
Alend masih bermain-main dengan Daddy nya di ruang tengah apartemen itu. Hari Jum'at malam yang damai dan hangat di London yang kini sudah memasuki musim semi. Ketika terdengar suara yang sedikit gaduh di pantry, Rayhan memutuskan segera melihatnya. Buru-buru pria itu bangkit dan melesat kearah sumber suara.
" Muntah lagi ? ", tanya Rayhan cemas. Iapun mendekati Nilam yang masih berdiri di depan wastafel dengan wajah pucatnya.
" Hanya sangat mual .... tak bisa muntah, tapi saliva ... eh ludah ku sekresi berlebih .... dan ini sungguh menyiksa ku ".
Rayhan mendekati istrinya lalu memijit-mijit tengkuk wanita itu penuh kelembutan. Sambil sesekali mengusap-usap punggung, untuk kemudian membimbing istrinya berjalan memasuki kamar tidur mereka. Melintasi ruang tengah dan mendapati Syailendra masih sibuk menemani para robot karakter dan aneka mobil-mobilannya, berpetualang di dunia yang bocah itu ciptakan sendiri.
" Boy... ", panggil Rayhan. " Mommy muntah lagi.... Daddy temani mommy dulu ya di kamar ... ".
" Okay.... mommy minum obatnya ya, biar cepat sembuh ".
Nilam tersenyum membalas perkataan putranya yang sudah berpaling kembali pada para jagoannya. Sesaat kemudian keduanya sudah berada di dalam kamar tidur.
" Apakah selalu seperti ini ? ", tanya Rayhan sambil menyelimuti istrinya yang nampak kepayahan.
" Ini biasa pada tiga bulan awal kehamilan ".
" Tapi ini sudah memasuki bulan keempat bukan ? .... mau ku ambilkan obat anti mual lagi ? ".
" Rey.... aku tadi sudah meminumnya ".
" Tapi tadi sudah kau muntahkan lagi ", protes Rayhan.
Nilam menangkup wajah suaminya yang terlihat sangat cemas. Membelai wajah tampan dengan sisa gelap keabu-abuan jambang dan kumis yang baru saja di cukur. Macho..... itulah yang selalu ditangkap Nilam dari pria ini, sejak dulu.... sejak mereka masih berseragam putih abu-abu.
" Kenapa ? .... apakah membelai wajah ku ini bisa membuatmu merasa lebih baik ? ".
" Ha.. ha..ha.. sejujurnya iya. Apalagi jika kau mengelus-elus perut dan pinggang ku.... nyaman sekali ".
" Kenapa kau tidak mengatakannya sih dari tadi....", Rayhan protes sambil memposisikan dirinya di samping Nilam yang sudah berbaring di kasur mereka.
" Bukan hanya aku yang butuh kasih sayang mu.... itu ! jagoan di luar sana juga sangat butuh. Dan kau berhutang banyak padanya ". Yang dimaksud Nilam.adalah putra mereka, Syailendra atau biasa' dipanggil Alend
" Maafkan aku sayang..... ". Rayhan mengecupi perut Nilam yang belum terlihat membuncit. Mengelus-elusnya dengan lembut dan penuh perasaan.
" Pasti berat ya dulu.... saat kau sendirian mengandung Alend...... maafkan aku ", suara Rayhan terdengar begitu dalam dan menyiratkan rasa sakit yang sangat perih.
" Alend itu..... sejak dalam perut tidak ada rewel. Ini adalah ngidam dan teler berat pertama ku.... sungguh berbeda sekali dengan yang dulu dengan yang ini".
" Pasti karena anak-anak ku ini sangat cerdas dan pengertian ya... he.. he.. he.. ".
__ADS_1
" Heeeem... ", Nilam tidak menjawab. Ia merasakan perasaan nyaman yang luar biasa dan membuat matanya begitu berat terbebani oleh kantuk.
" Sayang.... ", panggil Rayhan pelan. Ia merasakan nafas istrinya teratur berhembus dan terdengar dengkuran yang sangat halus, rupanya wanita ini benar-benar telah tertidur.
