
Lihat bagaimana genetik itu membuat jejak, batin Aisyah yang tak lepas mengamati keduanya. Pria dewasa dan pria kecil .... ayah dan anak. Namun keduanya belum tahu jika hubungan mereka terjalin dengan darah dan nafas. Bahwa kedekatan mereka saat ini.... sesungguhnya masih terlalu jauh jika dibanding dengan kedekatan hati ... seharusnya.
" Suka ? ", tanya Aisyah sambil menuangkan kembali teh di cangkir Rayhan.
" Ehmm ... cukup nyonya terimakasih. Suka sekali". Rayhan mengisyaratkan pada nyonya Salman untuk mencukupi menuang teh untuknya.
" Aku belum cukup grandma ... ", tiba-tiba si bocah menyela. Membuat Rayhan dan Aisyah tertawa hampir bersamaan.
" Siapa nama anak hebat ini? ", Rayhan membelai rambut hitam dengan ikal yang lebat itu penuh gemas.
" Mommy panggil aku Lend.... tapi grandma panggil aku little Thor.... uncle akan memanggil ku apa?"
Pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan kembali itu, membuat Rayhan mengerutkan keningnya. Pada saat itulah terdengar suara klakson mobil, rupanya taxi yang dipesan sudah datang.
" Syailendra Thoriq.... nama lengkap anak ini ". Ucapan Aisyah bagai penyelamat bagi kebingungan Rayhan.
" Wow.... uncle panggil kau Syailendra... bagus sekali nama mu ", ucap Rayhan akhirnya seraya mencubit gemas pipi bocah itu. " Nyonya ... taxi ku sudah datang, aku permisi dulu. Terima kasih untuk kue dan tehnya ... nikmati sekali ".
Rayhan bergegas keluar menuju pintu samping dan segera akan keluar dari rumah ini. Ketika tiba-tiba terdengar little Thor berseru padanya dengan riang.
" Hati-hati uncle.... jangan lupa kasih salam dulu "
" Ya... ya... Assalamualaikum semua "
" Wa'alaikum salam.... ", balas little dan Aisyah serempak.
__ADS_1
" Aku suka uncle itu... ", celutuk bocah kecil itu tiba-tiba.
" Seberapa suka ?? ", tanya Aisyah menyelidiki. Naluri psikolog nya mulai bekerja. Diperhatikannya dengan teliti setiap ekspresi bocah kecil yang masih sibuk mengunyah potongan cup cake coklat di mulutnya.
" Ya..... 7 saja ", sambil sedikit kesulitan mengacaukan jarinya memuat bilangan tujuh.
" Oh ya... banyak sekali ", kata Aisyah kemudian memancing Thoriq.
" Tidak grandma..... untuk mommy paling banyak. Jari-jari tangan dan kakiku saja tidak cukup untuk menghitungnya ", dengan lucu Thoriq menjawabnya.
" Lalu ... untuk grandma dan grandpa ?", Aisyah mendekatkan wajahnya pada hidung si bocah yang langsung menyambut dengan kecupan sayang di hidung sang grandma.
" Buaaanyak.... sebanyak kue-kue ini "
" Tapi kue-kue ini ... sudah hampir habis ", balas Aisyah merajuk.
" Pabrik sayang ?? ", Aisyah mengernyitkan keningnya.
" Iya.. kata mommy semua orang pasti punya pabrik sayang di sini ", kata bocah itu sambil menunjuk dadanya.
Aisyah tertawa lepas mendengar celotehan lugu bocah tampan itu. Celotehan tanpa tendensi dan rekayasa, sungguh suatu ketulusan seorang anak manusia. Walaupun bocah ini bukan cucunya sendiri, namun arti kehadirannya sudah sama seperti keluarga. Saat keduanya masih saling berbincang hangat, datanglah dokter Salman yang kemudian ikut duduk bergabung.
" Thor.... mommy mu pergi belanja. Nanti waktu makan malam kau baru dijemput. Sampai waktu itu..... litle Thor sama grandpa & grand ma dulu ya ", dokter Salman menjelaskan pada bocah lucu itu
" Okay grandpa.... "
__ADS_1
\
Musim semi di tahun ini terasa lebih basah dengan curah hujan yang meningkat. Waktu siang yang lebih lama seperti lebih semarak dengan rinai-rinai air yang jatuh dari langit. Lihatlah bagaimana suka citanya sekelompok remaja yang berlari menembus basahnya petang beranjak malam. Ketika hujan sudah mulai menyudahi aktifitasnya membasahi bumi, saat itulah Nilam mulai beranjak juga dari kegelisahannya.
Ia bergegas meraih kereta belanjanya, mendorong dengan sedikit tergesa dan berpacu dengan beberapa orang yang berfikiran sama dengannya. Menyetop taxi dan segera pulang. Namun sesaat kemudian ia kembali berdesah kecewa melihat antrian yang lumayan panjang. Sesekali ia menggigit bibir dan ujung kuku jemarinya, karena petang sudah beranjak malam . Aah... dia sangat gelisah.
Nyonya..... sepertinya aku tidak dapat pulang tepat waktu. Susah sekali mencari taxi yang kosong. Maafkan aku merepotkan mu lagi. Tolong sampaikan pada little Thor ... tunggu mommy.
Tulis pesannya pada Aisyah. Ketika tak lama kemudian ponselnya bergetar kembali, wajahnya nampak sedikit lega. Aisyah membalasnya dengan emoticon tersenyum.
Setelah lama menunggu dan tidak ada hasil, sementara antrian masih menumpuk. Diputuskanlah untuk berjalan menuju halte terdekat. Saat itu sudah menunjukkan pukul 19.23 waktu setempat dan hujanpun sudah benar-benar berhenti. Nilam tidak perlu khawatir lagi dengan kantung belanjaannya.
Dengan nafas masih sedikit memburu ia duduk dan menyelonjorkan kakinya, setibanya di halte. Diliriknya jam ditangannya. Seketika itu juga mukanya pias.... oh tuhan dia terlambat tiga menit untuk bis terakhir di jalur yang melewati blok rumahnya. Sekarang dia harus kembali berdiri dan menunggu taxi. Nilam'pun melakukanya dengan sedikit merutuki ketidaksabarannya.
Hampir sepuluh menit berlalu dan kendaraan umum bernama taxi itu lewat beberapa kali, namun sudah dengam penumpang di dalamnya. Nilam semakin tenggelam dalam gelisah. Ia berdoa penuh harap pada tuhan yang penyayang. Lindungi hamba dan permudahkan segaka urusan ..... pintanya tanpa henti.
Sebuah mobil melewatinya pelan, SUV warna hitam metalik. Nilam tak memperdulikan, ia tetap memanjangkan lehernya kearah darimana datangnya mobil itu, masih dalam rangka menunggu taxi yang lewat.
Hingga kemudian sepasang tangan dengan ringan memegang kedua bahunya dari arah belakang. Nilam terkesiap...... dengan refleks yang sempurna ia berbalik dan menepis cepat kedua tangan itu dari pundaknya. Namun sang pemilik tangan pun ternyata berefleks bagus. Dalam hitungan sepersekian detik..... kedua pergelangan tangan Nilam berada dalam genggaman.
Dalam genggaman sosok gagah menjulang, yang menatapnya lembut. Yang kemudian menariknya perlahan namun pasti .... dalam hangat dada nan bidang. Tanpa bisa melepaskan diri .... Nilam menengadah pasrah, membiarkan sepasang mata sekelam malam itu menembus rasa terdalamnya.
__ADS_1
Rindu ............... Rindu............