
Edward berpapasan dengan Kavana, saat dia akan kembali ke ruangan, tempat Edna dirawat.
"Kamu, mau balik ke kamar Mama kamu?" tanya Edward.
"Iya, Edna ditemani Bi Edah waktu aku tinggal, Ed," jawab Kavana.
"Terima kasih ya, Va ... sudah datang jenguk Edna."
Kavana tersenyum getir.
"Jaga Edna ya, Ed ... Dia lagi butuh kamu, banget"
"Memang Edna kenapa, Va?" mendengar pertanyaan Edward itu, Kavana baru tersadar, semenjak mereka putus, Edward tidak lagi memanggilnya dengan "Na", tapi "Va", seperti kebanyakan orang memanggilnya. Sebenarnya "Na" adalah panggilan sayang Edward buat Kavana. Kavana kangen dengan panggilan itu. Ah, masa lalu ....
"Edna sedang patah hati, Ed."
Dahi Edward mengernyit,
"Sejak kapan dia pacaran? Edna punya pacar?" tanya Edward bingung.
"Suatu saat, pasti dia akan cerita sendiri ke kamu, Ed ... Edna butuh waktu, untuk memberanikan diri bercerita ke kamu" terang Kavana.
Edward menghela nafas panjang. Ternyata, dia tidak punya banyak waktu bersama adiknya itu. Memang, akhir - akhir ini, Edward sibuk dengan perkuliahan dan kisah cintanya yang baru kandas. Membuatnya hanya memikirkan rasa sakit di hatinya sendiri, tanpa melihat lagi orang di sekitarnya lagi. Muncul penyesalan di benak Edward.
----------
Kavana menyandarkan kepalanya di dada cowok itu. Berharap mendapatkan ketenangan disana. Dayona hanya diam, sambil membelai - belai rambutnya. Mereka hanya diam dengan pikiran mereka sendiri.
"Dan, Edna sakit ... Dirawat di Rumah Sakit, tempat Mama dirawat." Kavana akhirnya bersuara.
"Lalu?" tanyanya datar.
"Aku hanya kasian ... Dia begitu terpuruk, sampai harus ditangani Psikiater." tutur Kavana.
"Bukan urusanku, Va!" tegas Dayona.
Kavana mengangkat kepalanya, menatap lurus ke mata Dayona. Sorot mata Dayona, yang dulu hangat, tidak lagi terpancar disana. Menjadi sorot yang dipenuhi dengan amarah dan kebencian. Kavana kadang bergidik, saat melihat sorot itu.
"Dan, aku tahu kebersamaan kita, hanya karena ... Dia." Kavana berhenti sejenak, susah untuk menyebut nama itu di depan Dayona, tanpa membuatnya marah. "Dan kamu juga melakukan hal yang sama dengan Edna. Kenapa, Dan? Kenapa kamu ingin sekali membuat dia hancur?" Kavana berkata selembut mungkin, supaya tidak membangunkan macan tidur di hadapannya.
Dayona memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Kavana. Kavana memeluk pinggang Dayona, dan kembali meletakkan kepalanya di dada Dayona.
"Sampai kapanpun, aku akan menunggu, sampai kamu mau cerita" peluk Kavana erat.
Kavana tidak pernah tahu, bagaimana perasaannya kepada Dayona. Dulu, Dayona hanya sebagai pelampiasannya semata. Untuk memenuhi kebutuhan akan sentuhan dan perhatian, yang tidak didapatnya dari Edward. Kini, mungkin mulai tumbuh perasaan sayang, sekaligus iba.
Dayona tiba - tiba menegakkan badannya. Kavana ikut bangun dari posisinya, terkejut dengan pergerakan yang seketika itu.
"Dan, kenapa?" Kavana ikut menegakkan tubuh dan duduk bersandar di kepala ranjang. Duduk sejajar dengan Dayona.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, Va ... Kenapa dunia begitu kejam sama aku! Aku kehilangan semua, tanpa sisa!" suara Dayona terdengar bergetar. Ada kemarahan, tetapi juga ada kesedihan disana.
"Aku tidak tahu, sebenarnya apa yang ingin aku kejar, semua gelap! Aku, tidak tahu, Va! Bingung, sedih, marah semuanya ada disini!" kata Dayona lagi sambil memukul - mukul dadanya sendiri.
"Sakit Va, disini ... Sesak sampai aku tidak bisa bernafas lagi, aku sendiri, tidak ada yang peduli!!!" Dayona terus menerus memukul dadanya, ada isak tangis disana. Cowok itu, menangis seperti anak kecil.
"Husss huss ... jangan bilang seperti itu, Dan ... kamu tidak sendiri, ada aku, disini, selalu disini," Kavana segera merengkuh tubuh Dayona, memeluknya, sambil menepuk-nepuk punggungnya. Mencoba menenangkan, menghibur dan menguatkan Dayona yang ternyata RAPUH.
