
Edward memasuki apartemen Dayona dengan kemarahan yang membuncah. Apa yang sudah dilakukan Dayoan kepada Edna, sungguh di luar dugaannya. Dayona yang dianggap sahabat, tega merusak adiknya.
Dayona yang sudah menduga kedatangan Edward, hanya menyeringai dan membiarkan Edward meringsek masuk.
"Dan ... bang*** kamu!!!!" umpat Edward.
Sebuah pukulan melayang ke muka Dayona telak. Disusul dengan pukulan lain.
Dayona membalas pukulan itu dengan mendorong tubuh Edward sampai ke dinding dan balik memukul Edward yang terkunci pergerakannya. Dan, Edward tidak mau kalah. Mereka saling memukul untuk mengekspresikan kemarahan dan luka yang mereka rasakan.
Sampai akhirnya,
"Berhenti!!! Kalian berhenti!" teriak Kavana sambil melerai keduanya.
Muka Edward dan Dayona sudah lebam. Darah nampak di hidung dan sudut bibir mereka.
"Va, jangan ikut campur!" hardik Edward.
"Ed, sudah ... ini tidak akan menyelesaikan apapun!" jawab Kavana tak kalah galak.
"Cuuuh ... Biarkan kami menyelesaikan semua , Va!" kata Dayona sambil meludah ke lantai.
"Sampai kalian berdarah-darah, bahkan mati-pun, tidak akan menyelesaikan apa-apa ... Kalian tahu itu!" kali ini Kavana bicara sambil menahan tangis.
"Minggir, Va ... minggir!!! Aku mau hajar dia sampai mam***!!!" kata Dayona menyuruh Kavana minggir.
"Cukup, Dan ... cukup!" sergah Kavana.
"Dan, sekarang jawab pertanyaanku??? Kenapa kamu lakukan semua ini ke aku dan Edna???? Apa salah kami??? Kamu temanku, Dan!!! Aku percaya sama kamu!!!" geram Edward.
"Kamu mau tahu alasanku??? Tanya sana sama Papamu!!!!!!" jawab Dayona ketus.
"Untuk apa bawa-bawa Papaku??? Mau mam*** kamu, Dan????" Edward kembali maju, siap kembali memukul Dayona, saat dirasakan seseorang menarik tangannya.
"Kak ... jangan seperti ini!" kata Edna. Itu suara Edna. Dan kini, Edna sudah berdiri di belakangnya. Seketika, Edward melupakan apa yang akan dilakukannya tadi, dia membalikkan badannya dan memeluk Edna erat.
"Na ... kamu kemana? Kakak cari kamu kemana-mana, sorry ..." tanya Edward.
Edna hanya diam, membenamkan kepalanya pada pelukan hangat itu. Pelukan yang selalu membuatnya aman dan nyaman. Pelukan yang lama dia tinggalkan, karena tergoda oleh pelukan orang lain, yang disangkanya tulus, ternyata hanya palsu.
Edna terisak dalam pelukan Edward. Kavana menatap mereka haru, sedang Dayona membuang mukanya.
__ADS_1
"Kak, ayo pulang!" ajak Edna setelah melepaskan pelukan kakaknya.
"Na, kita harus selesaikan ini!" tolak Edward. Dia teringat akan niatnya pergi ke tempat itu.
"Tidak ada yang perlu diselesaikan disini kak, ayo kita pulang" bujuk Edna lagi.
"Na, tapi laki-laki itu harus bertanggung jawab!!!" tunjuknya pada Dayona.
Edna mengikuti arah telunjuk kakaknya. Dayona kini menatapnya. Edna tersenyum. Lalu berjalan mendekati Dayona.
"Na, jangan ke ..." perkataan Edward yang melarang Edna untuk mendekati Dayona dipotong dengan sentuhan tangan Edna di bahunya.
"Edna baik-baik saja, Kak!" kata Edna.
Edna sudah di depan Dayona. Mereka berpandangan. Bicara lewat mata mereka.
Lalu, Edna memeluk Dayona. Dayona hanya diam mematung. Edward membuang nafasnya tidak suka. Kavana mengalihkan pandangan ke tempat lain, tetapi telinganya tetap bersiaga.
"Bang, kita cukup sampai disini ya ... Besok tidak ada istilah kita lagi ... karena kita sudah selesai" runut Edna. Saat dia melepaskan pelukannya.
"Na ..." hanya itu yang keluar dari mulut Dayona.
Edna memegang tangan Dayona, bulir jernih di matanya mengalir. Mata indah itu, basah oleh air mata. Airmata perpisahan.
"Tapi bagaimana dengan ... Aahhh" Edward berseru kacau.
"Kak, ayo pulang?" pinta Edna lagi setelah melepaskan tangan Dayona.
