Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
Misteri Pertemuan


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul sembilan lewat sebelas menit saat Nilam memasuki sebuah pekarangan luas sebuah rumah bergaya modern minimalis. Itu berarti hampir lebih dari satu jam ia terlambat. Ia memutar lewat pintu samping rumah. Belum lagi kakinya menapak anak tangga pertama, tiba-tiba saja pintu itu terkuak. Munculah seorang wanita paruh baya dengan wajah ramah keibuan dan alis tebal khas timur tengah, tersenyum menyambut nya.


" Assalamualaikum mrs.Salman.... kuharap jagoanku tidak merepotkan anda lagi... maaf " , Nilam merasa bersalah.


" Wa'alaikumsalam.... masuklah dulu ", sahut mrs.Salman yang sesungguhnya bernama Darin Aisyah. Sebagai istri dari dokter Salman, nama indahnya itu seperti tergantikan oleh nama sang suami


" Suamiku malah masih terjebak di sana ya.... apakah kecelakaan itu begitu hebat? ", tanya mrs.Salaman kemudian sesaat setelah Nilam masuk dan duduk menikmati secangkir susu hangat yang disajikan untuk nya.


Dapur ini begitu nyaman, Nilam menyesap cairan putih berasa manis dengan aroma jahe itu perlahan sebelum ia menjawab.


" Ada satu korban dengan perdarahan dalam .... kepalanya terbentur. dr. Salman langsung menghubungi dr. Vincent dan timnya. Operasi darurat... "


" Sekarang pasien itu bagaimana ?"


" Masih d ICCU..... tapi kondisinya stabil "


" Oh ... syukurlah. Little Thor.... dia sangat manis seperti biasa, kamu tidak usah khawatir ".


Perkataan terakhir nyonya Salman membuat Nilam tersenyum lega.


" Berarti aku harus menahan rinduku padanya sampai jam dua belas siang ini.... "


" Ohhh..... kau bisa mengintipnya "


Kemudian kedua wanita itu tertawa bersamaan


Aisyah sebenarnya adalah seorang psikolog, namun setelah menikah, suaminya melarang bekerja. Namun wanita ramah dan keibuan yang masih tetap cantik diusia lima puluh tiga tahun itu masih tetap aktif sebagai kolumnis ataupun narasumber untuk tabloid dan acara-acara parenting. Dua orang putra mereka yang juga adalah dokter menetap di Jerman dan Turki negara asal dokter Salman.


Kehadiran Nilam dan putranya Syailendra Thoriq yang biasa dipanggil little Thor, membuat hidup mereka terasa lebih hangat. Seperti memiliki anak perempuan dan cucu sendiri. Saat Nilam mendapatkan sift malam, nyonya Salman lah yang menjaga bocah itu. Ia tidak rela jika harus seorang nany pengasuh yang menghabiskan waktu tidur bersama anak kecil favorit nya. Dokter Salman pun demikian, baginya little Thor adalah cucunya sendiri. Bayi itu lahir juga dengan bantuannya, bahkan adzan dan iqomah di telinga bayi Thoriq, yang melantunkan juga dokter Salman.


" Ada apa Neel ?? ", tiba-tiba saja Aisyah menatap Nilam dengan menyelidiki. Wanita itu paham betul dengan gerak-gerik gelisah Nilam.


" Aku..... ", Nilam menggantung ucapannya. Perlahan ia menyentuh cincin belah rotan di jari manisnya. Menarik nafas dalam, membuangnya perlahan..... lalu bersandar pada kursi di dapur itu. Seolah menumpukan semua beban hatinya yang terasa menggunung pada benda yang terbuat dari kayu itu.


" Salah satu pasien kecelakaan itu ..... ayahnya Thor ", ucapnya kemudian dengan air bening yang terlihat mulai mengumpul di sudut matanya.


" Ya Tuhan.... ", Aisyah ternganga tak percaya. " Jadi yang dioperasi itu.... "


" Ah.... bukan ! bukan yang dioperasi.... yang cuma luka sobek dilengan dan pelipisnya. Yang operasi itu orang Inggris asli, nyonya ", Nilam buru-buru memperjelas.


