Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
S'E' - Berpisah....


__ADS_3

Setiap seminggu dua kali Rayhan rela menempuh dua jam perjalanan dengan kereta agar bisa berkumpul dengan Nilam dan putra sulungnya. Bukan hal mudah, karena ia terkadang sudah sangat lelah dengan kondisi pekerjaan yang dia target sendiri dalam waktu dua bulan ini harus sudah selesai. Jika tidak ketinggalan kereta, ia akan meminta sopir kantor mengantarnya. Tentu saja ia butuh biaya ekstra untuk menyewakan penginapan dan memberi tips pada sopir itu. Karena di rumah yang ditempati Nilam hanya memiliki dua kamar, dan mereka tidak mungkin meminjamkan salah satunya untuk menginap. Tidak usah bertanya kenapa ... dua orang ini tak ubahnya bagai pengantin baru dengan satu anak, tentu saja satu kamar kosong itu menjadi sangat vital keberadaannya.


" Pulang ke desa lagi ? ", tanya Edward sang CEO yang sudah mulai menghafal kebiasaan sahat sekaligus rekan bisnisnya.


Jika pria gagah berlesung pipit ini dengan sengaja tetap makan siang di ruangan, melewatkan istirahat siangnya dan lebih memilih untuk tidak menunda sama sekali. Itu artinya ia akan pamit pulang sebelum pukul delapan belas malam untuk mengejar kereta. Dan keesokan harinya ia baru akan sampai di kantor menjelang pukul sepuluh . Edward tersenyum saja melihat semua itu.


" Yeah.... kau tahu, orang hamil itu sangat butuh dimanja. Dan lagi ... sepertinya seluruh indra ku ini seperti terhubung dengan dua junior itu. Aku bisa mengerti yang mereka rasakan... yang mereka inginkan ", Rayhan menjawab dengan begitu bersemangat.


" Wonderful... lovely.... bagaimana mungkin seperti itu ? ", kali ini Edward yang menatap takjub.


" Sungguh.... kau akan merasakannya sendiri nanti. Lekas lah jadi Ayah .... umur ... ingat umur... ".


" Tapi harus cari wanita dulu ...... yang mau ku hamili ", seloroh Edward sekenanya. Rayhan melotot mendengar jawaban itu.


" Itu .... si nona Linzhi ? ... kalian 'kan sudah hampir dua tahun pacaran. Kenapa tidak segera kau nikahi ?? ".


" Dia tidak mau hamil .... takut badannya rusak ".


Rayhan tertegun mendengar jawaban ini. Di benaknya berputar bayangan nona Linzhi Mac Philipe yang cantik dan selalu tampil sangat modis dan dengan warna serta gaya rambut yang selalu berganti-ganti. Hati kecil Rayhan sangat bersyukur karena ia memiliki Nilam, yang tidak memperdulikan apapun selain anak, suami dan bayi-bayinya. Wanita itu sama sekali tidak risau saat seluruh pakaiannya kini tidak muat lagi. Kehamilan kembar yang sudah memasuki usia enam bulan itu membuat berat badan Nilam naik total sudah delapan belas kilogram.


" Kenapa diam ? ", suara Edward mengagetkan.


" Ya... memang butuh kemauan dan komitmen bersama untuk punya anak. Tapi ku pikir, jika yang berkuasa itu sudah cinta..... pasti tidak akan ada lagi keberatan-keberatan atau semacamnya ".


" Kalau begitu... apakah Linzhi tidak mencintai ku.... seutuhnya ? ", dan Edward menatap Rayhan serius.


" Ehm! .... itu kamu sendiri yang memahami. Dari yang aku rasakan selama ini..... cinta itu hanya memberi, tanpa mengharap imbalan apapun. Saling mengisi dan saling menjaga serta bertahan dengan rasa percaya.... itu yang sudah kami lalui, Edd ".


" Kau sangat beruntung mendapatkannya sobat ".


