
Edward melajukan mobilnya bagai kesetanan. Di benaknya hanya ingin segera bertemu dengan Edna. Itu saja. Kavana yang duduk di bangku penumpang hanya bisa menahan nafas, setiap Edward membuat manuver untuk memangkas jarak dengan kendaraan di depannya. Obed terus memberikan instruksi jalan mana yang harus dipilih Edward untuk bisa cepat menuju tujuan mereka.
Kekuatiran membayangi perjalanan mereka. Keberadaan Dayona-lah yang menyebabkan kekuatiran itu muncul. Di pikiran mereka, Dayona adalah orang yang bisa melakukan apapun demi memenuhi keinginannya. Dia akan menghalalkan semua cara agar bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan kini, Edna ada bersamanya.
"Satu tanjakan lagi kita sampai, Ed." kata Obed yang melegakan Edward.
Sementara, pikiran Kavana berkecamuk. Memikirkan apa yang akan dikatakannya saat berhadapan dengan Dayona nanti.
Benar saja. Setelah tanjakan tinggi, resto yang dimaksud sudah terlihat. Hati Kavana semakin campur aduk. Obed tegang, menantikan apa yang sebentar terjadi. Dan Edward dalam diamnya sedang bersiasat untuk membawa Edna kembali secepatnya.
Dengan tergopoh-gopoh mereka segera masuk ke resto. Dan tibalah mereka di depan ruangan yang ditunjukkan oleh waitress di depan tadi. Langkah kaki mereka seketika berhenti saat terdengar ....
"Menikahlah denganku, Na!"
Dunia Kavana seakan berputar. Tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Kakinya serasa tanpa tulang. Lunglai. Tubuhnya yang lemas membuatnya terjatuh, bertumpu dengan lututnya. Air matanya mengalir deras.
"Dan!!!! Kamu!!!!!!!" teriak Kavana histeris.
Obed yang berdiri disamping Kavana sontak berusaha menahan berat tubuh Kavana yang jatuh tersungkur. Edward yang sudah dua langkah dari pintu, membalikkan badannya, bersegera untuk melihat apa yang terjadi dengan Kavana.
Sementara, Dayona yang tak menyangka akan kedatangan Kavana, berdiri dari duduknya karena kaget. Dan Edna, melihat kejadian itu dengan tatapan nanar.
"Na, pulang!" kata Edward sambil berjalan mendekati Edna. Setelah memastikan Kavana aman bersama Obed.
"Kak, Edna sedang bicara dengan Abang."
"Pulang, Na! Sekarang!" perintah Edward.
"Ed, aku mau menikahi Edna!" itu suara Dayona.
Dengan marah didekatinya Dayona, ditariknya kerah bajunya.
"******* kamu!!!!" kali ini pukulan Edward yang berbicara, namun mampu ditahan oleh Dayona.
"Aku mau menikahi Edna! Dia mengandung anakku!" kata Dayona yang balik mencengkeram pergelangan tangan Edward.
"Sudah Kak, sudah!" teriak Edna melerai keduanya. Suara yang selalu meluluhkan hati Edward, bagaimanapun marahnya dia. Lalu dia melepaskan Dayona dan memilih berjalan mendekati Edna dan menggandeng tangannya untuk diajak pergi.
"Kak, biarkan aku bicara dengan Abang. Edna mau, Kak. Harus!"
"Tidak ada yang perlu kamu bicarakan dengan dia, Na ... kamu sudah bilang ke kakak, kalau kamu mau melupakan dia, kan? Kamu mau membesarkan Jaden sama kakak. Ingat, Na!" kata Edward mengingatkan Edna.
Air mata Edna mengalir. Tiba-tiba tangisnya pecah. Edna ingat perkataannya itu, tapi hatinya berkata lain. Edward berteriak frustasi, bingung menghadapi Edna dan situasi yang dihadapinya.
__ADS_1
"Na, Dayona juga punya janji dengan Kavana!!!!" akhirnya kalimat itu terucap dari mulut Edward. Kalimat yang pasti akan melukai Edna.
Raungan Edna menggema di ruangan itu. Raungan sakit dari hatinya, memahami maksud perkataan Edward. Sementara Kavana yang terduduk di lantai juga sedang menangis pilu. Edward nyaris gila.
Sementara Dayona, berdiri dengan dilema raksasa. Kesalahan yang dilakukannya telah membawanya ke sebuah titik, dimana dia tidak tahu harus berkata dan berbuat apa.
----------
"Ed, aku mau memperbaiki." kata Dayona saat mereka sudah berdiri berhadapan.
"Bagaimana caramu memperbaiki? Menikahi Edna dan meninggalkan Kavana? Kamu gila!!!!!" kata Edward geram.