---------
Psikiater yang menangani Edna, mengatakan hal yang sama, seperti yang dikatakan oleh Kavana, waktu lalu. Edna, hanya butuh waktu untuk bicara dan terbuka kepadanya, sehingga Edward berusaha menyabarkan diri, untuk menunggu sampai Edna siap, menceritakan apa yang tidak diketahuinya. Setelah, delapan hari dirawat, Edna sudah mulai membaik. Dokter sudah memperbolehkan Edna pulang.
Saat Edward membantu Edna untuk beres - beres barang bawaan mereka. Kavana, kembali datang ke ruangan mereka.
"Syukurlah, Na ... hari ini kamu sudah bisa pulang" Kavana memeluk Edna hangat.
"Terima kasih ya, kak" balas Edna tak kalah hangat.
Mereka tampak akrab, itu yang ada di pandangan Edward. Entah sejak kapan.
Saat keduanya asyik ngobrol, ada suara yang mengucapkan salam dari luar. Sepertinya itu suara Papa Alditira.
"Papa!!!!" Edna berteriak gembira, saat Papa muncul di ambang pintu.
"Hai, sayang ... Sudah baikan?" tanya Papa sambil mengecup puncak kepala Edna.
"Sudah, Pa ... Terima kasih Papa sudah datang" kata Edna senang.
Edna mengangguk, "It's okay, Pa ... yang penting sekarang, Papa sudah datang." jawab Edna maklum.
Papa tersenyum. Dielusnya kepala putrinya itu. Edna, baru ingat kalau Kavana ada disitu.
"Oh ya, Pa ... Ini ada Kak Kavana, paca ... eh, temannya Kak Edward" tunjuknya pada Kavana.
Pandangan Papa Alditira tertuju pada seorang gadis yang berdiri kikuk, tak jauh dari tempatnya berdiri. Papa terkesiap. Wajah itu, mengingatkannya pada seseorang di masa lalu.
"Halo Om, saya Kavana!" Kavana mengulurkan tangannya.
"Siapa tadi nama kamu?" tanya Papa linglung.
"Kavana Om, Kavana Dyas lengkapnya" jawab Kavana nyaris tertawa melihat kebingungan Papa.
Edward menangkap sesuatu yang aneh dari sikap Papa.
"Teman SMA Edward, Pa," Edward yang sedari tadi diam, ikut menjelaskan.
Papa tak berkedip menatap Kavana. Kavana menjadi bingung dan salah tingkah.
"Oh ... Eh, saya Papanya Edward dan Edna" jawab Papa tampak gugup.
__ADS_1
Edna menanggapi kejadian itu dengan tertawa. Menganggap sikap Papanya itu lucu. Tetapi, tidak dengan Papa Alditira.
"Na, Papa tidak bisa lama ya, masih ada pekerjaan, Edward jaga Edna baik - baik" kata Papa hendak pamit.
"Ya, Pa ... cepat pulang ke rumah ya Pa, Edna masih kangen." rajuk Edna.
"Papa usahakan ya, Na." janji Papa.
"Saya juga pamit ya, Om ... mau balik ke kamar Mama saya. Na, Ed, aku pamit dulu. Jaga kesehatan ya Na!" pesannya pada Edna.
"Mama kamu sakit, sakit apa?" tanya Papa.
"Sirosis, Om ..."
Papa mengangguk tanpa menanggapi. Tapi tak bisa disembunyikan, rasa ingin tahunya itu, sehingga ...
"Sudah berapa lama sakit? Apa tindakan yang akan diambil oleh Dokter?"
Kavana menjelaskan kepada Papa. Sementara Edward terus memperhatikan sikap aneh Papa itu.
"Ada apa dengan, Papa?" batinnya.
---------
Alditira Gamaliel, merapatkan tubuhnya di dinding Ruang Sakura 15. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya. Seketika, lututnya gemetaran. Wanita yang terbaring di ruang itu adalah Asiera Wijaya. Tidak salah lagi. Wanita yang pernah dicintainya sepenuh jiwa.
Wanita yang susah payah dicarinya ... Lalu dengan terpaksa harus dilupakannya ....
Pikirannya dipaksa kembali ke puluhan tahun yang lalu,
"Mas, nanti kalau kita menikah dan punya anak, aku mau kasih nama Dyas" kata Asiera waktu itu. Gadis cantik dan pintar yang sudah dipacarinya dua tahun.
"Kok, Dyas?" tanya Alditira heran.
"Dyas itu gabungan dari nama kita, Dy dari nama kamu, As dari nama aku, bagus kan?" terang Asiera yang dibalas dengan senyuman dan pelukan hangat.
"Bagus banget, sayang ... Pintar kamu bikin nama"
Alditira tak tahu mengapa takdir seperti mempermainkannya.
Kini, dia bertemu dengan sosok itu kembali. Entah apa yang akan dilakukannya nanti.
"Jadi Kavana tadi adalah ..." Alditira seakan tak percaya.
---------
Terima kasih buat yang setia membaca Rona Cinta 💜💜💜
Like, comment, rate dan vote-nya selalu ditunggu ya ...
__ADS_1
Selamat membaca! 😁😁😁