Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
Cinta itu butuh waktu dan kesabaran


__ADS_3

Terkadang memilih diam dan mengendapkan semua rasa yang menyakitkan, adalah yang memang seharusnya dilakukan. Bahkan tidak jarang, kata-kata seolah tidak lagi diperlukan untuk menjelaskan atau meluruskan sesuatu yang menjadi bebab perasaan. Setidaknya begitulah dengan Nilam yang memilih menunda segala sesuatu yang masih berkecamuk dihatinya. Segala sesuatu yang berkaitan dengan janji, cinta dan kehormatan. Setidaknya masih ada rasa sakit yang dipendamnya.


Hidupnya selama hampir enam tahun ini sudah sangat penuh dengan lika-liku dan pengorbanan. Tidak terpungkiri bagaimana rasa sakitnya saat harus menjauh dari segala sesuatu yang dicintainya. Bagaimana tangisannya saat malam hari sambil mendekap rindu yang mendalam. Saat semua wanita dalam keadaan yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih, sayang dan cinta berlimpah.... ia terbuang di negeri asing dengan mendekap harapan pada mahluk mungil yang terus membesar dikandungnya.


Hingga saat mahluk itu terlahir dengan tangisnya yang membahana di pagi hari.... Seolah-olah dia adalah obat dari seluruh rasa sakitnya. Cahaya untuk kehidupannya, dan terapi untuk semua lukanya. Ia mampu melupakan saat-saat malam menangis karena rindu dendam sambil meringkuk di atas peraduannya. Bahkan mampu menerima dengan lapang dada, mencoba untuk memaafkan semua keadaan dan komponen-komponen yang membuatnya harus menjalani hidup seperti seorang yang terbuang.


Melihat pemandangan dihadapannya saat ini, tiba-tiba saja muncul sebuah penyesalan. Di atas tempat tidurnya, saat ini ada dua orang pria yang telah menopang jalan cerita hidupnya. Lengan kekar Rayhan menjadi bantal yang nyaman untuk Syailendra, bocah itu terlelap.


Seandainya saja dia tidak pergi .... pasti pemandangan seperti itu sudah menjadi konsumsi sehatnya setiap hari. Tapi..... ah, dia pergi juga bukan murni karena kesalahannya. Seandainya saja ia melawan saat itu ... sudahlah. Nilam memupus perasaannya sendiri. Menarik nafas panjang dan memutuskan untuk menghempas kembali semua kenangan buruk itu.


" Aku sudah siapkan makanan malam "


" Ya, aku segera menyusul ", Rayhan menjawab cepat. Kontras dengan gerakannya yang begitu lembut dan perlahan menarik lengannya dari bawah kepala sang anak.


Masih menyempatkan diri membelai rambut tebal, pipi chubby dan kemudian mencium lembut kening Syailendra. Rayhan mengakhirinya dengan satu kecupan sayang di kening. Lalu beranjak meninggalkan kamar tidur itu dan menuju ruang makan yang menyatu dengan dapur.


Disana, ia mendapati Nilam sedang menyusun menu makanan malam diatas meja. Nasi putih dengan tumis sawi dan telor dadar. Menu yang sangat biasa, sama sekali tidak istimewa. Tapi untuk Rayhan yang sudah hampir delapan bulan baru bertemu nasi lagi...... menu malam ini adalah luar biasa. Wangi tumis hijau segar mengkilap itu membuatnya menelan air liur.


" Wow... ", gumamnya takjub. Tanpa menunggu dipersilakan, iapun langsung duduk sambil tak melepaskan pandangannya dari hidangan diatas meja.


" Kau tahu..... ini luar biasa. Nasi putih.... heeem ".


" Rencananya tumis kangkung..... tapi tadi tidak sempat belanja di Asian Market ".


" Ini sudah sangat istimewa Nilam.... terima kasih banyak ".


Lalu keduanya pun memulai bersantap. Tanpa banyak bicara. Yang sesekali terdengar adalah decapan-decapan lezat dari bibir Rayhan. Sementara tak jauh dihadannya, Nilam memperhatikan dengan senyuman.


Tidak berubah...... masih saja gembul. Nilam tersenyum kecil sambil membatin. Sementara Rayhan terlihat sangat menikmati makanannya. Hingga kemudian ia tersadar sedang diperhatikan.


" Kau tidak makan ? ", tanyanya sambil menatap Nilam


" Sudah selesai kok ", Nilam memperlihatkan isi piringnya yang telah licin tandas.


" Kalau begitu .... aku habiskan semuanya ya ".


