
Edna mengunyah makanannya dengan malas. Baru dua suapan, dia sudah meletakkan sendok diatas piringnya. Dan meneguk minumannya sampai habis. Lalu hendak beranjak dari tempat duduknya.
Bi Edah mengamati Edna dengan was was.
"Mbak, makanannya tidak enak, ya?" tanya Bi Edah.
"Enak kok, Bi. Edna hanya kurang selera makan." kata Edna.
"Kalau begitu, Bibi masakkan lagi, ya? Mau dibikinkan apa? Supaya Mbak Edna nafsu makannya" cecar Bi Edah.
Edna menggeleng pelan.
"Tidak usah, Bi ... Nanti kalau Edna mau sesuatu, pasti bilang sama Bibi." jawab Edna.
Bi Edah menghela nafas, setelah membiarkan Edna meninggalkan meja makan dengan dua suapan saja.
Di tempat lain,
Edward menerima pesan dari Bi Edah kalau Edna sedang tidak nafsu makan. Bi Edah menceritakan kekuatirannya akan kondisi Edna. Lalu dihubunginya adiknya itu.
"Na, sehat?" tanya Edward setelah panggilannya terhubung.
"Kakak!!!!!" suara riang Edna melegakan hati Edward. Edna baik-baik saja.
"Edna sehat kok, Kak. Kakak kapan kesini???" imbuh Edna.
"Sabtu besok, Na ... Kamu makan banyak kan disana?" tanya Edward.
"Banyak dong, Kak!"
"Beneran?" selidik Edward. "Ingat baby kamu, Na! Jadi makan yang banyak!" nasehat Edward.
"Kok kakak tiba-tiba ngomong gitu, sih? Oh, tahu aku sekarang. Pasti Bi Edah, yang mengadu ke Kakak. Iya kan, Kak?" kata Edna sebal.
"Jadi benar, nih? Kamu susah makan?"
"Bukan begitu, Kak! Aku tu lagi pengen makan bakmi seafood langganan kita." ucap Edna sedih.
Ups! Edward baru sadar, ternyata Edna sedang ngidam. Itu yang membuatnya tidak nafsu makan yang lain.
"Kok kamu tidak bilang, Na?"
"Bilang gimana, Kak? Edna kan tahu diri. Outlet Bakminya kan jauh banget dari sini. Kalau Edna bilang ke Bi Edah, pasti Bi Edah akan sedih karena tidak bisa mengabulkan permintaanku." terang Edna.
"Ya, sudah, biar Kakak yang belikan, dan bawakan kesana." janji Edward.
Edna kegirangan, "Bener, Kak? Serius? Kakak mau kesini?"
"Tunggu ya, Na!" kata Edward sambil mengakhiri panggilannya. Dan mulai berpikir.
Sekarang sudah pukul 20.00, perjalanan ke Vila sekitar 3 jam. Total bisa 4 jam dengan antri di outlet Bakmi. Tak apalah, demi Edna.
Ketika Edward berkemas untuk pergi, Kavana keluar dari kamarnya dengan memegangi perutnya.
__ADS_1
"Ed ..." panggil Kavana lirih.
"Kenapa kamu, Va?" tanya Edward cemas, begitu melihat Kavana yang nampak pucat dan berkeringat seperti menahan sakit.
"Perutku sakit banget, Ed" jawab Kavana lemah.
"Duduk sini dulu, Va!"
Edward menuntun Kavana untuk duduk. Kavana terus mengerang, tampak kesakitan.
"Kita ke rumah sakit, Va!" kata Edward.
Kavana sudah tidak mampu menjawab. Hanya terus mengaduh, memegangi perutnya, sampai berguling-guling di sofa.
Tak lama, terdengar Edward memanggil Kang Ari.
"Kang, minta tolong beli Bakmi Seafood di tempat langganan. Lalu antar ke Villa Edna, ya? Aku akan bawa Kavana ke Rumah Sakit, Kang. Tolong ya, Kang???" pinta Edward sedikit panik melihat kondisi Kavana.
"Ya, Mas" kata Kang Ari.
"Setelah sampai disana, Kang Ari istirahat saja dulu disana. Tolong bantu Edna, mana tahu ada yang dibutuhkannya, Kang!"
Kang Ari mengangguk. Edward sendiri buru-buru memapah Kavana menuju taksi online yang sudah dipesannya. Sedang Kang Ari akan membawa mobil Papa ke tempat Edna.
Kang Ari segera berangkat untuk mengejar waktu, sebelum outlet-nya tutup. Sesampainya disana, langsung dipesannya sesuai perintah Edward. Saat Kang Ari menunggu,
"Kang, borong, ya?" sapa seseorang ramah.
Reflek Kang Ari menoleh ke arah suara. Dan tersenyum lebar, setelah mengetahui siapa yang menyapanya.
"Lho, bukannya Edna ada di Villa, Kang?" tanya Hero heran.
"Ya, Mas ... Saya disuruh Mas Edward mengantar kesana. Mbak Edna lagi ngidam katanya."
"Lalu Edward kemana? Kok bukan dia yang antarkan?" tanya Hero lagi.
"Itu Mas, Mas Edwardnya lagi antar Mbak Kavana ke rumah sakit. Tadi, tiba-tiba kesakitan di bagian perut. Jadilah saya yang antar ke Villa," terang Kang Ari.
"Oh, gitu ... " Hero mengangguk-angguk paham.
Setelah 30 menit menunggu,
"Mas, saya duluan, ya ... Keburu malam" pamit Kang Ari.
