
Kavana hanya bisa menunggu, menunggu dan menunggu. Sudah dua bulan, Dayona dirawat. Tetapi belum ada kabar sedikitpun tentangnya. Kekuatiran terus saja menghantuinya. Dalam hatinya hanya bisa terus berdoa, supaya Dayona dapat bertahan dan segera pulih.
"Va, kamu oke?" suara Gweni menyadarkan lamunannya.
Kavana tersenyum, "Oke Gwen ... Makasih, ya."
"Kamu masih menunggu kabar dari Dayona?" tanya Gweni.
Kavana menganggukkan kepalanya lemah.
"Kenapa tidak kamu tanyakan ke teman-temannya?" usul Gweni.
"Sudah Gwen, tapi sama saja, tidak ada satupun, yang tahu kondisi Dana saat ini."
"Kalau begitu, kamu yang sabar ya, Va, berdoa saja supaya Dayona cepat kembali ke Indo dalam keadaan baik." ucap Gweni menyemangatinya.
"Amin ..." Kavana meng-aminkan.
Pembicaraan mereka terputus karena Hero, sang manager datang. Setelah masuk, Hero memberitahu semua karyawannya.
"Pada waktu istirahat nanti, saya akan ketemu kalian satu per-satu di ruangan saya." katanya di depan karyawan. Semua karyawan mengiyakan.
Saat jam istirahat,
Kavana mengetuk pintu ruangan Hero.
"Masuk!" perintah Hero dari dalam ruangan.
"Permisi, Mas ..." sapa Kavana.
"Duduk, Va!" sambut Hero. Kavana segera duduk. Posisi mereka sekarang berhadapan.
"Bagaimana, Va, kerja disini?" tanya Hero.
"Senang, Mas ... Nyaman bekerja dengan Mas juga teman-teman." jawab Kavana singkat.
"Kalau memang, kamu senang dan nyaman, seperti yang kamu katakan tadi, harusnya kinerja kamu, bisa jauh lebih baik dari sekarang, dong? Saya mencatat sudah lebih dari 5 kali kamu ijin keluar dalam waktu 2 minggu ini. Terlambat datang hampir tiap hari. Belum terhitung, dimana kamu pulang awal tanpa alasan, lalu kebiasaan kamu bengong-bengong tidak jelas saat bekerja. Coba kamu jelaskan korelasi dari perkataan kamu tadi dengan kinerja yang kamu tunjukkan? Sinkron? Tidak kan, Va?" ceramah Hero panjang menjawab perkataan singkat Kavana tadi.
Kavana hanya menunduk tanpa menjawab.
"Bisa jelaskan ke saya, Va?"
"Maaf Mas ... hari-hari ini, saya sedang menghadapi banyak masalah." jawab Kavana akhirnya.
"Oke, taruhlah saya menerima alasan kamu itu, dan memberi kamu kesempatan untuk terus bekerja disini. Pertanyaannya sekarang, masih bisa tidak kamu komitmen dengan pekerjaan ini? Komitmen untuk berubah?" tanya Hero lagi.
"Saya akan berusaha memperbaiki kinerja saya, Mas ... Saya janji!" jawab Kavana meyakinkan Hero.
"Saya pegang janji kamu, Va ... Jangan sia-siakan kepercayaan saya!" putus Hero akhirnya.
"Terima kasih, Mas ... Saya janji, Mas, janji! Pekerjaan ini penting bagi saya." janji Kavana.
"Ya sudah, silahkan lanjutkan bekerja!"
Kavana keluar dari kantor Hero dengan lega. Dia bertekad, tidak akan mengecewakan atasannya lagi.
--------
Beberapa jam yang lalu,
Edward menerima Hero di rumahnya.
"Aku senang, lihat kamu sudah jauh lebih baik, Ed." sapa Hero.
"Masih proses terapi, Ro" kata Edward sambil berjalan ke arahnya dengan menggunakan kruk.
