Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
S’ E’ …… Karena Ini Tentang Kamu . 3


__ADS_3

Seperti malam-malam sebelumnya, kali ini Syailendra pun rewel dan menangis di tengah malam. Rayhan pun dengan sabar dan penuh kasih sayang menggendong putra sulungnya dan membawanya ke luar kamar. Tak disangka di ruang tengah Aldo yang malam itu jadi menginap, masih asyik menonton sepakbola mancanegara di malam akhir pekan.


" Waaah..... begitu ya kalau sudah jadi Daddy? ... harus angkat beban malam-malam ", komentar Aldo sambil memperhatikan temannya itu.


" Kasihan mommy nya.... dengan dua beban di perutnya itu.... bahkan untuk posisi tidur saja dia kesulitan ... ".


" Apa selalu seperti ini ..... emh maksud ku... terbangun di tengah malam, menangis dan minta gendong ? ".


" Tidak !!!... baru beberapa hari ini setelah tiba di Indonesia. Kata orang-orang tua sih..... ini adalah hal yang wajar dari kelakuan sang kakak, jika adiknya sudah hampir lahir ".


" Ooohh..... ", Aldo ber _oh panjang dengan takjub mendengar penuturan Rayhan.


" Repot ya..... apalagi nanti masih tambah dua bayi lagi ya Hans ".


Rayhan tersenyum masih sambil terus mengayun-ayunkan Syailendra dalam gendongannya. " Sepertinya tidak begitu ..... ada aku, mamahku, dan banyak pembantu di sini......... pernah kau bayangkan bagaimana Nilam saat di Inggris dulu ? .... dia seorang diri 'Do ".


Aldo tercekat mendengar penuturan Rayhan. Sepasang matanya membulat sekejap untuk kemudian meredup penuh haru. " Ya..... dia wanita yang sangat kuat..... dia luar biasa ".


" Aku akan menebus semua dosa ku itu 'Do.... ". Lalu Rayhan perlahan duduk di samping Aldo. Namun rengekan kecil dari Syailendra memaksanya untuk berdiri kembali sambil mengayun dengan ritme yang menenangkan.


" Waduh.... apakah jadi bapak itu harus mengalami hal seperti ini setiap malam ??? ", Aldo menatap Rayhan iba dan juga ada sedikit rasa ngeri yang tersirat.


" Mungkin lebih seru lagi..... kalau dua adiknya sudah lahir ", Rayhan menjawab mantap.


" Oh My God...... sanggupkah aku ? ".


" Pasti sanggup .... ini menyenangkan walaupun sedikit melelahkan ". Rayhan tersenyum menatap sahabatnya yang kini justru tersenyum kikuk.


" He..he..he.... kalian ini benar-benar pasangan luar biasa .... ".


Aldo menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dengan nyaman sambil menyelonjorkan kakinya ke atas meja. Sementara Rayhan masih tetap bergoyang dengan ritme yang sama, menenangkan dan menidurkan sang putra.


........................


Rayhan muda menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia menatap isi dompetnya yang hanya menyisakan masing-masing satu lembar pecahan sepuluh ribu dan dua puluh ribu. Ini gara-gara si sok keren Aldo itu yang benar-benar bisa memanfaatkan kesempatan. Si tengil itu kini sudah kabur duluan dengan alasan mengantar si cantik Arlina. Meninggalkan Rayhan seorang diri membayar semuanya.


Setelah selesai dengan acara bayar membayarnya, Rayhan pun keluar dari dalam kedai dan menuju motor yang diparkirnya tak jauh dari pintu masuk. Saat itulah ia melihat bayangan Nilam yang masih duduk di halte depan food court itu. Sekarang gadis itu sendirian.


" Kemana Nana ? ", tanyanya sambil menghentikan motor di depan halte.


" Tadi di jemput mas Agung.... pacarnya ".


" Dan kamu di tinggal sendirian ? ", Rayhan pun melompat turun dari kuda besi itu dan segera duduk menyebelahi Nilam. Hal yang dilakukan oleh Rayhan ini membuat tiga orang pemuda dengan seragam sekolah kejuruan yang sepertinya hendak mendekati Nilam, mengurungkan niatnya.


" Terus pulang naik apa ? ", tanya Rayhan kembali.


" Angkot ... kalau nggak ya bis Damri.... jam segini masih ada kok ".


Rayhan menangkap celotehan kasar dari tiga pemuda yang kebetulan berada di halte itu. Sepasang mata elangnya melirik tajam pada ketiganya yang kini nampak mulai menyalakan rokok.


