
Kubenamkan nalarku dalam ingatan tentang sebaris senyum manis mu
Dan kusadari mata ini pun mulai mengabut
Saat uluran rasaku ragu apakah tersambut
Lirih ku eja namamu dalam sepi di senja hari
Katakan padaku tentang rasa yang sama
Bisikan padaku tentang rindu yang sama
Jika kita kini menatap rembulan yang sama
Kuharap juga kita impikan hal serupa....
.................
Yang dilakukan oleh dua orang sahabat itu adalah membahagiakan bocah kecil yang selalu merasa gerah dan kepanasan. Perpindahan dari negara subtropis ke negara yang terbelah oleh garis khatulistiwa ini benar-benar membuat bocah yang belum genap lima tahun itu selalu rewel.
Saat ini Rayhan bersama Aldo dan si kecil Syailendra berada di kawasan Gedong Songo sebuah situs candi yang mempunyai sembilan trap lokasi. Dari candi pertama hingga candi kesembilan. Terletak di lereng gunung yang berudara dingin menyegarkan.
Syailendra atau yang biasa dipanggil Alend, nampak sangat menikmati perjalanan dengan menunggangi kuda. Bocah itu bersama sang ayah berada diatas kuda berwarna hitam pekat. Suara tawa riangnya tak pernah putus, saling menyambung dengan celoteh gembiranya.
Aldo menatap anak beranak itu dengan senyum bahagia. Sesungguhnya hal ini benar-benar membuat dirinya iri. Namun rasa bangga yang terselip itu... ternyata melampaui rasa irinya.
Bangga ??? ... ya bangga ... tentu saja !!!. Ia adalah salah satu titik krusial dari sejarah terlahirnya Syailendra Thoriq Zachary. Dia adalah manusia yang telah dengan sengaja digerakkan hatinya oleh sang pencipta untuk menyatukan ayah dan ibu bocah itu. Melihat kebahagiaan yang seperti ini.... bagaimana ia tidak menjadi bangga dan turut berbahagia ???.
..................
" Aki sudah jadian dengan Nilam..... ".
Aldo menyampaikan kalimat itu dalam frase berita pada sahabatnya. Tapi Rayhan yang sedang fokus men-drible bola terlihat tidak peduli. Bahkan saru gerakan tipuan yang dibuat oleh kawan sekaligus sparing partner nya ini, sukses membuatnya kecolongan tiga points.
" Selamat..... kalau begitu ". Sebuah jawaban seperti biasa setiap kali Aldo mengabarkan tentang keberhasilannya meraih hati gadis yang sesungguhnya malah sudah jatuh hati terlebih dahulu dengan Rayhan.
" Kau yakin ??? ....... ", Aldo menggantungkan kalimatnya. Kali ini sambil berlari menuju bawah ring basket Dan satu shooting pendek membuatnya mencetak dua point.
" Maksudnya ????????", Rayhan bertanya dengan ekspresi datar tak kentara.
Aldo tak langsung menjawab, karena ia sendiri pun bingung. Kenapa ia begitu impulsif saat bersinggungan dengan simungil berponi itu. Hingga sebuah tembakan bernilai tiga yang berhasil dilakukannya itu mengakhiri permainan keduanya hari ini.
" Dari dulu...... setiap gadis awalnya jatuh hati padamu. Tapi selalu berakhir dipelukan ku...... Nilam juga ".
__ADS_1
Wajah Rayhan terlihat mengeras mendengar pernyataan itu, dan ia menyembunyikannya dengan berjalan menjauh dari sumber suara. Mengalihkan emosi tertahannya pada drible cepat. Namun sejurus kemudian ia menyadari satu hal yang salah..... siapa kau ini ?, hardik suara dalam hatinya.
Sementara Aldo duduk berselonjor di lapangan yang mulai temaram oleh senja. Maaf kawan aku berbohong, dia gadis pertama yang menolakku, dia menyukai mu ..... dan kau begitu angkuh. Begitu tersampaikan oleh hati kecil pemuda itu, tanpa Rayhan pernah mengetahuinya.
................
Hari Minggu pagi dan radio di kamar Rayhan menyala otomatis memperdengarkan suara yang manis, lembut menyapa.
" Selamat pagi Jaka Dara ... Morning Show Spesial Weekend kembali bersama Nirda hingga pukul delapan nanti. Satu pembuka yang manis, lagu dari dalam negeri sendiri ... dari Saveg Garden dengan ' I Knew I Loved You' ..... don't go anywhere , chek it out ".