" Hai semua..... apa aku menggangu ? ". Tiba-tiba sebuah suara diiringi masuknya sosok cantik yang langsing proporsional memutuskan pembicaraan dua orang pria itu. Wanita itu, Grace adiknya Edward masuk dengan senyum manis dan langkah gemulainya.


" Oh hai... tentu tidak . Sudah selesai urusanmu dengan Ceo itu ? ".


" Sudah kak... dan sukses. Mari kita rayakan... aku bawa ini... taadaa ". Sebotol sampanye diacungkan oleh Grace dengan senyum lebarnya.


" Selamat ya Grace.... maaf aku tidak bisa ikut minum. Kalian berdua nikmatilah.... kereta ku sudah menunggu ", Rayhan menolak dengan halus seiring dengan berdirinya dan meraih tas kerja, bersiap meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Rayhan menjabat tangan Grace yang terlihat sedikit sengit menatapnya, wanita itu kecewa. Lalu Rayhan juga menjabat tangan Edward yang kemudian memberikan pelukan dear brother.


" Nikmati kesuksesan kalian.... aku pergi dulu ", Rayhan berpamitan dan segera keluar dari ruangan itu.


" Keterlaluan !!!.... kenapa dia sekarang begitu abai dengan kita ", Grace merutuki dengan kesal


" Tidak... justru Rayhan semakin giat bekerja. Proyek-proyek yang ditanganinya selesai lebih cepat dengan hasil yang sangat memuaskan ", Edward menyanggah adiknya.


" Ya... tapi dia mulai menjauh dari kita. Dia tidak pernah lagi mau berkumpul dengan kita, bahkan sekedar untuk ngopi atau sedikit minum ".


" Rayhan sekarang punya keluarga ..... dan haknya untuk lebih memilih keluarganya ".


" Apa bukan karena intimidasi wanita itu ? ".


" Maksudmu ? ", Edward balik bertanya mempertegas makna dari pertanyaan adiknya ini.


" Edd .... coba kau bayangkan... wanita itu meninggalkan Rayhan selama hampir enam tahun. Tahu-tahu dia datang kembali dengan seorang anak..... apa ini bukan penjebakan??? dan jeratnya semakin kuat dengan kehamilannya kini ".


" Grace.... kau jaga bicaramu. Apa dasarnya kau mengatakan itu ?", Edward sedikit menghardik adiknya yang menurutnya sudah kelewatan.


" Bisa jadi anak itu bukan anak Rayhan.... mungkin anak itu ... anaknya dengan pria lain.... ".


Edward terlihat sedikit cemas, ia balik menatap adiknya dengan pandangan marah. Sementara Grace yang kini bertatapan dengan Rayhan justru menunjukkan sikap frontal nya.


" Hans ... sudah saatnya aku mengembalikan akal sehat mu. Pikirkan baik-baik..... wanita itu datang pada mu lagi saat kau sudah berhasil. Bagaimana dengan dulu saat dia meninggalkan mu ketika kau tidak berdaya? Lalu anak itu.... apakah kau yakin itu anak mu?. Wanita hebat mana yang selama enam tahun bisa tahan dengan rasa sepi ??? ". Grace bertutur dengan lugas dan penuh percaya diri.


Namun Rayhan yang semula menatapnya dengan pandangan marah yang entah kenapa tiba-tiba berubah menjadi rasa kasihan. Ia memahami betul bagaimana gaya hidup hedonis dari kakak beradik yang kini berdiri di hadapannya. Rayhan menarik nafas panjang, lalu melangkah mengambil ponselnya yang tertinggal di meja. Sebelum dia pergi, ditatapnya kembali Grace dengan dalam.


" Wanita itu namanya Nilam.... satu-satunya gadis yang mengorbankan seluruh kebahagiaannya untuk ku. Jika kau meragukan kesetiaannya... itu karena kau tidak pernah bisa setia. Dia tidak pernah minta imbalan untuk dicintai, karena dia punya cinta yang tak pernah habis. Dan aku.... akulah yang tidak bisa hidup tanpa cintanya. Kau salah Grace.... kau sangat, sangat salah menilainya..... ".


❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️✳️✳️✳️✳️✳️✳️✳️✳️✳️✳️


Taksi yang membawa Rayhan dari stasiun kereta ke rumahnya hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari lima belas menit. Dan seperti yang sudah-sudah, istri dan anaknya sudah menunggu sambil duduk-duduk di teras rumah. Senyum ketiganya saling mengembang penuh rasa bahagia. Si kecil Alend berlari menyongsong kehadiran sang ayah dengan tawa kecilnya yang menggemaskan.


" My Champion ", Rayhan menyambut pelukan kecil itu dengan membawa si sulung berputar dalam dekapannya. Bocah itu terkekeh gembira.


" Daddy, tadi aku ditendang oleh twin ".

__ADS_1


" Oh ya.. "


" Tapi kata Mommy, itu tandanya twin sayang sama aku, benarkah ? ", sepasang mata bocah itu berbinar dan menatap ayahnya, menuntut penjelasan.


" Iya.... karena twin baru bisa menggerakkan kakinya saja. Jadi dia seperti menendang .... ", Rayhan berusaha menjelaskan.


" Ooohhhh begitu ... ".


Setelah itu ketiganya masuk ke dalam rumah. Sementara malam musim semi itu mulai beranjak larut. Rayhan baru saja selesai menggosok gigi dan bersiap untuk tidur, ketika Nilam memeluknya manja dari belakang. Pria ini tersenyum, ia begitu menikmati sikap manja istrinya akhir-akhir ini.


" Aku sudah berpamitan dengan semuanya... teman-teman kantor, guru dan juga teman-teman Alend .... tuan dan nyonya Salman juga. Hari Minggu nanti sudah siap semua... aku hanya membawa pakaian, dokumen dan sedikit mainan Alend ".


" Minta nyonya Sonya membantumu packing... kau jangan terlalu capek ".


" Iya... dia membantuku sambil tidak berhenti menangis, apalagi saat memuat pakaian Alend ", Nilam menceritakan bagaimana nyonya Sonya yang sudah membantunya mengurus Syailendra semenjak bayi, tidak bisa menahan laju air mata nya.


" Kita banyak berhutang budi padanya.... pada dokter Salman juga ya ".


Nilam mengangguk mengiyakan pernyataan suaminya, masih dengan tetap melekat erat pada punggung pria itu. Entah mengapa aroma Rayhan benar-benar membuatnya merasa sangat nyaman dan menjadi mudah mengantuk.


" Nil... ".


" Ya sayang ".


" Sampai kapan kau akan menahan ku di kamar mandi ..... seperti ini ".


Nilam terkekeh, sungguh ia begitu terlena hingga lupa tentang keberadaannya saat ini. Perlahan iapun melepaskan pelukannya namun masih tetap menempel pada suaminya ini. Rayhan tersenyum lembut dan mengecup pipi yang mulai chubby dan juga kening istrinya ini. Lalu pria itu merendahkan diri dengan bertumpu pada lututnya, meraup perut Nilam yang sudah sangat membuncit. Menenggelamkan wajahnya pada perut itu dan berbisik mesra.


" Anak-anak Daddy..... terimakasih ya sudah mau bersabar, sebentar lagi kita semua akan selalu bersama setiap hari. Tumbuh yang sehat ya.... luv you all ".


Senjaku dalam temaram, yang lembut menyesap seluruh lelah dan sedihku.


Saat kepak sayap ini mulai melemah, belaian lembayungmu membisikkan rindu yang menguatkanku.


Wahai langit tanpa batas......


Temani kepakku mengisi dunia

__ADS_1


Ajari aku mencintaimu tanpa lelah


Seperti rasa yang rindumu yang telah menghidupi ku...


__ADS_2