
Seolah berlomba dengan surya yang surut ke peraduan, terbenam
Ku lesatkan panah rinduku pada malam yang mulai kelam
Jika ini bukan tentangmu, pasti aku mampu menahan deraan
Seandainya bukan dirimu, aku pasti tak gusar dalam kegundahan
Seribu sembilu serasa merajam setiap lapisan rasaku
Seiring satu demi satu luruhnya air matamu
Dalam rasa sakit yang tak pernah selara ini
Pada rasa rindu yang tak pernah serindu ini
Aku hanya mampu mampu bersimpuh tanpa mengaduh
Kumohonkan pada Yang Maha Wenang .....
Dengan doa terdalam, agar engkau tetap tenang
Tapi aku gelisah dalam resah karena kita terpisah
Dalam senyap di malam pekat
Busur rinduku telah terbang melesat
Mencarimu..... menemukanmu... dan membawa kembali padaku
Tapi aku tidak pernah sesakit ini
Tapi aku tidak pernah setakut ini
Dalam senyap di malam pekat
Aku mendengar suaramu ....... menyeru namaku penuh rindu
<><><><><><><><><><><><><><><><><><>
__ADS_1
Hari itu, Rayhan hanya dua kali melakukan video call pada Nilam. Saat pagi ketika seluruh anggota keluarga tengah sarapan dan empat jam setelahnya. Sore hingga malam menjelang, panggilan dari orangtersayang itu tak kunjung tiba. Si kecil Alend berkali-kali menanyakan tentang kealpaan Daddy -nya itu, hingga akhirnya si kecil itu sudah pulas tertidur.
Nilam pun mulai gelisah, ia merasa sedikit khawatir namun tak mempunyai keberanian untuk melakukan video call terlebih dahalu. Sungguh ia tak mau menganggu suaminya yang sedang bertugas dalam misi besar pengabungan dua perusahaan ini. Tapi resah dan gelisah itu benar-benar membuat wanita ini tak bisa memejamkan matanya barang sekejap. Perasaannya mengatakan, ada sesuatu yang tidak beres.
Sudah menunjukan pukul sebelas malam saat Nilam benar-benar tidak bisa lagi mengekang rasa gelisahnya. Ia pun melakukan panggilan video pada nomor internasional suaminya. Telpon genggam suaminya aktif, namun tidak segera ada sambungan dari Rayhan. Nilam melakukannya sekali lagi, belum diangkat juga. Dengan menarik nafas panjang berusaha menenangkan gemuruh resahnya, iapun kembali melakukan panggilan.
Sepasang mata kelabu itu tiba-tiba berpendar penuh harapan saat terdengar nada sambung pada alat telekomunikasi mutakhir abad ini. Yang terpampang selanjutnya, sungguh bukan suatu hal yang sangat diharapkan. Wajah asing dengan mengenakan google mask yang lazim digunakan oleh para militer saat berada di zona kontaminasi, berseragam militer.... dan itu bukan Rayhan.
" Maaf ... ini telepon genggam suami saya, Tuan Rayhan Zachary dari Indonesia. Bisa saya bicara dengannya ? ", tanya Nilam dengan aksen British nya yang sangat lekat. Namun yang diterimanya adalah sebuah jawaban dengan bahasa yang ia sama sekali tidak memahami.
" Tolong... berikan telepon ini pada suami saya... apa yang terjadi ? ", Nilam mulai terlihat sangat resah.
Dari pencitraan gambar yang nampak, telepon itu beralih tangan. Kini yang menerima adalah seorang wanita dengan pakaian yang sangat dikenali Nilam, seorang paramedis. Ia mulai sangat resah. " Apa yang terjadi pada suami saya... Tuan Rayhan dari Indonesia ? ", cecarnya.
" Nyonya... ", paramedis wanita bermasker standar ganda itu menjawab dengan bahasa Inggris yang sedikit terbata-bata. " Nyonya.... tuan pemilik telpon ini sedang menjalani masa karantina... sedang pemeriksaan ... ".
" Apa dia terinfeksi ... Corona ? ", Nilam menyergah dengan cepat penuh rasa khawatir.
