RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 10


__ADS_3

Rumah Dayona,


Dayona tersentak mendengar suara gaduh dari kamar kedua orang tuanya.


Disusul bunyi barang pecah belah yang pecah.


Dayona berlari untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Dibukanya pintu kamar orang tuanya. Dan menjadi terkejut karena dia melihat kamar papa mamanya sudah seperti kapal pecah.


Lebih terkejut lagi saat melihat papa-nya terduduk di tempat tidur dengan kepala dan tangan yang berdarah - darah.


Tampak mamanya baru keluar dari kamar ganti dengan membawa dua koper besar.


Dayona mematung bingung. Tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Ma, Papa kenapa?" teriak Dayona pada mamanya. Mama mendekatinya dan memeluk Dayona erat.


"Ikut Mama, Nak, kemasi barangmu dan pergi, sekarang!" Mama berkata lembut sambil menggandeng tangannya.


"Kita mau kemana, Ma? Papa kenapa? Kita obati Papa dulu kan, Ma?" Dayona melepaskan tangannya dan berjalan menghampiri papanya.


"Dayona! Kalau kamu tidak ikut Mama sekarang ... Mama akan pergi untuk selamanya!" teriak Mama histeris.


Dayona membalikkan badannya, menatap mamanya tajam. Tidak mengerti dengan jalan pikiran mamanya, bagaimana bisa meninggalkan rumah dengan keadaan seperti ini, apalagi Papa sedang terluka.


"Pergi saja, Ma, kalau itu yang Mama mau!!!!!" katanya dengan emosi yang membuncah. Emosi karena kecewa dengan sikap mamanya.


"Pa, Ayo ke Rumah Sakit, Pa ..." Papa terkulai lemah saat Dayona mulai memapah untuk dibawa ke mobil. Mobil Mama sudah melaju kencang meninggalkan rumah mereka. Dayona tidak pedulikan itu, sekarang yang harus dia lakukan adalah membawa Papa ke Rumah Sakit terdekat.


Hari itu, pertama kalinya Dayona menyetir mobil sendiri di usianya yang baru 16 tahun, 1 SMA.


Semenjak malam itu, rumah jadi sangat sepi. Mama pergi entah kemana. Dayona - pun enggan untuk mencari keberadaannya. Sudah terlalu lelah dengan pertengkaran kedua orang tuanya.


Papa, yang biasanya akan menemaninya duduk di ruang keluarga, menceritakan lelucon - lelucon absurd yang membuat Edward harus ikut tertawa hanya karena sungkan. Dan setelah puas tertawa, Papa akan mengambil gitar dan mulai memainkan lagu - lagu nostalgia.


Suasana itu sudah tidak ada lagi. Luka Papa memang tidak serius, hanya goresan kecil di dahi akibat lontaran serpihan kaca meja rias yang dipukulnya, itulah mengapa malam itu tangan Papa juga berdarah. Namun kondisi psikologisnyalah yang lebih menguatirkan. Sehari - hari Papa hanya menghabiskan waktu di kamar. Tak bicara sepatah katapun. Menatap kosong dengan raut menyedihkan.


"Makan dulu, Pa!" kata Dayona sambil menepuk pundak papanya pelan. Diberikannya piring yang berisi nasi goreng kesukaan Papa.


"Tadi Dana beli di Kang Aji, Pa, dia titip salam buat Papa, nanyain Papa, kenapa sekarang jarang mampir kesana,"


"Dan, tidak nyusul Mamamu?" Papa mulai bicara.


"Dana disini saja sama Papa" sahut Dayona.


Papa tersenyum, "Makasih ya, Nak".


Kembali suasana hening, hanya ada bunyi kunyahan Papa pelan. Papa makan nyaris tanpa suara. Dayona mengamati Papa -nya dengan hati iba. Tubuhnya semakin kurus, tak terurus.


Semangat kemudaannya kini telah sirna. Dalam ingatan Dayona, Papa adalah seorang pekerja keras sejak masa mudanya. Itu dilakukannya karena Papa berasal dari keluarga sederhana. Kehidupan Papa baru membaik sejak bertemu dengan Mama, pengusaha sukses di bidang Fashion. Pernikahan keduanya sempat ditentang keluarga besar Mama, karena perbedaan status sosial dan ekonomi. Namun, cintalah yang menyatukan mereka. Kenang Papa pada suatu siang.


