RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 37


__ADS_3

Entah apa yang merasuki Dayona. Pagi ini, dia sudah berpakaian rapi dan siap dibelakang kemudi. Perburuannya hampir satu bulan yang tidak membuahkan hasil, justru membuatnya semakin bersemangat. Kavana harus ditemukannya.


Beberapa menit kemudian, Dayona sudah menghentikan mobilnya sedikit menyamping dari pintu masuk Coffee Shop Gamaro. Dia memutuskan disitulah tempatnya untuk mengintai hari itu. Tujuannya supaya keberadaannya, tidak diketahui oleh orang yang ada di dalam Coffe Shop itu.


Sudah sekitar satu jam, Dayona berada di tempatnya, namun tidak dilihatnya batang hidung Kavana. Dayona masih menguatkan diri, demi tujuannya.


Jelang makan siang, dilihatnya pengunjung Coffe Shop mulai berdatangan. Namun, ada satu mobil yang menarik perhatiannya. Mobil itu parkir tepat di bagian samping teras Coffee Shop. Dan jelas itu mobil Edward. Dayona sedikit menegang. Untuk kesekian kalinya, dia melihat sosok yang tidak diinginkannya itu.


Ketegangannya seketika memudar, saat dilihatnya yang keluar dari mobil itu bukan Edward, melainkan seorang laki-laki yang pernah dilihatnya di Coffee Shop itu. Namun, baru sebentar ketegangannya menurun. Tiba-tiba jantungnya berdesir, saat melihat perempuan yang turun bersama laki-laki itu. Edna.


Dari jarak ini, Dayona tahu, itu Edna.


Tak bisa ditahan lagi, seperti ada kekuatan besar yang mendorongnya untuk keluar, menyeret kakinya untuk berlari. Menuju satu pribadi bernama Edna.


"Na!!!" panggil Dayona keras, yang membuat yang dipanggil spontan menoleh.


Jantung Edna seperti mau lepas. Saat melihat sosok lelaki yang dicintai juga sekaligus dibencinya itu. Ingatan Edna kembali ke masa, dimana Edward dan Dayona harus terlibat kecelakaan parah yang hampir merenggut nyawa keduanya.


"Na, kamu tidak mau lihat kondisi Dana?" tanya Obed yang saat itu tepat di depannya.


Bercak darah memenuhi jaket yang dipakai Obed. Disana juga ada Reval dan Javas yang tampak terpukul dengan kejadian yang menimpa temannya.


Edna menggeleng, "Untuk apa, Kak?"


"Na, bagaimanapun dia itu ..."


Belum selesai Obed bicara, Edna sudah memotongnya cepat.


"Bagiku dia bukan siapa-siapa dan sudah tidak ada!" kata Edna tegas dalam kemarahan.


Sejak hari itu, tidak ada satupun orang yang berbicara tentang Dayona di depannya. Edna sama sekali tidak tahu kabar dan keberadaan Dayona. Dia betul-betul berupaya menghapus Dayona dalam ingatan dan hidupnya.


Tapi kini, sosok itu datang kembali. Mengembalikan semua cinta sekaligus luka.


"Abang ..."


Dan detik selanjutnya. Dayona sudah merengkuh tubuh Edna, membawanya dalam pelukannya.


"Maafkan, Abang, Na ... Maafkan" hanya kalimat itu, yang terus berulang-ulang diucapkannya. Dayona menangis pilu. Baru kali ini, hatinya seperti hancur. Melihat perut Edna yang membesar. Melihat mata indah itu, tak bercahaya lagi. Wajah cantiknya tampak muram. Dayona sangat sedih. Walau dia tidak tahu kenapa bisa begitu.


Dan, Edna hanya berdiri mematung. Saat tubuh mereka bersentuhan. Ada aliran hangat yang mengisi kisi-kisi hatinya yang sudah lama membeku. Dan Edna tahu, hanya bisa diisi satu orang saja. Orang sedang memeluknya sambil menangis. Ingin ditolaknya, tetapi dirinya seperti mendesak terus disana, karena dia membutuhkannya.


Hero yang ada disitu, tampak bengong menyaksikan adegan romantis yang terjadi di depannnya. Hanya kemudian, dia berbisik kepada Edna,


"Na, sebaiknya kalian bicara di dalam saja. Disini dilihat banyak orang." bisikan Hero itu, membuat Edna sadar dan melepaskan pelukan Dayona. Dayona sendiri hanya menunduk sambil menyeka airmata dengan punggung tangannya. Sisi ini baru dilihat Edna dari Dayona.


"Sorry, Kak ... Edna mau bicara ke Kak Dana dulu, ya?"


Hero mengangguk, "Masuklah kalian!" kata Hero.

__ADS_1


"Kami akan bicara di tempat lain!" tolak Dayona.


"Sorry, Bro ... Edna jadi tanggung jawabku disini. Bisa mati aku, kalau Kakaknya tahu Edna tidak sama aku. Jadi tolong bicaralah dengan dia, disini!" tegas Hero.


Dayona mendengus, tapi dia tahu maksud Hero. Kalau Edward tahu keberadaannya disini saja, bisa membuatnya naik pitam. Apalagi kalau dirinya membawa Edna.


Lalu Edna tampak menelepon seseorang.


