RONA CINTA

RONA CINTA
EPISODE 17


__ADS_3

Apartemen Dayona,


Edna membenamkan tangisnya dalam bantal semalaman. Penyesalan dan rasa bersalah membuat sesak dadanya.


Apa yang sudah dia lakukannya kini membuatnya jijik pada dirinya sendiri. Setiap mengingat kejadian hari itu, dia hanya bisa menangis dan menangis.


"Bang, kenapa kamu lakukan ini?" kalimat itu mengalir bersama air matanya. Menangis karena menahan rasa sakit pada tubuh bagian bawahnya sekaligus menyesali apa yang sudah terjadi.


"Na, kita kan pacaran, wajar kalau kita lakukan ini, sudahlah jangan menangis ... Kamu sayang abang, kan?" Dayona menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Memandang keluar jendela.


"Tapi Edna sakit, Bang ..." rintihnya. "Sakit ..." sambungnya.


"Kalau pertama melakukan memang sakit, tapi besok pasti sudah tidak, bahkan bisa jadi kamu akan ketagihan" sahut Dayona enteng.


Edna terhenyak mendengar jawaban itu. Berarti dia bukan yang pertama bagi Dayona.


"Jadi aku bukan yang pertama buat Abang? Abang sudah melakukannya dengan cewek lain?" tanya Edna polos.


Membuat Dayona tertawa.


"Na, seperti ini sudah biasa dilakukan saat pacaran! Jangan kuno, kamu!" Dayona melengos.


"Bang, Edna memang kuno, dan Edna nyesel sudah lakukan ini, ini dosa, bang, tidak boleh dilakukan di luar pernikahan!!!" tangisnya makin keras.


"Lalu kenapa tadi kamu mau, Na? Kalau kamu takut dosa??" hardiknya.


"Edna emang bodoh, bang ... Aku bodoh, bagaimana sekarang, bang????" raung Edna.


Edna sudah kehilangan apa yang seharusnya dijaganya. Kehormatan sebagai seorang wanita, yang seharusnya hanya diberikan kepada suaminya kelak dalam ikatan pernikahan.


"Na, sebagai perempuan kamu harus bisa menjaga kehormatan kamu sendiri, jangan sampai ada yang mengambilnya sebelum kamu menikah" nasehat Mama waktu itu.


Dan Edna gagal memenuhinya ....


"*Na, jangan sampai ya kamu pacaran - pacaran, jaman sekarang cowok itu aneh - aneh!" kata Edward suatu hari.


"Aneh - aneh gimana, Kak?" tanya Edna ingin tahu.


"Ya, kalau pacaran itu suka minta kepada ceweknya, sesuatu yang tidak boleh dilakukan sebelum menikah!" terangnya.


"Iiih ... serem kak, iya sih kak, temanku cerita kalau dia sudah, maaf ya kak, ciuman, pegang - pegang, gitu!" kata Edna sedikit berbisik.


"Makanya hati - hati sama cowok!" Edward memperingatkan Edna.


"Kakak juga dong, kan kakak cowok!" ledek Edna.


"Beda dong Na, kakak tidak mau seperti cowok - cowok itu, kakak mau ikuti apa yang Mama ajari ke kita, menjaga hidup benar*!"

__ADS_1


Dan Edna kalah dari Edward dalam hal ini ....


----------------


Melihat Kavana hanya diam dengan wajah hampa seperti tak bernyawa membuat Dayona kehilangan nafsu makannya. Diletakkannya sendok diatas piring dengan kasar, bunyi dentingnya yang nyaring mengagetkan Kavana.


"Sudah makannya?"


"Sudah kenyang!" jawab Dayona ketus.


"Mau pulang sekarang?" tanya Kavana.


Dayona melengos, "Kamu kenapa sih, Va? sampai malas aku liat kamu! kalau kamu memang tidak mau temani aku, bilang!!!", bentak Dayona.


Suaranya yang cukup keras, membuat banyak orang menengok ke arah mereka.


"Ssssst Dan, jangan keras - keras, malu dilihat banyak orang, sorry ... aku hanya lagi banyak pikiran" kata Kavana berusaha menenangkan Dayona.


"Pikiran apa? Menyesal karena putus sama pacar kamu itu??? Jujur saja kamu, Va!!!" bukannya makin tenang, suara Dayona malah makin lantang.


"Dan please, jangan begitu, aku malu! Ayo kita pulang aja, ngobrol di luar!" ajak Kavana.


"Aaah ... Set**!!!" umpat Dayona kesal. Dia beranjak dari tempat duduknya dan langsung keluar menuju mobilnya.


Kavana sendiri harus menuju kasir dan membayar terlebih dahulu sebelum menyusul Dayona. Dia harus melihat beberapa pengunjung yang tengah bisik - bisik membicarakannya. Kavana hanya menghela nafas. Biarlah ... Masa bodoh dengan apa kata orang.