Akhirnya, mereka menikah tanpa restu orang tua atau Kakek dan Nenek.


Setelah menikah Papa ditempatkan Mama di Kantor Cabang Perusahaan di pinggiran kota, sementara Mama memegang Kantor Pusat.


------------------


Hari itu, hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh Dayona.


Saat kondisi Papa semakin menurun karena depresi, akhirnya ia memutuskan untuk mencari Mamanya. Dayona berpikir, kehadiran Mama pasti mampu membangkitkan kembali semangat Papa.

__ADS_1


"Mbak Memey, Mama ada?" tanya Dayona kepada recepsionis kantor Mamanya.


"Eh, Mas Dana ... Lho, bukannya hari ini Ibu tidak masuk mas, kok mas Dana malah kesini?" tanyanya bingung.


"Oh, gitu ya mbak, soalnya Mama tidak pulang ke rumah, Mbak, dan nomornya tidak bisa dihubungi" bohongnya. Dayona hanya enggan menghubungi mamanya sejak malam itu.


"Kalau gitu, ke apartemen Ibu saja, Mas, pasti beliau disana, soalnya tadi menyampaikan kalau sedang kurang enak badan, jadi bekerja dari rumah"


"Makasih ya, Mbak, saya pamit pulang".


Dayona meninggalkan lobby setelah berpamitan. Dia segera bergegas menuju apartemen keluarga mereka. Apartemen yang tidak jauh dari kantor Mamanya.


Dulu, Dayona sering menghabiskan waktu disana bersama kedua orang tuanya, sekedar untuk melepaskan kepenatan setelah lelah bekerja, kata mereka. Dan setelah sekian lama, Dayona menginjakkan kakinya lagi di tempat ini.


Setelah di depan pintu apartemen, Dayona berdiri sejenak dan menarik nafas panjang. Lalu dia menekan passcode yang dihafalnya dan pintu-pun terbuka.


Segera ia masuk dengan tujuan mencari mamanya. Suasana apartemen itu sepi, tidak tampak mamanya, baik di ruang tamu, keluarga maupun dapur. Satu-satunya tempat yang belum dijelajahinya adalah kamar yang tampak tertutup rapat.


Seperti kebiasaan di rumah, Dayona segera membuka pintu dengan menekan handle pintu, tanpa mengetuk lagi.


"Dana!!! Kenapa tidak mengetuk pintu dulu!!!" pekik mamanya saat melihat Dayona berdiri mematung di ambang pintu.


Dayona tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mama nampak sedang berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut di dekatnya, sedangkan ada seorang laki-laki berdiri membelakanginya sedang mengenakan celananya.


Dan saat laki-laki itu menoleh ke arahnya. Darah Dayona membeku.


Laki - laki itu Om Aldi. Alditira Gamaliel.


---------------------


Edward terus memandangi Kavana yang terus membuang muka.


"Masih marah?" Kavana memanyunkan bibirnya.


Kavana mengamati kado yang diberikan Edward untuknya. Dilihatnya sebuah bungkusan kecil dengan pita warna ungu, warna kesukaannya.


Sejak kapan Edward bisa melakukan hal - hal manis seperti ini.


"Boleh kubuka?"


Edward mengangguk.


Dengan hati - hati Kavana membuka sampul kado itu, setelah berhasil menyingkirkannya, didapatinyalah sebuah kotak kecil berwarna ungu juga.


Kavana mulai tersenyum. Hatinya berbunga - bunga.


"Apa ini?" ucapnya manja.


"Bukalah, Na!"


Kavana segera membukanya dan sebuah cincin dengan aksen batu permata warna ungu menyembul dari dalam kotak mungil itu.


"Edward, bagus banget ..." kata Kavana sambil menyematkan cincin itu di jari manis tangan kirinya.


"Makasih Ed, ini beneran bagus!" sebelum Edward menanggapi, Kavana sudah menghambur ke arahnya, memeluknya erat lalu mendaratkan kecupan di bibirnya.


