syailendra. Bocah itu langsung terlihat bersemangat, ia menciumi perut ibunya yang membesar dengan dua janin di dalamnya. Bersamaan dengan suara Syailendra yang mulai ceria, masuklah sebuah city car warna biru. Lalu dari dalamnya keluarlah sosok manis dalam gendongan seorang wanita berjilbab ungu nan anggun, serta disusul oleh seorang pria seumuran Rayhan. Nilam menatap kehadiran mereka dengan senyum mengembang. Ia mengenali si pria itu, walaupun sekarang ada tumpukan lemak diperutnya. Tapi kulit yang membuatnya terlihat hitam manis dengan bentuk rahang yang khas,


Nilam tidak pernah lupa sosok itu.


“ Hanan El Haqq ….. selamat datang, aku merindukan mu ‘bro “, Rayhan menyambut pria itu dengan pelukan hangat. Dua orang teman semenjak mereka duduk di bangku Sekolah Dasar, cukup dengan tepukan hangat di pundak ala pria, itu sudah mampu menggambarkan bagaimana mereka saling bercerita tentang rindu.


 “ Nyonya Rayhan….. “,mpria itu beralih menjabat Nilam yang sudah tersenyum menantinya. “ Waah … mantap juga tandukanmu Hans… sudah mau dapat dua ya “.


 “ Salah…. Yang ini isinya dua brow.. “, Rayhan tertawa sambil mengelus perut istrinya.


“ Ayo… mari silahkan duduk, yang lain masih perjalanan .. “, Nilam mempersilahkan keluarga kecil itu


untuk masuk dan bergabung duduk santai di kursi dan juga karpet rumput sintesis yang sengaja dipersiapakan di serambi rumah itu.


“ Oh … ini ya juniornya. Siapa namanya cantik ? “, Nilam memberi sebuah sentuhan di pipi chuby gadis kecil yang menggelayut manja pada ibunya.


 “ Celia tante… “, jawab sang ibu yang menggendong bocah itu sambil tersenyum manis pada Nilam.


Lalu dua wanita itu saling bersalaman. “ Mba Nilam lupa sama aku ya ? ”.


 “ Aduuuh…. Siapa ya ?", Nilam mengerutkan keningnya mencoba memindai dengan lebih teliti sosok wanita anggun yang kini tersenyum ramah padanya. Ia pun melirik Rayhan mencoba mendapatkan jawaban, tapi suami tampannya itu justru tertawa mengodanya.


“ Mawar mba…. Adik kelas “, akhirnya si wanita itu menjawab dengan kekehan di bibirnya. Nilam pun sontak melongo tak percaya dengan kenyataan yang saat ini sedang dilihatnya. Mawar…. Adik kelas yang jago basket, pernah masuk dalam koleksi cewek yang dekat dengan Aldo si Don Juan SMA.


“ Ya ampun dek……… kamu dulu item manis, sedikit tomboy. Luar biasa…… bagaimana bisa begini “. Nilam berseru takjub sambil memeluk wanita itu.


 “ Itu salah satu kesuksesan ku Nil…. Lihat, lebih cantik yang seperti ini ‘kan ? “, Hanan membanggakan istrinya.


 Dua keluarga kecil itupun tak memnunggu lama, mereka saling mengakrabkan diri satu sama lain. Begitupun dengan dua bocah kecil Alend dan Celia, yang langsung bersemangat bermain mengitari kolam ikan koi peliharan papahnya Rayhan. Walaupun merekamenggunakan dua bahasa yang berbeda, namun seperinya keduanya tak butuh translator untuk menjembatani makna dari setiap kata. Kebahagian dan kecerian yang universal dari dua orang bocah, saling memahami dengan hati mereka yang masih sangat murni. Syailendra untuk pertama kalinya tertawa lepas di nergeri tumpah darah kedua orang tuanya. Kebahagian seorang anak karena menemukan teman


baru.


Kemudian berurutan datang Raffa dengan Istri dan bayi montok berusia sembilan bulan. Meisya yang kali ini datang sendirian karena suaminya masih berlayar. Hingga kemudian kedatangan satu orang yang membuat tangisan Nilam pecah tak terbendung. Itu adalah saat seorang wanita mungil yang datang diantar suaminya, dia adalah Susan. Seorang teman sebangku dari kelas satu hingga kelas dua SMA, mereka pisah kelas karena Nilam di kelas IPA sedangkan Susan di kelas IPS.


