
Dan kendaraan itupun melaju menembus rintik-rintik di malam musim semi yang hangat dan basah. Membawa sepasang hati yang bergelora. Menjanjikan kesempatan keduanya, mempertegas sebuah ikatan, memperbaiki sebuah cela dan berharap merajut keabadian.
Lihatlah bagaimana takdir cinta itu seperti bermain, namun ia hanya menurut pada perintah Sang Maha Daya Cinta.
Saat Nilam meminta Rayhan untuk tetap menunggu di jalan tepat di luar pagar. Pria itu mengernyitkan keningnya. Seolah ia sedang mencari sebuah korelasi yang menerangkan semua kejadian ini. Ia tak menuruti permintaan Nilam. Dengan mengambil jeda, diikutinya Nilam masuk kedalam rumah itu perlahan.
" Selamat malam tuan & nyonya Salman ... Assalamualaikum ", sapa Rayhan.
Tidak hanya Nilam yang terperanjat kaget, begitu juga dengan sepasang suami istri itu. Nilam menatap dokter Salman bergantian menuntut penjelasan.
" Aku melihat Nilam menunggu bus..... Oh ya, dia adalah istriku & masih tetap istriku ". Kata-kata Rayhan memecah kesunyian.
" Ah.... duduklah dulu. Kita harus sedikit berbincang bukan ? .... biar tidak ada lagi penasaran ". Aisyah kembali menjadi jembatan penyelamat bagi situasi canggung seperti ini.
Nilam terlambat untuk beringsut menjauh dari samping Rayhan saat duduk di sofa panjang. Dengan posesif, pria itu merangkul pundak istrinya. Wajah Nilam tertunduk, pias merah jambu tersemburat seperti pendaran rasa malu seorang gadis. Semuanya tak luput dari tatapan pasangan suami-isteri Salman. Seperti memergoki anak gadisnya sendiri saat berkencan.
" So .. ", pinta dokter Salman akhirnya.
" Pasti ini bukan suatu kebetulan..... dr. Salman dengan sangat baik menawariku menginap di rumahnya. Dan ternyata ... Nilam istriku berhubungan baik juga dengan keluarga ini ", Rayhan membuka pembicaraan.
" Tuhan begitu indah mengatur nya bukan? ", Aisyah menimpali.
" Ya.... saya sangat bersyukur dapat menemukan istri ku kembali ... yang ternyata tinggal di .... ", perkataan Rayhan menganbang. Dia teringat bahwa tadi Nilam memintanya mengantarkan kesuatu tempat untuk mengambil sesuatu dulu
" Neel.... kau belum bilang?", Aisyah kembali menyelidik.
Mendengar pertanyaan Aisyah, Rayhan menatap Nilam tidak dimengerti. Sementara Nilam menarik nafaa panjang sesaat sebelum mulai burtutur.
__ADS_1
" Keluarga dr.Salman .... juga sangat baik padaku. Memberikan tempat tinggal yang sangat hangat dan menyenangkan dengan sewa ... yang sangat murah. Letaknya diujung jalan ini. Aku mampir kemari .... karena ada yang harus ku ambil. Apakah ada di kamar, nyonya ? ".
Nilam mengalihkan pandangannya pada Aisyah. Yang kemudian di balas dengan anggukan. Tanpa berkata-kata lagi Nilam beranjak melangkah dibelakang Aisah yang berisyarat memintanya mengikuti.
Sementara itu dengan gerakan tangan, dokter Salman meminta Rayhan untuk tetap diam. Rayhan pun menurut. Di kekangnya selaksa rasa penasaran dihati. Menatap pria paruh baya itu dengan tuntutan penjelasan.
" Aku tidak tau' harus memulai dari mana nyonya .... ", desah Nilam resah saat Aisyah membuka pintu sebuah kamar
" Tenanglah.... lihat bagaimana Tuhan mengatur pertemuan kembali kalian berdua ", hibur Aisyah.
Di dalam kamar itu diatas ranjang yang luas dan hangat, terbaring bocah laki-laki dengan nyaman. Nafasnya teratur membuat diafragma nya turun naik dengan lembut. Lihat betapa menggemaskannya saat tertidur. Serupa malaikat yang terlelap diawan
" Katakan saja apa adanya..... biarkan hati yang jadi penentu ", sambung Aisyah.