******Maybe it's intuition
But some things you just don't question
Like in your eyes, I see my future in an instant
And there it goes,
I think I found my best friend
I know that it might sound
More than a little crazy
But I believe
I knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
There's just no rhyme or reason
Only the sense of completion
And in your eyes, I see
The missing pieces I'm searching for
I think I've found my way home
I know that it might sound
__ADS_1
More than a little crazy
But I believe
I knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
A thousand angels dance around you
I am complete now that I've found you
I knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
Rayhan terduduk di tepi ranjang tempat tidurnya, ia termenung... tapi bukan karena terhanyut oleh syair lagu itu. Yang terbayang olehnya adalah seulas senyum manis dari pemilik mata kelabu itu. Ia selalu mendapatkannya setiap mereka berpapasan. Bahkan setiap ia menoleh kembali, senyum itupun tak terputus mengikutinya.
" Dari dulu...... setiap gadis awalnya jatuh hati padamu. Tapi selalu berakhir dipelukan ku...... Nilam juga ".
Rayhan mendenguskan rasa sesal dan kesalnya, dan udara kosong itupun menjadi sasaran tinju dan tendangan judo nya. Seperti anak kecil yang marah saat mainan yang sudah menjadi incaran selama ini terenggut oleh anak lain karena dia sedikit abai. Rayhan benar-benar merasa kecolongan.
Tipe gadis yang disukainya adalah yang tinggi semampai dengan lekuk aduhai, proporsional dengan keanggunan seorang wanita, serta kulit putih mulus seperti pualam. Dan akan lebih sempurna jika rambutnya panjang hitam lurus tergerai. Namun sosok Nilam, mungil dengan tinggi hanya sekitar seratus lima puluh lima, kulitnya sawo matang bukan putih pualam..... tapi dia mempunyai hidung artistik menjulang sempurna, mata yang sedikit sipit dengan warna bola mata yang menenggelamkan pada nuansa hujan di senja kala. Anggun???..... tidak!!!!! tapi menarik.... dialah pencuri perhatian di setiap adegan.
Rayhan begitu yakin saat ia sering kali menatap kerlingan mata gadis itu, ketika mencuri pandang padanya. Ia yakin jika gadis itupun telah terpesona padanya. Dan hal ini cukup membuat Rayhan merasa di atas angin. Ia hanya berniat bermain sedikit dengan sang waktu untuk menciptakan romansanya tersendiri. Tapi ternyata.... ia telah lengah karena terlupa bahwa sesungguhnya sikap dasar seorang gadis adalah membutuhkan kepastian.
Rayhan muda merasa cukup memberikan perhatian lebih pada Nilam. Setiap hari Minggu pagi menemuinya di menit-menit terakhir siaran gadis itu. Kemudian dengan sepeda gunungnya, ia membawa si mungil yang manis itu terbang merenda kehangatan matahari. Nilam akan berdiri di step samping kanan kiri sepedanya sambil berpegangan pada pundak pemuda itu. Mereka tertawa dan bercanda sepanjang jalan memutari taman kota. Lalu berhenti di tempat mangkal penjual bubur ayam atau nasi mangut khas Semarang, untuk sarapan.
" Minggu depan aku gajian.... ku traktir ya yang lebih siiip... ", kata Nilam masih dengan semangat menyendok potongan ayam di atas buburnya.
" Apa..... paling nasi uduk itu atau soto. Ya 'kan ??? " . Nilam terkekeh kecil mendengarnya. Sebuah pukulan lembut mendarat manis di lengan kiri Rayhan.
" Laaah... kamu maunya apa Rey ?".
" Emhhh...... ", Rayhan nampak mengerutkan keningnya seolah berfikir keras menentukan pilihan dari daftar menu tak kasat mata di pikirannya. " Soto !!! ".
" Ha... ha... ha... ". Dan tawa Nilam kali ini terdengar begitu lepas mendengar jawaban Rayhan, hingga wajahnya yang manis nampak memerah.
Tapi lihatlah yang kemudian terjadi kini. Ini adalah minggu ketiga dari waktu janji itu dibuat. Ini adalah ketiga kalinya Rayhan tidak menyempatkan diri mampir ke stasiun radio, alasan yang selalu digunakannya sebelum ini. Ia marah bukan hanya pada dirinya yang lalai dan abai, serta terlalu pe'de' terhadap intuisinya sendiri. Tapi juga marah pada Nilam. Ia merasa dikhianati...... 'kenapa kau begitu bahagia dengan ku dan sama sekali tidak ada cerita tentang Aldo, dan tau-tau kau jadi kekasihnya'.
__ADS_1
" Han... Han.... ada Wulandari ", tiba-tiba suara kakaknya menyeruak seiring munculnya wajah ayu Sarah di celah pintu yang dibukanya.
" Wulandari siapa ??? .... aah sepagi ini mana ada Wulan ", Rayhan menjawab acuh. Tunggu... Wulandari.... Wulan, oh my God. Dan Rayhan terlonjak bangun.