 “ Nilam…… aku tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi aku yakin…. Yakin seyakin-yakinnya…


kau pasti sedang sedih dan terluka. Aku hafal saat kau diam…. Kenapa tidak datang dan menceritakan padaku…. Aku jadi sangat benci si labu siem itu “. Suara Susan yang terbata-bata dalam tangis bahagianya, sambil melirik tajam pada Rayhan sang labu siam.


“ Tapi kalian sekarang sudah bersama sekarang…. Dan sudah mencentak junior-junior… ya sudahlah. Hans… ku maafkan kau !!!!! “. Seruan itu disambut tawa oleh semuanya.


 Memang tidak semua teman-teman mereka mengetahui cerita yang sesungguhnya terjadi di kehidupan Nilam dan Rayhan. Dan Susan yang merupakan teman dekat Nilam menjadi salah satu yang tidak mengerti. Karena Nilam benar-benar menutup rapat semua akses tentang dirinya semenjak pergi meninggalkan Indonesia. Terakhir mereka bertemu adalah di acara empat puluh hari meninggalnya ibunda Nilam, bahkan hingga saat itupun Susan tidak mengetahui kalau Nilam sudah menjadi istri dari Rayhan.

__ADS_1


“ Oh ya … ini mas Pram… Pramono, suami ku. Kenalkan… mas ini yang namanya Nilam, sang putri yang


menghilang itu. Dan itu…. Tuh pencuri hatinya … Rayhan, sudah kenal kan ? “, Susan memperkenalkan kedua sahabatnya pada sang suami dengan kocak. Pria manis dan kelihatan sedikit pendiam itu menjabat tangan Rayhan dan Nilam.


 “ San…. Nemu dimana ? “, goda Rayhan. “ Susan yang ramai dan heboh… ketemu sama yang manis dan anteng


begini “.


“ Han… semua itu sudah diciptakan saling berpasangan. Ya dial ah yang menemukan ku… karena brisik, aku kan nggak bisa sembunyi “, jawab Susan dengan gaya bicara dan canda yang tak pernah berubah. Membuat semua yang hadir tertawa, sehingga suasana itu berubah menjadi sangat semarak.


Saat itulah sebuah taxi berhenti dan menurunkan seseorang. Pria tinggi dan tampan dan berbadan atletis. Kaca mata hitam yang bertengger sempurna di hidung menjulang serta menutupi sepasang matanya. Sesungging senyum terkembang dari bibir yang terbingkai rahang tegas nan tampan itu, saat ia melihat kumpulan orang-orang


yang sudah sangat dikenalnya. Semuanya yang ada di tempat itu mengenal pria ini, dialah pria yang gemar membariskan deretan nama para wanita di hatinya.


“ Aldo….. tak kusangka kau akan datang “, seru Hanan di tengah senyuman semua orang.


“ Halo semua…. Demi kalian aku terbang dari Bandung hari ini “, suara berat yang ramah itu tidak berubah.


Setidaknya itulah yang bisa dirasakan Nilam.


“ Rayhan…. Nilam…. “. Tanpa sungkan dan dengan serta merta Aldo memberikan pelukan pada dua orang


sahabatnya itu bersamaan.


Dan kilasan kenangan itu berkelebat cepat memutar waktu yang telah berlalu. Membawa sebuah cerita


yang telah menempa diri dan kedewasaan tiga orang sahabat ini. Sebuah arti mencintai yang sesungguhnya, sebuah pemahaman untuk menjadi yang lebih baik tanpa harus menyakiti orang lain ataupun diri sendiri. Hingga akhirnya saling memahami bahwa engkaulah sahabat terbaik yang pernah ku miliki.


“ Kamu ceroboh !... dompet sampai tertinggal begini “, tegur Aldo pada Nilam yang kini tersenyum


lega menerima benda persegi empat berwarna coklat susu dengan karakter panda sebagai covernya.


ke sekolah lagi dan mengambilkan dompetnya yang tertinggal di kelas, di dalam laci mejanya.


“ Nggak gratis loh…. “.


 “ Iya deh… terus aku harus bayar berapa “, bibir Nilam mengerucut kecil.


 “ Murah kok…. “, Aldo tersenyum usil. Senyum yang menjadi ciri khasnya.


 “ Iya…. Apa itu?... ku traktir bakso yuk “, ajak Nilam sambil bangkit dari duduknya di hallte itu. Rupanya dari kejauhan nampak sebuah mini bus yang akan melintas. Namun ia duduk kembali saat tahu mini bus itu bukan yang bisa membawanya sampai ke rumah.