" Oh... syukurlah ", Aisyah nampak lega. " Kau yang merawat nya? "


Nilam mengangguk lemah sebagai sebuah jawaban. Aisyah menatap wanita muda itu dengan tatapan lembut. Lalu menggenggam tangannya, berharap dapat membantu menenangkan dan menguatkan hatinya. Dia mengenal Nilam semenjak wanita itu bekerja di rumah sakit milik suaminya. Seorang wanita muda yang belakangan diketahui telah menikah dan sedang mengandung. Dia sendiri di negeri benua biru ini, tanpa suaminya, tanpa keluarganya. Wanita tegar yang menyimpan kesedihan nya seorang diri.


" Aku harus bagaimana mrs.Salman ? Bagaimana kalau dia mengambil Thoriq ku ??", Nilam akhirnya terisak sedih.

__ADS_1


" Sshhh.... jangan berfikiran yang macam-macam dulu.... apakah dia tau tentang little Thor ? "


" Tidak..... tapi... "


" Kau berniat memberi tahunya ?", tanya Aisyah kemudian. "Sudahlah.... kau pulang dulu, mandilah! ... Tenangkan pikiranmu ... lalu jemput bocah tampan itu, ia sudah rindu padamu pastinya".


Nilam mengangguk, lalu menghabiskan susunya. Mrs. Salman memberikan pelukan hangat padanya, sesaat ia akan berpamitan.


" Berdoalah memohon segala kebaikan.... aku juga selalu mendoakan mu nak "


" Terimakasih banyak mrs.Salman "


Nilam berjalan meninggalkan rumah keluarga Salman yang hanya berjarak empat rumah dari tempat tinggalnya. Kediaman Nilam sebenarnya adalah milik dr.Salman yang disewanya. Sebuah rumah mungil dengan tiga kamar dengan halaman tidak terlalu luas, yang terletak tepat ditikungan jalan. Nilam menyewanya dengan harga yang tidak berubah dari lima tahun yang lalu awal ia menyewa. Keluarga dokter Salman terlalu baik padanya, dan ia sangat sangat bersyukur.


 


\\\\\


 


Ruang tunggu Rumah Sakit....


Dua orang petugas berseragam kepolisian negara Ratu Victoria ini nampak baru saja akan berpamitan pada seorang dokter yang melayani menjawab semua pertanyaan. Ketika Rayhan memutuskan untuk mendekati ketiganya.


" Ah ya... mr.Rayhan, tadi pengacara anda sudah langsung menemui kami ", jawab petugas kepolisian yang berbadan lebih tinggi dari satunya.


Sesaat kemudian keempatnya terlibat perbincangan yang lumayan serius, sebelum akhirnya dua orang petugas itu benar-benar berpamitan.


" Maaf dokter, bagaimana dengan Gerald ?", tanya Rayhan pada dokter itu kemudian.


" Kondisinya cukup stabil... kita tinggal menunggu dia sadar dan memastikan ulang untuk semua koordinasi motoriknya. Oh ya.... anda benar-benar sudah membaik tn.Rayhan ? "


" Tentu ..... berkat kesigapan para staf anda mr...... "


" Salman ", jawab dokter itu cepat demi melihat kebingungan dimata Rayhan mencari nama dadanya yang jatuh entah dimana karena insiden tadi.


" Ah ya.... dr.Salman. Terimakasih banyak ". Rayhan tersenyum membalas keramahan dokter itu. " Bisakah anda memberitahuku .... losmen, hotel atau guest house terdekat .... yaaah yang masih bisa menampung pelanggan ".


" Heeem.... ", dr. Salman nampak berfikir keras. Ini adalah festival tahunan desa-desa wisata di kawasan pinggiran kota London. Waktunya tinggal dua hari lagi, tentu semua penginapan penuh.


" Kami berniat untuk pulang pergi pada awalnya..... tapi sepertinya saya harus menginap..... apakah memungkinkan kalau saya menginap di rumah sakit ini saja.... ", Rayhan terdengar putus asa setengah berharap.


" Ehmmm..... rumahku cukup besar, kalau tidak keberatan.... tinggal saja bersamaku . Dua tiga hari... pasti selepas itu penginapan sudah mulai longgar "


" Aah.... benarkah.... apa tidak merepotkan Anda dokter? ". Dokter berparas hangat itu tersenyum ramah seraya membuat gerakan lambaian tangan .... tidak masalah, isyarat nya. Seketika itu pula wajah Rayhan berbinar cerah.

