
USG 4D atau ultrasonografi empat dimensi, biasanya dilakukan pada ibu hamil dengan usia kandungan 26 sampai dengan 30 minggu. Untuk melihat tampilan pencitraan empat dimensi pada janin sehingga kita bisa melihat moment-moment luar biasa, seperti saat mahluk tersayang itu menendang, menguap bahkan memasukkan jempolnya kemulut dan mulai belajar menghisap. Bagi Nilam hal ini pun masih sangat menjadi hal yang luar biasa, walaupun dulu sudah pernah dialaminya saat mengandung Syailendra.
Dan lihatlah bagaimana ekspresi Rayhan .... ia seolah tak berkedip menatap layar yang memampangkan nuansa coklat keemasan yang perlahan membentuk seraut wajah dan tubuh. Sarah sang kakak yang juga adalah dokter spesialis kandungan bahkan sampai tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi adiknya itu. Sementara dokter Kamal yang sedang melakukan tindakan USG pada kedua cucu kembarnya tidak terusik sama sekali dengan tingkah anak-anaknya. Ia justru menatap sang menantu dengan seulas senyum bangga.
" Okey.... ini satu cucu yang masih tidak mau memperlihatkan kemaluannya..... dan ini.... satu cucu yang lain ..... ". Pria paruh baya itu menggeser pencitraannya dan membuat layar monitor menampakkan sosok mungil yang lain. " Dan yang ini.... juga masih malu-malu ".
" Maksudnya pah? ", Rayhan bertanya bingung.
" Bayi-bayi ... tidak semua saat di USG ada pada posisi yang memperlihatkan jenis kelaminnya.... so, kita tidak tahu ".
" Dulu Alend pun begitu ... Pah. Tapi aku yakin dia laki-laki. Kalau yang sekarang ini.... aku tidak tahu.... biarlah jadi surprise, yang penting lahir dengan sehat dan selamat ... ", sahut Nilam.
" Iya... sehat, selamat .... ibu dan juga bayi-bayinya ya... ", sambung Rayhan yang segera di amin kan oleh semua orang yang ada di ruangan itu.
Kali ini ruang praktek spesialis obgyn dipenuhi oleh keluarga dokter Kamal. Ada istrinya yang sibuk menanggapi celoteh cucu ganteng yang sedang getol-getolnya belajar bahasa Indonesia. Ibu dan Ayah bayi kembar yang baru saja diintip dengan salah satu teknologi canggih abad ini. Juga seorang tante yang tak kalah antusias.
" Dek....kau mau per-vaginal atau SC saja?", tanya Sarah pada Nilam.
" Aku... tidak ada riwayat penyulit dalam kelahiran dulu... kalau memang aman dan mungkinkan.... sepertinya per-vaginal saja ya ", jawab Nilam.
" Dua loh sayang.... kamu bisa tahan rasa sakitnya ?", nada suara Rayhan menyiratkan ke khawatiran.
" Akan lebih cepat proses penyembuhannya kalau melahirkan normal sayang..... doakan ya ", Nilam menatap lembut suaminya.
" Pasti... dan aku akan menemanimu ", kata Rayhan mantap.
" Halah!!!!!!... kau kuat memangnya Hans?... ini proses melahirkan loh... ", goda Sarah.
" Iya... gaya tuh. Dulu sudah satu semester di kedokteran saja keluar... katanya nggak tahan kalau lihat darah... ".
" Mamah.... please deh ", Rayhan motong perkataan ibunya dengan nada protes. Dan mereka semua tertawa mendengarnya.
" Pah.... itu ... anu... amannya sampai kapan dan sesering apa... emhhh... aku boleh berkunjung... ke rumah twin? ".
Sungguh Nilam tiba-tiba saja merasa sangat malu mendengar pertanyaan suaminya yang tidak tahu diri itu. Ia mencubit dengan keras perut pria tampan itu. Tapi dada dan perut yang sudah terbentuk sedemikian kekar dengan olahraga itu, justru menyisakan rasa seperti gelitikan yang agak nyeri mengejutkan. Rayhan terlonjak sambil melontarkan cengiran tak tahu dirinya.
