Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
Kisah kita .... 2


__ADS_3

Rombongan anak-anak yang diperkirakan datangnya masih nanti, ternyata satu jam lebih awal. Lihat betapa riuhnya, padahal cuma tujuh orang anak. Itupun Alend atau little Thor sudah masuk dalam hitungan.


Nilam mengajak mereka semua masuk. Lalu mendampingi mereka mencuci tangannya satu persatu. Kemudian kehebohan tujuh kurcaci itu beralih pada pengumuman yang dibuat Alend


" Teman-teman .... ini daddy ku. Kenalkan ... mr.Rayhan ", seru Alend dengan riang.


" Selamat siang mr.Rayhan ", ke enamnya menjawab kompak.


" Selamat siang.... aku ayahnya Alend ", Rayhan sedikit canggung.


Akhirnya acara pesta-pesta imut itupun berlangsung lebih cepat karena kicauan sudah lapar dari tujuh anak yang memprovokasi. Keluarga dr. Salman datang sedikit terlambat begitu juga dengan para ibu dari anak-anak. Beruntung persiapan yang dilakukan Nilam sudah selesai.


Akhirnya sang pangeran cilik yang sudah kelelahan mendapatkan waktu tidur siang nya dengan nyaman. Alendra tertidur di pangkuan ayahnya. Tepat saat Rayhan mendapatkan sebuah panggilan.


Nilam yang melihat hal itu segera mengambil alih sang anak. Digendongnya perlahan dan di bawa masuk ke dalam kamarnya. Sementara Rayhan segera menerima telpon dan sedikit menjauh dari ruang keluarga. Ia terlihat berbicara serius beberapa saat, bahkan saat Nilam sudah kembali keluar kamar, iapun masih dalam panggilannya.


" Dear.... aku ikut bahagia melihat kalian berkumpul lagi ", kata ny. Sonya. Saat ini ia dan nyonya Salaman sedang membantu Nilam membereskan sisa pesta.


" Nilam... ", tiba-tiba Rayhan memanggil. Pria itu tampak resah.


" Ya ", Nilam menyahut sambil menghampiri.


Dalam jarak beberapa langkah, tiba - tiba saja Rayhan bergerak cepat menarik wanita itu dalam pelukannya. Lalu mendaratkan sebuah kecupan di kening..... cukup lama, setidaknya untuk membuat tiga orang yang berada seruangan bisa melihat ikatan emosi kedua insan itu dengan sangat jelas.


Nilam terperangkap kembali dalam hangatnya pelukan Rayhan. Saat ini pasti wajahnya semerah saga karena menahan malu. Tapi mau bagaimana lagi. Rayhan malah mempererat pelukannya.


" Ada yang harus aku selesaikan dengan cepat ... aku janji akan segera kembali. Kamu tau' pasti... aku tidak mau berpisah lagi denganmu. Tetaplah di sini... aku akan menjemputmu kalian ", ucap Rayhan dengan bahasa Indonesia


" Ya ", Nilam membalas pelan.

__ADS_1


Akhirnya Rayhan melepaskan pelukannya. Namun kembali mencium kening dan pipi wanita yang kini nampak begitu salah tingkah di hadapannya. Saat itulah Rayhan tersadar, saat ini mereka ada berlima di ruangan itu.


" Ah... maaf. Aku pamit dulu.... ada urusan pekerjaan yang mendesak. Terimakasih nyonya Sonya dan juga Tuan dan Nyonya Salman.... saya permisi dulu. Sampai ketemu lagi segera. Assalamualaikum "


Rayhan segera beranjak dari ruangan itu. Sesaat kemudian terdengarlah suara mobil yang mulai berjalan meninggalkan halaman rumah kediaman Nilam. Menyisakan sepi yang tiba-tiba saja terasa melingkupi hati Nilam.


" Kau sudah tau dia kerja di mana Neel ? ", tanya dr. Salman tiba-tiba.


" Belum... kami hanya membicarakan tentang Syailendra semalam "


" Di perusahaan konstruksi besar RealBig_Building ..... dia orang kepercayaan CEO nya ", dr. Salman menjelaskan.


Nilam sebenarnya kurang paham dengan perusahaan yang disebutkan oleh dokter Salman. Tapi dia menganggukkan kepalanya seolah-olah memahami.


" Bukankah itu perusahaan rekanan rumah sakit kita dulu? " , tanya Aisyah antusias.


" Ya... saat itu mereka belum sebesar sekarang. Setelah diwariskan pada sang putra ... ya CEO nya sekarang ini, perusahaan itu bertambah besar "


" Syukurlah..... tapi aku hanya melihat, pria itu sangat mencintai mu Nilam ", sergah nyonya Sonya. " Bukankah kita semua bisa melihat itu dengan jelas ? "


" Kalian .... sudah berbaikan?? sudah memutuskan bersama kembali ?? ", nada suara Aisyah terdengar sangat berhati-hati.


" Aku yang meninggalkannya. Dan kami masih tetap menjadi suami istri... setidaknya itu yang dikatakannya padaku. Aku.... meragukannya nyonya ". Nilam menatap Aisyah, tampak kegetiran di matanya.


" Boleh kami tahu kenapa kau meninggalkannya ?, tanya dokter Salman kemudian.


