RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 7


__ADS_3

Tentang Edward Alden Gamaliel,


Edward merupakan anak sulung, dari seorang pengusaha di bidang property yang sedang berjaya, Alditira Gamaliel. Papanya yang ambisius dan gila kerja, membuat kehidupannya jauh dari kata tidak mapan. Semua kebutuhan tercukupi. Adiknya, Edna Alinea Gamaliel adalah gadis cantik dan menyenangkan. Dia hangat dan mudah bergaul, sehingga rumah tak pernah sepi, oleh karena teman-temannya yang hampir setiap hari, berkunjung ke rumah mereka.


Berbanding terbalik dengan Edward tentunya, Edna menyebutnya Mister Kulkas, karena sikapnya yang sangat dingin kepada siapapun. Jarang berbicara dan suka menghabiskan waktunya sendiri dalam kamar untuk melukis atau di gudang basement rumah mereka untuk mengutak+atik motor kesayangannya.


Itulah sebabnya, teman Edward hanya itu-itu saja, Dayona, Obed, Javas dan Reval.


Bukan untuk nongkrong tapi balapan liar. Bagian ini rahasia yang hanya dia dan empat temannya itu saja yang tahu.


Sikap dinginnya itu ternyata jadi daya tarik tersendiri bagi Edward, buktinya banyak cewek yang mengejarnya, mulai dari mengirim pesan di Whats***; walau tak berbalas, kirim makanan, seperti cokelat, kue dan hadiah lainnya, baik melalui ojek online, diletakkan di laci kelas, ditaruh di atas motor, bahkan ada yang terang - terangan mengantarkan langsung ke rumah.


Edna dan Bi Edah-lah yang menjadi kurir yang mengirimkan semuanya itu ke kamar Edward, walaupun mereka tahu ujungnya makanan dan barang - barang itu akan ada di tong sampah.


Meski begitu, Edward sebenarnya seorang yang penyayang. Edna tahu betul itu. Setelah mama meninggal dan Papa sibuk dengan pekerjaannya, Edward - lah yang mengambil alih, baik peran Papa sekaligus Mama baginya. Kasih sayang untuk Edna tetap terasa utuh karena Edward.


Edward memang tidak mudah dekat dan sayang dengan orang lain, namun apabila sudah dekat, maka dia akan mencurahkan segenap sayangnya kepada orang tersebut.


Salah satu cewek yang penasaran adalah Kavana. Kejadian kunci motor di parkiran sekolah siang itu membuat Kavana gemas dengan sikap dingin Edward.


Begitu banyak cowok yang berlomba-lomba mencuri perhatiannya, tetapi yang satu ini malah seperti menghindar dari dirinya.


Sisi ego-nya tersengat! Hari itu Kavana bertekad menjadikan Edward sebagai tantangan yang harus ditakhlukkan. Harus!


Dan cara pertama yang dilakukan untuk misi penakhlukannya adalah menghubungi Obed.


"Bed, kamu dimana? Penting nih!" Kalimat itu mengalir setelah Obed menerima panggilannya.


"Ke rumahku aja ya nanti sore! Aku tunggu ... Oke? Bye, Bed." Kavana mengakhiri percakapannya dengan Obed.


------------------


Obed Axelsen, cowok manis dengan kulit sawo matang itu sudah berdiri di depan pintu rumah ber-cat putih itu. Belum juga dia menekan bel, si tuan rumah sudah membuka pintu dan menarik tangannya masuk ke dalam rumah.


"Kenapa sih kamu, Va, nafsu amat!" kata Obed kesenangan karena seperti mendapat rejeki nomplok. Kavana bagai bidadari di matanya, cowok mana yang tidak mau berdekatan dengannya.


"Bed, tolongin aku ya ... please?" Kavana memasang muka memelas, dia mulai memainkan jurus andalannya untuk mendapatkan apa yang dia mau. Dia sudah dengar dari banyak temannya di sekolah, kalau mendapatkan nomor ponsel Edward bukanlah hal yang mudah.


"Apaan ... pakai please please segala? Apa yang bisa aku bantu, sayang?" Obed memajukan badannya sampai jarak antara dirinya dan Kavana sangat dekat. Membuat darah kelaki-lakiannya mengalir lebih deras.


"Kasih nomor Edward!" bisik Kavana di telinga Obed. Kali ini, tangan Kavana sudah ada di pundak Obed. Dan ada bagian tubuh depan Kavana yang terasa empuk tak sengaja menyentuh dadanya . Membuat Obed makin blingsatan.

__ADS_1


Ia nyaris kehilangan kendali, ingin membawa tubuh di depannya itu dalam pelukannya dan memilikinya. Namun, bayangan telapak tangan yang akan melayang di pipinya mengembalikan akal sehatnya.


"Jadi ini yang membuat kamu nyeret-nyeret aku?" Obed terkekeh.