Hero mengamati Edward dengan senyum bersyukur. Karena temannya sudah semakin pulih.
__ADS_1
"Duduk, Ro!" Edward mempersilahkan Hero.
"Bagaimana CS (Coffe Shop)?" tanyanya setelah Hero duduk di hadapannya.
"Omset terus naik, Ed ... Optimis sih, keuntungan kita bakal dua kali lipat bulan ini." lapor Hero.
"Berarti menu baru bisa segera diluncurkan?" tanya Edward lagi.
"Sedang kusiapkan promosinya, Ed ... Ini aku email ke kamu, ya?" jawab Hero sambil sibuk mengutak-atik laptopnya.
"Seperti rencana awal, dengan menu baru ini, kita juga akan tambah venue, kan? Perlu tambah karyawan juga?" Edward bertanya lagi.
"Ehm ... Aku akan reqruitment tiga karyawan lagi, Ed. Satu karyawan akan aku PHK. Buruk sekali kinerjanya!" dengus Hero.
"Karyawan yang mana?"
"Karyawan yang kamu rekomendasikan itu, Ed" sahutnya.
Dahi Edward mengernyit.
"Kavana?"
"Siapa lagi" kata Hero jengah.
"Kenapa, Dia?"
Hero menceritakan kinerja Kavana selama ini.
"Beri kesempatan sekali lagi, Ro! Kasihan dia lagi butuh pekerjaan." pinta Edward.
"Tapi tidak adil bagi yang lain, Ed ... Kalau kita terus pertahankan dia!" tolak Hero
"Ro, tolong dipertimbangkan lagi!"
Kali ini Hero tak mampu menolak permintaan Edward, patnernya itu.
"Oke lah, kalau itu mau kamu! Tapi tetap, hari ini aku akan memberi dia peringatan." putus Hero.
-------
Teman-teman Edna bergantian memeluk Edna. Hari ini, Edna meminta teman-temannya untuk datang ke rumah.
"Jadi kamu akan home schooling, Na?" tanya Sherly.
"Iya ... mulai minggu depan, sih!" jawab Edna.
"Yaaaaaah, kelas bakal sepi, tidak ada kamu Na," kata Betrik.
"Tidak ada Miss Gercep lagi!" seloroh Tasya. Disambut gelak tawa teman-temannya, yang membenarkan julukan itu.
"Memang aku gitu, ya?" tanya Edna heran.
"Sayang banget, ya ... Istilah itu muncul, justru saat kamu keluar dari Sekolah!" seru Ester.
"Syukurlah," kata Edna senang. Tidak bisa membayangkan, kalau dia masih di sekolah dengan julukan aneh itu.
"Jangan lepas kontak ya, Na?" pinta Leony, teman yang paling dekat dengan Edna.
Edna mengangguk, "Harus! Dan kalian juga harus sering-sering main kesini!" pinta Edna.
"Hiks ... sedihnya" Mereka menghambur ke Edna mengucapkan perpisahan.
Saat hampir semua temannya sudah pulang dan hanya Leony yang tersisa. Edna terlihat sangat murung.
"Na, katakan sekarang sama aku, kenapa kamu tiba-tiba keluar dari sekolah?" tanya Leony. Dia merasa ada sesuatu yang tidak diungkapkan Edna di depan semua temannya tadi.
"Kan, tadi sudah aku jelaskan, Ony," jawab Edna.
__ADS_1
"Benar yang kamu katakan tadi? Aku tidak percaya, Na! Aku tahu ada yang kamu tutupi." desak Leony.
"Maaf, Ny ... Aku tidak bisa cerita ..." kata Edna lirih.
"Bahkan sama aku, sahabat kamu sendiri, Na?"
"Bukan begitu, Ny ... Aku ... Aku ... Hanya bingung dan malu, bagaimana menceritakannya ke kamu." ungkap Edna sedih.
"Na ... Kalau kamu tidak mau cerita, aku tidak apa-apa ..."
