
When I am by myself
looking at photos and videos
that we took
i've been keeping them for so long
and with my broken heart
I see all the pictures of myself
living life with-out you just feels so wrong
I want you to be here with me
I know it sounds crazy
I miss your laugh and
I miss everything
we used to be
And even if it is just for a while
Then God please give us the time
I can't deal with the reality
there's nothing left that i can do
cause my heart is just missing you
I tried everything
every way i could forget you
just so I can live my life without you
nothing is the same
It's hard for me
to erase all of the memories I have with you
I want you to be here with me
I know it sounds crazy
I miss your laugh and
I miss everything
we used to be
And even if it is just for a while
Then God please give us the time
I can't deal with the reality
there's nothing left that i can do
cause my heart is just missing you
................... It'smile that I miss from you
*( Missing You by Andmesh Kamaleng - English Version by Emma Heesters )
" Mommy.... apakah grandma dan grandpa itu ... orangnya baik ? ", pertanyaan itu meluncur tanpa henti dari bibir mungil yang menggemaskan milik si bocah yang selalu menggunakan bahasa Inggris itu.
__ADS_1
" Tentu saja sangaaaaat baik ... ", Jawab Nilam sambil membelai rambut tebal putranya yang kini berada di gendongan sang paman. Sementara Rayhan ayahnya menggandeng erat tangan Nilam, menjaga istrinya agar aman karena tanah di pemakaman itu yang sedikit licin dan basah oleh genangan air hujan.
" Kalau sangaaat baik.... kenapa meninggal dunianya cepat sekali ya ?. Mommy pernah bilang .... kalau orang jahat pasti kalah dan meninggalnya cepat..... itu seperti di film Iron Man ".
Oh my God..... begitu kira-kira arti tatapan mata dari pasangan suami istri yang sama-sama tersudut dengan petanyaan dan pernyataan si bocah cerdas ini. Sementara Wildan yang menggendong si sumber masalah hari itu, tidak bisa menahan tawa gelinya. Melihat bagaimana mati kutunya kedua kakanya ini.
" Apa dia selalu secerewet ini ? ", tanya nyonya Kamal yang juga geleng-geleng kepala melihat tingakah cucu yang menurutnya sangat pandai itu.
" Selalu .... siap-siap saja jadi ensiklopedia berjalan kalau dengannya Mah ", jawab Rayhan.
" Sayang.... itu kalau di film. Tapi kalau di dunia nyata ... semua diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Semenjak manusia masih di kandungan ibunya Allah sudah mengatur berapa tahun dia hidup, dia laki-laki atau perempuan..... Itu yang dinamakan takdir ", dan seperti biasa, Nilam selalu berhasil menjawab dengan bijaksana. " Kalau menjadi jahat atau baik..... itu tergantung pada hati manusianya, mereka sendiri yang memilih ... ingin jadi penjahat atau jadi jagoan. Alend paham sekarang ? ".
" Heeeemm...... iya mommy. Dan Aku mau jadi jagoan ", bocah itu menjawab bersemangat. " Grandma ... apa dia cantik ? ... grandpa? ganteng tidak ?".
" Oooh..... Liat uncle Will, ganteng 'kan ? ... Mommy juga cantik kan ? .... Ya begitulah Grandma & Grandpa Wirahadi ", Wildan berseloroh dengan bangga.
Perjalan itu membawa pada dua makam yang berjajar dan nampak rapi terawat dengan rumput hijau segar yang tumbuh terpelihara. Hasan Wirahadi dan Anisa Vien, ternaring bersebelahan dalam damai. Nilam mendekati kedua makam itu, menyentuhkan tangannya pada nisan yang menerakan nama dan waktu terbaringnya mereka. Seolah-olah baru kemarin kedua insan tersayang itu masih membelai lembut rambutnya, membisikan kata-kata penuh cinta dan memberikan pelukan hangat penuh kasih sayang. Nilam masih ingat bagaimana sang bapak membangunkan dengan tepukan sayang di pipi dan selalu berakhir dengan menggendongnya keluar kamar setiap pagi. Hingga ia duduk di kelas dua sekolah menengah pertama, saat Tuhan lebih memnyayangi pria baik hati namun sangat tegas itu. Nilam juga tak pernah bisa melupakan lezatnya rasa masakan sang mamih yang berdarah campuran Arab dan China, juga sifatnya yang sangat periang. Walupun Nilam paham betul, wanita itu menyimpan begitu berat beban hidup dan juga kerinduan pada pria yang sangat dicintainya yang telah terlebih dahulu menghadap Sang Pencipta.
Wildan beringsut memegang pundak kakaknya yang mulai sedikit berguncang oleh isak yang tertahan. Dengan remasan perlahan, ia mengingatkan bahwa dilarang menangis hingga suara isaknya terdengar saat sedang melakukan ziarah di makam. Nilam memahami, ia pun menarik nafas panjang. Beberapa saat kemudian dengan dipimpin oleh Rayhan, mereka semua menundukan kepala dan berdoa memohonkan ampunan pada Sang Maha Pengasih dan Penyayang untuk segala dosa dan kesalahan dua insan yang telah terbaring damai ini. Nilam mengukir senyum, saat angin semilir membelai pipinya lembut dan menetramkan, seolah itu adalah belaian sayang dari kedua orang tuanya yang diijinkan Tuhan untuk mengahampirinya sesaat.