__ADS_1
" Dasar !!!!... mesum!!!... ", sahut Sarah cepat. " Tuh lihat !!... muka Nilam sampai merah padam seperti udang rebus ".
" Emmhh.... boleh satu minggu sekali.... main aman dan pastikan tidak memicu kontraksi. Nilam pasti paham ... ", dokter Kamal menjawab dengan cukup santai dan bijaksana.
" Hans.... saat istri sedang hamil, suami juga harus prihatin... puasa sampai selesai masa nifas .... tuh, tanya papah mu ", nyonya Kamal menyela. " Kasihan istrimu.... beban yang dibawanya double ... kamu harus bisa tahan ".
" Iya... iya ... mah. Aku pasti tahan... iya 'kan sayang ? ". Rayhan memberikan sebuah kecupan lembut penuh kasih sayang di kening dan pipi Nilam.
..................
Dalam keheningan malam yang baru saja hendak menggenapkan hari, Rayhan termenung dalam gelisah. Sesaat lalu ia menutup panggilan internasionalnya yang berasal dari Edward. Pria yang seorang CEO dan juga sahabat baiknya itu memohon dengan amat sangat, agar Rayhan bisa benar-benar membantunya kali ini.
Masih berkaitan dengan proses akuisisi sebuah perusahaan di Thailand dengan perusahaan milik CEO tampan berkebangsaan Inggris itu. Ia benar-benar meminta Rayhan untuk bisa mewakilinya mendampingi seluruh proses itu hingga selesai. Pria itu rupanya sudah telah benar-benar puas dengan kredibilitas dan kesigapan yang Rayhan yang tidak hanya piawai di bidang arsitektur dan planologi tetapi juga mahir di manajemen dan bisnis.
" Bro... maafkan aku, kali ini saja aku benar-benar memohon bantuan mu .... cuti panjang mu akan ku ganti... ya, bisa ya ".
Rayhan tidak serta merta menjawab permintaan Edward. Ia terdiam beberapa saat hingga pria dalam rentang panggilan di belahan benua lain sana mulai gelisah. Bahkan mungkin setengah putus asa, terdengar dari nada suaranya.
" Hans ... aku tahu kondisi istrimu saat ini. Jika sudah saatnya dia akan melahirkan ... pulanglah... Gerald akan tetap stay di sana sampai semua selesai....".
" Apa yang menghalangimu sebenarnya ?", Rayhan memotong dengan sebuah pertanyaan telak.
" Linzhi.... dia hamil.... tapi dia berusaha menggugurkannya ".
Yang terbayang oleh Rayhan adalah wanita tinggi langsing dengan body proporsional. Yang selalu menggonta-ganti warna dan model rambutnya, serta tak pernah lepas dari image seksi. Pesta dan belanja adalah urat nadi kehidupan wanita itu.
" Kau tahu.... aku begitu bahagia mendengar berita kehamilannya. Tapi dia marah besar padaku.... aku... aku ... sengaja tidak menggunakan pengaman beberapa kali... saat dia sedang mabuk. Aku.... aku sangat ingin menjadi seorang ayah..... seperti mu ".
Rayhan termenung dalam, ia bisa membayangkan bagaimana ekspresi Edward saat ini. Pria itu adalah seseorang yang berhati lembut dan sangat menyukai anak-anak. Hanya saja pergaulan yang kemudian menempatkan diri pria itu pada gaya hidup hedonis metropolis. Namun melihat bagaimana Rayhan yang begitu berbahagia dengan istri, anak dan juga bayi-bayi yang belum terlahir itu, rupanya telah mengembalikan kepribadian utama seorang Edward. Sayangnya tidak demikian dengan Linzhi Mc Philipe, sang kekasih yang sudah dua tahun ini tinggal bersama di apartemen mewahnya.
Tiba-tiba saja Rayhan merasa di hujani oleh anugerah yang maha dahsyat. Memiliki seorang istri yang sangat setia, tegar dan sangat mencintai anak-anaknya. Ia mengumandangkan rasa syukurnya dengan lantang dari lubuk hatinya terdalam.
