RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 9


__ADS_3

Di kamar Edna ....


Hari itu, sepulang sekolah, tampak Edna dan geng ceweknya sudah ada di atas kasur dengan posisinya masing - masing menatap pada layar laptop tanpa berkedip. Mereka sedang asyik menikmati MV BTS yang baru, yaitu Stay Gold. Sebagai Army, kegiatan ini merupakan ritual sakral bagi mereka, tidak ada yang boleh mengganggu. Titik. Harus nonton sampai habis.


Bahkan suara Bi Edah yang sedari tadi mengingatkan mereka untuk makan siang, tidak digubris sama sekali.


Tapi kemudian,


Edna dikejutkan dengan ponselnya yang bergetar. Ponselnya dia taruh di meja belajar tepat di samping dirinya berada. Dia melirik sebentar pada teman - temannya, melalui ekor matanya, ia melihat Leony yang melotot kearahnya, memberi peringatan untuk mengabaikan saja ponselnya.


Edna mengiyakan dan kembali fokus pada layar laptop. Baru dirinya berusaha berkonsetrasi, ponselnya bergetar lagi. Lagi dan lagi.


"Yaaaa gimana mau fokus sih, Na!" Betrik memanyunkan bibirnya sebal.


"Di-silent dulu napa, Na?" kali ini Tasya yang berbicara.


"Iya, iya maaf" Edna mengambil ponselnya yang terus bergetar itu. Saat dia melihat layar ponsel untuk mengetahui siapa yang menghubunginya, semburat merah langsung tercetak jelas di pipinya. Senyum manis terbingkai di wajahnya yang cantik.


Leony yang melihat perubahan pada ekspresi temannya itu langsung berkata, "Cie ... cie siapa sih yang lagi nelpon, kok kayaknya ada yang berbunga - bunga ya, girls?


"Apaan sih kalian! Sotoy banget!"


Edna merengut.


"Lha kita kan teman kamu, Na, jelaslah kita harus yang paling sotoy tentang kamu ... kamu ... kamu ... kamu juga kamu?" tunjuk Sherly kepada empat temannya yang lain. "Benar kan, girls?" imbuhnya.


Semua mengiyakan.


"Cuma teman kok!" Edna menjelaskan. "Maksudnya barusan banget deketnya, jadi belum sempet cerita ... Sorry" Edna menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada sebagai tanda permintaan maaf.


"Dia siapa, Na?" cecar Leony.


"Iiih bikin penasaran tahu! Kita kenal tidak?"


Teman - temannya terus mendesak yang akhirnya membuat Edna berkata jujur.


Dia menceritakan bahwa sekarang dirinya sedang dekat dengan seorang cowok yang merupakan teman kakaknya.


"Tapi tolong jangan kasih tahu kakakku ya ... Dia bakal marah banget kalau tahu aku sudah pacaran" reflek Edna menutup mulutnya, menyadari kalau dia sudah kelepasan bicara.


Detik itu juga, bermacam barang yang berada di kamarnya sudah terbang bebas ke arahnya. Dan Edna hanya pasrah ketika teman - teman menimpukinya.


--------------------


Sudah seminggu, Kavana membiarkan Edward kelimpungan mencoba untuk menemuinya.


Sebenarnya Kavana sudah membaca penjelasan Edward, yang disampaikannya panjang dan lebar melalui pesan Whats***. Kavana bukan tidak mau memaafkan Edward, tetapi dia sengaja memberi pelajaran pada kekasihnya itu.


"Rasain!" dengusnya. "Makanya jadi cowok perhatian lebih kek sama ceweknya!" seraya melemparkan ponselnya di atas kasur setelah membaca pesan Edward yang tidak dibalasnya.


Kavana memutuskan untuk menghabiskan malam itu dengan membaca novel kesayangannya. Belum lagi dia membuka halaman yang sudah ditandainya, ponselnya berbunyi. Kali ini bukan Edward, karena nada dering yang terdengar berbeda dengan nada dering khusus untuk panggilan Edward.

__ADS_1


Dibukanya pesan itu, pesan dari Dayona. Dayona?


Dayona:



Pernah kesitu?


Dayona mengiriminya sebuah gambar, gambar pemandangan malam seperti bertabur dengan bintang. Kavana membalas ...


Kavana:


Bagus banget, Dan, dimana itu? Aku belum pernah kesana ....


Dayona:


Mau kesana?


Kavana:


Mau - lah ....


Dayona:


Kesana, yuk!


Kavana:


Dayona:


Sekarang ... 15 menit lagi aku jemput kamu!


Kavana:


Sekarang? Dan, kamu serius, kan?