Tiba-tiba saja hatinya dilingkupi oleh rasa sedih dan rasa bersalah yang membuncah. Bagaimana dulu wanita ini menghadapi semuanya seorang diri ?. Pasti dia sangat capek dengan hari-harinya yang bekerja, lalu pulang dan sendirian tanpa seseorang yang memberinya rasa nyaman dan hangat. Pasti ia menangis sedih, pasti ia juga sangat rindu.... aaah Rayhan benar-benar merasakan dadanya ingin meledak oleh rasa yang menyakitkan itu.
Rambutnya hitam yang lebat ini, wajah cantik yang terlelap damai dan tubuh mungil yang mulai terlihat berisi pada bagian tertentu karena kehamilannya, sungguh membuat Rayhan merasakan jatuh cinta kembali dibuatnya. Ia merasa Nilam berlipat kali lebih cantik dan seksi tentunya. Pria itu tersenyum geli menertawakan dirinya sendiri. Sungguh konyol, ia merasa sangat berhasrat pada istrinya terutama beberapa hari ini. Dan lagi, Nilam juga sepertinya sangat menyukai ketika dirinya melakukan kontak fisik yang cukup intens. Benar-benar membuat frustasi .... bagaimana tidak?, saat Nilam sedang dalam kondisi yang tidak fit... apakah ia harus memaksakan kehendaknya !. Oh no !!!!..... Rayhan mengumpat pada dirinya sendiri.
" Daddy ..... mommy masih sakit ? ". Suara tanya yang menggemaskan itu mengiringi masuknya Syailendra ke dalam kamar.
" Ssssstt.... mommy & little baby baru bisa tidur.... mereka minta Daddy memeluk .... ".
" Alend mau peluk juga... ".
Oh boy... so sweet, Rayhan memberikan gestur meminta bocah itu untuk datang menghampiri dan memeluknya.
" No Daddy.... Alend mau peluk little baby ".
What?!!! .... Rayhan terkejut namun pada akhirnya ia tertawa kecil. Tepatnya menertawakan dirinya sendiri yang terlalu percaya diri.
" Sini.... pelan-pelan ya, jangan sampe mommy terbangun ".
Rayhan membantu putranya untuk membaringkan tubuh di sebelah mommy nya. Tepatnya di depan wanita yang sudah tertidur itu. Kemudian terlihat putranya memiringkan badan, lalu mengikuti apa yang dilakukannya. Membelai-belai perut Nilam yang kemudian sedikit terbangun, namun hanya untuk tersenyum dan membalas perlakuan putranya dengan sebuah ciuman dan pelukan.
" Terima kasih kakak Alend.... ", kata Nilam masih dengan mata setengah terpejam.
" Love you mommy... love you little baby... love you too Daddy .. ".
****************
Rayhan memangku Syailendra yang sibuk bertanya ini itu, membuat ayahnya ini kebingungan.
" Nanti tanya mommy saja ya.... sekarang liat tuh perut mommy ada little baby nya ".
" Bagaimana caranya? ... apakah harus dibelah sedikit perutnya ? ".
Waduh .... salah ngomong nih, gumam Rayhan. ". No!..... pakai alat canggih, kamera canggih dan super komputer ... tuh!!!! perhatikan baik-baik ".
" Itu mic ya dokter ?.... wow ... bisa buat mendengar suara little baby ? ".
Dokter wanita peranakan India Inggris itu tersenyum. Sekarang giliran anda dokter yang akan dicecar oleh wartawan kecil ini. Karena rasa ingin tahunya yang luar biasa. Tapi dokter Soraya yang dahulu juga membantu persalinan Nilam saat melahirkan Syailendra sama sekali tidak keberatan dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
__ADS_1
" Ini namanya alat USG boy.... mari kita intip sama-sama adik kecilmu ", kata dokter Soraya. " Alat ini punya gelombang yang bisa menembus perut mommy mu tanpa rasa sakit... lalu dia akan mengirim gambar video adik mu .... Lihatlah monitor itu ".
