
Hubungan itu tarik menarik nilai. Masing-masing pribadi memiliki kemampuan untuk bisa mempengaruhi pasangannya, baik itu pengaruh positif maupun negatif. Itulah yang ada di kepala Edward. Apa yang terjadi atas hubungannya dengan Kavana, dia mempercayai bahwa ada andil dirinya disana.
"Kenapa Kakak tidak marah, setelah diperlakukan seperti itu?" tanya Edna sebal.
"Untuk apa, Na? Marah juga tidak akan merubah apapun dalam hubungan kami." jawab Edward tenang.
"Tapi dia sudah keterlaluan, Kak." Edna masih belum terima dengan sikap Edward.
"Kakak justru bersyukur, Na ..."
Edna tak percaya dengan perkataan kakaknya itu.
"Kok bersyukur sih, Kak?"
"Ya bersyukur, karena akhirnya Kakak tahu, bahwa dia bukan yang terbaik buat Kakak."
Edna mendesah. Dalam hatinya, semakin kagum dengan kakaknya. Hati kakaknya begitu halus dan bijak.
"Edna heran, Kak ... Setelah disakiti, masih saja Kakak mau bantu Kak Kavana," kata Edna lagi.
"Kakak bantu Mamanya, Na" sahut Edward.
Sekarang Edna paham. Itulah Edward, paling tidak bisa untuk tidak menolong, segala sesuatu yang berkaitan dengan sosok mama atau ibu.
"Sudah, Na ... Biar Kakak yang selesaikan masalah Kakak sendiri. Kamu harus fokus dengan hidup kamu ... Fokus sama baby dan sekolah kamu!" nasehat Edward.
Edna mengangguk. Kemarahan yang tadi diluapkannya, pasti berpengaruh buruk untuk kandungannya. Saatnya untuk relaksasi dengan berendam di bath up.
"Edna mau mandi, Kak" pamit Edna sebelum berlalu meninggalkannya.
Edward mengangguk. Dia menuju ke kamarnya dan segera mengirim pesan kepada Obed.
Edward:
Bed, dimana? Sudah balikin mobil Hero?
Tak lama pesannya berbalas.
Obed:
Belum ni, masih menemani Kavana. Parah, dia nangis melulu ....
Edward menghela nafas.
Edward:
Oke, tolong balikin kalau sudah kelar. Thanks, Bro!
Obed:
__ADS_1
Siap, Bro!
Dibiarkannya Obed menenangkan Kavana. Mungkin hari ini, dia sangat shock, setelah mengetahui hal yang selama ini disembunyikan Edward dari banyak orang. Tetapi, dia heran, bagaimana Edna bisa tahu tentang hal ini. Siapa yang sudah memberitahu Edna?
---------
Semenjak dirawat di Singapura, Fleta-lah yang terus menemani Mama Velila. Dayona mengalami luka bakar 40%, sehingga dia harus menjalani operasi bedah plastik, untuk memulihkan keadaannya.
"Tante, istirahat dulu saja," pinta Fleta, saat dilihatnya beberapa kali Mama Velila jatuh tertidur di samping ranjang Dayona.
"Tidak apa-apa, Ta ... Eh, bagaimana dengan kuliah kamu?" tanya Mama Velila.
"Saya cuti dulu Tante, supaya bisa menemani Dana dan Tante." jawabnya lugas.
Mama Velila menarik nafas. Dia tidak tahu lagi, bagaimana cara membuat Fleta pergi meninggalkan mereka dan kembali ke Indonesia. Sudah 3 bulan, dia terus berada di Rumah Sakit. Mengikuti kemanapun Dayona dirawat.
"Bagaimana dengan orang tuamu, Ta? Apakah mereka tidak mencari kamu?" tanya Mama Velila.
"Saya sudah ijin, Tante, malah merekalah yang menyuruh saya untuk menemani Tante dan Dana."
"Tante tidak mau merepotkan kamu, Ta ... Dan Tante juga tidak ingin kuliahmu terbengkalai karena ini." kata Mama Velila lagi.
"Tidak apa-apa, Tante, semua bisa Fleta atur. Dan lagi, tidak merepotkan sama sekali kok, Tante ... Saya senang melakukannya untuk Tante dan Dana," jawab Fleta meyakinkan Mama Velila.
Mama Velila menghela nafas menyerah. Sulit sekali membuat Fleta untuk pergi meninggalkan mereka.
"Fleta, tahu nomor ponsel, Kavana? Semalam Dana mengigau memanggil nama Kavana,"
"Tidak punya, Tante." jawabnya enggan.
"Mungkin Tante bisa minta teman Dana yang lain." kata Mama Velila akhirnya.
Ingin rasanya menjambak-jambak rambut Kavana saat itu. Di saat seperti ini saja, Dayona hanya ingat pada Kavana. Tanpa melihatnya sedikitpun. Padahal, dirinyalah yang selalu ada. Fleta sedang memendam rasa sakit, karena dianggap tidak ada oleh Dayona. Tapi, dia tidak akan menyerah. Kali ini, dia tidak akan kalah lagi dari Kavana.