Kavana mendudukkan pantatnya di kursi samping pengemudi setelah masuk ke mobil Dayona. Dipakainya seatbelt tanpa menoleh ke arah cowok di sampingnya itu. Hening. Kavana hanya mendengar bunyi nafas yang masih menderu.


"Kamu yang kenapa?" balas Dayona cepat.


"Sejak kemarin, kamu terus marah - marah tanpa alasan ..." Kavana menoleh dan dilihatnya Dayona masih dalam kemarahan yang tidak dia tahu apa penyebabnya.


Dayona hanya diam.


"Dan, sorry kalau sikapku buat kamu marah, aku hanya sedang kepikiran Mama, bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku sudah memilih kamu, Dan ... Aku sayang kamu!" Kavana meraih tangan Dayona dan membawanya ke bibirnya, diciumnya tangan itu lembut, penuh sayang.


Dayona meluluh, direngkuhnya Kavana, dikecupnya kening gadis itu dan didaratkan sebuah kecupan di bibirnya, Kavana membalasnya, dan kecupan itu menjadi ciuman yang panjang. Mereka saling melepaskan setelah sadar bahwa mereka masih di parkiran restoran.


Mereka tersenyum dan memutuskan untuk segera pulang ke Apartemen Dayona, menuntaskan apa yang tadi mereka mulai.


------------------


Fleta merasakan perubahan Dayona akhir - akhir ini. Semakin susah dihubungi dan selalu punya alasan untuk tidak bertemu dengannya. Hal yang menyebabkan Fleta semakin curiga adalah passcode apartemen Dayona yang tidak lagi diketahuinya. Sebelumnya, dia sangat bebas keluar masuk Apartemen pacarnya itu.


Malam ini, Fleta memutuskan ke Apartemen Dayona. Dia baru memarkirkan mobil di basement, ketika dilihatnya mobil Dayona masuk melewati mobilnya. Mobil Dayona berhenti, tepat selisih 3 mobil di depannya menghadap ke arah mobilnya parkir. Dari jarak pandangnya, Fleta bisa melihat, Dayona tidak sendiri di dalam mobil itu.


Fleta mencengkeram erat setir mobilnya, begitu melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dayona sedang bercumbu dengan cewek lain. Fleta meradang, dia menahan dirinya sendiri sekuat tenaga untuk tidak keluar dari mobilnya dan menghajar cowok sialan itu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, pintu mobil Dayona terbuka, keluarlah Dayona dengan cewek itu, dan tampak jelas disana cewek yang pernah dilihatnya sebelumnya di foto ... Tak salah lagi cewek itu Kavana!


Fleta menggeram marah. Ternyata, Dayona sudah membohonginya. Foto di Bukit Bintang itu, perubahan sikap Dayona akhir - akhir ini, dan apa yang dilihatnya di mobil tadi, bahkan kenyataan, cewek itu kini sedang berada di Apartemen pacarnya, cukup menjawab semua kecurigaannya.


Dayona menduakannya ....


----------------------


Edward melangkah dengan gontai. Keputusannya untuk melepaskan Kavana untuk bersama Dayona membuatnya hampa.


Luka yang menganga kini bersarang di hatinya.


"Mas, Mas Edward ..." itu suara Bi Edah memanggilnya.


"Iya, Bi," sahut Edward. "Masuk saja!"


Bi Edah masuk dengan wajah cemas.


"Mas, Mbak Edna ..."


"Edna kenapa, Bi?" Belum selesai Bi Edah mengutarakan maksudnya, Edward sudah menyambar.


"Demam mas, sejak tadi" kata Bi Edna.


Tanpa bertanya lagi, Edward bergegas menuju kamar Edna. Didapatinya adiknya itu berbaring di ranjangnya, disentuhnya dahi Edna, panas terasa di telapak tangannya.


"Sudah tidak menggigil mas sekarang, setelah Bibi kasih obat penurun panas" terang Bi Edah.


"Kak ..."


"Iya Na, Kakak disini ... apanya yang sakit?"


"Cuma demam kok, Kak ... sekarang Edna sudah baikkan" Edna memaksakan diri untuk tersenyum.


"Kakak antar ke dokter ya, Na?" ajak Edward.


"Tidak usah kak, Edna sudah lebih baik kok kak, Kakak disini saja ya temani Edna?" pinta Edna.


Edward mengiyakan. Tak berapa lama Edna tertidur karena pengaruh obat yang diminumnya. Edward terus memandangi adiknya, disekanya peluh yang membasahi wajah adiknya itu.


"Papa ... papa, Edna kangen Papa ...."


Edward tertegun. Mendengar Edna mengigau dalam tidurnya, memanggil nama Papa. Menyadarkannya, sudah lama sekali Papa tidak kembali ke rumah, tidak pula menghubunginya. Jujur, kerinduan Edna juga dirasakannya.


Edward bertekad akan segera menemui Papa untuk Edna dan demi dirinya sendiri.


------------------

__ADS_1


Terus dukung dengan rate, like, comment dan vote ya semua!


Terima kasih sudah setia membaca 💜💜💜


__ADS_2