
................. Nilam pun berkisah
Malam itu adalah episode lanjutan dari masa terberat dalam hidupku. Namun tidak seperti saat meninggalnya ibuku, malam itu aku lebih bisa tahan apalagi dengan adanya Rayhan disampingku. Dia mengengam tanganku sangat erat, tak sedetikpun melepaskannya. Dalam cercaan dan luapan emosi dari keluarganya dan keluarga Arlina, dia tetap bersikap hangat dan mesra padaku.
Rayhan resmi keluar dari segala kenyamanan, fasilitas dan juga kandidat penerus perusahaan keluarganya. Malam itu, dia keluar dari rumahnya hanya dengan satu koper berisi beberapa pakaian dan buku-buku kuliahnya. Ada satu anggota keluarga yang menangis memeluknya. Anggita, adik perempuan satu-satunya.
Kota tempat Rayhan kuliah berjarak tiga jam dari kota tempat kami tinggal. Kamipun hidup terpisah. Dengan segala keterbatasan, kami melanjutkan hidup. Rayhan tetap kuliah sambil bekerja sambilan. Aku berusaha melanjutkan bisnis jasa boga ibuku dengan banyak bantuan dari paman dan bibi dari ibu, agar Wildan tetap bisa melanjutkan kuliah kedokterannya.
Namun semua semakin memburuk. Pesanan di catering Rindang (nama catering ibuku) tidak sebanyak dulu. Sementara saudara tiri ayah yaitu budhe ku, selalu datang menagih hutang (yang katanya hutang ayahku dulu). Dia juga selalu menyalahkan ku yang menolak dengan anaknya, Agam yang notabene adalah sepupuku.
Delapan bulan lamanya aku mampu bertahan dalam tekanan seperti itu. Setelah berdiskusi panjang dengan saudara-saudara ibuku. Ku putuskan menjual rumah dan juga branding usaha catering peninggalan ibu. Dan bukan hal mudah melakukan penjualan seperti itu. Sambil menunggu, aku mencoba mencari pekerjaan dengan menggunakan ijasah dan ketrampilan ku.
Saat itu Rayhan sudah menjelang KKN dan juga sudah mulai mengajukan proposal skripsinya. Ia tampak lebih kurus dan kurang terawat. Namun ia selalu tersenyum dan tetap bersikap hangat setiap kali pulang ke rumah. Oh ya kami tinggal di rumah peninggalan ibuku yang akan segera kujual ini. Aku tahu, dia pasti sangat capek dan kerepotan membagi waktu dan konsentrasi antara kuliah dan tanggung jawab menghidupiku.
Hingga suatu ketika ...... Rayhan akhirnya terbaring sakit dan harus rawat inap. Sakit typhus dan radang paru-paru. Terlalu lelah dan kurangnya asupan nutrisi yang membuat imunitas tubuhnya menurun drastis. Sehingga aneka bakteri itu dapat menggerogoti tubuhnya yang perkasa.
Malam itu di rumah sakit..... Nyonya Kemal, ibunya Rayhan menemuiku secara sembunyi-sembunyi. Dan menawarkan pertolongan berimbalan janji yang harus kupenuhi. Perjanjian antara dua orang wanita yang mencintai satu pria dari sudut pandang yang berbeda. Seorang ibu dan seorang istri.
Dalam sujud panjang ku mohon petunjuk dari Tuhan. Apa yang harus ku lakukan?... aku memohon kemantapan hati. Hingga akhirnya aku yakin dan mantap menerima tawaran ibu mertuaku.
Beliau membeli rumah dan usaha catering ibuku dengan harga yang cukup tinggi dan membayarnya kontan. Dana yang besar itu sebagian ku masukkan rekening Wildan, untuk biaya kuliahnya sampai selesai. Untuk melunasi hutang ayahku pada saudara tirinya. Kubawa pengacara untuk melegalkan pembayaran hutang itu, ini kulakukan agar dia dan keluarganya tidak merongrong kehidupan kami lagi. Lalu sisanya kubagi dengan Rayhan, karena selama hampir satu tahun ini dia sudah menafkahiku dengan baik.