Edward tidak mengerti maksud Edna, tapi dia menurut, mengikuti langkah Edna keluar dari tempat itu. Tanpa menoleh lagi ke Kavana maupun Dayona.
Sepeninggal mereka, Dayona hanya diam terduduk di ranjangnya. Sedangkan, Kavana masih saja berdiri, tanpa tahu harus berbuat dan berkata apa.
Dayona tenggelam dalam pikirannya sendiri. Edna mengandung anaknya. Itu kesalahan. Dia tidak tahu harus bersikap apa kepada Edna sekarang. Semuanya tampak rumit.
Dan, Dayona memilih untuk tidur saja ....
-------
Edna hanya diam sepanjang perjalanan pulang. Edward-pun tidak mau mendesak adiknya itu. Walaupun, banyak sekali pertanyaan yang ingin dia ajukan.
Sesampainya di rumah, Edna segera masuk ke kamarnya dan menangis disana.
__ADS_1
"Na ..." kembali Edward memeluknya.
"Maafkan Edna, Kak ... Edna salah, Edna salah ..." tangis Edna pecah di pelukan Edward.
Edward hanya bisa menepuk-nepuk punggung Edna, berusaha menenangkannya.
"Kak ... Edna sudah memutuskan untuk merawat anak ini sendiri, Kakak tolong bantu Edna?" kata Edna setelah tangisnya mereda.
Edward terhenyak mendengar pernyataan sekaligus permintaan adiknya itu.
"Na, bukankah ada yang harus bertanggung jawab untuk bayi kamu itu?" tanya Edward.
Edna menggeleng, "Untuk apa, kak ... Memaksakan seseorang untuk bersama kita, tetapi dia tidak cinta." jawab Edna bijak.
"Tapi Na ..."
"Kak, Edna sudah memikirkan hal ini matang-matang. Dan, Edna sudah memutuskan untuk tidak menuntut apa-apa dari dia ... Biarkan semua jadi masa lalu, masa lalu yang pahit yang ingin Edna lupakan dan perbaiki. Anggap saja, ini hukuman bagi Edna yang tidak mau melakukan nasehat Mama dan Kakak."
Edward menghela nafas panjang. Berusaha menyelami jalan pikiran Edna. Apakah ini yang terbaik, entahlah ....
---------
Mereka duduk berhadapan. Edward sudah tidak sabar mendengarkan penjelasan dari Papa Alditira, sehingga Dayona begitu membencinya ....
"Ed, Papa berhubungan dengan Tante Velila. Hubungan Tantemu dengan suaminya sudah lama buruk. Tantemu sudah mengajukan gugatan cerai, tetapi Ferdian tidak pernah mengabulkannya. Itulah, kenapa akhirnya Papa dan Tante Velila, tinggal bersama." Papa berhenti sejenak, mengambil nafas. Edward hanya diam menyimak cerita Papanya.
"Sampai akhirnya, Ferdian tahu hubungan kami, dia sempat meminta kami untuk tidak melanjutkan hubungan, namun sulit bagi kami untuk melakukannya. Hubungan kami sudah serius, Ed ... Lalu, tanpa sengaja anaknya pernah datang ke Apartemen kami, dan mendapati kami ada disana berdua." lanjut Papa. Sampai disitu, Edward mulai memahami, penyebab kemarahan Dayona. Tetapi, apakah hanya sampai disitu? Ternyata, Papa masih melanjutkan.
"Sewaktu Ferdian meninggal, kami pikir itulah masa dimana kami akan terbebas dan bisa bersatu, tanpa penghalang. Tinggal meyakinkan kalian, anak-anak kami. Namun, suatu hari, Papa mendengar dari Dayona, kalau Papanya meninggal bukan karena serangan jantung, seperti yang diberitakan," hela Papa lagi.
"Maksudnya, Pa?" Edward menimpali.
"Om Ferdian meninggal karena bunuh diri, Ed ... gantung diri." kata Papa Alditira lagi.
Edward kehilangan kata-kata. Semua yang didengarnya menjelaskan semuanya. Luka Dayona-lah yang telah melukainya dan Edna. Luka yang ditorehkan oleh orang tua dan masa lalunya. Luka yang sama sekarang dirasakannya. Luka yang dibalas luka.
Ingatannya kembali ke masa kecilnya, saat Dayona jatuh dari sepedanya. Lukanya sangat dalam dan darah mengucur deras, sampai Dayona harus dibawa ke rumah sakit. Dayona menangis sangat keras saat itu.
"Dan, sakit ya?" tanya Edward saat dia menjenguk Dayona.
"Banget, tahu!" jawab menjawab sambil meringis kesakitan.
__ADS_1
"Kasihan kamu, Dan ... andai kalau bisa, aku juga mau merasakan sakit kamu, biar kamu tidak sakit sendirian ..." kata Edward menghibur temannya itu.
Dan sekarang ... kata-kata itu menjadi kenyataan ....