" Belum tahu... tapi semua orang yang melakukan kontak dengan suspect orang yang baru saja berkunjung dari Wuhan... kami anggap suspect. Setelah pemeriksaan tuan selesai... anda bisa menelponnya kembali ".
Nilam jatuh terduduk di tepi ranjang dengan debaran yang beritme semakin meningkat. Wanita dengan beban berat dua bayi yang bergelung hangat dalam kandungannyamerasakan udara yang seperti menipis di area kamar. Ia mengirup nafas panjang-panjang dan menghembuskannya dengan perlahan, mencoba menetralisir energy impuls yang masih bersarang pada dadanya. Bahkan iapun merasakan si kembar seolah ikut menegang, membuat rasa yang sangat tidak nyaman. Dengan penngetahuannya sebagai paramedis senior, Nilam memeriksa denyut nadinya sendiri. Ritmenya cepat….. padahal dia sudah sebisa mungkin untuk menenangkan diri.
Jari-jemarinya yang bergetar, Nilam meraih telepon genggammnya dan mulai melihat nomor kontak yang ada. Ia mencoba menghubungi ibu mertuanya, tapi rupanya telepo genggam itu dinonaktifkan. Nilam semakin merasakan sesak pada dadanya, ia pun bergegas menguhubungi ayah mertuanya….. dan beruntung.
” Papah…..tolong Nilam “, suaranya parau .
“ Ya nak… papa ke kamar mu “.
Sebenarnya kamar ayah dan ibu Rayhan hanya ada di seberang kamar Nilam. Sedikit memutar karena dipisahakan oleh ruang keluarga yang besar, tapi Nilam sudah benar-benar merasakan tidak sanggup. Ia takut akan tak kuat menyangga beban tubuhnya, hingga membuat terjatuh dan pastinya akan sangat membahayakan kandungannya. Nilam pun memutuskan berbaring di tempat tidur sambil tetap mengatur nafas.
“ Kenapa ? “, Nyoya Kamal menghambur masuk ke dalam ruangan dengan diikuti oleh suaminya. Wajah wantia paruh baya itu nampak sangat cemas begitu juga dengan suaminya. “ Kau kontraksi nak ? “.
Sementara tuan Kamal yang seorang dokter kandungan, dengan sigap langsung memeriksa keadaan menantunya. Setelah memeriksa tensi darah dan denyut nadi menantunya, dengan stetoskop iapun memeriksa detak jantung dua cucu kembarnya yang masih dalam perut sang ibu. Dahinya berkerut serius, ia lalu menatap sang menantu
yang kini terlihat masih tersengal-sengal bernafas.
“ Kenapa tensi mu …… 140/100… kau tidak mengatakan jika ada riwayat hipertensi dan
__ADS_1
pre-eklamsia sebelum ini…. Kontraksi semu …. Tenanglah “.
“ Papah….“, Nilam mencoba berbicara dengan tidak melibatkan emosi. Namun air mata itu luruh tanpa kompromi, meluncur deras dan seperti menceritakan kondisi hati yang sesungguhnya. “ Mas Rayhan….. dikarantina…. Suspect terinfeksi nov-CorV… “. Suara Nilam terdengar lirih, namun apa yang disampaikannya sungguh bagai gelegar petir.
#.##.##.##.##.##.##.##.##.##.##.#
Rayhan mengerang frustasi, ia mondar-mandir berjalan di ruang isolasi. Sementara Gerald juga memperlihatkan ekspresi yang tidak jauh berbeda. Semua berawal dari garda nasional negeri gajah putih yang tiba-tiba menyerbu masuk ke dalam ruangan meeting siang tadi. Beruntungnya adalah semua kegiatan dan pertemuan saat itu telah mencapai kesepakat bahkan telah sampai pada penandatanganan legalitas. Dan sisa dari seluruh hal yang terjadi kemudian adalah segala kesialan.