Nilam tertawa kecil. Sepertinya dia tak perlu lagi mengatakan persetujuannya. Lihatlah, Rayhan sudah menuang kedua hidangan itu di piringnya dan kembali memakannya dengan lahap.


Ā 

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Ā 


Selepas makan malam yang hangat, saat Nilam baru saja selesai meletakkan piring terakhir yang telah selesai dicucinya. Ia merasakan hembusan hangat di tengkuknya. Rayhan tiba-tiba saja sudah memelukny dari belakang.


Bukannya tidak merasakan tubuh Nilam yang tiba-tiba menegang saat ia melingkarkan kedua lengannya melingkupi pinggang dan perut wanita itu. Seolah-olah Nilam berusaha membuat jarak tak kasat mata diantara mereka. Rayhan sengaja tidak memperdulikan semua itu.


" Malam itu .... seperti sekarang ini, hujan gerimis. Aku berlarian kesana-kemari .... mencarimu. Kau tahu..... saat itu duniaku runtuh ". Rayhan mulai berbicara tanpa sedikitpun melepaskan pelukannya. Ia justru semakin menenggelamkan wajahnya diantara pundak dan leher Nilam.


" Aku terlalu frustasi untuk bisa memahami keadaan saat itu.... hingga aku temukan surat dan ATM yang kau tinggalkan itu ".


Nilam tak bergeming, ia tetap membatu ditempatnya berdiri. Mendengarkan semua bisikan-bisikan Rayhan yang menggedor-gedor memori luka terberatnya. Tiba-tiba saja ia merasa atmosfer disekitar nya berubah menjadi lembayung dan menyesakkan. Namun ia tak mampu beranjak, hanya diam dan mendengarkan.


" Pagi itu.... setelah kita bercinta untuk terakhir kalinya, kau masih tak mau melepaskan aku. Berkali-kali kau mengatakan sangat mencintai ku.... meyakinkan ku kalau kau sangat bahagia menjadi bagian hidupku. Tapi .... kenapa malam harinya, esok harinya, esoknya lagi hingga.... seribu tujuh ratus empat puluh satu hari esoknya ... kau menghilang ", suara Rayhan terdengar lembut.


Tapi bagi Nilam seperti sayatan sembilu yang perih mengiris hatinya. Ia tetap terpaku, tidak tahu harus bagaimana lagi. Sementara Rayhan kelihatan tak berniat sedikit pun melepaskan pelukannya. Pria itu kembali berkata.


" Kau sungguh sudah mempersiapkan semuanya ya..... nomer handphone adikmu berubah, seluruh keluarga mu pun benar-benar tidak tahu keberadaan kalian berdua ".


" Tapi..... bukankah kau berhasil menemui Wildan di kampusnya ", tiba-tiba saja Nilam menyergah.


" Ya.... tujuh bulan kemudian. Setelah aku selesai wisuda. Hari itu adikmu sibuk dan tengah bersiap untuk segera berangkat jadi relawan ke daerah bencana...... dia meminta ku untuk menemuinya di tempat yang sama, tepat satu bulan lagi. Wildan juga menyimpan nomor ku ".


" Wildan .... sempat mengatakan hal itu padaku ". Nilam mengingat saat itu ia sedikit banyak dapat bertemu dengan Rayhan. Hatinya tak mengingkari kerinduan yang dirasakan semakin menjadi, terlebih kandungannya saat sudah hampir memasuki usia delapan bulan.


" Aku menepati janji.... hari itu, satu bulan kemudian...... kau tahu betapa bersemangatnya aku ??? Harapan ku untuk bisa segera kembali bersamamu begitu besar ".


Tiba-tiba saja ekspresi Rayhan berubah menjadi menggelap, seolah kabut kesedihan menutupi seluruh paras tampannya. Perlahan ia melepaskan kaitan hak dan resleting celana panjangnya.


Nilam terperangah melihat apa yang dilakukan pria dihadapannya itu. Rayhan melepaskan celana panjangnya. Nilam berpaling dari pemandangan yang membuat pipinya bersemu merah. Dengan canggung, Nilam berusaha menjauh. Namun Rayhan dengan sigap mencekal tangannya, menahan langkah.


" Kenapa ? kau istriku !!!! ..... lihatlah apa yang terjadi pada suamimu ..... lihatlah !!! ".


Nilam terhenyak. Suara Rayhan begitu tegas, tapi ia dapat merasakan kesedihan yang kentara. Nilam kembali tak berdaya ketika Rayhan menarik nya mendekat, menuntun pengelihatannya untuk menelusuri pinggang dan sepanjang paha kanannya.


" Oh !!!!", Nilam terkejut. Refleks ia menutup mulutnya.