__ADS_1


" Mari ikut denganku sekarang..... sebenarnya tadi adalah penutupan sift malam kami "


" Oohh... dokter, saya jadi benar-benar merasa tidak enak ini. Anda sungguh baik sekali "


Dokter Salman hanya tersenyum kembali sambil membuat isyarat untuk Rayhan berjalan mengikutinya. Sambil berjalan menuju basemen parkir, dokter setengah baya itu tampak menelpon seseorang. Rayhan kurang paham dengan bahasa yang digunakan oleh sang dokter, antara Arab dan Perancis.....ah entahlah.


" Aku kelahiran Turki .... itu tadi istriku. Dua anak laki-laki ku di Jerman dan Turki ", dokter Salman menjelaskan tanpa di minta.


Rayhan mengangguk-angguk tanda mengerti. Tiba-tiba saja handphonenya me_notifikasi sebuah pesan masuk. Pria itu memberi isyarat memohon ijin untuk menelpon. Dokter Salman mengangguk dan tetap melanjutkan laju mobilnya renyyusnita6@gmail.com keluar dari area rumah sakit dengan kecepatan sedang.


Rayhan segera menelpon sekertarisnya dan juga lawyernya sesaat setelah membaca sebuah pesan masuk. Ia meminta dibawakan beberapa baju ganti. Serta meminta dua orang untuk bergantian menjaga Gerald yang masih belum sadarkan diri.


Sebenarnya...... Rayhan bisa saja meminta seorang sopir untuk mengantar jemputnya setiap hari. Namun ia benar-benar tidak mau kehilangan lagi.... kehilangan apa yang sudah dicarinya hampir lima tahun ini. Bahkan dia seolah mengkarantina jantung dan hatinya agar tidak melompat keluar meninggalkan raganya mengejar.... Nilam. Dadanya terasa sesak antara bahagia dan takut... juga frustasi karena belum bisa memperoleh informasi lebih tentang Nilam.


Mobil dokter Salman memasuki halaman rumahnya, langsung berbelok masuk kedalam garasi. Sementara itu Nyonya Salman nampak begitu antusias menanti kepulangan suaminya hari ini, membuat sang suami tersenyum aneh.


" Bersemangat sekali.... sudah begitu rindu padaku? ", goda dokter Salman sambil mengecup kening istrinya. Wanita itu tersipu... karena menyadari tidak hanya ada mereka berdua ditempat ini.


" Ahh.... tamu kita ya... Assalamualaikum ". Aisyah tak menghiraukan pertanyaan suaminya. Ia justru lebih tertarik dengan tamunya.


" Wa'alaikumsalam .... saya Rayhan nyonya "


" Namaku Aisyah.... mari silahkan masuk "


Dokter Salman mengerutkan keningnya, dari mana istri nya mengetahui kalau tamunya ini seorang muslim?. Dan mengapa sikap istrinya begitu hiperaktif kali ini ?


Rayhan diantar untuk beristirahat disebuah kamar yang berada dilantai dua. Tentu saja setelah menyantap sarapan yang sudah sangat tertunda. Salmon panggang, salad sayuran serta puding bertabur aneka bery itu sungguh sangat tepat menuntaskan lapar dan dahaga. Berkali-kali Rayhan mengucapkan rasa syukur dan terima kasihnya pada pasangan suami istri itu.


" Ada apa ??? ", tanya dr.Salman yang sudah tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya, sesaat setelah tinggal berdua dengan istrinya di ruang keluarga.


" Dia.... pria yang dari Indonesia itu ? "


" Ya..."


" Tadi miss.Neel yang merawatnya ? "


" Emmmh.... entah lah ?... aku sibuk dengan satu korban cedera kepala , kawannya ". Dokter Salman begitu kebingungan dengan maksud dari pertanyaan-pertanyaan istrinya.


" Pasti ! ", tiba-tiba saja Aisyah mengepalkan tangannya penuh semangat.


" Ada apa sih ini ? ", Dokter Salman tambah bingung dengan sikap istrinya.


" Dia..... pria itu.... ayahnya little Thor "


" What ????!!!!!"

__ADS_1


__ADS_2