" Baiklah.... aku akan membantu mu. Tapi saat Nilam membutuhkan ku... aku pulang!!! walaupun pekerjaan itu belum selesai ".
" *Terimakasih Hans..... aku berhutang budi ... sungguh ... sungguh ... pada mu ".
__ADS_1
" Baiklah... kapan aku harus menyusul Gerald? ".
" Lusa.... ".
" Apa?!!!!.... kau gila Ed* ".
Dan begitulah.... saat ini tertinggal Rayhan yang kebingungan mengatur cara menyampaikan semuanya pada Nilam. Ia menggaruk rambutnya dengan frustasi.... tapi mau bagaimana lagi, dia sudah menanggapinya dengan persetujuan. Yang kemudian dilakukannya adalah masuk kembali ke dalam kamar, menghampiri ranjang kecil tempat putra sulungnya terlelap. Lalu beralih pada ranjang besar dengan menampakkan sosok seorang wanita yang bergelung di bawah selimut dengan posisi miring sedemikian rupa berbantal berlapis-lapis.
Rayhan sungguh merasa sesak di dada setiap menyaksikan penderitaan Nilam yang tidak bisa tidur nyenyak setiap malam. Punggung yang pegal, betis yang terasa cekot-cekot dan juga posisi tidur yang luar biasa amazing. Tiga bantal ditumpuknya sehingga membuat posisi tidur wanita itu setengah duduk, dengan dua guling penyangga perut. Dan benda empuk panjang itu akan selalu mengikuti miring kemampuan Nilam.
Dengan perlahan Rayhan mendekati istrinya, namun ia menahan keinginannya untuk mencium dan membelai wajah cantik wanita itu. Ia menarik nafas panjang sambil merayap naik ke atas tempat tidur, menyebelahi Nilam.
" Mas Rey ..... siapa yang menelpon malam-malam ....".
Setengah mati Rayhan menahan pekik terkejutnya, ketika Nilam tiba-tiba saja bertanya masih dengan memejamkan mata.
" Ah... kau terbangun ya .... maaf ....", sesal Rayhan yang kemudian mendekatkan tubuhnya dan memeluk sang istri dengan hangat.
" Wanita hamil besar ..... mereka berteman malam..... dan mengantuk di siang hari. Hampir setiap jam sepanjang malam aku tahu ", suara Nilam terdengar sedikit serak. " Dari Inggris ya ..... sepertinya ".
" Ya..... Edward menelponku ".
" Kenapa ? ... boleh aku tahu ? ".
" Linzhi... pacar Edward hamil ".
" Lalu apa hubungannya dengan mu ", dan tiba-tiba suara Nilam berubah ketus.
Rayhan tersenyum mendengarnya. Walaupun masih tetap dengan memejamkan matanya, tapi gurat tidak suka itu tidak dapat tersembunyi dari raut wajah Nilam. Sebuah kecupan bertubi-tubi diberikan Rayhan pada kening, kedua kelopak mata dan juga bibir istrinya. Membuat Nilam sedikit melenguh dan semakin merapat pada dada suaminya. Tapi terhalang oleh guling dan juga perut besar.
" Wanita itu.... tidak menghendaki hamil..... dia .... bersikeras menggugurkan kandungannya ".
" Apa ?!!!!! ", dengan serta merta Nilam membuka kelopak matanya. " Ya Tuhan... ampunilah .... lalu Edward ?".
" Edward ..... dia berusaha sekuat tenaga dan segala cara mempertahankannya.... Ed, sangat bahagia .... begitu tahu Linzhi positif ".
__ADS_1
" Mas Rey...... ", Nilam menatap wajah Rayhan lembut penuh permohonan. " Bantu Edward.... agar bisa menimang anaknya .... ya !".
Mungkin inilah yang dirasakan para musafir saat menemukan lagi kompasnya atau saat bisa menatap rasi bintang utara. Saat dalam kebingungan dan kebuntuan pikiran, tiba-tiba saja jawaban itu muncul begitu saja seperti sebuah keajaiban.