"Aku hamil, Ny" Edna mengatakannya sambil meneteskan airmata.
Leony menutup mulutnya, tak percaya. Matanya mengerjap-ngerjap, berharap yang didengarnya adalah mimpi. Kalimat yang tidak pernah disangkanya, akan diucapkan oleh seorang Edna. Temannya yang sangat manis dan baik hati. Leony hanya bisa memeluk Edna yang menangis sesenggukan. Hatinya hancur bersama tangisan Edna.
--------
Lebih dari seminggu, Alditira tidak menghubunginya. Masalah diantara mereka, kini menjadi tembok tak kasat mata, yang berdiri tegak. Sebagai seorang wanita, dia ikut menderita bersama Edna, tetapi sebagai seorang ibu, dia ikut hancur bersama Dayona.
Namun, rasanya tidak adil kalau dirinya hanya berdiam diri saja. Lalu diputuskannya, untuk menemui Edna, dirumahnya.
Rumah itu tampak lengang. Tapi itu tak mengurungkan niatnya untuk terus masuk sampai ke teras rumah dan memencet bel. Tak lama, seorang wanita paruh baya muncul menyambutnya. Bi Edah.
"Ya, cari siapa ya, Bu?" tanya Bi Edah.
"Bisa ketemu Edna?" jawab Velila.
"Oh, Mbak Edna ... Saya tanya dulu ya, kalau boleh tahu dengan Ibu siapa?" tanyanya lagi.
"Velila ... Saya Velila"
"Tunggu sebentar ya Bu Velila, silahkan duduk!" Bi Edah menunjuk kursi yang ada di teras. Velila mengangguk dan duduk disana, menunggu.
Kemudian,
"Tante Velila, disini?" sapa Edna.
"Kamu masih ingat Tante, Na?" tanya Velila sambil menatap Edna haru. Edna yang dulu dikenalnya saat masih kecil, sekarang sudah tumbuh menjadi gadis cantik, bermata indah.
"Ingat Tante" jawab Edna. "Mari masuk Tante?" Edna membuka pintu dan mempersilahkan Velila masuk.
"Na, kamu sehat? Baby-nya bagaimana?"
Edna menegang. Tante Velila sudah tahu.
"Ba ... ba ... ik, Tante." jawab Edna gugup.
"Na, atas nama Dana, Tante minta maaf sama kamu," kata Velila tulus.
Edna hanya menunduk dalam.
"Tante belum bisa bicara dengan Dana, sampai saat ini. Mungkin dia sedang bingung dan menyesal, sama seperti kamu ... Apalagi sekarang dia juga punya Kavana," kata Velila lagi.
Edna menegakkan kepalanya. Berusaha memaksimalkan pendengarannya.
"Maaf, Tante ... Boleh tanya, apa maksud Tante, dalam kalimat terakhir Tante tadi?" tanya Edna polos.
"Soal Kavana?" Kali ini, Edna tidak salah dengar. Tante Velila menyebut nama Kavana.
"Dana melakukan kesalahan, menyakiti kamu dan Kavana bersamaan. Tante sebagai orang tua sangat marah sama dia!" jelas Velila lagi.
Namun, kali ini Edna sudah tidak fokus mendengarkan semua perkataan Tante Velila. Nama Kavana terus terngiang-ngiang di telinganya.
"Apakah Kavana disini adalah Kak Kavana, pacar Kak Edward? Atau hanya kebetulan namanya sama?" Edna semakin bingung.
Membuatnya pusing, sehingga tidak lagi sanggup menahan berat tubuhnya. Membuat Edna ambruk begitu saja di sofa Ruang Tamu rumahnya.
-------
__ADS_1
Terima kasih sudah mengapresiasi karya pertama saya. Terharu dengan banyaknya like dan komen. Terima kasih juga, untuk yang sudah memberi rate dan vote.
Mari terus semangat berkarya bersama! 💜💜💜