Kavana mengangguk. Obed menepis tangan Kavana yang masih di pundaknya. Lalu menarik tubuhnya menjauh dari Kavana.


"Please, Bed, aku butuh banget ..."


"Kamu naksir sama si Kulkas? Apa sih bagusnya dia Va, anyep gitu ..." Obed mengeluarkan bungkus nikotin dari saku jaketnya, mengambil satu batang dan hendak menyulutnya, tetapi tangan Kavana mencegahnya.


"Bed, kali ini aja deh, tolong aku ... Maafkan kalau kamu masih marah karena aku pernah nolak kamu!"


"Kenapa tidak minta langsung aja, sih? Kenapa harus minta ke aku, nyuruh aku datang ke rumah kamu segala, kamu tahu? Aku sudah sempat ge-er tadi, aku pikir kamu memang ..."


Belum sempat Obed melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba bibir Kavana sudah hinggap di bibirnya, membungkam mulutnya dengan ciuman. Gila! Ini gila. Apakah ini nyata? Atau dirinya sedang bermimpi. Bunyi kecapan bibir Kavana menyadarkan bahwa ini nyata.


Obed tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, segera dibalasnya ciuman Kavana, dilumatnya bibir ranum yang begitu didambanya dengan gairah yang selama ini terpendam.


Obed mengambil kendali, kini dia sudah ada berada di atas tubuh Kavana, tangannya menangkup wajah Kavana, memperdalam penyatuan bibir mereka.


Saat Obed akan bertindak lebih jauh dengan memasukkan tangannya ke dalam kaos ketat yang dipakai Kavana, Kavana menahannya. Membuat aktivitas panas itu berhenti.


"Beri nomor Edward! Aku akan kasih kamu lebih!" balas Kavana dengan tatapan menantang.


"Oke ... deal! Aku mau tubuh kamu!"


Kavana tersenyum sinis.


"Tidak akan! Aku sudah beri apa yang kamu ingin kan, Bed ... kamu serakah!"


Perkataan Kavana itu mengingatkannya pada hari ketika Kavana menolak cintanya. Hari itu, Obed mengiba minta sebuah ciuman, dia memohon untuk sekali saja Kavana menciumnya sebagai imbalan sebuah janji untuk tidak mengganggu Kavana lagi. Sudah pasti Kavana menolaknya.


"Aku bisa minta kepada Javas atau Reval! Yang mungkin bisa kasih aku" kata Kavana lagi.


"Oke oke, sini ponselmu!" Obed yang tidak ingin kedua temannya itu juga akan mendapatkan ciuman Kavana,segera memasukkan nomor Edward di ponsel Kavana, itu yang ada di pikirannya.


Kavana tersenyum jumawa. Tidak ada cowok yang tidak bisa dikendalikannya.


"Puas?" kata Obed sambil melempar ponsel ke pangkuan Kavana.


"Thanks, Bed!!! seru Kavana senang. "Aku mau kasih bonus buat kamu!"

__ADS_1


Dan kembali dua remaja ini bergelut di atas sofa dengan nafsu keremajaannya.


-----------------------


Pesan dari Kavana sekarang menjadi warna baru dalam kehidupan Edward. Seperti pagi itu,


Kavana:


Ed, sarapan bareng yuk, aku disini, kamu disana ... Kamu, sarapan apa hari ini?


Edward:


Ok, nasi goreng


Kavana:


Wiiih enaknya, aku sarapan mie instan ni, pengen nasi gorengnya ... Suapin boleh?


Edward:


Boleh


Kavana:


...........................................................................


Kavana selalu punya topik pembicaraan dan tidak pernah protes dengan caranya menjawab pesan.


Edna, Bi Edah bahkan teman-temannya sering marah membaca pesan dari Edward yang super pelit kata.


Kavana beda. Itulah yang membuat Edward suka. Kavana dianggapnya mampu menerima dirinya apa adanya. Menerima semua kekurangannya.


Tapi Edward tidak tahu, betapa kesalnya Kavana setiap membaca pesan Edward.


Sudah setahun pacaran, tidak ada kemajuan, jangankan ciuman, pegang tangan saja tidak pernah Edward lakukan kepadanya.


Kavana mulai jenuh dan butuh sentuhan yang biasa dia terima dari pacar - pacar sebelumnya ... Tapi melepaskan Edward tidak mungkin dilakukannya, karena memacari Edward adalah kebanggaan.


Kavana menikmati setiap tatapan - tatapan iri cewek - cewek di Sekolahnya saat melihat Edward berjalan bersamanya. Dia senang menyadari betapa cemburunya para cowok yang sengaja membuang muka saat melihat kebersamaan mereka. Itu kepuasaan tersendiri baginya.


Dan kini, kegalauannya sirna, saat Kavana mendapatkan apa yang dia mau di belakang Edward ....

__ADS_1


__ADS_2