Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
Restu. 2


__ADS_3

Rayhan terbangun karena suara notifikasi pengingat di ponselnya. Benda pipih persegi diatas nakas tempat tidur itu diraihnya. Sesaat ditatapnya.... pengingat: jadwal konsul dengan psikiater, besok sore jam enam. Keningnya berkerut, menampakan usaha kerasnya merangkai peristiwa dan memadukan dengan kondisi kesehatan psikisnya dahulu dan terkini.


Perlahan Rayhan bangkit dari tidurnya, meninggalkan ranjang sesenyap mungkin untuk menjaga kenyamanan dua jiwa lain yang masih terlelap nyaman. Ia melangkah menuju meja dan kemudian membuka lacinya, mendapati botol plastik kecil berisi tablet-tablet berwarna putih. Digenggamnya wadah itu erat, lalu diletakkan kembali dengan senyuman dan wajah yang nampak lega.


Kemudian dia meraih ponselnya, lalu mulai mengirim pesan pada sebuah nomer kontak.


" Selamat malam dokter Nathan.... saat ini aku dalam kondisi terbangun karena notifikasi pengingat janji temuku dengan mu esok sore. Tidak seperti biasanya, masih terjaga karena insomnia parah itu. Dan sudah hampir satu minggu ini, aku bisa menikmati tidur yang nyenyak tanpa meminum obat itu. Kurasa aku telah benar-benar sembuh, dokter.


Terimakasih banyak atas bantuan mu selama ini. Aku akan tetap datang sore nanti untuk memastikan segalanya, dan tentu saja mengucapkan terimakasih padamu secara pribadi "


Rayhan tersenyum, ia merasa sangat beruntung. Insomnia parah yang dideritanya sejak empat tahun lalu dapat sembuh seketika hanya dalam hitungan hari. Ia yakin, semua karena kehadiran dua orang yang sangat dicintainya. Istri yang telah lama dicarinya, yang tiba-tiba saja ditemukan kembali. Dilengkapi dengan kehadiran buah hati yang sangat membahagiakannya.


Dahulu, rasa sedih, rasa khawatir, rasa bersalah yang begitu besar serta rasa rindu yang menggebu-gebu begitu menyiksanya. Membuat ia selalu melalui sepanjang malam hingga fajar menjelang. Malam yang dilaluinya dengan sangat pedih, sepertinya sudah benar-benar terhapus kini.


Rayhan kembali tersenyum sambil tak melepaskan pandangannya dari sosok Nilam yang tertidur damai. Ia teringat malam pertama yang mereka lalui bersama setelah enam tahun tak bersentuhan. Saat itu Nilam menahan dadanya dengan kepalan kedua tangan. Wanita itu menunduk setengah menyurugkan wajahnya yang pias dan merona kedada Rayhan.


" Aku takut ... ", suara Nilam tertahan dan sedikit gemetar.


" Kenapa? ... tidak akan sakit lagi seperti saat pertama dulu ", Rayhan tersenyum geli dengan sikap sang istri.


" Iya... tapi aku malu ", ralat Nilam buru-buru.


Masih dengan senyum geli yang ditahannya untuk tidak menjadi tawa, Rayhan mengeratkan pelukan pada Nilam. Dengan mudah tubuh mungil itu tenggelam dalam lingkupan kedua lengannya yang kekar dan hangat. Tidak berubah, inilah wanita lembut dan menggemaskan yang sangat dicintainya.


" Seperti anak perawan saja.... tapi aku suka ", bisik Rayhan seraya menggigit kecil cuping telinga Nilam.


" Di... di kamar sebelah saja, jangan sampai Alend terbangun ", pinta Nilam segera dengan nafas yang mulai memburu karena hasrat yang sukses terpancing oleh sentuhan Rayhan.

__ADS_1


Dan hal yang samapun masih terulang lagi. Nilam masih malu-malu dan terlihat tidak membebaskan perasaannya. Walaupun Rayhan sudah berusaha mengkondisikan semuanya sekondusif mungkin. Termasuk memastikan Alend sudah tertidur pulas. Dan membawa Nilam di kamar kedua di apartemennya. Tapi Nilam masih saja kelihatan sedikit gelisah.


" Kenapa ? ada apa ? ". Rayhan bertanya sambil membaringkan Nilam tanpa melepaskan kontak netra dengan sepasang telaga tersaput mendung yang selalu berhasil menyesatkannya.


" ..... ", hening tanpa jawaban dari Nilam. Hanya sebuah sentuhan lembut dengan jemari tangannya yang lembut sebagai jawaban.


Perlahan menyusuri garis maskulin di wajah Rayhan. Membawa pria itu terpejam sesaat merasakan desiran hangat yang memantik hasratnya. Hingga ketika sentuhan itu semakin dalam dan spesifik menyentuh dada bidangnya yang telah terbuka.... Rayhan mendesah. Namun sekejap kemudian Rayhan dikejutkan dengan sesuatu yang tak pernah diduganya.....


" Aku.... jangan hamil ..... dulu ".