Rupanya empat orang dari Hongkong yang ikut serta dalam meeting tadi, satu pesawat dengan seorang wanita asal Thailand yang baru saja pulang dari berkunjung ke Wuhan - China. Sialnya lagi, wanita itu dinyatakan postif terinfeksi virus corona yang berjenis baru, setipe dengan SARS dan MERS, sama-sama mematikan. Dan lebih sialnya lagi, wanita yang terinfeksi itu membuat Thailand sebagai negara pertama yang mengkonfirmasi meluasnya penyebaran nov-CorV di luar China. Pandemi itu telah menyentuh negeri seribu pagoda, sampai dengan kini Thailand sudah menyatakan 13 orang yang positif terinfeksi.
" Apakah rumah sakit sebesar ini tidak punya teknologi termutakhir untuk bisa mendeteksi ..... kita terinfeksi atau tidak. Keterlaluan... setidaknya berikanlah akses untuk kita berkomunikasi dengan dunia luar ", Rayhan terus saja menggerutu panjang dan lebar.
" Kau dengar kan tadi.... bahwa apapun yang sudah melakukan kontak dengan suspect... jika itu benda mati...harus di dekontaminasi. Tidurlah... ranjang ini cukup empuk. Lumayan... ini sudah jam satu dini hari ", Gerald berusaha menenangkan kawannya ini. Tapi yang terjadi selanjutnya...... sungguh di luar dugaan.
" Apa jam satu malam ??..... aaaaahhhh..... seharusnya aku sudah menelpon Nilam. Oh ya ampun.... dia pasti sangat khawatir.... Hahhhhhh!!!!! ".
Rayhan benar-benar frustasi dengan semua kondisi yang sedang menimpanya kini. Dengan nekat, ia pun mencoba membuka pintu ruangan itu, sukses ..... terkunci dari liar. Ia pun akhirnya memabringkan tubuhnya di ranjang rumah sakit seperti yang sudah dilakukan Gerald. Namun sepasang matanya masih tetap nanar memencarkan kegelisahan.
Seharusnya satu-dua hari lagi ia sudah bisa pulang ke Indonesia, dari waktu yang sudah ditargetkan ia berhasil tiga hari lebih cepat menyelesaikan semuanya. Setelah rehat kopi yang pertama tadi pagi, ia begitu optimis dan gembira karena semua proses akuisisi berjalan dengan sangat lancar. Namun tidak demikian dengan sore harinya, semua berubah drastis. Pandemi virus itu benar-benar membuatnya seperti tawanan rumah sakit.
" Nilam..... ", dan ia pun menggumamkan nama terindah di hatinya itu. " Semua akan baik-baik saja.... baik-baik saja....".
Tapi tidak dengan hatiku, ia menjerit-menjerit memanggilmu sayang. Aku sudah sangat rindu denganmu. Bagaimana dengan anak sulung kita ?, dia sudah tidak terlalu merepotkan lagi bukan?. Aku rindu tawanya yang ceria. Lalu bagaimana dengan si kembar ?.... sudah berapa kali keempat kaki mungil itu menendang perutmu ?. Katakan pada mereka ..... Tunggu Daddy pulang, biarkan Daddy nya ini jadi orang pertama yang menggendongnya. Nilam...... aku rindu harum tengkuk dan rambutmu, aku rindu suaramu yang lembut, aku rindu senyumanmu yang manis itu...... aku sangat rindu sepasang mata senja saat hujan milikmu. Nilam........
Wanita meneteskan air mata untuk membasuh luka dan menyembuhkannya. Dan pria menangis dalam senyap untuk menenangkan hatinya. Dan Rayhan menumpahkan air matanya...... karena resah, ketakutan dan juga rindunya. Ia pun bersimpuh dalam doa yang panjang, membiarkan derai air matanya mengalir menyampaikan permohonannya pada Yang Maha Kuasa.
Tuhan ku Yang Maha Pengasih dan Penyayang..... hamba mu yang hina dan penuh dosa ini, hanya mampu mengaharap pertolongan dari Mu wahai Yang Maha Kuasa. Berikanlah kesehatan dan keselamatan pada ku dan seluruh keluargaku.... berikanlah kesempatan padaku yang tidak berdaya ini.... untuk bisa merengkuh dan membahagiakan mereka, sebagai amanah terindah dari Mu.
__ADS_1