Edward terkejut dengan perlakuan Kavana itu.


Ini kali pertama dia dipeluk dan dicium cewek, selain Mama dan Edna.


Ciuman pertama-nya adalah Kavana. Di usia 17 tahun.

__ADS_1


-------------------


Edna tidak tahu apa yang membawanya ke tempat ini. Baru kali ini dia pergi dengan membohongi kakaknya.


"Kak, aku mau pergi sama Betrik ke Toko Buku ya, nanti pulangnya diantar Betrik kok! Iya pasti diantar" katanya pada Edward di sambungan telepon saat bubaran sekolah tadi.


Rumah megah ini tampak lengang. Edna menekan bel sekali dan tampak seorang Bapak - bapak separuh baya tergopoh - gopoh membukakan pintu gerbang untuknya.


"Mau ketemu Mas ya , Mbak?" sapanya ramah saat mempersilahkan Edna masuk.


"Iya pak ... Kok tahu?"


"Kan sudah dikasih tahu Mas - nya, Mbak" jelasnya.


"Oh, iya ya" Edna merasa bloon, tentu saja karena itu.


"Tadi mas - nya pesan, supaya mbak langsung saja ke lantai 2, karena Mas ada di kamarnya, Mbak.... "


Edna mengangguk dan berterima kasih setelah ditunjukkan kamar yang harus dimasukinya.


Edna menaiki tangga sambil sesekali mengamati lukisan yang di pajang sepanjang dinding. Saking asyiknya, dia tidak menyadari ada seseorang yang sudah menyambutnya di ujung tangga.


"Abang, ngejutin aja!" Edna pura - pura kesal saat tiba - tiba ada yang menarik ujung rambutnya. Dia memasang muka cemberut.


"Makin cantik saja kalau kamu kayak gini Na, bikin gemes" satu cubitan gemas mendarat di pipi Edna, meninggalkan bekas merah disana.


"Iiiiih abang, sakit, tahuuuu!" dipukulnya lengan cowok itu.


"Sakit sih, tapi suka, kan??? godanya lagi.


"Coba sekarang aku gituin pasti sakit, sini!"


"Mau dong di gituin ..."


"Gituin apa?" Edna mikir.


"Eeh ... kan tadi kamu yang bilang mau gituin aku, kok sekarang malah kamu yang balik tanya?"


Edna memicingkan matanya dan mulai memahami kemana arah pembicaraan cowok di depannya itu.


"Awas ya kalau mikir yang aneh!!!!"


"Hahahahaha" tawa cowok itu keras karena kepolosan cewek yang ada hadapannya. "Masuk, yuk!"


Dituntunnya Edna masuk dalam kamarnya.


Kamar dengan tema maskulin, rapi dan bersih. Beberapa hiasan dinding bertemakan musik menghiasi kamar itu. Di sudut kamar, ada semacam studio musik mini, lengkap dengan bermacam - macam alat musik disana. Menandakan si empunya kamar sangat menyukai musik.


Tiba - tiba terdengar alunan musik mengalun pelan. Menggema di seluruh ruangan. Membuat suasana menjadi romantis.


Lalu dari arah belakang Edna merasakan cowok itu menghampirinya dan mulai melingkarkan tangan di pinggangnya, dengan dagu tepat berada di pundak Edna.


Edna terkejut dan berusaha melepaskan pelukan itu.


"Tidak apa - apa, Na, kita lakukan ini sebentar saja, aku sayang kamu, Na ..." bisik cowok itu tepat di telinga Edna. Membuat bulu kuduk Edna berdiri. Kemudian dengan lembut cowok itu menyibak rambut Edna dan menciumi tengkuknya.


Baru kali ini Edna merasakan sentuhan yang begitu lembut. Sentuhan yang memberinya kenyamanan. Dan tanpa sadar membawa tubuhnya berbalik menghadap pada cowoknya, pandangan mereka bertemu.


"Aku juga sayang kamu, Bang ..." balas Edna.


Dan perkataan itu disambut dengan ciuman hangat tepat di bibirnya.

__ADS_1


Ciuman pertama Edna, dengan pacar pertamanya di usia 15 tahun, kelas 3 SMP.


__ADS_2