Sudah 1 menit tidak ada balasan, 5 menit juga belum. Sekarang sudah 10 menit setelah pesan terakhir Dayona dibacanya. Kavana masih bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Sampai akhirnya, bunyi klakson mobil di depan, menyadarkannya bahwa Dayona sudah datang menjemput. Dan Kavana belum mempersiapkan apapun yang akan dia pakai atau bawa.


-------------------


Edna menggoyang - goyangkan kakinya yang sudah mulai pegal. Sudah hampir 45 menit dia menunggu Edward yang berjanji akan menjemput di Sekolah Edna. Hari ini Edna mengikuti ekskul Mading.


Sekarang sudah pukul 17.50, depan sekolah sudah mulai gelap. Edward sudah memberitahu akan terlambat menjemputnya, tapi Edna tidak menyangka akan selama itu.


Saat Edna masih mempertimbangkan untuk menunggu atau pulang dengan taksi online, tiba - tiba ada mobil yang berhenti tepat di tempat dia berdiri. Edna segera menyingkir, membuat jarak dengan mobil itu, ketika 2 langkah dia berjalan, seseorang memanggil namanya.


"Na ... "spontan Edna menoleh dan langsung mengenali siapa orang yang memanggilnya itu. Teman abangnya.


"Kok, abang disini?" kata Edna sambil berjalan mendekat.


"Aku disuruh kakakmu jemput kamu!"

__ADS_1


"Memang Kak Edward kemana?" selidik Edna.


"Sudah, masuk dulu, nanti aku jelasin!" Edna menuruti perkataan itu dan segera masuk ke mobil. Mobilnya bersih dan wangi, wangi Kopi. Karena suka dengan wanginya, tanpa sadar Edna mengendus - endus saat sudah mulai duduk di samping pengemudi.


"Ngapain sih, Na?" si empunya mobil tergelak melihat tingkah Edna itu.


"Edna suka bang aroma mobil abang, suka juga dengan interiornya, keren" katanya sambil menjelajah seluruh mobil.


"Kalau sama yang punya mobil? Suka tidak?" Edna terkejut karena cowok yang dipanggilnya abang itu berbicara sambil menyorongkan badan 45 derajat ke arahnya. Edna menahan nafas. Baru kali ini dia begitu dekat dengan cowok, secara fisik maksudnya.


"Kenapa lagi ni, sekarang?" kata cowok itu setelah melihat ekspresi gugup di wajah Edna. Dan kemudian dia terkekeh geli.


"Ini lho, Na, seatbelt kamu belum dipasang!" terangnya sambil memasangkan sabuk pengaman Edna.


"Ooo ... ini ... iya bang, makasih, Edna lupa" katanya gelagapan.


"Ketahuan ni belum pernah dekat sama cowok, baru kayak gitu aja sudah mati kutu" ledek cowok itu.


"Iiih ... apaan sih, Abang!" muka Edna merah padam mendengar ledekan cowok itu.


Di sepanjang jalan mereka bercerita panjang lebar soal sekolah dan tentu tentang kakaknya, Edward. Dari cerita - cerita itu, Edna tahu kalau kakaknya adalah seorang bucin (budak cinta). Itulah yang menjadi alasan mengapa Edward tidak bisa menjemputnya, karena Kavana, pacarnya sedang ngambek. Lalu Edward meminta salah satu temannya untuk menjemput Edna.


--------------------


Edward membuka matanya kembali, setelah sekian lama tertidur karena pengaruh obat yang disuntikkan perawat melalui selang infus di tangannya.


Matanya menangkap siluet Edna, yang sedang duduk membelakanginya di sofa ruangan rawat inapnya.


"Kakak, sudah bangun?" sontak Edna berjalan kearah Edward, setelah mengetahui Edward sudah membuka matanya.


Edward mengangguk pelan.


"Kamu, gimana? Sehat? Baby-nya sehat?" itulah kalimat pertama yang diucapkannya setelah tidur panjangnya.


"Sehat kak ... Dia juga sehat" mata Edna berair saat menunjuk perutnya yang sudah mulai membesar.


Edward memaksakan diri untuk tersenyum.


Dan berusaha mengelus kepala adiknya dengan kekuatannya yang tidak seberapa.


"Maafkan kakak, Na, tidak bisa menjaga kamu dengan baik" ucap Edward lirih.


Edna tidak dapat menahan air matanya lagi. Dia menangis tersedu - sedu, menumpahkan segala kesedihan dan kekecewaan.


Edward hanya bisa memandang Edna dengan hancur tanpa bisa berbuat banyak baginya.


"Mama, maafkan aku, belum bisa menjalankan amanatmu untuk menjaga Edna dengan baik ... Maafkan aku, Ma" akhirnya pertahanan Edward - pun runtuh. Dibiarkannya air matanya terjun bebas.


Hari itu bersama mereka menangis ....


karena luka ....

__ADS_1


Luka oleh karena cinta ....


__ADS_2