"Kak, Edna sudah sampai di Coffee Shop. Sekarang Edna minta ijin akan bicara dengan Kak Dana di tempat lain." kata Edna sambil melirik Dayona.


Dayona tampak tersenyum jumawa ke arah Hero. Hero memalingkan muka sebal.


"Kak, percaya sama Edna, kan? Edna akan baik-baik saja. Edna percaya juga sama Abang." kata Edna masih dengan panggilan ponselnya.


Kalimat Edna itu, menusuk Dayona. Menyadari kebaikan hati perempuan di depannya itu.


"Ayo, Bang ..." ajak Edna kepada Dayona.


"Kak, Edna pergi dulu ya ... Tadi Edna sudah bilang sama Kak Edward. Nanti Edna akan diantar kesini lagi sama Abang." pamit Edna pada Hero.


Hero mengangguk walau tak rela.


"Hati-hati Na, kalau ada apa-apa segera hubungi Kakak!" pinta Hero.


"Iya, Kak ... Edna pergi dulu, ya!" Edna berlalu. Di sampingnya Dayona berjalan pelan mengimbangi Edna. Sesekali tangannya memegang lengan Edna, seolah menjaga agar Edna tetap aman saat berjalan.


Hero tidak mengenal Dayona dan apa yang telah terjadi kepada mereka. Dia hanya tidak rela melepas kepergian Edna.


-------


"Ro, bagaimana bisa? Edna ketemu dengan dia?" tanya Edward dengan nafas yang memburu.


"Mana aku tahu, Ed. Tiba-tiba, dia sudah muncul disini, tanpa aku tahu, dia datang darimana" jawab Hero.


"Emang dia itu siapa, Ed? Sikap kalian benar-benar aneh!" gerutu Hero dalam tanya.


"Dia Dayona, Ro ... Ayah dari bayi yang dikandung Edna."


Hero terlonjak. Beberapa waktu lalu, Edward sudah bercerita tentang hal ini. Ada penyesalan membiarkan Edna pergi tadi.


"Edna juga gila, Ro! Kenapa juga dia mau diajak pergi dengannya lagi!"


"Mungkin Edna hanya ingin menyelesaikan masalahnya, Ed" kata Hero menenangkan Edward.


"Aku kuatir, Ro. Sesuatu terjadi sama Edna." kata Edward gamang.


"Aku yakin Edna bisa menjaga diri dengan baik, Ed. Dia gadis kuat dan bijak." kata Hero lagi.


Edward membenarkan kata-kata Hero, dia percaya Edna pasti bisa menghadapi Dayona. Tapi tidak dengan Dayona. Dia kuatir karena temperamen Dayona yang meledak-ledak dan tak segan-segan berbuat nekad.

__ADS_1


Kemudian,


"Bed, kamu tahu tidak? Kira-kira Edna dibawa kemana oleh Dayona?" tanya Edward di sambungan telepon.


"Sepertinya aku tahu, dengan siapa kamu harus tanya, Ed." jawab Obed.


"Siapa?" tanya Edward heran.


"Kavana."


Edward terdiam. Sejak kejadian semalam, dia menghindari Kavana. Dan kini, dia harus bicara tentang ini dengannya.


---------


Di perjalanan hanya ada keheningan diantara mereka berdua. Dayona terus fokus menyetir dan Edna memandang lurus ke jalan. Sampai Dayona menghentikan mobilnya, Edna baru sadar bahwa mereka sudah sampai di resto di atas bukit, tempat mereka beberapa kali nge-date. Tempat favorit Dayona.


"Ayo turun, Na!" kata Dayona sambil membukakan pintu buat Edna.


"Terima kasih, Bang." jawab Edna.


Sampai di pintu masuk.


"Lama sekali tidak kesini, Bos?" tanya seorang cowok yang tampak menyapa Dayona dengan akrab. Edna mengenalnya sebagai pengelola resto itu.


"Biasa ... Bisnis padat merayap." jawab Dayona sekenanya. Lalu menggandeng Edna untuk menaiki tangga.


"Asik bener, eh, sama bini, Bos?" tanya cowok itu lagi.


Dayona mengangguk lalu menyunggingkan senyum. Tapi senyum itu memudar, saat melihat Edna yang melotot ke arahnya.


"Apa maksud Abang mengajak Edna kesini?" tanya Edna to the point, saat keduanya sudah duduk berhadapan.


"Kamu sehat, Na? Bagaimana dengan baby-nya, sehat?" kata Dayona balik bertanya, tanpa menjawab pertanyaan Edna.


"Abang, apa maksud Abang?" desak Edna.


"Jawab dulu, Na!"


"Iya Bang, aku sehat, baby-nya sehat. Kalau itu yang ingin Abang tahu. Sekarang Abang bilang ke Edna, apa maksud Abang ajak Edna kesini?" tanya Edna tak sabar.


Dayona diam sejenak, menatap Edna tepat di matanya. Menyelami netra pekat nan indah itu. Seperti hendak meyakinkan sesuatu. Dan ...


"Menikahlah denganku, Na!"


---------


Semoga semakin suka dengan cerita Rona Cinta ya ...


Terima kasih buat supportnya 💜💜💜

__ADS_1


Selamat membaca!


__ADS_2