Nilam mengerjap-ngerjapkan matanya seperti mengumpulkan kembali kepingan-kepingan cerita yang berserakan di kepalanya. Sudah saatnya ia membuka diri menceritakan tentang kisah nya. Tentang persahabatan, cinta, dilema dan kesetiaan.


................... dan Nilampun berkisah perlahan.

__ADS_1


Kami menikah tanpa restu dari kedua orangtuanya.


Ibuku menderita cancer ovarium stadium akhir. Kami mengetahuinya bertepatan dengan kelulusan ku dari sekolah keperawatan. Saat itu Rayhan baru saja akan memasuki tahun ketiga di jurusan planologi. Ia meninggalkan jurusan kedokteran umum yang sebenarnya dipaksakan oleh kedua orang tuanya.


Ya.... sebenarnya, hubungan kami kurang disetujui oleh ibunya Rayhan. Bagaimanapun juga seorang ibu pasti sudah merencanakan masa depan terbaik untuk sang putra. Apalagi Rayhan adalah putra mahkota yang diharapkan dapat meneruskan rumah sakit sang Ayah. Kakak perempuannya sebenarnya seorang dokter, namun ayah ibunya sangat menaruh harapan besar padanya.


Saat kondisi ibuku semakin kritis ..... Ada satu impian besar yang sangat diinginkan beliau. Yaitu melihat anak perempuannya menikah. Kami dua bersaudara sudah tidak mempunyai ayah, dan sebentar lagi akan kehilangan ibu. Setidaknya beliau ingin memastikan bahwa ada yang menjaga kami selepas kepergiannya.


Hampir saja aku dinikahkan dengan anak laki-laki putra dari saudara tiri ayahku. Padahal aku tahu selama ini hubungan keluarga kami tidak begitu baik. Yang aku tahu, Kakak perempuan tiri ayah itu selama ini selalu merongrong ibuku. Dia sangat iri dengan kesuksesan catering ibu.


Malam itu Rayhan datang, mencium tangan ibuku. Berbicara dengan sangat tegas namun santun. Memohon restu dan perkenan untuk dapat menikahiku.


Ibuku menerimanya dengan sangat bahagia. Karena beliaupun sudah sangat tahu bagaimana kami menjalani kisah cinta ini. Akhirnya kami menikah secara agama di kamar rawat inap ibuku. Dua hari setelahnya, beliau menghembuskan nafas terakhir.


Itu adalah awal masa-masa yang berat dalam hidupku. Aku baru saja lulus dan belum mendapatkan pekerjaan. Adikku Wildan baru akan masuk semester pertamanya di fakultas kedokteran. Sementara itu tabungan kami sudah habis untuk biaya pengobatan ibu.


Rayhan yang statusnya masih sebagai mahasiswa semester tujuh, dia tetap bertanggungjawab memberikan nafkah padaku. Walaupun jumlahnya tak terlalu besar. Aku tahu ia sangat berhemat dengan uang jajannya agar dapat memberi uang bulanan untuk ku.


Kakak perempuan tiri ayahku tiba-tiba saja datang dan meminta sebagian harta peninggalan ayah, yaitu rumah yang kami tempati. Dengan alasan itu adalah haknya Saat itu aku hanya seorang wanita muda yang baru berusia dua puluh tiga tahun, yang masih sangat labil dan masih sangat minim dengan pengalaman hidup. Dengan desakan dan beban kehidupan yang begitu berat, hidupku limbung


Saat itu juga datang padaku ibunya Rayhan, mertuaku. Beliau menyatakan kekecewaannya padaku. Aku dianggap telah memperdaya putranya. Beliau juga tidak meridhoi pernikahan kami.


" Selamanya .... kau hanya akan jadi istri sirinya. Rayhan sudah kami jodohkan dengan seseorang yang akan sangat mendukung keberhasilan kehidupannya kelak. Pilihan ada ditanganmu .... kau bisa yang meninggalkan atau yang dicampakkan "


Kalimat itu seperti wracking ball yang menghantam dadaku seremuk-remuknya. Terlebih lagi saat aku tahu siapa gadis yang akan segera ditunangkan dengan Rayhan. Dia adalah Arlina.....teman sekolah kami dulu. Yang memang sebenarnya sudah lama menaruh hati pada Rayhan.


Lalu terjadilah huru-hara itu...... dimalam pesta ulang tahun Rayhan. Dengan tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu, ia menarikku dan sesaat kemudian sudah membuat kami menjadi fokus tatapan semua orang.


" Terimakasih atas kehadiran hadirin sekalian. Malam ini saya akan mengumumkan satu hal penting... dan juga meminta maaf yang sebesar-besarnya pada kedua orangtuaku dan seluruh anggota keluarga, juga pada pihak-pihak tertentu yang pastinya tersakiti dengan keputusan saya ini.

__ADS_1


Saya telah menikah dengan wanita disamping saya.... Nilam Ardya Prameswari "


Malam itu adalah episode lanjutan dari masa terberat dalam hidupku. Namun tidak seperti saat meninggalnya ibuku, malam itu aku lebih bisa tahan apalagi dengan adanya Rayhan disampingku. Dia mengengam tanganku sangat erat, tak sedetikpun melepaskannya. Dalam cercaan dan luapan emosi dari keluarganya dan keluarga Arlina, dia tetap bersikap hangat dan mesra padaku.


__ADS_2