Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
Jawaban segala gundahku...... 2


__ADS_3

Rayhan terkesiap mendengar perkataan Nilam. Dengan cepat diraihnya tangan Nilam yang hendak berlalu meninggalkannya. Sedikit keras Rayhan membuat gerakan menyentak menahan Nilam, membuat gadis itu terpaksa menghentikan langkahnya. Terkejut dan meringis menahan rasa nyeri karena genggaman Rayhan yang terlalu kuat


" Aku tidak pernah mempermainkan mu ". Tegas Rayhan mengucapkannya, membuat Nilam kembali tak berdaya dan tersesat dalam sepasang mata kelam yang menatapnya dalam.


" Maaf ... ", dengan segera Rayhan melepas tangan Nilam.


Sementara itu dari luar, suara anak-anak putih abu-abu yang mulai berdatangan seolah-olah mengambilalih ketenangan pagi. Canda tawa dan langkah penuh semangat mereka, bagai menantang mentari pagi. Rayhan berdiri dan segera duduk ditempatnya yang baru, mengeluarkan sebuah agenda berwarna coklat tua dan mulai sibuk menuliskan sesuatu di sana. Sementara Nilam melanjutkan langkahnya keluar dari dalam kelas, melewati pemuda itu yang tak bergeming.


" Han... ini tempat duduk ku ", suara melengking cempreng yang sewot terdengarlah oleh Nilam. Yuri terdengar sewot menegur Rayhan.


" Cari yang lain.... atau duduk sebangku dengan ku ", sahut Rayhan cepat


" Nggak mau... kamu yang minggir".


" Apa sih .... sudahlah duduk denganku. Klo' nggak mau ya minggir.... tuh bangku kosong banyak", Rayhan tetep bertahan.


" Haaaaan!!!!!", Yuri menjerit sewot


" Hush!!! .... bantulah aku meraih cinta ", suara Rayhan terdengar begitu serius.


Dan pipi Nilam pun bersemu merah mendengar jawaban Rayhan. Ia melangkahkan kakinya tergesa, menjauh dari kelas itu. Setidaknya saat ini ia butuh waktu menenangkan hatinya.


#Saat istirahat kedua


Nilam baru saja selesai sholat Dzuhur dan sedang mengenakan kaos kaki serta sepatunya. Tiba-tiba saja, Aldo duduk disebelahnya. Membuat Nilam merasa jengah dan sedikit menggeser duduknya.


" Koq sendirian ? ", tanya Aldo kemudian.

__ADS_1


" Memang kenapa?", Nilam balik bertanya.


" Labu siam kemana?".


Nilam mengangkat bahu sebagai tanda tidak tahu, seraya tersenyum geli. Julukan terong dan labu siam untuk Aldo dan Rayhan yang diberikan keduanya, selalu sukses membuat Nilam tersenyum geli. Entah darimana muncul ide-ide itu.


" Kalian di mobilku ...... ngapain aja ?".


What ???.... Nilam mendelik kaget mendengar pertanyaan Aldo.


" Pikirmu..... aku ngapain sama Rayhan. Ada-ada saja.... ", Nilam mendengus kesal.


" Yaaah... melanjutkan ..... ciuman yang tertunda di kelas ", ucap Aldo setengah berbisik di telinga Nilam.


Gadis itu terkesiap, kaget dan sangat.... malu. Ternyata aksi pencurian first kiss Rayhan diketahui Aldo. Tanpa sepengetahuan Rayhan dan Nilam, ternyata Aldo berbalik lagi bermaksud menyerahkan STNK mobilnya pada Rayhan. Dan dia pun segera mengurungkan niatnya saat dalam temaram kelas dilihatnya Rayhan tengah mencium Nilam yang bersandar diam tak menolak.


" Itu ... itu... tidak seperti yang kamu pikirkan ", Nilam membela diri.


Nilam tak menjawab pertanyaan Aldo. Gadis itu berdiri dan merapikan roknya sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan Aldo yang masih berekspresi ambigu antara usil dan sedikit jengah, bahkan ada sisa cemburu disana.


" Niiiiil.... aku ridho koq. Sumpah... ", seru Aldo menggoda dan Nilam berlalu bergegas membawa rona malu di wajahnya.


Hingga akhirnya sisa jam sekolah pun habis dengan tanda suara bel panjang. Lihatlah wajah-wajah sumringah itu.... tawa ceria dan canda tak lepas darinya.


Rayhan berdiri dan menoleh sesaat pada Nilam. Dia tahu, gadis itu sengaja berlama-lama menata ulang buku didalam tasnya, mengajak ngobrol Via teman sebangkunya dengan bahasan yang basi. Semua demi menghindari Rayhan yang mulai terlihat bosan karena lama menunggunya. Akhirnya, pemuda itu keluar meninggalkan kelas dengan mendengus kesal. Nilam melihatnya, tapi mengabaikannya.


Gadis itu keluar dari kelasnya, lalu melesat cepat menuju mushola. Sholat Ashar menyelamatkannya..... karena diujung koridor sekolah, nampak punggung Rayhan yang sedang menunggunya.