Nilam mendekati tubuh sang anak, membelai gundukan pipinya lalu menciumnya lembut.
Sementara itu di ruang tamu.....
Rayhan terkesiap, terkejut..... membuat tubuhnya yang gagah menjulang terhempas. Perkataan dokter Salman bagai pukulan telak di ulu hatinya.
" Seorang anak laki-laki yang dilahirkannya .... lima tahun yang lalu "
Rayhan menutup wajahnya menggunakan kedua belah telapak tangan. Iapun menunduk dalam dengan wajah tetap tertutup. Hingga kemudian nampak kedua bahunya berguncang. Sebagai pria ia merasa sungguh bodoh dan sangat kecewa dengan ketidakmampuannya. Sedih, marah, kecewa yang terbungkus dalam rasa bersalah dan cinta. Bagaimana mendefinisikannya???.... cukuplah dengan melihat seorang pria yang tengah kerepotan mengatur nafas untuk menghentikan tangisnya sendiri.
Beruntung.... saat Rayhan sudah kembali dapat menguasai keadaan diri dan hatinya sendiri. Saat itulah Aisyah berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu. Tapi yang menjadi fokus Rayhan adalah wanita dibelakangnya. Nilam turun perlahan dengan beban bocah yang tengah terlelap dipundaknya. Tubuh mungil wanita itu nampak sedikit kewalahan menjaga badan si anak agar tetap nyaman tertidur.
Seperti sebuah slide yang diputar perlahan, fragmen itu mampu membius Rayhan. Membuat nya tak berkedip menikmati setiap moment yang tersaji memanjakan pengelihatannya. Ia berdiri .... namun tak kuasa melangkah menyongsong keduanya.
__ADS_1
" Mommy.... hmm", igau sang bocah sambil menutup matanya kembali saat merasakan dekapan dan aroma kasih sayang yang begitu familiar.
" Sssh.... ya, kita pulang ya Alend ", bisik ibunya lembut dengan luapan cinta yang mendalam. Tepukan-tepukan berirama menenangkan di punggung sang bocah, membuatnya kembali terbuai dalam mimpi.
Nilam mengalihkan pandangannya pada Rayhan. Menatap langsung pada sepasang mata kelam yang kini nampak sedikit basah. Ia mencoba tersenyum sebelum berdiri tepat dihadapan Rayhan.... hanya berjarak beberapa langkah saja.
Suasana tiba-tiba saja menjadi hening.......
" Pulanglah...... dia sudah menunggu mu dari tadi Neel ", suara dr. Salman memecah senyap
" Ini.... obatmu tn.Rayhan... jangan sampai lupa ", tiba-tiba saja Aisyah sudah siap dengan kantong obat Rayhan.
" Ah ya ..... terima kasih ", Rayhan tergeragap.
" Terima kasih dokter ..... nyonya.... Maaf selalu merepotkan kalian. Kami pulang dulu ".
Dokter Salman dan istrinya mengangguk kompak. Lalu berjalan mengantarkan keluarga kecil itu sampai di depan teras rumah mereka. Pria paruh baya itu merangkul pundak sang istri saat keduanya melambaikan tangan pada mobil yang membawa ketiga anak beranak itu.
" Bukankah cinta itu .... tidak bisa diingkari. Lihat sepasang mata keduanya..... mereka saling merindukan ", ucap Aisyah saat mobil itu sudah tak nampak lagi
" Tapi ..... masih banyak yang belum kita tahu tentang keluarga itu ya.... ", ucap Aisyah lagi.
" Biarkanlah dulu mereka menikmati penyatuan keluarga..... akan ada saatnya nanti mereka akan bercerita ", balas dokter Salman
Dan Aisyah mengangguk menyetujui ucapan sang suami. Sebelum dia membalas dengan memeluk pinggang pria yang sudah lebih dari tiga dasawarsa menjaga hidupnya.
Sementara malam.... mulai merangkak dalam sejuk dan basahnya musim semi.
__ADS_1