Jika yang lain memperhatikan layar monitor, tidak demikian dengan Syailendra ia justru sangat tertarik dengan alat berbentuk seperti mic namun ujungnya tidak bulat. Lebih seperti ujung alat penyedot debu. Padahal di layar monitor itu sudah mulai terdengar suara derak-derak yang lambat laun terdengar jelas sebagai suara degup jantung.
" Mr. Rayhan..... itu jantungnya sangat sehat. .... tunggu.... ", dokter Soraya nampak terkejut sesaat. Layar monitor yang mencitrakan warna monokrom itu tampak bergerak tak beraturan sesaat ketika dokter cantik itu menggerakkan benda diatas perut Nilam dengan cara digeser perlahan.
" Neel.... Gemeli ... ", kata dokter itu penuh semangat.
Nilam ternganga, ia menutup mulutnya namun kedua matanya masih terbelalak. Sementara Rayhan kebingungan dengan apa yang disampaikan dokter Soraya dan juga ekspresi Nilam.
" Ada apa? apakah itu berbahaya ? ", tanyanya sedikit cemas.
" Mr. Rayhan..... ini detak jantung janin anda, perhatikan ".
Rayhan menatap layar monitor, mencermati sesuatu yang berdetak dengan ritme stabil. Ketika dokter Soraya menyetel pada mode suara yang lebih tajam, suara detakan jantung itu terdengar sangat indah bagi Rayhan. Pria itu tersenyum penuh rasa haru.
" Dan ini..... satu lagi detak jantungnya.... ".
" Hah ?!!!!!!..... ada dua ? ", Rayhan ternganga.
" Ya..... selamat ya Mr. Rayhan.... anda akan segera menjadi father of twin .... ".
Rayhan semakin ternganga tak percaya. Ia kemudian menatap Nilam yang tersenyum mengangguk padanya. Jika ada satu masa dimana bahagia itu merajai hati, mungkin inilah salah satu saat nya. Menemukan istri dan anaknya kembali, lalu kini diberi hadiah janin kembar yang sedang tumbuh di rahim wanita yang sangat dicintainya itu. Seakan semuanya menghapus luka, derita dan sedih yang sempat berkuasa dengan pongah pada alur hidupnya.
Rayhan menitikkan air mata, menyeka nya cepat dan tersenyum hangat. Membelai punggung tangan sang istri, menciumnya lembut. Lalu berbisik sambil mengecup kening wanita itu mesra. " Terima kasih sayang.... kalian anugrah terindah dari Tuhan ku Yang Maha Penyayang ".
Dokter Soraya pun ikut tersenyum bahagia menyaksikan dua insan yang tengah dilingkupi cinta itu. Ia mengetahui bagaimana perjalanan hidup Nilam selama di negeri ini. Bagaimana ia mengikuti kelas senam hamil seorang diri tanpa sosok pria yang mendampinginya. Hingga akhirnya dokter itupun mengetahui jika Nilam juga merupakan seorang perawat yang bekerja di rumah sakit yang sama dengannya. Seorang wanita setia yang sedang berjuang untuk cintanya. Dan kini ia sedang menerima hadiah dari semua perjuangannya itu.
" Aunty dokter..... mana adikku ?".
Sentakan kecil pada jas dokter yang dikenakan menyadarkannya dari lamunan. Bocah lucu yang sebentar lagi akan jadi kakak bagi adik kembarnya itu menatap penuh rasa penasaran.
" Okay.... aunty cetak dulu ya fotonya. Neel... sudah selesai, kau bisa turun ".
Tak berapa lama, tiga orang anak beranak itu sudah duduk kembali di hadapan dokter Soraya yang sudah datang dengan membawa sebuah foto USG. Ia menyerahkannya pada si kecil Syailendra. Namun detik berikutnya bocah itu menatap bingung, berganti-gantian pada foto dan dokter Soraya.
" Itu adik mu ", dokter Soraya menjelaskan
" Ini ?... jelek sekali ... aku tidak mau ".
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
__ADS_1