---------
Asiera sedang menyiram tanaman di depan teras rumahnya. Sekelebat dia melihat seseorang melintas di depan pagar melalui ekor matanya. Namun, saat dia menoleh, tidak didapatinya siapapun berada disana. Kembali dia melakukan pekerjaannya.
Lagi-lagi kelebatan itu datang. Karena rasa penasarannya, Asiera bergegas menuju pagar, untuk membuktikan bahwa penglihatannya itu benar.
Saat sampai di balik pagar, dia tertegun. Di balik pohon dekat pagar itu, dilihatnya seseorang yang sosoknya sangat dikenalnya di masa lalu. Asiera terus mengerjap-ngerjapkan matanya, memastikan apa yang dilihatnya.
"Aldi ..." panggilnya.
Sosok itu tetap diam di tempatnya.
"Siapa disana?"
Karena tidak ada jawaban. Dengan pelan, dibukanya pagar dan dihampirinya orang di balik pohon itu.
__ADS_1
"Kamu???" Asiera menutup mulutnya, serasa tidak percaya.
"Ra ..." kata orang itu.
"Kamu Alditira? Alditira Gamaliel?"
"Ini ... Aku, Ra ..." suara Alditira bergetar.
Pertemuan yang tidak pernah dibayangkan akan terjadi lagi, setelah puluhan tahun berlalu. Bukan saja tak dibayangkan, bahkan tidak diharapkan. Setelah, keduanya memutuskan untuk melupakan semua kenangan yang menyakitkan.
"Kenapa kamu bisa disini, Di?" tanya Asiera canggung, saat mereka sudah duduk bersama di teras rumah.
"Aku sendiri tidak tahu, Ra ..." jawab Alditira pendek.
"Aku masih tak percaya, akhirnya bisa bertemu kamu lagi." sambungnya.
Asiera menelan ludah. Mereka merasakan hal yang sama.
"Kenapa saat itu kamu menghilang, Ra? Aku sudah mencari kamu kemana-mana, tetapi tak pernah menemukanmu, kamu bagai hilang tertelan bumi."
Pertanyaan itu, membuat Asiera tercekat. Lidahnya terasa kelu. Apakah ini saatnya? Batin Asiera bergejolak. Namun, Asiera memutuskan untuk mengatakan semuanya hari itu.
"Aku menerima panggilan Papamu waktu itu, beliau memintaku untuk menemuinya." mengalirlah cerita yang disimpan Asiera begitu lama.
Alditira menyimak cerita Asiera dengan seksama. Tidak ada yang ingin dilewatkannya. Dia membutuhkan jawaban atas semua pertanyaan di benaknya selama puluhan tahun.
"Papa kamu waktu itu mengatakan, bahwa tidak seharusnya aku mendekati kamu, bahkan pacaran sama kamu. Dan beliau memastikan bahwa aku tidak akan pernah bisa menikah dengan kamu. Waktu itu, aku berpikir bahwa semua itu benar. Aku miskin dan bukan dari keluarga terpandang sepertimu. Beda kita bagai bumi dan langit."
Asiera menarik nafas panjang, sebelum melanjutkan ceritanya.
"Papa kamu menawarkanku biaya kuliah di luar negeri dan kehidupan yang jauh lebih baik untuk keluargaku."
"Jadi kamu menerima semua tawaran itu, Ra? Menukar cinta kita dengan itu?" potong Alditira.
"Mungkin kamu berpikir kalau aku ini, perempuan materialistis, Di ... Tahukah kamu, hari itu, aku hanya seorang gadis belasan tahun, tidak punya kekayaan, jabatan atau kekuatan apapun untuk bisa melawan orang tua kamu!" kata Asiera lagi.
"Aku pergi dengan takut dan terluka, Di. Percayalah itu tidak mudah bagi aku. Aku menangis setiap hari merindukanmu. Penghiburanku hanya keluargaku. Karena pengorbananku, mereka bisa hidup nyaman dan aman." lanjutnya.
"Jadi berita kamu pergi dengan lelaki lain itu, hanya sandiwara Papa, Ra?" tanya Alditira.
Asiera hanya mengangguk lemah. Tidak ada tangisan lagi di matanya, karena air mata itu sudah lama mengering. Dihabiskannya puluhan tahun yang lalu. Saat harus dipisahkan dengan cintanya. Harapannya. Masa depannya.
---------
Rona Cinta kembali untuk Pembaca Setia 🥰
Berterima kasih untuk setiap like, komen, rate dan vote.
Mohon maaf kalau masih banyak kekurangan, baik dalam penulisan, pembahasaan dan alur cerita. Saya masih dalam proses terus belajar.
__ADS_1
Selamat membaca 💜💜💜