" Apa??", Rayhan begitu terkejut. Kabut gairah disepasang matanya seolah sirna.


" Jangan.... jangan hamil dulu sebelum semuanya pasti..... kita. Emh... sebelum ada restu ". Sepasang kristal kelabu itu mulai nampak berair, Nilam menahan air matanya.


Rayhan seperti terbangun dari keterkejutannya. Hatinya tiba-tiba teriris perih oleh rasa bersalah dan tidak berdaya. Wanita.... mereka butuh kepastian, perlindungan dan kasih sayang. Kesemuanya itu belum mampu Rayhan berikan pada Nilam selama ini.


" Ya... ", Rayhan menjawab dengan senyuman. " Tapi aku tidak ada kontrasepsi..... ku keluarkan diluar... ya ", bisiknya di telinga Nilam tanpa memberikan kesempatan wanita itu untuk mendebatnya.


Hingga akhirnya malam yang panas itu tak terjeda. Rayhan tetap membawa Nilam mengarungi lautan gairahnya yang membara. Membawa wanitanya melebur dalam hasrat yang tak tertahan. Hanya beberapa saat keduanya beristirahat sesaat setelah pelepasan gejolaknya. Kemudian memulainya dari awal ... mendaki bersama meraih puncak kenikmatan.


" Rey.... sudah ya..... kita tidur sekarang ", pinta Nilam sambil mengenakan kemeja milik Rayhan yang nampak seperti mini dress untuk nya.


Rayhan mengangguk sambil menarik tangan Nilam. Membuat wanita itu kembali jatuh terduduk dalam pangkuannya.


" Rey... ", tepisnya perlahan.


" Tidaaak... aku cuma mau bilang... kamu sangat cantik dan sexy dengan pakaian ini ".

__ADS_1


Dan Nilam mengacak-acak rambut suaminya, bermaksud menyembunyikan semburat merah yang menjalar di pipinya..... malu. Rayhan tertawa usil melihat hal itu. Sungguh menggemaskan wanita ini, gumam hatinya.


Rayhan kembali tersenyum mengingat kejadian yang baru saja dilaluinya. Ia menatap Nilam yang masih terlelap dengan damai..... lama. Kemudian dia memutuskan untuk melangkah ke luar menuju ruang tengah apartemennya. Sambil membuka layar ponselnya, dan mengirim foto-foto Syailendra serta Nilam dan juga foto mereka bertiga ... pada group keluarganya. Keluarga dokter Kamal Zachary.


Saat ini di London pukul dua dini hari, yang artinya pukul sembilan siang di Indonesia. Jam sibuk ..... sehingga tidak ada yang merespon kirimannya di WhatsApp group. Hingga kemudian, Rayhan memutuskan melakukan video call melalui WAG. Dan berhasil....


" Nggak ada kerjaan ya kak ... ", suara gadis manis dengan wajah bersungut-sungut. Dia Anggita, adik Rayhan


" Ada apa ? Kakak mau operasi sama papa ", sahut wanita lain yang terlihat sibuk mengenakan masker, dialah dokter Sarah kakak Rayhan. Disebelahnya nampak sosok dokter Kamal ayah Rayhan, yang kemudian melambai pada putranya.


" Ada hal penting apa nak?", tanya wanita cantik nan elegan yang terlihat sedang berada di dalam mobil. Dia adalah nyonya Kamal, ibunda Rayhan.


" Okay.... perhatikan semuanya. Hanya satu menit.... Setelah ini, lihat kiriman foto di group. Aku undang kalian semua delap hari lagi ke acara wisuda S2 ku. Harus datang.... luangkan waktu untuk ku... sehari saja. Sudah kusiapkan reservasi penginapan untuk semua. Pokoknya harus datang... okay... bye ... ". Dan tanpa menunggu jawaban dari semuanya, Rayhan segera mengakhiri panggilan itu.


Rayhan menarik nafas lega saat mengakhiri panggilan nya. Sengaja ia tidak menyinggung tentang anak dan istri yang baru saja bersamanya kembali. Karena ia telah menuliskannya panjang lebar beserta kiriman foto-foto tentang mereka.


Namanya Syailendra Thoriq Zachary, usia lima tahun. Dia anakku..... anak yang kutemukan kembali bersama ibunya.


Caption Rayhan pada foto-foto Alend yang nampak ceria dan tertawa lepas. Ada juga foto dengannya, memperlihatkan kemiripan yang sangat dominan. Hanya berbeda pada warna sepasang mata keduanya. Karena Alend mewarisi warna abu-abu seperti senja dalam hujan milik ibunya.


Wanita ini adalah bidadari surgaku... kutemukan kembali karena doa tiada henti. Tidak ada yang berubah dengan cintanya. Dia bertahan untuk ku.


Dan itu adalah caption untuk foto Nilam yang nampak sangat cantik dengan gaun merah maroon nya saat ulang tahun Syailendra. Candid camera .


Keluarga ...


Caption terakhir untuk foto Rayhan sendiri yang memeluk erat Nilam yang tengah menggendong Alend.

__ADS_1


' Kami mohon restuilah '


__ADS_2