Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
Permainan Takdir. 3


__ADS_3

Dalam genggaman sosok gagah menjulang, yang menatapnya lembut. Yang kemudian menariknya perlahan namun pasti .... dalam hangat dada nan bidang. Tanpa bisa melepaskan diri .... Nilam menengadah pasrah, membiarkan sepasang mata sekelam malam itu menembus rasa terdalamnya.


Rindu ............... Rindu............


" Rey.... ", suaranya parau terdengar seperti desahan saat menggumamkan nama Rayhan. Sang pria yang datang dalam gelisahnya bagai seorang kesatria yang hangat merengkuhnya.


Lihatlah bagaimana rindu itu tak perlu diceritakan....


" Aku tidak akan melepaskan mu lagi .... bidadari ku ", bisik Rayhan lembut sambil mengeratkan pelukannya.


Lihatlah bagaimana cinta itu tak perlu sesumbar.....


" Rey ..... maafkan aku.... ". Nilam terisak pelan.


Dan alampun seolah terhanyut.... hingga butiran-butiran air pun kembali luruh. Seolah menemani rinai-rinai air mata Nilam yang meluncur satu persatu bergulir melalui pipinya.


Rayhan mengeratkan pelukannya..... membiarkan seluruh sel-sel ditubuhnya memindai wangi lembut wanita ini. Memberikan kesempatan pada otaknya untuk memberi informasi sedetail mungkin tentang lekuk tubuh, harum rambut dan wangi bunga apel yang menguar dari ceruk leher wanita ini. Rayhan memejamkan matanya.....


Namun alam berkata lain..... rinai gerimis itu kembali membesar. Rayhan melepaskan pelukannya, menarik tangan Nilam untuk bergegas mengikutinya.


" Ayo... naik mobil "

__ADS_1


" Aaah... belanjaan ku ", seru Nilam tertahan sambil menyentakan tangan Rayhan.


Segera setelah terbebas dari Rayhan, ia berlari menghampiri dua onggok kantung coklat besar. Saat itu juga Rayhan mengikutinya, dan mengambil alih dengan cepat kedua kantong belanjaan itu. Saat Nilam akan meraihnya.


Sesaat kemudian..... keduanya telah berada dalam mobil dengan keadaan rambut dan baju yang sedikit basah. Ketika tanpa isyarat terlebih dahulu, tiba-tiba saja Rayhan mencondongkan badannya dan membuat tubuh serta wahahnya seolah tak berjarak dengan Nilam.


Sementara di luar...... hujan pun turun kembali dengan derasnya.


Suara deras hujan nyaris tertelan oleh degup jantung Nilam yang berdebar kencang. Juga oleh hangat nafas Rayhan yang menerpa wajahnya. Pria itu menatapnya lekat, menyentuh bibirnya perlahan. Dan sepasang manil kelamnya.... menikam manik kelabu seperti warna hujan, milik Nilam. Seolah mencari jawaban-jawaban atas selaksa pertanyaan yang menghantuinya.


" Jangan cerita apa-apa dulu ..... cukup jawab pertanyaan ku ", ucap Rayhan tegas.


" Nilam Ardya Prameswari...... apakah kau masih jadi istri seorang Rayhan Ananta Zachary ? ".


Rayhan merasakan hatinya begitu perih.... melihat buliran-buliran air mata yang mebasahi pipi yang tengah di sentuhnya kini. Perlahan ia melepaskan dan kembali duduk tegak dibelakang kemudi. Terlambat...... sesalnya dalam hati.


" Hanya ada satu..... suami dalam hidupku ", suara Nilam terdengar lirih.


Rayhan seolah seperti terangkat dari dasar palung terdalam. Seolah terbebas dari gelap pekat yang mencekam. Suara Nilam terdengar bagai alunan nada yang menuntunnya kearah cahaya.


" Nilam...... ". Rayhan kembali mendesahkan nama itu. Sambil kembali mendekap sang punya nama.

__ADS_1


" Tapi .... aku tak diharapkan keluargamu.... ", isak Nilam pada akhirnya. Sebuah sakit yang dipendamnya selama ini.


" Bagaimana dengan Arlina....? kalian sudah menikah ?", tanya Nilam kembali dengan suara bergetar.


Rayhan tak menjawab. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Tidak membiarkan wanita ini menjauh sedikitpun darinya. Perlahan dan dengan sedikit memaksa, ia mencium bibir Nilam. Menyesap kelembutannya dengan perlahan namun penuh gelora cinta dan kerinduan.


Nilam terhenyak... bukankah ini salah satu yang dirindukannya ?. Tapi akal sehatnya membuat dia bertahan untuk tetap diam tak membalas semua gerakan sensual setangkup bibir pria itu. Seperti kontrasnya benci dan cinta, begitulah yang dirasakan hatinya atas perlakuan Rayhan. Hatinya meleleh namun raganya kaku menegang mencoba ingkar.


Bukannya tidak menyadari betapa tegang sekujur tubuh Nilam dalam pelukannya. Namun pertahanannya sebagai pria yang menderita rindu dendam telah sampai pada puncak ledakan gairah. Tak dihiraukannya segala gesture penolakan wanita dalam pelukannya itu. Hingga lama kemudian ia mengakahiri belaian bibirnya...... namun tak sepenuhnya berakhir.


Rayhan hanya memindahkan dan menelusuri sebaris rahang elok dengan bagian tersensitif dari indra perabanya. Bibirnya menyusuri pipi, leher dan berakhir pada ceruk tulang selangka Nilam. Seolah memindai kembali seluruh jejak - jejak yang pernah tertinggal di sana.


" Hanya kamu ..... satu-satunya istriku ".


Dan kalimat itu terdesah indah di telinga Nilam. Seperti sebuah epilog yang menentramkan. Tapi entah kenapa tetap masih saja ada segumpal lara mengganjal. Seperti latennya cancer yang mulai metastasis dan menggerogoti kembali sel-sel bahagia dalam dirinya. Membuat Nilam perlahan dan tegas dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Rayhan menjauh. Ia tak pernah lupa, bahwa untuk lepas dari pelukan pria itu harus menggunakan seluruh tenaga dari tubuh mungilnya.


" Sudah terlalu lama mobil ini berhenti.... aku tadi berniat segera pulang ", ucapnya menyurutkan tatapan protes Rayhan.


" Dimana kamu tinggal.... ", tanya Rayhan kemudian. Hati kecilnya membenarkan perkataan Nilam. Tak ada alasan tepat untuk memprotes wanita itu


" Jalan lah... aku memandumu ", balas Nilam kemudian.

__ADS_1


Dan kendaraan itupun melaju menembus rintik-rintik di malam musim semi yang hangat dan basah. Membawa sepasang hati yang bergelora. Menjanjikan kesempatan keduanya, mempertegas sebuah ikatan, memperbaiki sebuah cela dan berharap merajut keabadian.


Lihatlah bagaimana takdir cinta itu seperti bermain, namun ia hanya menurut pada perintah Sang Maha Daya Cinta.


__ADS_2