"Tapi bayi itu, anakku." kata Dayona lagi
"Kemana saja kamu selama ini? Kenapa baru sekarang?"
"Aku harus melewati lembah bayang-bayang maut, menghadapi kematian, sehingga menemukan kesadaran kalau aku salah, Ed" ungkap Dayona.
Edward memicingkan mata tak percaya.
"Lalu bagaimana dengan Kavana? Akan kamu campakkan begitu saja?"
"Aku tahu kamu masih cinta sama Dia. Apa susahnya kalau kamu yang ambil dia?" kata Dayona enteng.
"Sinting!!!!" umpat Edward. "Kavana itu bukan barang, yang bisa seenaknya kamu ambil dan buang!
Setelah peristiwa berdarah yang mereka alami, baru kali ini mereka bicara. Pembicaraan yang terpaksa dilakukan. Pembicaraan yang bagi Edward tidak masuk akal, karena Dayona hanya bertumpu pada satu alasan saja. Anak di kandungan Edna.
"Apa kamu cinta Edna, Dan?" tanya Edward akhirnya.
Tidak ada jawaban. Laki-laki didepannya itu justru membuang muka, memandang keluar jendela. Tak berani membalas tatapan tajam yang diarahkan kepadanya.
"Percuma juga aku bertanya, karena aku sudah tahu jawabannya." kata Edward sambil beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Dayona yang hanya diam saja.
---------
"Edna tidak pernah menyangka ...." kata Edna memulai pembicaraan. Kavana di depannya, tertunduk lesu.
"Maaf, Na ... Maaf." hanya kalimat itu yang menggantung di udara.
"Edna tidak tahu, Kak. Harus bersikap seperti apa kepada Kakak." kata Edna lagi.
"Menikahlah dengan Dayona, Na!" kata Kavana lirih.
__ADS_1
Edna meradang.
"Memang siapa kamu? Berani nyuruh-nyuruh aku! Aku mau menikah atau tidak, itu bukan karena kamu! Ingat itu, bukan atas persetujuan kamu atau siapapun!" katanya emosi.
"Na, bukan itu maksudku! Aku hanya mau kasih tahu kamu, jangan karena aku, kamu jadi ..."
"Cukup, Kak! Aku tidak butuh!" sela Edna cepat.
"Dengarkan Aku dulu, Na?"
"Edna bilang cukup, Kak! Edna tidak mau dengar lagi."
Kavana menyerah, dia hanya bisa pasrah. Saat Edna beranjak pergi. Dilangkahkannya kakinya, mencari sosok yang menjadi tokoh utama dalam keruwetan ini.
"Dan ...."
Tanpa menoleh, Dayona sudah tahu siapa yang datang.
"Kemana saja, kamu?" tanya Dayona.
"Aku tinggal di rumah Edward." jawab Kavana.
"Wow ... jadi karena ini, kamu ninggalin aku?" sindir Dayona tajam.
"Diantara kita tidak ada siapa yang meninggalkan siapa, Dan, karena sejak awal tidak ada yang benar-benar bersama."
"Oh, jadi sekarang kamu, berpikir apa yang sudah kita lakukan itu tidak ada artinya?" tanya Dayona panas.
Kavana terhenyak, "Dan, bukankah kamu yang selama ini menganggap bahwa diantara kita tidak berarti apa-apa? Kamu yang tidak pernah memberikan kejelasan!"
Dayona kelu. Dia terjebak dalam permainannya sendiri. Dia seperti sedang berjalan dalam labirin. Mencoba mencari jalan keluar, namun sangat sulit. Dia tidak memahami hatinya. Kenapa dia begitu ingin bersama Edna, namun tidak rela melepaskan Kavana.
Obed mendengar semua pembicaraan itu. Dia menghela nafas berat. Dari tempatnya berdiri, dia melihat Edward dan Edna duduk dalam diam. Obed hanya bisa menggelengkan kepala, menaruh iba untuk temannya. Masalah yang dihadapi Edward luar biasa. Dan Obed tidak tahu, apa yang akan dilakukan Edward untuk menyelesaikannya.
"Aku tahu, Dan ... Kamu sayang Edna." ucap Kavana.
"Ya, kamu benar." jawaban singkat Dayona itu yang mengiris hati Kavana. Baru kali ini, Dayona berbicara seterus terang itu.
"Lalu, kenapa kamu masih disini?" tanya Kavana.
"Karena aku juga sayang kamu dan sudah janji akan bersama kamu!"
---------
__ADS_1
Dilema oh dilema ... Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Tetap baca Rona Cinta 💜💜💜