"Ya, Kang. Hati-hati ya, Kang ... Perjalanan lumayan jauh."
"Iya, Mas ... saya permisi dulu." Kang Ari segera bergegas menuju mobil.
Pesanan Hero jadi setelah kurang lebih 15 menit setelah Kang Ari pergi. Hero menuju halaman tempat mobilnya di parkir. Saat itulah, Hero melihat Kang Ari.
"Lho! Kok, Kang Ari masih disini? Katanya tadi mau buru-buru berangkat?" tanya Hero heran.
"Aduh, Mas ... Malah mogok mobilnya," terdengar nada putus asa dari Kang Ari.
__ADS_1
"Waduh! Sudah jam segini, pasti bengkel sudah pada tutup, Kang," kata Hero sambil melirik arlojinya.
"Lalu bagaimana ini ya, Mas ... Kasihan Mbak Edna kalau nungguin." kata Kang Ari bingung.
Hero menggaruk-garuk kepalanya. Ikut bingung. Lalu akhirnya ....
"Gini saja, Kang ... Biar saya saja yang antar ke Villa." kata Hero.
"Jangan, Mas. Kan saya yang diberi tugas oleh Mas Edward. Lagian saya yang jadi merepotkan Mas Hero. Saya tidak mau, Mas." tolak Kang Ari.
"Saya nanti yang akan bicara dengan Edward, Kang. Kang Ari tenang saja. Sekarang Kang Ari urus saja dulu mobilnya." Hero berusaha meyakinkan Kang Ari.
Akhirnya, Kang Ari setuju. Hero kemudian mengambil bungkusan yang disodorkan Kang Ari, memasukkan ke mobilnya dan segera melaju menembus pekatnya malam.
Tepat pukul 23.30, Hero tiba di Villa yang masih terang benderang. Pertanda penghuninya masih terjaga.
Belum juga, Hero mengetuk pintu. Pintu itu sudah terbuka lebar. Tampak Edna berdiri di ambang pintu dengan wajah yang sangat cerah. Namun, begitu tahu siapa yang datang, mukanya berubah mendung.
"Kok, Kak Hero ada disini?" tanya Edna kecewa. Bukan Hero yang dia harapkan, tapi Edward, kakaknya.
Hero menceritakan semuanya. Ketika mereka sudah duduk di ruang tengah. Edna sangat muram, saat mendengar alasan Edward tidak jadi datang. Tapi karena ada Hero, jadi Edna menahan amarahnya.
"Ini teh jahe-nya diminum, Mas! Biar anget." kata Bi Edah sambil meletaknya secangkir teh jahe di meja, tepat di depan Hero.
"Makasih, Bi" kata Hero sopan. Tangannya terus mengelus-elus lengannya yang terbuka. Pergi tanpa rencana ini membuatnya tidak membawa jaket. Pakaian wajib saat di Villanya. Udara dingin membuat bulu kuduknya terus meremang.
"Minum, Kak!" kata Edna mempersilahkan.
Hero mengangguk.
"Oh, ya, Na ... Ini pesanan kamu, sudah dingin. Dipanasi dulu kalau mau dimakan"
Edna menerima bingkisan itu. Dan tersenyum sebagai tanda terima kasih. Dia meletakkan bungkusan itu di meja. Dan meninggalkan Hero menuju kamarnya. Membuat Hero dan Bi Edah saling memandang bingung.
"Jangan-jangan marah?" batin Hero
Tak lama Edna keluar kamarnya, sambil membawa sesuatu di tangannya.
"Kak, Edna sudah cari-cari. Sepertinya hanya ini, yang mungkin muat buat Kakak," kata Edna memicingkan mata, seperti sedang mengukur besar badan Hero lewat matanya.
Hero menerima jaket itu, takjub. Demi melihat jaket yang diberikan Edna padanya. Jaket itu berwarna pink dan berbulu-bulu. Bisa dibayangkan, jadi seperti apa penampakan Hero, saat memakainya.
"Maksud Edna, Kakak harus pakai ini?" tanya Hero untuk mendapatkan konfirmasi.
Edna mengangguk.
"Daripada Kakak kedinginan, kan? Nanti masuk angin lho!"
Dengan enggan dipakainya jaket itu. Dengan dua alasan. Satu supaya hangat badannya dan yang kedua menghargai Edna yang sudah meminjamkan jaketnya.
Dan,
Tawa membahana memenuhi ruangan Villa itu. Edna tertawa keras sampai meneteskan air mata, saking gelinya. Melihat penampilan cowok berjaket pink dengan aksen bulu, di depannya. Disusul Bi Edah yang tertawa kecil, menahan tawa, demi kesopanan di depan tamunya itu.
__ADS_1
Dan malam itu, dihabiskan tiga orang ini, dengan gelak tawa. Kehadiran Hero menciptakan atmosfir gembira. Edna sampai lupa akan kemarahannya semula. Dia terus tertawa mendengar cerita-cerita lucu dari Hero dan Bi Edah, yang diceritakan secara bergantian.
Mata Hero sendiri, tak lepas dari Edna. Edna tampak makin cantik. Kehamilan justru membuat Edna semakin mempesona. Mata indahnya, bibir penuhnya, senyum manisnya, pipinya yang berisi, sempurna di mata Hero. Hero terkejut sendiri dengan dirinya. Sejak kapan dirinya seperti ini? Adakah hatinya sudah tertawan pada bidadari di depannya? Atau hanya sekedar mengagumi semata?