RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 49


__ADS_3

Edna menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bang. Itu tidak akan pernah Edna lakukan!" tolak Edna tegas.


"Na, tapi ini, satu-satunya kesempatan kita, untuk dapat segera menikah." bujuk Dayona.


"Kalau menikah tapi tidak ada kebahagiaan, untuk apa, Bang? Dengan lari, pasti akan muncul masalah baru bagi kita. Edna tidak menginginkan pernikahan seperti ini." Edna memalingkan wajahnya. Tak ingin lagi menatap lelaki yang ada di depannya itu.


Rasa sayang seketika berubah jadi muak. Membuatnya mual ingin muntah.


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Na?" tanya Dayona putus asa.


"Selesaikan masalah Abang." jawab Edna pendek. Pandangannya masih menerawang keluar jendela.


"Tentu saja, Na. Bersediakah kamu menunggu? Karena Abang tidak tahu kapan urusan ini dapat selesai. Kami masih mencari keberadaan Fleta."


Edna kembali menatap Dayona. "Fleta?"


"Ya, orang yang menjebakku di kamar hotel itu." terang Dayona.


"Dia siapa? Kenapa dia melalukan itu?"


"Mantanku, Na." Jawaban itu sudah cukup untuk menjelaskan duduk permasalahan diantara mereka.


Edna menghembuskan nafas berat.


"Kamu percaya Abang kan, Na?" kali ini jemari Dayona tertaut di jari tangan Edna.


Edna mengangguk. Dia mencoba memberikan dukungan bagi papa baby-nya itu. Seberapapun besar marahnya kepada Dayona. Dia tetap ayah dari anak yang dikandungnya.


Sebuah pelukan mengakhiri pembicaraan mereka. Pelukan yang disertai dengan sejuta doa untuk masa depan mereka.


---------


Kavana memasuki Coffee Shop untuk menemui Gweni. Rasanya sudah lama dia tidak pergi kesana dan bertemu temannya itu.


"Gweni!" teriak Kavana sambil menghambur ke arah Gweni. Sebuah kecupan sudah berhasil didaratkannya pada kedua pipi chubby Gweni.


"Vana! Nyebelin, deh!" sungut Gweni sambil mengelap pipinya yang basah oleh kecupan Kavana.


"Kangen, tahu!"


"Aku juga kangen gila. Kamu, sih, lama banget tidak kesini. Kayak orang dipingit aja. Ngapain, sih, ngerem melulu?" cecar Gweni.


"Banyak banget yang terjadi, Gwen. Ntar aku ceritakan. Sekarang sebagai bukti cintaku padamu. Aku akan bantuin kamu kerja!" kata Kavana sambil merentangkan kedua tangannya.


"Memang kamu tidak kuliah?"


Kavana menggeleng. Bahkan dia sudah minta ijin kepada Edward untuk di Coffe Shop hari ini.


Menjelang siang, seorang cewek cantik masuk ke Coffee Shop itu. Seorang model terkenal dan anak seorang konglomerat. Semua orang mengenalnya sebagai Arhea. Kavana mengamati cewek itu tanpa berkedip.

__ADS_1


"Selamat datang di Coffee Gamaro!" sapa Gweni ramah.


"Siapkan meja untuk dua orang ya, Mbak."


Gweni mengangguk.


"Baik, Kak. Apakah ada permintaan khusus?"


"Aku mau tempat yang nyaman dan romantis." jawabnya Arhea.


"Kami segera siapkan, Kak. Mari bisa ikuti saya." Arhea mengikuti langkah Gweni dengan gemulai. Entah hanya perasaan Kavana saja atau itu benar adanya, sepertinya Arhea beberapa kali meliriknya dengan ekor matanya. Namun, hal itu diabaikannya.


Meja dipojok dengan design romantis menjadi pilihan Arhea. Setelah duduk manis disana, dia segera membolak-balikkan buku menu. Dan bertanya ini itu, kemudian memesan beberapa menu untuk disajikan pas jam makan siang, ketika tamunya sudah datang.


"Reservasi untuk berapa orang sih, Gwen?" tanya Kavana heran, setelah melihat begitu banyak menu yang dipesan.


"Dua orang, Va. Katanya mau lunch dengan orang spesial." kata Gweni sambil nyengir.


Tak berapa lama, mobil Hero masuk pelataran Coffee Shop. Hero muncul bersama Edward.


"Indah banget sih, pemandangan di Coffee Shop hari ini." kata Gweni sambil melongo.


Kavana yang memahami maksud Gweni terkekeh pelan. Tapi pandangannya tak lepas pada sosok Arhea yang sedang sibuk memainkan ponselnya.


Hero dan Edward masuk beriringan, sambil terus berbicara dengan serius.


Sapaan Kavana baru menyadarkan mereka berdua.