__ADS_1


Sudah tiga puluh dua menit berlalu dari jam tiga sore saat Nilam berjalan ke luar melalui gerbang depan sekolahnya. Ransel biru dengan aksen garis kuning dipunggungnya bergantung sempurna. Seolah menjadi kontras yang manis untuk goyangan rambut hitam ekor kudanya yang menari mengikuti langkahnya. Ia berjalan sendirian tanpa teman, meninggalkan sekolahnya yang masih agak ramai oleh suara derap sepatu, teriakan dan dentuman bola beradu dengan lantai dari anak-anak ekskul basket.


Wajah manis semi oriental dengan mata sedikit sipit dan manik berwarna kelabu, membuatnya sedikit mudah untuk dikenali. Yang memukau adalah hidung dan bibir yang sempurna bersanding dengan tulang pipi yang tinggi, serta terbingkai dengan alis tebal nan rapi. Postur tubuh yang sedikit mungil, membuatnya tidak begitu menonjol jika berada diantara teman-teman dekatnya yang rata-rata mempunyai body dan wajah seperti model. Arlina yang tinggi semampai, Rani yang sangat arabic dan menjulang sempurna, belum lagi dengan Fatma dan Nana yang berkulit seputih pualam. Nilam hanya setinggi telinga mereka, dengan kulit sawo matang nya. Tapi saat dia tersenyum..... dunia seolah mengubah poros rotasi padanya. Setidaknya begitulah yang dirasakan Rayhan.


Ya... pemuda itu dengan setia menunggu Nilam. Dari mengikutinya diam-diam semenjak menunaikan sholat Ashar di mushola, mengawasi Nilam dari kejauhan saat gadis itu tiba-tiba saja dihentikan oleh beberapa adik kelas yang memintanya membantu menyelesaikan soal Fisika. Hingga akhirnya Nilam berjalan keluar halaman sekolahnya.


Langkah kaki Nilam santai ditemani semilir angin sore berbau tanah basah area persawahan. Dengan mudahnya Rayhan berhasil menjajari langkah Nilam, membuat gadis itu terkejut. Sia-sia sudah semua usahanya mengulur waktu pulangnya... toh Rayhan tetap saja berhasil menemukannya.


" Repot amat ya menghindari dari ku ", kata Rayhan sambil memposisikan dirinya berjalan mundur di depan Nilam. Demi bisa tetap berjalan sambil menatap gadis itu.


" Okay.... aku salah, aku minta maaf. Tapi .... tolong katakan, apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki salah ku "


Nilam menghentikan langkahnya disusul oleh Rayhan. Keduanya berdiri berhadapan dan saling menatap. Beda tinggi yang lebih dari duapuluh centimeter itu.... membuat Nilam selalu menengadah jika berbicara berhadapan dengan Rayhan.


" Memang kamu salah apa padaku? ".


Rayhan terkesiap dan menatap bingung pada Nilam yang mengucapkannya dengan tenang.


" Eh.... itu, ciuman itu", salah tingkah Rayhan.


" Sudah kumaafkan.... jangan bahas itu lagi, aku... ", tak terselesaikan oleh Nilam karena Rayhan memotong ucapannya cepat.


" Aku mencintaimu Nilam Ardya Prameswari "


" Rey... tolong... ", ucap Nilam pada akhirnya setelah terdiam agak lama. " Kenali dulu perasaan mu... itu cinta atau hanya obsesi. Semua teman-temanmu sejak SMP sudah tau' betul tentang persahabatan dan persaingan mu dengan Aldo. Kau menginginkan ku setelah aku jadian dengan Aldo bukan?.... Rey, jangan permainkan hati seorang wanita. Tapi... lebih dari itu... jangan hancurkan persahabatan ".


Rayhan menarik nafas panjang, menghembuskannya dengan kasar. Kemudian mengacak-acak rambutnya dengan perasaan penuh frustasi. Hanya gadis inilah yang sanggup membuatnya seperti ini. Sementara Nilam, setelah menyelesaikan seluruh kalimat-kalimatnya kembali melangkah melanjutkan perjalanan pulang. Meninggalkan Rayhan yang masih frustasi dan kesal pada dirinya sendiri. Hingga kemudian ....

__ADS_1


" Nilam..." serunya. " Ini... kau baca semuanya ". Sebuah agenda berwarna cokelat tua dipaksakan oleh Rayhan untuk diterima Nilam. " Kartu matiku... sudah kuserahkan padamu. Jika setelah ini... aku yang salah ... aah bacalah !!! Selanjutnya terserah padamu "


Nilam terpekur sambil memegang benda itu. Sementara Rayhan berlari mendahuluinya, meninggalkannya. Nilam tersadar saat suara guntur dikejauhan mulai terdengar. Dan iapun bergegas mempercepat langkahnya menuju halte. Sore itu tiba-tiba saja menggelap dan kelabu.


__ADS_2