 “ Nggak ah…. Yang seru dikit dong.. “, Aldo berkata sambil menyandarkan sepeda gunungnya dan mulai duduk menjajari Nilam.


 “ Iya apaan … yang seru itu “.


 “ Emhh…. Sun dikit … di pipi. Boleh ? “


 Aldo mengucapkannya dengan nada setengah menggoda, karena ia sudah tahu betul dengan reaksi yang akan diberikan si mungil manis ini. Benar saja, pipi itu langsung bersemu merah. Sebuah tinjuan kecil mendarat di pundaknya, membuat Aldo terkekeh senang. Ini adalah satu-satunya gadis yang jadi pacarnya tapi satu-satunya juga yang menolak permintaan walau hanya sebuah kecupan kecil. Padahal seluruh gadis yang jadi pacarnya sama sekali tidak adanyang keberatan dengan permintaan itu, bahkan ada beberapa yang mengambil inisiatif duluan.


 “ Yee… kalau begitu, besok malam bisa kasih semangat untuk ku ? “, akhirnya Aldo memberikan sebuah


penawaran.


 “ Tanding di mana ? “, dan Nilam sudah hafal betul dengan maksud Aldo yang satu ini. Latihan basket,


biasanya sekolah mereka mengundang tanding dari sekolah-sekolah lain.


 “ Besok habis maghrib… di sekolahan kita kok. Datang ya…. Dan bawakan aku love boosters special  …

__ADS_1


seperti biasa “.


Nilam tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Saat itulah berhenti sebuah minibus yang akan membawa


gadis itu pulang ke rumah. Lambaian kecil diberikan pada Aldo yang masih menunggunya hingga tubuh mungil Nilam benar-benar telah masuk ke dalam sarana angkutan umum itu.


“ Pak… nitip pacar saya ya “,  dan seruan Aldo yang diiyakan oleh pak kernek membuat Nilam tersipu. Bahkan beberapa gadis di dalam angkutan umum yang tadi sempat bisik-bisik gembira melihat pemandangan cowok ganteng itu, kini beralih menatap Nilam dengan pandangan iri dan cemburu. Tapi Nilam justru cemberut sebal untuk menutupi rasa malunya.


Hingga pada senja itu, saat Nilam datang ke lapangan basket sekolah yang kini sudah mulai


benderang oleh lampu yang akan menerangi jalannya pertandingan. Aldo tersenyum menyambut kehadiran gadis mungil dengan poni menari di dahi yang kali ini mengikat sejumput rambut dari dua sisi atas telinganya tepat di tengah-tengah ubun-ubun. Membuat sebagian besar rambutnya yang hitam mengkilat itu tergerai


indah. Menurut Aldo, gadis ini terlihat sangat manis….. semanis kue-kue yang dibawakan untuknya, love boosters.


“ Cantiknya…. “,  sebuah bisikan terngiang di telinga Aldo yang masih terpana menikamati langkah


riang si mungil bercelana biru tua dengan atasan jingga yang sangat serasi. Seolah-olah memang sang desainer menciptakan pakain itu khusus gadis yang kini melambai padanya itu.


“ Tentu saja…. Dia gadis ku “, balas Aldo bangga pada Rayhan yang tadi berbisik menggodanya.


 “ Oh ya ?... gadis yang keberapa ? “, Rayhan menggoda sambil memberikan umpan pada Aldo untuk


melakukan tembakan pada ring basket.


“ Entahlah…. Yang jelas ini berbeda … aku bisa bertahan lama dengannya….. “. Aldo melakukan ancang-ancang tembakan dari perimeter lengkung luar … dan hasilnya….


“ Yess!!... three  point “, seru pemuda itu puas. Suara benturan dari bola kulit dan lantai beton seolah menjadi penyemangat tambahan, Aldo kini mengumpankan si oranye bulat itu pada Rayhan sang Kapten.


 


Dan kita pun mengerti


tentang arti hidup yang sesungguhnya


Dari rasa sakit yang harus kita alami


Dari rasa sedih yang harus kita lewati


Dan dari rindu yang mengharu biru


Sahabat,


Indah kerlingan matamu yang tak pernah bisa terhapus dari kalbu


Bahkan suara tawamu  yang berderai dalam hujan yang merinai


Membuat ku mengerti bagaimana mencintai


Sahabat,


Dalam senja yang seindah lembayung sutra


Kita tertawa, menangis dan mendewasa bersama


Merenda impian, mengelola asa


Sahabat,


Kau yang terindah yang pernah ku miliki

__ADS_1


Dan ini adalah tentang kita


__ADS_2