"Eh, kamu sudah disini?" Edward menoleh ke arah Kavana dan Gweni sambil tersenyum tipis.


Senyum itu membuat Gweni nyaris tersedak, yang kemudian ditertawakan oleh Kavana dan Hero.


"Hati-hati Gwen, bisa - bisa diabetes tu, kalau ngeliatin Edward terus!" ledek Hero.


Pipi Gweni memerah karena malu. "Ah, Mas Hero." katanya.


"Sudah ada yang reservasi?" tanya Edward mengalihkan pembicaraan.


"Arhea." tunjuk Kavana dengan ujung dagunya.


Edward hanya melirik sekilas. Model itu tengah duduk dengan anggun, sialnya tengah melihat ke arahnya. Mau tak mau tatapan mereka beradu. Senyum merekah dari wajah rupawan itu. Mau tidak mau, Edward membalas senyuman itu.


Edward segera menyudahi kontak itu dengan menganggukkan kepala. Dan segera mengajak Hero berlalu pergi. Hero mengikuti Edward dengan patuhnya.


Saat makan siang, Coffee Shop mulai ramai. Kavana, Gweni dan karyawan lain mulai disibukkan dengan melayani pelanggan.


Sampai akhirnya, seseorang yang ditunggu Arhea datang. Sesuai dugaan Kavana, orang itu adalah Dayona. Dayona melihat Kavana sepintas lalu saat melewatinya. Sikap dingin Dayona membuat Arhea bersorak kegirangan.


"Hai, Dan." sapa Arhea langsung menempelkan pipinya dipipi Dayona bagian kiri dan kanan bergantian.

__ADS_1


"Hai." jawab Dayona sambil menjatuhkan diri di kursi tepat di depan Arhea.


"Sebentar ya, aku akan memanggil pelayan untuk menyiapkan makan siang kita." kata Arhea beranjak meninggalkan Dayona sendirian. Pikiran Dayona sedang kalut. Wajah menariknya menjadi muram memikirkan perkataan apa yang akan disampaikannya kepada Arhea, untuk mengulur waktu.


"Atau ..." Tiba-tiba tercetus ide.


Segera dihubunginya Edward.


"Ed, kamu di Coffee Shop, kan? Aku juga sedang disini, di meja no. 13. Okay." Dayona menyudahi panggilannya. Sedikit kelegaan membuat wajahnya kembali bersinar.


Di Meja Kasir,


"Mbak, makanan kami sudah siap, kan? Tamu saya sudah datang. Bisa disajikan sekarang?" katanya pada Kavana yang sejak tadi memang di meja kasir.


"Baik, nanti pelayan kami akan segera mengantarkan." kata Kavana.


"Kenapa, Va?" tanya Gweni yang sudah ikut bergabung di meja kasir.


"Hidangkan makanan meja 13." jawab Kavana.


"Saya punya permintaan khusus, bolehkan?" tanya Arhea.


"Silahkan, Kak." jawab Gweni.


"Saya minta Mbak berdua ini yang mengantarkan pesanan ke meja saya." kata Arhea sambil memandang Gweni dan Kavana bergantian. Tatapan memerintah yang menyebalkan, bukan permintaan seperti ucapannya. Kavana mendengkus. Gweni segera menyikut lengan Kavana. Mengingatkan bahwa sekarang mereka sedang berhadapan dengan pelanggan.


"Dengan senang hati, Kak." Jawaban itu berhasil membuat Arhea berlalu dengan senyum sumringah.


Saat kembali ke mejanya, Arhea terkejut karena kini ada cowok tampan yang tadi dilihatnya memasuki Coffee Shop dan menghilang ke ruangan bertuliskan office, yang membuat Arhea meyakini sebagai pemilik Coffee Shop ini, tengah duduk di kursinya.


Melihat Arhea yang hanya berdiri dengan bingung, Dayona segera memperkenalkan Edward.


"Sorry, Rhe. Ini Edward pemilik Coffee Shop ini sekaligus kakak dari calon istriku." begitu Dayona memperkenalkan Edward.


"Oh, jadi kamu kakak dari Kavana?" tanya Arhea tanpa ditahan.


"Kamu kenal Kavana?" masih Dayona yang bertanya. Kali ini dengan tanda tanya.


"Calon istri kamu, kan? Kavana?" tanya Arhea lagi.


"Oh, saya memang Kakak Kavana, tetapi dia bukan calon istri Dayona. Calon istri dia, adik saya yang satunya. Edna." jawab Edward.


Duaaaaarrrrrr!!!!


"Jadi bukan Kavana?" batin Arhea. Jadi selama ini dia salah sangka dan salah sasaran. Dan Arhea mengutuki kebodohannya. Namun, itu tidak berlangsung lama. Karena sekarang, ada hal yang lebih penting. Mencari tahu segala sesuatu tentang Edna.


---------


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2