Akupun melunasi janji pada ibunya Rayhan. Yaitu meninggalkan Rayhan. Namun aku meminta waktu untuk dapat merawatnya hingga benar-benar pulih. Ibunya Rayhan yang mertuaku itupun menyetujuinya.
Tepat sepuluh hari dia dirawat dan akhirnya diperbolehkan pulang. Persis seperti dugaanku, ia tak mau pulang ke keluarganya di kota tempat ia kuliah. Kami akhirnya kembali ke kontrakannya yang kecil. Selama dua minggu aku merawatnya di sana. Kupastikan dia sudah benar-benar pulih dan sehat. Lalu aku pun pergi meninggalkannya..... tanpa jejak. Begitulah janjiku pada ibunya Rayhan.
__ADS_1
...................................
Nilam mengakhiri ceritanya dengan diiringi tatapan iba dari ketiga orang di ruangan itu. Keheningan tiba-tiba saja menjadi dominan. Hingga akhirnya Aisyah berinisiatif mendekati dan memeluk Nilam.
" Sekarang saatnya kau untuk bahagia sayang ", hibur wanita itu.
" Ya.... kau berhak menerima cinta mu itu lagi. Itu milikmu ... milikmu ", Ny.Sonya pun tak ketinggalan memberi dukungan.
Nilam mencoba tersenyum, walaupun sebenarnya hatinya masih dipenuhi seribu keraguan. Haruskah ia mengabaikan janjinya ??. Atau tetep memegang janjinya dan mengabaikan rasa sakitnya, Rayhan dan juga sang putra Syailendra.
Di tempat lain, disebuah ruang kerja yang cukup luas. Nampak Rayhan sedang berdiskusi dengan seorang wanita blonde berpenampilan sangat elegan dan juga seorang pria berambut kecoklatan yang usianya kelihatan sedikit lebih tua dari Rayhan.
" Bagaimana kondisi Gerald ? ", tanya si pria.
" Sudah stabil, sudah sadar. Tapi masih dalam observasi medis lanjutan ".
" Lantas apakah ada kemungkinan kecelakaan itu sabotase .... seperti yang dikhawatirkan di khawatirkan Edward ?, si wanita bertanya sambil melirik pria disebelahnya yang tetap sibuk mengawasi pergerakan angka di layar laptopnya.
__ADS_1
" Dugaan mu mungkin juga benar Ed .... kita tunggu saja investigasi dari polisi ". Rayhan mengambil tempat duduk di sebelah Edward.
" Jadi fix yang datang ke konferensi hanya diriku saja... ", sergah si wanita blonde yang ternyata adalah adik Edward sang CEO, Grace namanya.
" Kau tidak bisa menemaninya tuan Rayhan ? ", Edward bertanya dengan nada menggoda.
" Ada janji ketemu dengan profesorku esok hari.... maafkan aku Grace "
" Baiklah... aku berangkat sekarang. Sampai bertemu dua hari lagi ".
Grace menghampiri Rayhan dan memberikan sebuah kecupan di pipi kiri pria itu dengan cepat. Membuat Rayhan terkesiap dan menepis tangan wanita itu dengan gesture tidak nyaman dan memohon maaf.
Di sampingnya, Edwar yang melihat semua itu tersenyum kecil. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.
" Masih berusaha saja dia ", ucap Edward sepeninggalan sang adik. " Dia akan tetap seperti itu selama kau masih lajang ".
" Sudah kubilang berkali-kali.... aku sudah menikah. Bahkan aku punya seorang putra ", Rayhan membela diri.
" Perkenalkan pada publik.... wanita mu itu. Tunggu... anak, kau punya anak laki-laki ? ". Edward menatap lekat pada Rayhan meminta penjelasan.
" Kita selesaikan dulu semua ini ....", sambil menunjuk hamparan berkas dan sketsa serta blue print yang nyaris menggunung di meja. " Setelah itu akan ku bawa mereka pada mu "
" Mereka ada disini ? ", tanya Edward antusias.
" Ya. Aaahhh.... ayo cepat selesaikan. Kau membuatku tambah rindu .... ayo konsentrasi lagi ", Rayhan berseru kesal.
__ADS_1
Edward tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi sahabatnya. " Dan ingat kau berhutang cerita padaku tuan Rayhan ".