" Aku antar pulang .... ". Rayhan berdiri sambil menarik tangan Nilam.


Nilam menurut saja dan melangkah mengikuti Rayhan. Kini ia sudah duduk di boncengan Rayhan. Sebenarnya ia tadi sudah mulai resah dan was-was saat tiga orang pemuda itu datang dan sudah mulai berceloteh dengan nada menggodanya. Beruntung Rayhan datang menghampiri, ia merasa sedikit terlindungi. Apalagi saat pemuda ini menarik tangannya dan bermaksud mengantarkan pulang, Nilam benar-benar merasa aman.


" Maunya yang bermotor... ".


" Tau gitu kita tadi bawa mobil ya.... bisa langsung indehoi.... "


" Ha... ha... ha... murah ... murah ... ".


Celoteh bernada menghina itu membuat Rayhan panas, padahal ia sudah bersiap melaju.


" Apa kalian bilang ?!!!! ", bentaknya.


" Yeee.... bojone ngamuk ", salah satu pemuda itu malah mengejek.


" Rey.... sudah... sudah!!... ayo jalan ". Nilam memegang bahu Rayhan bahkan mungkin mencengkeram menahan laju pemuda itu. " Jangan ladeni.... ".


Akhirnya Rayhan pun melajukan motornya menembus malam yang diterangi benderangnya lampu jalanan. Sementara satu tangan Nilam yang tadi mencengkram lengan pundak Rayhan, kini turun menyentuh kulit lengan pemuda itu yang tidak tertutup kaos basketnya. Terasa dingin karena keringat yang sudah mengering dan terpaan angin malam juga.


" Rey.... bisa menepi sebentar ...", Nilam berbicara dengan sedikit mendekat pada telinga Rayhan.


" Ya.... ", dan Rayhan pun menuruti kemauan Nilam. Mereka menepi di sebuah pelataran toko .

__ADS_1


" Pakailah.... lengan mu sudah terasa sangat dingin ". Nilam memberikan jaketnya.


Rayhan menatap bingung, " Mana cukup ?... kau pake apa ? ".


" Begini cara makenya..... bagian depan menghadap belakang dan tidak usah di resletingkan....gak muat. Tapi setidaknya dada dan lengan mu itu terhindar dari angin malam yang dingin.... apalagi kau habis olahraga ". Nilam.membantu Rayhan mengenakannya.


" Lalu kamu ? ".


" Aku 'kan terlindung oleh punggung lebarmu...... tenang saja... amaan. Ayo .... kita butuh tiga puluh menit untuk sampai ke rumah ku looh.... kau sudah tahu ?".


" Belum.... tapi pernah lewat jalan depan rumah mu. Di kasih tahu Hari, anak SMA Tunaa Jaya... ".


" Oooh.... kau kenal juga dengan dia ? ", balas Nilam.


Sesaat percakapan itu terhenti, karena konsentrasi Rayhan untuk masuk kembali ke alur jalan raya.


" Kenal.... pas SMP dulu kita bimbingan bareng, satu Dojo juga d Judo... ".


" Oooh.... ternyata. Kami dulu pernah berteman cukup dekat saat SMP... sama-sama anak Jambore ".


Rayhan tersenyum mendengar penuturan gadis ini. Entah mengapa ia mulai tergelitik ingin menanyakan sesuatu . " Nil.... bukannya .... kalian dulu pernah dekat ya?... lebih dari sekedar teman ? ".


Tidak ada jawaban dari bibir Nilam, gadis itu seperti sedang menyusun kalimatnya untuk pertahanan. Entah mengapa, Nilam merasa sedikit jengah.


" Memangnya Hari cerita apa ? ", justru sebuah kalimat tanya yang keluar dari bibir gadis itu.


" Ah nggak.... dia cuma bilang kalau kamu tambah cantik dan .... dia tanya siapa pacar mu sekarang. Dia sebut sebuah nama ... tapi aku tidak mengenalnya.... emmmhhh... Bambang atau ... ah entahlah, aku lupa ".


" Ternyata para cowok rumpi juga ya.... ", Nilam tertawa kecil.


Rupanya Diklat LDK yang diikuti beberapa sekolah minggu lalu telah mengungkap banyak cerita. Di acara yang diikuti oleh beberapa sekolah menengah atas itu memang mempertemukan Nilam dengan seorang dari masa lalunya Hari Windu Wibowo. Seorang remaja hitam manis dan energik yang telah sukses membuat Nilam merasakan manisnya cinta monyet.