Bukan karena betapa menariknya pria itu dengan kaki telanjangnya. Tapi karena bekas luka memanjang dari bawah tulang pinggul nya hingga beberapa senti diatas lutut. Luka itu telah meninggalkan jejak keloid.

__ADS_1


" Kenapa dengan tulang femur mu ?. Patah ? Apa yang terjadi ? ", Nilam tak dapat membendung rasa penasarannya.


" Kecelakaan...... motorku bertabrakan dengan mobil, dan aku terlempar membentur pembatas jalan. Tepat disaat akan menemui Wildan "


Nilam masih terpaku, ia mencoba merangkai satu persatu kepingan memori pada waktu itu. Bagaimana sebelumnya Wildan menelponnya dengan riang, dan mengatakan padanya untuk tetap semangat dan selalu membuka hatinya untuk Rayhan dan keluarganya. Namun sehari setelahnya, adik lelaki satu-satunya itu kembali menelpon dan memintanya untuk tidak usah mengingat-ingat lagi atau bahkan berharap lagi dengan Rayhan.


" Aku koma duapuluh delapan hari...... bed rest empat bulan. Dan rehabilitasi selama satu tahun lebih ", Rayhan melanjutkan ceritanya.


" Itu.... itu.... mungkin dua minggu sebelum kelahiran Syailendra ", Nilam sedikit gugup.


Rayhan menarik wanita itu mendekat dan kembali menghadapkan wajahnya tepat pada wajah Nilam. Satu lengannya kembali melingkari pinggang Nilam, dan satu tangannya menyentuh wajah wanita itu dan memposisikan untuk menengadah menatapnya.


" Aku.... memeluk mu dalam alam bawah sadar ku. Kau selalu hadir menemaniku.... tersenyum manis dan sangat cantik. Terkadang .... kau begitu manja, tertidur dipangkuanku........... Dan ketika sadar, aku menangis meraung-raung memanggil namamu, seperti orang gila ".


Nilam masih terpana, menengadah menatap sepasang mata kelam itu. Bibirnya bergetar merasakan sesak di dada yang tiba-tiba menyeruak.


" Tapi.... aku bertahan dengan keyakinan ucapan mu dan isi surat mu ".


" Surat ? ".


" Surat yang kau tinggalkan dilontarkan kita..... saat kau pergi. Aku baca tiap hari..... bahkan sampai sekarang "


" Benarkah ? '. Nilam tersenyum sambil menggeleng kecil tak percaya.


" *Elang....... kepak sayapmu begitu lebar, masih banyak yang harus kau tempuh. Berjanjilah satu hal padaku, jangan pernah berhenti terbang. Hujan dan topan tak bermaksud menghadang. Merekapun hanya menjalankan fitrahnya. Kelak ada saatnya engkau akan memahami.


Elang.... lihat lah cakrawala itu, yakinlah aku bukan cakrawala. Aku hanya seseorang yang sangat mencintai mu.


Kelak kau akan mengerti. Saat ini cukup lah kau yakin, aku tak pernah berhenti mencintai mu .


Maafkan kepergian ku..... seandainya aku punya kekuatan untuk terbang bersamamu. Biarkanlah Elang.... cinta ini rindu ini kubawa bersama kepak sayap mu*".


Nilam kembali menutup mulutnya yang ternganga tidak percaya. Rayhan baru saja menyelesaikan kalimat terakhir dari surat yang ditulis enam tahun yang lalu. Air matanya menggenang, tak bisa lagi ditahan.


" Kita ..... sama-sama terluka, sama-sama bertahan.... sama-sama saling mencinta. Nilam..... maafkanlah ibuku, maafkanlah semua salahnya "


" Kau...... sudah tahu ? ", Nilam bertanya bersamaan dengan luruhnya dua bulir air bening dari sudut matanya.


" Ya....... ", Rayhan menghembuskan nafasnya terasa berat. " Aku sudah tahu semuanya... dan mencoba berdamai... dengan memahami secara relevan. Perasaanmu ... perasaan ibu ku. Aku yakin.... cinta itu tidak untuk menyakiti, tapi akan mempersatukan.... hanya saja butuh waktu dan kesabaran ".

__ADS_1


Tanpa suara, Nilam mengiyakan. Dia menangguk perlahan. Sudah cukup untuk membuat Rayhan semakin memahami kelembutan hati istrinya. Hingga kemudian malam mengeratkan pelukan keduanya. Gerimis seperti ritme yang menuntun kedua insan itu untuk kembali menjalin yang pernah terurai, memperbaiki yang pernah terkoyak.


Biarlah ..... cukup hati yang mengerti, tak perlu kau katakan lagi. Aku mencintaimu .....


__ADS_2