" Bu Anisa.... ini putrimu... putri ku juga. Dia telah kembali..... akau akan menjaganya ", bisikan itu begitu lirih disampaikan oleh nyonya Kamal. Nyaris tak terdengar, tapi Rayhan menyadarinya dan ia pun segera memeluk mesra pundak ibunya. Sebuah senyuman terulas di bibir keduanya.
" Terimakasih Mamah....", bisik Rayhan tak kentara.
Rombongan itu masuk kedalam minivan yang dikendarai oleh sopir keluarga Kamal. Wildan duduk di depan sambil memangku keponakan montoknya yang terus saja berceloteh menanyakan ini itu. Sementara Nilam di beri tempat selega mungkin seat kedua bersama ibu mertuanya, dan Rayhan yang duduk paling belakang justru sedang sibuk menelpon sesorang. Kalau dilihat dari bahasa yang digunakan, pastilah itu urusan pekerjaannya.
" Ini.... kita ke..... ", Nilam hafal betul jalan yang ditempuh saat ini. Walaupun sudah bertambah ramai dan banyak berjajar mini market serta aneka penjaja makanan kekiniian di sepanjang jalan. Tapi Nilam paham betul arah jalan ini. Keluar dari pusat kota yang padat, sedikit memasuki area perbukitan yang masih asri dan membawa mereka pada daerah pinggiran kota yang masih sejuk dengan rindangnya pepohonan. Walaupun kini sudah bertambah padat dan mulai mengenal macet, tapi Nilam tak akan pernah lupa.
__ADS_1
Saat mobil itu berbelok dan memasuki jalan kampung yang nampaknya kini sudah diperlebar, jantung Nilam berdebar dua kali lebih cepat. Namun tiba-tiba saja nyonya Kamal mengenggam erat jemari putri menantunya itu, dan memberikan senyum menenangkan kahas seorang ibu. Hingga akhirnya mobil itu berhenti di sebuah halaman rumah yang masih nampak asri dengan dua pohon mangga di samping kanan kirinya, serta aneka tanaman hias yang menghijau terawat.
" Ayo turun..... ", suara nyonya Kamal menyadarkan Nilam dari ketermenungannya.
Aku pulang ..... aku pulang.... aku pulang... dan teriakan itu bergaung terseru dari hatinya. Nilam sedikit gemetar saat turun dari mobil dengan di dukung oleh suaminya. Sementara sang ibu mertua sudah terlebih dahulu melangkah turun dan membukakan pintu rumah itu.
" Eh... anak mamih sudah pulang. Bagaimana hari ini ??? tetep jadi yang termanis 'kan ?? ", bahkan suara sapa itu masih hangat terasa memeluk hati Nilam. Ia menangis menumpahkan rindu yang tertahan selama ini.
Tidak ada yang berubah..... teras itu masih sama seperti sewindu yang lalu. Begitu juga dengan ruang tamu, ruang keluarga yang merangkap ruang makan, dapur kecil dan dapur besar tempat catering. Bahkan Nilam juga masih mendapatkan kamarnya tertata bersih dan rapi. Sama seperti dulu saat ia memutuskan melepaskannya demi sepenggal asa dan cinta.
" Maafkan atas semua keegoisaan mamah ya nak...... kalian bertiga pasti sudah sangat menderita selama ini. Rumah ini...... ini hadiah untuk kalian bertiga. Walaupun ini pasti tidak sepadan dengan kesalahan yang telah ku perbuat........ Setidaknya, biarkanlah wanita tua ini sedikit lega .... terimalah ". Dan nyonya Kamal memberikan kunci rumah itu pada Nilam yang kini mulai tergugu dalam tangisnya.
" Mamah tahu.... ini tidak akan mengemabalikan kebahagiaan kalian yang telah ku renggut dulu. Tapi kumohon terimalah ...... dan juga biarkan aku menjadi ibu mu .... ", tak sempat nyonya Kamal meneruskan kalimatnya saat Nilam sudah menghambur pada pelukan wanita itu. Lalu keduanya pun terhanyut dalam isak bahagia.
Wildan menatap Rayhan yang juga kini tak mampu menyembunyikan air mata bahagianya. Tapi kakak iparnya itu buru-buru menghapus setitik air yang mulai menyudut di mata indahnya. Wiladan tersenyum sambil memberikan tepukan pada pundak Rayhan yang juga melakukan hal yang sama.
" Mommy.... kenapa menangis. Grandma juga ..... apa twins menendang lagi ?".
" Tidak boy..... mommy menangis karena rindu..... sangat rindu ". Rayhan membawa sang putra dalam dekapannya, menciumnya sangat lembut.
Saat itulah ia melihat kenangan tentang sebuah janji yang dibuatnya pada seorang wanita untuk wanita yang sangat dicintainya.
" Ibu...... aku akan menjaga Nilam dengan seluruh jiwa dan ragaku, sampai kami dipertemukan kembali kelak. Aku mohon restuilah ...... ".
Dan kini Rayhan berbisik melalui getaran hati dan lantunan doa yang kembali dititipkannya untuk seoarang ibu...... Aku hanya sangat rindu padamu bu dan aku akan selalu menepati janjiku.
__ADS_1