" Hari itu orang yang sangat baik.... kami tidak pernah mengungkapkan apapun. Bambang Aris itu teman ku SMP ... aku tidak tahu apa yang disampaikannya pada Hari. Tapi semenjak itu... Hari menjauhiku ".


Nilam bercerita sedikit saat mereka sudah sampai di depan rumah dengan halaman penuh pohon rindang itu. Rayhan yang tidak turun dari atas motornya menatap Nilam sambil tersenyum kecil. Iapun mulai membuka jaket Nilam yang dikenakannya.


" Tidak usah !!! ... pake saja dulu. Besok bawa ke sekolah... tidak usah di cuci ", larang Nilam cepat.


" Aku berhutang banyak padamu hari ini. Traktiran itu... seharusnya hari ini adalah giliran ku. Terus tadi di halte... dan ini, mengantarku pulang ... dibanding sedikit keringat basket mu... itu tidak sebanding, Rey ".


" Hutang ya.... dengan apa kau akan membayarnya ... ? ", Rayhan bertanya usil.


" Kau minta bayaran apa ? ".


" Next time .... kau yang traktir... juga yang anter aku pulang .. ".


" Ha... ha... ha... ya..ya.. baiklah ", Nilam tertawa karena merasa sangat lucu mendengar kalimat Rayhan. Ia terbayang bagaimana anehnya jika suatu saat dirinya mengantar pemuda ini pulang.


" Satu pertanyaan lagi.... ", sergah Rayhan.


" Ya ... Rey ".


" Rey.... kenapa kau panggil aku seperti itu. Tidak Hans seperti yang lainnya ? ".


Nilam sedikit terkejut, ia tampak canggung menatap Rayhan. " Entahlah... tapi terasa enak dan nyaman bagiku. Tapi... tapi kalau kau tidak suka, aku akan menggantinya.... ".


" Aku suka koq... terdengar enak saat kau memanggilku begitu. Lanjutkan saja.... sudah ya aku pulang dulu ".


" Ah ya.. ya.. Terimakasih banyak ya, Rey.. ".


Dan hari itu adalah hari dimana sebuah benang merah tak kasat mata saling bertautan. Tanpa diketahui oleh dua hati, tanpa dimengerti oleh dua insan, jalin takdir itu telah bertemu. Menunggu dengan sabar dengan mengikuti alur cerita yang akan menyatukannya kembali.


Sang Maha Cinta pasti telah mengabari setiap sel tubuh mu.


Seperti sel tubuh ku yang juga telah mengetahui itu.


Bahwa sesungguhnya engkaulah yang tercipta dari sempalan iga kiriku.


...........................


" Han... masih ingat sama Nilam, si mungil bermata kelabu dengan hidung yang cantik itu. Halaaaah.... yang kemarin dulu bareng Arlina dan Helena... kau traktir itu .... ".


" Heem.... kenapa memangnya 'Do ? ".

__ADS_1


Sore itu Rayhan baru saja selesai mandi saat Aldo masih asyik mengutak-atik kamera baru di dalam kamar Rayhan. Keduanya malam ini berencana akan mengambil gambar untuk leaflet promo hari jadi sekolahnya.


" Aku kayak nya naksir dia looh Han... ".


" Halah!!!... lagu lama. Sudah bosen sama si Sarah ... atau mau double? ".


" Eits!!!... aku sudah putus sama Sarah... dua minggu yang lalu... ".


Brugh !!.. lemparan handuk basah yang baru saja selesai dipergunakan Rayhan untuk mengeringkan rambutnya tepat mengenai muka Aldo.


" Ih... kenapa ?". Tanya Aldo sambil mencampakkan kain tebal setengah basah itu ke lantai.


" Cuma lima bulan ?.... fiiuuh sudah mau bikin sakit hati cewek lagi ".


" Nggak sampai koq lima bulan.... habis Sarah tuh kebanyakan ngatur, banyak maunya.... Pacar itu bukan ojek pribadi beibeh.... ".


" Terus.... si kecil itu mau kau buat main-main kayak yang lain gitu ?", Rayhan bertanya dengan nada menghakimi sambil mengenakan t-shirt warna putih. Terlihat segar dan tampan.


" Hei... kamu nggak naksir dia 'kan Han??? ".


" Maksud mu ??? ", Rayhan memandang sebal pada Aldo yang masih tetap dengan posisi santai di atas kasur.


" Baru kali ini kau peduli pada calon pacar ku ", ucap Aldo dengan penuh percaya diri.


" Baru kali ini juga kau berdiskusi sebelum nembak cewek.... padahal biasanya kau hanya akan cerita kalau sudah jadian ".


" Oh iya... ya... dan kenapa juga aku harus minta pendapat mu dulu.... emhh... sepertinya yang ini istimewa ya 'Han ?".


Rayhan terdiam tidak menjawab pertanyaan sahabatnya. Sepasang matanya terpaku pada jaket wanita warna biru muda yang tersusun manis ditempat paling atas deretan bajunya. Itu milik Nilam yang sudah di cuci bersih dan wangi, dengan tangannya sendiri. Ia belum sempat mengembalikannya.


" Ayo berangkat .... keburu anak-anak drama selesai latihan nih ".


" Hei!!!.... yang tidak kunjung ready itu kamu. Aku sudah siap dari tadi ", Aldo berseru kesal.


Lalu keduanya pun bergegas keluar dari kamar itu. Meninggalkan sepotong rahasia kecil di dalam lemari Rayhan.


...................


Nilam saat itu tengah mempersiapkan sarapan pagi di temani juru masak keluarga Rayhan. Sementara di ruang makan sudah menunggu suaminya, Aldo dan juga putranya. Tuan dan Nyonya Kamal baru sehari yang lalu berangkat ke Palembang untuk menghadiri acara pernikahan salah satu keponakan. Karena kondisi Nilam yang sedang hamil kembar ini, Rayhan memutuskan untuk tidak iku saja. Jadilah yang berangkat hanya kedua orangtuanya beserta Anggita si adik bungsu.


" Kalian akan menetap di sini lagi ? atau .... ada kemungkinan balik ke Inggris ?", Aldo bertanya sambil menyendok sambel pecel dan menuangkan kuah kacang manis pedas itu ke atas tumpukan sayuran rebus di piringnya.


" Semua proyek di Inggris sudah selesai... sebulan lagi perusahaan akan buka cabang di Malaysia. Mungkin aku masih sedikit terlibat di sana ", jawab Rayhan.


" Kau tidak resign ? ", Aldo bertanya lagi.


" Sudah ku ajukan... tapi ditolak. Dan CEO nya malah meminta ku menghandle anak cabang di Malaysia... dan dia berniat akan membuka d Indonesia juga ".


" Bang Rey kok baru bilang.... kalau tidak jadi resign ???.... berarti masih bolak-balik ke Inggris dong ". Nada suara Nilam terdengar sedikit kesal.


Aldo terkikik melihat hal itu. Nilam yang protes dan juga Rayhan yang bermimik menyesal karena tertangkap basah tidak jujur.


" Ya... tapi salah satu syarat yang ku ajukan. Dalam tiga bulan ini ... aku menolak untuk kembali ke Inggris ", Rayhan membeladiri.


" Aku nggak percaya... mana ada perusahaan mau menerima syarat sekonyol itu ", Nilam cemberut.


" Ada.... itu perusahaannya Edward ", jawab Rayhan lagi.


" Ha... ha..ha..ha... ", Aldo tidak bisa menahan tawanya mendengar perdebatan khas suami istri itu. " Sungguh.... sejak duluuuuuuuu .... ini pertama kalinya kulihat kalian berdebat, benda pendapat .... benar - benar sudah pas seperti suami istri ".


" Ish!!!!!! ... kau pikir kami ini main sinetron apa ? ", Nilam mencibir pada Aldo.


" Nil.... kalau Rayhan sampai tidak bisa menemani persalinan mu karena harus ke Inggris lagi. Tenang saja.... ada aku ".


" Mana ada.... nggak boleh, kali ini aku harus menunggui Nilam ", bantah Rayhan keras.


" Dulu pun aku melahirkan .... tanpa ditemani keluarga. Kalau sekarang sih... ada Alend.... iya 'kan boy.... kau mau kan temani mommy melahirkan little twin ?".


" Tentu mommy... aku akan temani mommy dan jaga twin ".


Jawaban bocah ganteng yang sibuk mengunyah corn flakes coklatnya membuat suasana yang mulai tegang di meja makan itu memudar. Dan berganti dengan tawa ceria.


' Thank you son..... kau sudah menyelamatkan Daddy dari tatapan kebencian wanita yang paling ku cintai ... ', bisik Rayhan dalam hati sambil membelai-belai rambut putranya.

__ADS_1


__ADS_2